
Hayra masuk dan di sambut tatapan aneh dari para cowo yang sedang bermain game di sana, seketika keanehan itu di buyarkan oleh suara pak Sandi.
"Kenalkan ini anggota baru kita cewek, tidak apa-apa kan?" tanya pak Sandi.
"Asalkan tidak jadi beban saja, gue sih ogah ya bantu nanti!" sungut salah satu pemain yang ada di sana, dari masing-masing pemain di butuhkan sepuluh peserta, lima pemain cadangan dan lima pemain utama.
Hayra tak memperdulikan omongan mereka karena yang begini memang sudah biasa dalam sebuah tim. Hayra duduk mulai menyalakan komputer yang sudah di sediakan, Hayra segera login akun MOBA miliknya, akun di dunia nyata milik Hayra bisa terbuka dan pembelian skin segala macam masih utuh.
"Gue mau nantang Lo tanding rank, mau gak?" tanya Wonzi pria ganteng putih muka cindo.
"Bisa." sahut Hayra, lalu memberikan user ID miliknya, segera di catat oleh Wonzi lalu segera main, Hayra memilih Hero Fanny karena Hayra sangat suka sama Hero Fanny.
Mereka berdua segera mulai bertanding perlahan-lahan Hayra hanya membunuh Minion dan seisi hutan lainnya seolah sengaja mengecoh Wonzi.
Hayra menyerang Wonzi hingga sekarat dan membiarkan Wonzi kembali ke base miliknya Hayra kembali menyerang Wonzi setelah keluar dari base-nya Hayra tak memberikan Wonzi sama sekali untuk menang karena hari ini dia sangat tidak mood untuk main-main.
Mereka yang melihat kemampuan Hayra dalam bermain game sangat kagum begitu juga pak Sandi yang sangat tak menyangka dengan kemampuan Hayra. "Tak salah aku menerima anak baru ini!" batin pak Sandi.
"Bused keren banget woy! Cepet banget tangannya tadi!" heboh Kaik, lelaki berkacamata yang sangat imut dan lucu.
Mereka terdiri dalam sepuluh anggota.
1. Wonzi
2. Kaik
3. Sani
4. Weza
5. Timo
6. Jawi
7. Fandi
8. Qamal
9. Jayadi
__ADS_1
10. Hayra
Jawi, Fandi, Qamal, Jayadi, Hayra, mereka berlima ini bisa di sebut sebagai tim dua yang sudah di pilih oleh pak Sandi, sekarang tim Wonzi dan Jawi lagi bertanding di rank mereka lagi melatih keahlian dan kecepatan tangan mereka.
* * *
Setelah selesai berlatih mereka pulang ke rumah masing-masing karena jam sudah menunjukkan pukul empat sore Hayra tidak bekerja hari ini dia sudah mengatakan akan pulang sore karena habis main game.
"We murid baru, pulang ma siapa lu?" tanya Fandi di luar gerbang sekolah duduk di warung makan yang ada di sana, kebetulan mereka tengah ngumpul sambil merokok dan main.
"Sendiri," jawab Hayra seadanya lanjut jalan kaki.
Fandi mengejar Hayra dan menyamakan langkahnya dengan Hayra. "Gue antar mau gak?" tawar Fandi pada Hayra yang terlihat cuek.
"Enggak deh, kita kan baru kenal," tolak Hayra dengan halus agar tidak menyakiti hati mungil Fandi.
"Ya elah, kita nih setim ya, murid baru, dah lah gw antar mau ya? Udah sore loh ini, nanti di jalan sana biasanya banyak orang jahat kalo sore-sore gini!" ujar Fandi menakuti Hayra.
Dan Hayra yang mendengar itu agak takut apalagi dia belum mengenal dunia novel ini secara keseluruhan, jadi dengan amat terpaksa dia menerima ajakan Fandi. "Ya udah ayok?" ajak Hayra balik sambil menyingkir sedikit ke bahu jalan agar tak terlalu mencolok gitu.
Fandi yang mendengar itu segera berbalik untuk mengambil motor untuk mengantar Hayra pulang. "Tunggu bentar gue ambil motor." Fandi berlari ke arah teman-temannya yang tengah menatap dirinya.
"Napa lo Fan?" tanya Qamal pada Fandi yang mengambil kunci motor beserta jaket tak lupa rokok selonjor buat nyebat di jalan, untuk menghilangkan rasa canggung nanti di jalan.
"Bisa bro, nanti kita ke sana buat main bareng lagi," jawab Jayadi.
"Ya udah gue duluan." Fandi segera menghidupkan motornya lalu berhenti di depan Hayra. Hayra naik ke motor Vario hitam, yang sudah di modif sedemikian rupa, dengan warna hitam semakin menambah kesan asthetic pada motor itu, dah macam anak tiktok aja asthetic-asethetic, tapi sayang di dunia novel ini tidak ada aplikasi tiktok jadi Hayra kecewa berat karena dia ini semasa di dunia nyata selalu rebahan di dalam kamar dengan kipas angin dan men-scroll tiktok dengan trend yang ga ada habisnya seperti jedag jedug beh .... Makin kece.
