
Hayra menangis dengan kuat di dekapan Xavier, guna melancarkan aktingnya agar tak di curigai oleh polisi, bagaimana pun juga Hayra ikut terlibat dalam membunuh para penjahat itu, yang semula tigapuluh satu orang kini tinggal dua puluh dua saja.
"Untuk mempermudah pemeriksaan, kami butuh saudara Hayra untuk menjadi saksi di pengadilan nanti, karena berhubung satu keluarga belum sadar, terpaksa saudara Hayra kami jaga 24jam." kata polisi itu, lalu kembali, masuk memasang garis polisi.
Para pekerja yang ikut bersama Hayra, mereka juga menjadi saksi, Hayra berdoa semoga saja senjata yang mereka gunakan sudah di simpan dengan aman, kalo ketahuan bisa panjang prosesnya nanti.
. . .
"Lo kok ceroboh banget sih! Kalo terjadi apa-apa sama Lo gimana?!" geram Xavier. "Mikir lah, Lo baru aja pulang dari rumah sakit, sekarang malah buat ulah lagi!" bingung Xavier tak habis pikir dengan tingkah Hayra.
"Tapi keluarga Azka dalam bahaya Xavi ...!" sanggah Hayra tak mau di salahkan.
"Iya tau dalam bahaya, tapi Lo gak mikir keselamatan Lo gitu? Dengan Lo kek gini kelurga Azka akan bangga, gitu? Nolong orang boleh, tapi utamakan keselamatan Lo dulu, baru nolong orang lain!" tukas Xavier. "Lain kali kalo suara gak jelas itu suruh Lo buat nolong para karakter gak guna itu, abaikan aja, biar mereka usaha sendiri!" sambungnya dengan nada kesal.
"Ya, gak bisa gitu dong, gue di sini karena di perintahkan buat jaga para tokoh yang ada di sini supaya gak ada yang bakalan meninggal," protes Hayra merasa tak terima dengan usulan Xavier.
"Ck! Jaga diri Lo aja gak becus, malah mau jaga orang lain!" sindir Xavier lalu pergi, meninggalkan Hayra yang terdiam.
Xavier khawatir dengan keadaan Hayra, makanya dia semarah itu pada hayra, dia tidak mau terjadi apa-apa dengan gadis itu, jika Hayra terseret kasus yang tadi Xavier tidak bisa menolongnya, melawan hukum tanpa menggunakan uang kasus mu akan di perlambat atau tidak akan di urus. Xavier tidak mau itu terjadi.
"Phoenix, apa tindakan ku salah?" batin Hayra berbicara pada jiwa Phoenix yang berada dalam dirinya.
"Tindakanmu tidak salah, hanya saja tindakmu terlalu gegabah, lain kali hati-hati." peringat jiwa Phoenix.
Hayra menunduk merenung, jadi dia salah ya? Hayra seperti orang bodoh. "Hahah ..., bodoh banget! Buat baik gak di terima dengan baik, kalo bukan karena ingin pulang, gue juga gak mau kek gini, buang² waktu, tenaga!" kekeh Hayra mendongak, menyesali perbuatannya, tentu saja tidak, dia berbuat baik, jika tidak bisa di terima biarkan saja, Hayra tidak peduli.
. . .
__ADS_1
Siang harinya, Azka sudah sadar dari pingsannya mentalnya sangat terguncang, Azka ingin menangis mengingat pelecehan yang di alami oleh mamanya. "Mama ....!" tangis Azka, berteriak histeris.
"Mama ...!" tangis Azka sehingga infus di tangannya lepas, Azka menarik rambutnya dengan kencang sambil berteriak histeris, memangil mamanya.
"Cepat bius dia, sebelum melukai dirinya!" titah dokter itu menyuruh beberapa perawat untuk menangani.
"Lepas! Mama!" berontak Azka.
Mereka menyuntikan obat penenang untuk Azka, dokter yang menangani Azka merasa perihatin dengan keadaan Azka yang seperti ini, apalagi dengan keadaan orang tua Azka yang sangat prihatin.
"Kasihan sekali anak ini."
. . .
Sejak kejadian tadi malam, Xavier jadi mendiami Hayra, sedangkan Hayra yang di diami oleh Xavier tak mau ambil pusing, diam ya diam aja, toh dia juga gak akan rugi? Lagian Xavier juga bukan siapa-siapanya jadi kenapa musti harus di pusingkan.
"Aku siapin makan mau gak?" tawar Hayra, karena dia masih menghargai Xavier sebagai Abang.
Hari ini dia tidak sekolah, karena pihak sekolah masih memberinya libur, lantaran sakit punggung, mereka tidak tau bahwa Hayra patah tulang, jadi ya sudah.
