Perjalanan Hayra Didunia Novel

Perjalanan Hayra Didunia Novel
EPISODE 23


__ADS_3

Selesai solat magrib Hayra termenung di depan kompor dengan air yang mendidih, entah apa yang dia pikirkan. "Bengong aja, kenapa si?" tanya Xavier duduk di dekat Hayra yang asik bengong.


"Hah," kaget Hayra melihat Xavier duduk di sampingnya, "gak pa-pa, oh ya, mau aku buatin gak?" tawar Hayra memperlihatkan satu bungkus mie.


"Mau lah, dari kemarin gue belom makan," kekeh Xavier.


"Siapa suruh gak makan, masa beras yang gue beli itu udah abis,"


"Masih kok, tapi ya ... gitu males masak aja gue," cengirnya sembari membantu Hayra membuka bungkus bumbu mie untuk di campurkan.


"Hadeh!"


.  .  .


"Ayah aku mau Azka, ayah ...." tangis Amelia seperti anak kecil di depan sang ayah, yang hanya diam menikmati rokok di sela, jari-jari keriput miliknya.


"Berhenti menangis Amelia! Ayah akan memberi mu informasi penting tentang seorang siswi di sekolah mu itu!" ucap Madipurna menatap Amelia dengan pandangan dingin.


"Apa itu ayah?" tanya Amelia dengan nada suara yang sesenggukan.


"Ada salah satu siswi perempuan bernama Hayra Maharani yang terjebak ke dalam dunia kita, jadi kamu sudah tau kan apa yang harus kau lakukan anak manis ...." lirihnya di akhir kalimat beserta senyum jahat di bibir keriput miliknya.


"Dunia ini hanya milikku! Tidak ada yang boleh mengusiknya, apalagi anak manusia lemah itu, tidak akan kubiarkan selamat di dunia ini ...!" gumam Madipurna, tawa jahatnya keluar menggelar begitu saja di bangunan megah itu.


Amelia bergetar takut saat melihat tawa jahat sang ayah, seperti iblis yang baru keluar dari kandang. "A-yah Amelia pamit dulu, besok mau sekolah," pamit Amelia dengan nafas tercekat saking takutnya dengan aura yang di keluarkan oleh sang ayah.


"Hem ..." Madipurna hanya melirik sekilas lalu pergi dari ruangan mewah itu.


.  .  .


..."Kamu harus hati-hati tokoh paling kejam sudah muncul!!!" ...


"Gimana ini? Kita aja belum punya persiapan yang matang untuk mengantisipasi adanya tokoh jahat, lah ini ...! Udah muncul aja!" panik Hayra, melihat kertas pesan yang tiba-tiba muncul menginformasikan bahwa tokoh penjahat dalam novel tidak jelas ini sudah muncul.


"Tenang jangan panik, okey ..." Xavier mencoba menenangkan Hayra yang begitu kalut dengan isi surat itu.


"Gimana gak panik coba, keadaan kita cuma gini-gini doang, gak ada kemajuan, kalo gini terus yang ada, kita bisa mati!" ucap Hayra. "Hah, pokonya gue harus bisa menang di pertandingan ini, supaya kita bisa melawan tokoh jahat itu, kalo cuman modal begini doang yang ada kita cepat kalah!" celoteh Hayra.


"Iya tau, tapi tenang dulu, kita bicarakan ini baik-baik, biar pikiran kita ngalir jadi idenya gak mampet di tengah jalan," ujar Xavier menarik tangan Hayra untuk duduk. "Jangan panik okey?" ucap Xavier menenangkan Hayra yang terlihat gelisah.

__ADS_1


Hayra mengangguk pasrah. "Gini amat dah," lirihnya merebahkan tubuhnya di karpet kartun beruang ayang sudah lusuh.


"Lo gak balik? Nanti pak Sandi nyariin lagi," ucap Xavier memecahkan keheningan di antara mereka berdua.


"Anterin," lesu Hayra merasa tak semangat. "Bantuin berdiri!" Hayra menjulurkan tangannya meminta bantuan.


"Ck! Bocil mageran!" kesel Xavier menarik tangan Hayra hingga berdiri dengan tak sabaran Hayra berjalan lebih dulu sehingga melupakan baju kotak-kotak miliknya sehingga hanya menyisakan tank top crop hitam yang melekat begitu indah di tubuh langsing kecil milik Hayra.


"Tadi datang ke sini gak bawa tas?" tanya Xavier memastikan sambil mengunci pintu dengan baju Hayra yang menggantung indah di pundak lebar miliknya.


"Nggak!" jawab Hayra seadanya.


Xavier mengangguk meng-iyakan lalu kedua remaja itu pun berjalan berdampingan seperti sepasang kekasih, tapi mereka bukan sepasang kekasih mereka berdua tidak terikat hubungan apapun hanya sebatas kenal nama dan umur sudah itu aja.


. . .


Amelia menyodorkan sebuah foto yang dia ambil secara diam-diam. "Ini target kalian, jangan buat dia sampai mati, kasih semacam pembukaan gitu, biar kelanjutannya kalian hajar sampai mati!" sinis Amelia tersenyum jahat.


"Baik nona." jawab pria berkepala plontos dengan brewok yang panjang menambah kesan sangar pada dirinya.