Di perjalanan kedua manusia beda gender ini saling diam di atas motor dengan Hayra yang sibuk memandangi daerah setempat dan si Fandi yang menjalankan motornya entah kemana. Karena sudah merasa cukup jauh Hayra jadi kelimpungan sendiri. "Fan, stop Fan!" teriak Hayra melihat ke belakang. "Rumah gue kelewatan anjir!" kesel Hayra memukul pundak Fandi. "Puter balik sekarang, cepetan!" kesel Hayra.
Fandi jengkel sendiri. "Jangan emosi dia cewe, karena kan cowo selalu salah kalo debat ma cewe!" batin Fandi menyabarkan dirinya walaupun dia kesel setengah mati atas ocehan Hayra yang bilang dirinya salah. "Salah Lo sih, ngapain diem dari tadi, ga ngasih tau alamat rumah Lo!" sahut Fandi membelokkan motor hitam miliknya.
"Salah sendiri gak nanya!" semprot Hayra yang tak mau di salahkan.
"Dasar cewe" gumam Fandi. "Ya udah ini terus belok kemana?"
"Belok kanan, terus masuk gang dikit, dah di situ rumah gue!" jelas Hayra.
Fandi pun mengikuti arahan yang Hayra berikan padanya, sehingga mereka sampai di depan rumah kecil milik Hayra. "Makasih!" ucap Hayra turun dari motor Fandi.
__ADS_1
"Ga di tawarin masuk gitu?" goda Fandi pada Hayra yang menatap dirinya males.
"Mau mampir gak?" tawar Hayra yang begitu males karena dia sangat laper.
"Ya mau lah!" semangat Fandi sembari mencabut kunci motor lalu masuk ke dalam bersama Hayra yang tengah mencopot sepatu miliknya dan menaruh di rak, begitu juga dengan Fandi, entah kenapa dia sangat semangat ya?
Hayra membuka kunci pintu rumah miliknya lalu mempersilahkan Fandi masuk dan duduk di tikar merah yang sudah di sediakan. Hayra tanpa basa-basi mempersiapkan air minum seadanya, Hayra masih menghargai Fandi karena sudah mengantarkan dirinya pulang.
"Nih minum?"
Fandi meminum air marimas yang di siapkan oleh Hayra. "nanti malam jam tujuh mau ikut ga? Buat main bareng untuk ngelatih skill kita gitu, karena sebentar lagi kita akan di pindahkan ke asrama untuk pertandingan nanti!" ucap Fandi menghabiskan air minum itu.
"Emm, gimana ya? Bisa di sini gak sih latihannya? Gue kurang berani buat keluar malem," kata Hayra berbohong karena dia saja berani pulang malam saat bekerja di apartemen Zyan.
"Bentar gue tanya mereka dulu ya?" Fandi membuka rom chat dan beralih ke grub anggota mereka.
^^^+62831xxxxxx^^^
^^^Nanti latihannya bisa di rumah Hayra gak?^^^
Qamal.
Hayra siapa? ⁰⁴:³⁰
Jawi.
Keknya si murid baru itu deh ⁰⁴:³⁰
Timo.
Sherlock aja nanti kita Dateng jam tujuh ⁰⁴:³⁰
Fandi segera mengasih alamat Hayra. "Udah tuh mereka setuju, nanti jam tujuh mereka kesini?" kasih tau Fandi pada Hayra. "Mana nomer wa Lo? Nanti gue suruh Cawer masukin Lo ke grub." Fandi mencatat nomor telepon Hayra.
Hayra pergi kebelakang membiarkan Fandi sendirian di ruangan itu, dapur Hayra hanya tertutup dengan kelambu hijau yang jadi penghalang antara tempat Fandi dan Hayra. Hayra memasak sayur kol seperti di sup dengan sperapat ayam potong yang di ungkep kuning lalu di suir dan di oseng bareng sambel yang iya blender tadi, setelah jadi Hayra membawa nya ke depan dan menaruh piring dua gelas beserta teko.
Fandi menatap bingung perlakuan Hayra yang menyiapkan makanan untuknya, bukan GR tapi di sini hanya mereka berdua jadi tidak siapa lagi. "Ini makanan buat siapa?" tanya Fandi pura-pura tak tau.
"Buat tuyul! Ya buat kita berdua lah!" kesel Hayra entah kenapa dia tidak mau sopan pada Fandi ini. "Nih, suka ga suka terserah Lo ya, gue laper, selamat makan!" Hayra makan duluan karena sedari tadi dia belum makan hanya makan sup hambar saja di kantin saja. Hayra jadi merasa heran apa di sini tidak ada garam?
__ADS_1
Fandi mencoba memakan masakan Hayra dia pikir akan sangat asin karena para mantannya dulu pas membawakannya makanan selalu asin atau enggak hambar sangat tidak enak, rupa memang menggugah selera tapi pas di coba perut serasa di aduk untuk mengeluarkan isi beserta usus dan jantungnya.
Oke jangan samakan mantan kalian dengan orang baru karena manusia itu beda-beda punya porsinya masing-masing jadi jika tidak bisa memasak belajarlah lebih giat jangan terlalu mengikuti tutorial di handphone karena bisa jadi itu bukan selera kita, ambil bagian pentingnya saja.