Tiwi dan Ema, mereka nanti sore akan datang berkunjung untuk menjenguk dirinya, jadi tidak masalah.
. . .
Jam dua siang, persidangan kasus keluarga Soni Mahardika akan melakukan sidang di gedung parlemen hukum Namalka, Hayra dia datang sendiri karena Xavier bekerja dan tidak mau juga, karena merasa marah dengan tindakan Hayra. Berita tentang keluarga Soni Mahardika tersebar luas dalam semalam, karena orang tua Azka cukup terkenal dalam dunia bisnis.
Sesampainya di depan gedung Hayra langsung masuk, di sana banyak sekali wartawan yang datang untuk meliput, karena Hayra datang menggunakan masker jadi tidak ada yang tau, para pembantu dan bodyguard itu pun turun datang untuk menjadi saksi.
__ADS_1
Beberapa pertanyaan menjerat di keluarkan untuk Hayra dan para saksi lainnya, wajah Hayra di sorot di beberapa kamera karena dia yang paling muda. "Kenapa anda bisa berada di rumah korban?" tanya pak hakim.
Hayra sempat terdiam. "Saya datang ke sana untuk menemui ibu saya," jawab Hayra dengan gugup, semoga pembantu itu masih ingat dengan pembicara mereka untuk berpura-pura menjadi anak dan ibu.
"Apakah benar? Lalu bagaimana anda tau bahwa ada keributan di rumah tersebut?" tanya pak hakim lagi.
Hayra menjawab begitu hati-hati salah sedikit, bisa-bisa dia jadi saksi berubah menjadi tersangka. "Awalnya saya masuk lewat pintu belakang, lalu saya mendengar ada suara tembakan dari dalam, pas saya akan pergi untuk melihatnya beberapa orang berpakaian hitam keluar, membawa beberapa senjata," jelas Hayra.
"Baik, saksi kedua?" panggil pak hakim beralih bertanya pada bodyguard botak di samping kirinya yang duduk agak jauh. "Awal dari penjelasan dari pihak korban, sempat ada bom asap, lalu ada seseorang yang memukulinya dan menyiksa keluarganya, apa itu benar?" tanya pak hakim.
"Untuk kejadian yang di dalam, saya kurang tau yang mulia, untuk bom asap itu benar adanya yang mulia," jelasnya.
Dalam persidangan tidak ada yang berani menjawab lebih jika tidak di tanya, takut menjadi bumerang dan kasus makin panjang, sebenarnya Hayra begitu takut dan gugup, seumur hidupnya dia baru kali ini masuk persidangan dan menjadi saksi di kasus pembunuhan berencana kelurga Mahardika. Dan kasus keluarga masuk dalam kasus pembunuhan berencana, untuk mayat para tersangka mereka tengah di periksa di rumah sakit, untuk mengambil sidik jadi dan hasil otopsi, karena pria yang Hayra sebat pakai parang sangat di curigai, karena cara matinya sangat beda dari rekannya yang mati tertembak di masing-masing kepala.
. . .
Kasus keluarga Mahardika sangat panas di media masa bahkan berita-berita di tv sibuk menyiarkannya.
Keluarga Pramaja yang kebetulan duduk berkumpul di ruang keluarga ikut menonton berita keluarga Mahardika yang tengah mengalami musibah.
"Kasus pembunuhan berencana terjadi pada keluarga besar Mahardika, yang di serang oleh tigapuluh orang tak di kenal." ucap reporter itu, "mengetahui kasusnya lebih lanjut, kita akan bergabung pada time kami yang berada di lokasi, Zeanita?"
..."Ya, Gea Wati, kami menyampaikan bahwa pak hakim telah mengkonfirmasi kan, kasus keluarga Mahardika terbukti sebagai kasus pembunuhan berencana, para saksi memberitahukan ada tigapuluh satu tersangka, dan mereka masih dalam tahap penyelidikan oleh pihak berwajib, ada total sembilan orang tersangka mereka telah di konfirmasikan sudah meninggal dan kini tengah di lakukan tes visum, untuk mencari hasil lainnya, sekian ...."...
Wajah Hayra terpampang jelas di dalam tv dan di serbu oleh beberapa wartawan, Arlos yang kebetulan menonton mengenali wajah Hayra.
"Bukankah, gadis itu yang sudah ku tolong?" batin Arlos. "Ada hubungan apa dia, kenapa bisa terjerat kasusnya keluarga Mahardika?"
__ADS_1
. . .
Xavier dia hanya menonton di tv yang terpasang di post satpam, sejujurnya dia kasihan dengan Hayra tapi egonya terlalu mendominasi membuatnya acuh, lalu kembali bekerja, tak memperdulikannya.