
Kediaman Madipurna terjadi sebuah kerusuhan yang di sebabkan oleh orang tak di kenal, dengan sepenggal surat ancaman untuk mereka, seluruh keluarga itu menangis dan berteriak histeris melihat barang mewah, mahal milik mereka hancur, mereka lebih memperdulikan barang mewah dari pada nyawa mereka sendiri.
"Kurang ajar! Kenapa kalian bisa lalai seperti ini sialan! Saya menggaji kalian mahal-mahal untuk menjaga rumah saya! Bukan malah bermain tidak jelas!" bentak Madipurna di depan maid dan bodyguard yang menunduk takut padanya.
"Jawab saya, apa yang kalian kerjakan selama saya tidak ada di rumah? Kenapa rumah saya bisa berantakan seperti ini, hah!" tanyanya dengan nada emosi dan bentakan.
"Maaf tuan, kami menjaga rumah tuan dengan baik, tapi tiba-tiba ada sebuah bom asap yang mengerang kami, seketika itu kami semua pingsan!" jelas pria berbadan kekar dengan kepala tegak, sepertinya dia adalah ketuanya.
"Kurang ajar! Apa ini kelakuannya Soni? Jika iya akan ku balas kau bedebah sialan!" desis Madipurna, dia tidak bisa mencari buktinya karena seluruh cctv nya di rusak. "Sialan! Cepat bersihkan semua kekacauan ini!" suruhnya lalu pergi, memijat pangkal hidungnya, merasa pusing dengan kejadian yang di alaminya.
. . .
Seorang pria tersenyum misterius penuh kepuasan di depan layar komputer yang menayangkan kekesalan keluarga Madipurna, tak lupa matanya menatap Amelia dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Wanita licik itu ....! Bagus sekali buat di mainkan!" lirihnya. "Ah .... Aku belum berterima kasih pada keluarganya Soni karena telah ku jadikan kambing hitam!" kekehnya pelan lalu pergi.
. . .
Sudah satu Minggu berlalu untuk pertandingan MLBB sudah di mulai kembali pada hari kemarin, tapi sayang sekali Hayra tidak bisa ikut, karena tulang belakang punggungnya yang masih belum sembuh, jadi dia hanya bisa duduk, tidur, makan dan merenung, jika kebelet buang boker dia paling berusaha sendiri ke kamar mandi, siapa yang mau menolong, Xavier? Dia kerja bro, jadi pulangnya pun malam.
Sehingga sebuah ketukan di pintu rumahnya membuat Hayra tersadar dari lamunannya. "Siapa?" teriak Hayra dari dalam, tapi tidak ada sahutan dari luar. "Woy! Lo jangan main-main anjing! Siapa sih Lo?" teriak Hayra lagi.
Tidak ada sahutan yang ada malahan pintu rumah yang tidak di kunci itu terbuka dan menampakkan seorang pria bertubuh kekar masuk dengan sebuah topeng langsung membius Hayra hingga pingsan tanpa ada perlawanan.
Pria itu dengan mudah membawa Hayra yang sudah pingsan, tanpa takut ketahuan oleh tetangga yang berada di sana, memang dasarnya tetangga tidak ada karena di bangunan padat itu yang di huni hanya sedikit tapi para penghuninya kebanyakan pergi bekerja, tapi ada salah satu bocil Free Fire yang mengintip kejadian tadi, sehingga mengikutinya ke jalan raya, memang dasarnya mobil tidak bisa masuk, jadi mau tak mau si pria itu menggendong Hayra hingga ke depan.
"Dia mau bawa kakak itu kemana?" gumam si bocil Free Fire.
. . .
Xavier mengawasi bocah SMP yah, dia di suruh untuk menjaga bocah SMP yang sangat menyebalkan, di sini emosi dan kesabarannya di uji oleh bocah ini, karena cerewet dan banyak tingkah, Xavier sempat tidak tahan, tapi mengingat Hayra dia jadi semangat untuk bekerja.
"Kakak bawain aku ini ya, aku mau ke toilet sebentar?" pinta si gadis SMP bernama Naira.
__ADS_1
Xavier hanya mengangguk malas lalu mengikutinya ke depan toilet wanita, tapi dia hanya menunggunya di depan, mana berani ikut masuk ntar yang ada di keroyok masa oleh para betina di mall besar ini, tiba-tiba perasaan Xavier jadi tidak enak, dia ingin cepat-cepat pulang, tapi ini masih siang, Xavier jadi gelisah tak karuan.
