
Hayra melihat kalung yang sudah terpasang di leher jenjangnya, berarti orang itu nyata bukan mimpi belaka. "Masalah besar? Orang terpilih? Kenapa dunia ini sangat rumit ...?" frustrasi Hayra meremas rambutnya pelan, sehingga Fandi masuk.
"Lo kenapa? Kepalanya sakit lagi?" tanyanya menaruh bubur yang ia beli di kantin rumah sakit.
"Nggak, kok, cuma stres sedikit," jawab Hayra menerima bubur yang di kasih Fandi, "nanti siang kita pulang, soalnya kan nanti tanding," lanjutnya.
"Hem ..., lagian kan penyakit Lo gak parah-parah amat dah!" kata Fandi yang juga ikut makan.
"Penyakit apaan? Perasaan gue gak punya penyakit," ujar Hayra.
"Hehe ... gue juga gak tau!" cengir Fandi.
Hayra yang mendengar itu memutar bola matanya males melihat wajah Fandi yang sangat imut untuk di tampol hingga pingsan!
. . .
Xavier bangun di tempat yang semula, dengan kepala pusing, dia melihat sekelilingnya meringis sakit di bagian tengkuk kepalanya yang berdenyut tidak karuan. "Hah, hah, gila sakit banget!" keluh Xavier saat mengingat malam yang paling mengerikan seumur hidupnya, lalu beralih mengusap jidatnya yang terkena benturan tembok kemarin malam.
"Kira-kira keadaan Hayra gimana ya? Apa dia baik-baik saja?" tanyanya pada diri sendiri, lalu berdiri dengan sempoyongan untuk ke kamar mandi.
. . .
Di sekolah time Wonzi di bantai habis-habisan oleh timenya Panji dari sekolah SMA Swasta 4N sehingga time Wonzi tidak mendapatkan poin bintang satupun dan berakhir di eliminasi pak Sandi yang melihat anak didiknya kalah pun hanya bisa terdiam, melihat kesedihan di mata anak didiknya.
"Tidak apa-apa, jangan sedih, kita masih punya time dua, kalian harus semangat!" ucap pak Sandi menguatkan anak muridnya yang hanya mengangguk lemas, mereka seolah tak yakin dengan time dua yang akan bisa menang, sedangkan mereka saja langsung di bantai habis-habisan oleh timenya Panji yang tak sedikitpun mengasih mereka ruang untuk melawan.
"Iya pak," jawab Weza lesu lalu berlalu pergi dari sana untuk menenangkan amarahnya yang ingin meledak karena kalah.
"Hahaha ..., pemain gak guna seperti itu kok bisa sih masuk pertandingan!" ucap Rizal time Panji dengan nada suara yang sengaja di keraskan untuk memanasi timenya Wonzi.
"Udah jangan emosi, kita pergi aja?" ucap Sani dengan tenang lalu membawa teman-temannya untuk pergi dari sana sebelum ada pertengkaran di antara kedua belah pihak.
Time Panji tertawa dengan keras saat melihat time Wonzi pergi dengan rasa penuh kekesalan, mereka sangat menikmati wajah kesal lawan mereka itu.
__ADS_1
. . .
Pada jam satu Hayra sudah di perbolehkan untuk pulang, karena nanti jam dua siang ia akan melakukan pertandingan dengan SMA Swasta 4N yang sudah mengalahkan Wonzi dan yang lain, Hayra jadi tidak sabar untuk ikut main.
Sesampainya di asrama Hayra langsung mandi berganti baju dan makan, karena pertandingan akan segera di mulai, penonton begitu banyak bahkan mereka yang tak datang jadi ikut datang, karena mereka penasaran dengan Hayra yang hanya seorang perempuan bisa ikut main, bahkan saat Hayra sudah duduk di kursinya.
"Hahah ..., lawan kita cewek, bro!" ujar Yuda menatap remeh pada time dua dari SMA Negeri Cendana 11.
"Paling juga jadi beban time!" sahut Rizwan.
"Bisa aja Lo kampret!" timpal Jamil sambil tertawa pongah.
Hayra hanya melirik sekilas seringai ketua dari time SMA Swasta 4N yakni Panji, Hayra memilih salah satu hero untuk di ban. Time Panji sudah ada tiga yang memilih tinggal dua.
Panji menggunakan hero Akai, sebagai tank dan support, sedangkan Rizal dia menggunakan hero Bruno sebagai marksman, dengan Yuda memakai hero Karina sebagai assassin, dan Jamil menggunakan hero Alpha sebagai fighter dan Rizwan menggunakan hero Lylia sebagai hero pendukung di midlane.