Amelia menyewa sebuah preman untuk mencelakai Hayra saat bertanding nanti, yang di mana besok adalah hari Hayra akan bertanding melawan time dari JBHS mereka sama-sama time dua dan kesempatan itu Amelia gunakan untuk mencelakai Hayra saat bermain nanti.


. . .


"Hem, hati-hati gue masuk dulu, bang!" teriak Hayra di akhir kalimatnya lalu berlari masuk, karena dia sangat malu sebab memanggil Xavier Abang, akhh .... Malunya!


Xavier tersenyum kecut, dia jadi teringat adiknya, bagimna ya kabarnya di sana apa dia masih suka nonton konser NCT kesukaannya, hah .... Xavier harap dia bisa pulang secepatnya ke dunia nyata, dia tidak betah di sini asing! Tak enak.


Sehingga di pertengahan jalan Xavier melihat sebuah brosur yang di tempel dengan iseng Xavier mengambilnya lalu membacanya sambil berjalan.


... Di butuhkan bodyguard pribadi!!! Jika minat silahkan hubungi nomor ini, kejelasan lebih lanjut hubungi nomer yang sudah tertera, terimakasih!...


Xavier mendengus geli, apa-apa brosur ini? Jika di dunia nyata siapa yang akan percaya tulisan seperti itu, paling hanya modus penipuan, ada-ada saja.


"Terima saja, itu peluang kamu untuk bertahan hidup di dunia ini!"


"Anjir siapa yang bicara?" tanya Xavier melihat kiri-kanan yang sudah sepi dan gelap, Xavier mengusap tengkuknya dingin. "Bjir ada setan!" Xavier langsung berlari pergi dari sana tak memperdulikan omongan gaib tadi, tapi kertas brosur itu tetap dia bawa.


. . .

__ADS_1


"Dari mana Lo?" tanya Fandi melihat Hayra yang baru datang.


"Abis pulang tadi, rindu rumah gue," jawab Hayra lalu duduk di sofa yang sudah tersediakan oleh pihak sekolah.


"Ouh!"


. . .


Zulfa tak sengaja menabrak seorang nenek-nenek dengan tongkat kayunya yang patah. "Astaga! Maaf nek Zulfa tidak sengaja!" panik Zulfa saat melihat nenek-nenek itu terjatuh.


"Tidak apa-apa nak," jawab si nenek dengan napas memburu, dan di bantu untuk duduk oleh Zulfa di atas trotoar, Zulfa mengambil barang nenek yang jatuh berserakan.


"Nenek minum, ya?" Zulfa menyodorkan sebotol air mineral untuk si nenek.


"Terimakasih nak, kamu sangat baik," senyum si nenek sembari mencari barang di kantong bajunya yang sudah lusuh. "Terimalah ini nak, suatu saat pasti akan berguna untukmu!" ucap si nenek memberikan Zulfa sebuah kalung berbandul bulan sabit.


Zulfa menerima kalung itu dan melihatnya secara teliti. "Nene-k ...?"


"Dek, kamu tidak apa-apa kan?" tanya seorang ibu-ibu dengan wajah khawatir dan takut secara bersamaan, dan beberapa pengguna jalan yang melihat dirinya dan memvideokan dirinya.


"Memangnya saya kenapa buk?" tanya Zulfa dengan raut wajah bingung.


"Kamu tidak ingat dek, kamu bertingkah seperti orang dengan gangguan jiwa," jelas si ibu memandang wajah Zulfa dengan cemas.


"Maksudnya gimana buk? Mohon maaf saya tersinggung dengan kata-kata barusan, dan satu lagi saya sehat walafiat tidak ada penyakit gangguan jiwa atau semacamnya," jelas Zulfa merasa tidak terima di katai gila seperti tadi.


"Iya nak, tidak apa-apa," ucap si ibu-ibu tadi melihat Zulfa yang melongos pergi dari kerumunan itu.


. . .


Kean tersedak dengan minumannya saat melihat sahabatnya baiknya bertingkah gila di depan jalan umum, yang di mana Zulfa jatuh tersandung entah karena apa tapi yang jelas di sana Zulfa seolah tengah membantu seseorang dan kembali ketengah jalan dan mengambil beberapa batu, dan mengobrol seorang diri di atas trotoar jalan yang lumayan ramai, ya karena di sana jalan raya otomatis banyak pejalan kaki.


"Zulfa, Lo udah gila?" tanya Kean dengan tidak santainya saat melihat Zulfa yang sudah memasuki rumah.


"Maksudnya?" tanya Zulfa dengan kesal, ya kesal! Bagaimana tidak tadi dia di katai gila oleh ibu-ibu, sekarang sahabatnya, besok siapa lagi?


"Nih Lo, liat anjir!" Kean menyodorkan handphone miliknya kepada Zulfa yang di mana Zulfa begitu terkejut saat melihat video dirinya yang seperti orang gila.


'Huh ... pantes saja ibu-ibu tadi mengatai dirinya gangguan jiwa! Siapapun tolong Zulfa dia sangat malu sekarang, mana dia sudah berkata kasar lagi pada ibu-ibu tadi Zulfa jadi merasa bersalah ....

__ADS_1


"Hua ....! Malu ...!" pekik Zulfa menangis di balik bantal sofa dengan Kean yang tertawa ngakak melihat sahabatnya yang menangis karena malu.


Sahabat durjana!


__ADS_2