Hayra yang melihat hero lawannya cukup kewalahan. "Jawi, Lo bisa tank kan?" tanya Hayra.
"Kalo gitu Lo gunain Franco, salah satu dari mereka oke?" saran Hayra dan di balas anggukan oleh Jawi, karena dia lumayan bisa menggunakan hero Franco untuk menarik.
Jayadi memilih hero Kimmy sebagai marksman sekaligus mage, dan Qamal memilih hero Martis sebagai jungler dan fighter, Fandi memilih hero Argus sebagai fighter dan Hayra dia menggunakan hero Fanny sebagai assassin dan untung saja mereka tidak melakukan ban pada hero assassin satu ini.
Setelah semuanya selesai memilih mereka langsung menunggu untuk bermain, para penonton sudah tidak sabar untuk melihat siapakah yang akan menang di pertandingan sengit ini, padahal ini belum babak final tapi pertandingan sudah sangat panas.
Pertandingan sudah di mulai dengan Hayra yang mulai membunuh minion, sedangkan di area midlane sudah sangat rusuh dengan Panji dan Rizwan yang mulai menyerang Jawi dan Fandi yang kewalahan akan kebrutalan Panji dan Rizwan.
Double kill
Mereka terkejut akan kedatangan Hayra yang tiba-tiba dan membuat mereka terbunuh hingga .... tripel kill Hayra kembali membunuh Yuda yang hendak recall di semak-semak tapi keburu di bunuh oleh Hayra sehingga Qamal dapat mengeliminasi turtle.
Kecepatan Hayra dalam bermain game membuat time lawan kewalahan sehingga time Panji berkumpul untuk mengincar Hayra, tapi yang namanya Hayra sesepuh pemain mobile legends hanya biasa saja tidak ada gentar-gentarnya.
Mereka melakukan war di tengah sehingga time Hayra mati tiga dan menyisakan Qamal di, sedangkan time Panji tinggal sisa tiga dengan cepat Hayra langsung membunuh mereka.
__ADS_1
Tripel kill!
Maniac!
Hayra segera pergi untuk mengeliminasi lord, time Panji tidak bisa berkutik sedikitpun karena Hayra memburu mereka berlima.
Para penonton hanya bisa terkagum melihat cara bermain Hayra yang sangat hebat, bahkan time dari PPHS yang ikut nonton tidak bisa berkata-kata melihat permainan itu.
"Gila tuh cewek, berapa tahun dia latihan?" kagum Tama melihat Hayra yang begitu fokus bermain.
"Gila sih, di bantai langsung, ibarat bales dendam gak sih?" senyum Calvin.
Azka juga ikut menonton dia sangat kagum dengan Hayra, tapi tidak dengan Amelia yang entah sejak kapan dia datang tapi dia hanya menatap Hayra dengan pandangan benci.
"Jangan berpencar, kumpul!" ujar Hayra memperingati teman-temannya, Hayra jadi mikir pantas kalah, orang mainnya kek gini, mana bisa menang, hadeh!
. . .
Xavier duduk di kursi paling belakang untuk melihat Hayra bertanding dia tersenyum geli saat melihat wajah masam dari time Panji, karena di bantai habis-habisan oleh Hayra.
"Gue doain semoga Lo lulus sampai babak final!" gumam Xavier menatap Hayra, Xavier mempunyai firasat buruk yang akan terjadi, jadi ia mencoba untuk positif thinking bahwa dirinya hanya gelisah bukan karena apa-apa.
. . .
"Itu kan permainan anak laki-laki, bukan untuk perempuan, kok Hayra mau sih main anak laki-laki!" ujar Amelia dengan wajah polos pada Azka tapi itu tidak mempan, yang ada Azka malah jijik dan berakhir pindah ke bangku sebelah yang di mana itu di dekat Silvia.
"Tukang selingkuh mending diem, berisik!" ketus Putra yang mulai tak suka pada Amelia karena telah berani berkhianat pada Azka.
"Kok kak Putra ngomongnya gitu ...," lirih Amelia dengan kepala menunduk menahan tangis.
Putra ....? Dia tidak peduli yang ada dia hanya mencibir malas menanggapi, mending dia adu mulut sama Hayra dari pada harus meladeni modelan Amelia ini, ngeri!
"Bacot Lo lon*e!" sinis Pawan yang sangat tak suka pada jelmaan manusia jadi-jadian macam Amelia ni.
__ADS_1