. . .
Hayra membuka matanya dan betapa terkejutnya dia saat menemukan dirinya duduk terikat dengan tegak mulai dari pergelangan kaki, tangan, sehingga leher, lalu pinggang, Hayra ingin menangis saking sakitnya di bagian punggung akibat di ikat dan di dudukan secara tegak.
"Huh .... Ya Allah sakit!" batin Hayra mengambil napas untuk menghalau rasa nyeri di punggungnya.
"Wah, wah, sudah bangun rupanya ...." ucap seseorang yang muncul dari kegelapan tak lupa sebuah kapak di tangan cantiknya.
Hayra mendongak dan betapa terkejutnya dia saat melihat orang yang berdiri di depannya tak lupa pria tua berdiri di samping si gadis yang tengah memegang kapak!
"Lo!" kaget Hayra merasa tak menyangka.
. . .
Fandi dan yang lainnya datang ke rumah Hayra, dan bertepatan dengan Azka dan kawannya juga ikut, kecuali Nolan, setelah kejadian berselingkuhnya dengan Amelia dia sedikit menjauh dari para sahabatnya.
"Ya mau jenguk Hayra lah, oot!" kesal Putra duduk di atas motornya.
"Ya biasa aja lah anjing!" timpal Jayadi ikutan kesal.
"Udah woy, mending kita masuk temuin Hayra," usul Qamal lalu berjalan masuk memanggil Hayra tapi tidak ada sahutan, maka dari itu dia mencoba untuk membuka pintu kayu itu, Qamal mengintip dia tidak menemukan Hayra yang ada hanya tempat tidur Hayra yang berantakan dengan gelas yang pecah beserta air yang menggenang.
"Ra, Hayra! Lo di mana?" teriak Qamal panik memasuki rumah kecil itu, mereka yang di luar ikutan panik, ikut masuk menyusul Qamal.
Qamal menyibak, gorden antara dapur dan tempat tidur Hayra tapi kosong. "Ra, Hayra jangan ngumpet lah, gak lucu sumpah!" ucap Qamal mencari Hayra hingga ke halaman belakang tempat kamar mandi dan kali yang penuh dengan sampah.
"Hayra kemana?" tanya Fandi yang ikutan panik.
"Dia gak ada di sini Fan, tuh anak kemana dah! Udah tau lagi sakit juga!" panik Qamal menatap sekitaran kali dengan air yang keruh bercampur bau busuk.
"Apa mungkin dia di culik!" tebak Jawi.
__ADS_1
"Siapa yang mau nyulik tuh anak, emang dia orang kaya? Penculik juga pilih-pilih kali, mana yang kaya mana yang miskin!" cibir Putra.
Sehingga sebuah tabokan keras di kepalanya membuat dia meringis ngilu. "Awss .... Apaan sih lo, Wan?" kesal Putra mengusap tengkuknya yang panas.
"Jaga omongan Lo, gak seharusnya Lo bicara kek begitu, di saat orang lagi panik!" ucap Pawan dengan nada dingin, tidak ada nada becandaan seperti biasa. "Gue tau Lo gak suka dia, tapi tolong kondisikan mulut Lo buat bicara lebih baik, gak malu apa?" nasehat Pawan menatap Putra yang merenggut tidak suka.
Bukannya mendengarkan nasihat Pawan, Putra malah memonyongkan bibirnya sambil mengejek, menatap sinis Pawan yang ikut bergabung bersama Fandi dan Qamal yang tengah berdiskusi.
"Coba telpon bang, Xavier?" usul Jawi.
"Lo kan tau, bang Xavier gak punya handphone, gimana sih!" kesel Jayadi.
"Oh ya lupa!"
Azka? Dia hanya diam, lelaki plin-plan ini sungguh tidak bisa di andalkan karena dia hanya berharap Silvia menjawab telpon dari dirinya, dan tak membuahkan hasil .... Eak!
. . .
"Bagaimana Hayra Maharani, enak tidak mengalami time travel ke dunia lain?" tanya seorang wanita itu dengan senyum iblis.
Hayra hanya menunduk menahan amarah, jika tidak sakit dia sudah menghajar wanita sialan di depannya ini, Hayra bersumpah jika ia selamat dia akan mencari wanita baj*ngan untuk membalaskan dendamnya.
Sehingga suara tamparan membuat pipinya panas. "Kenapa kamu harus melintasi dunia ini Hayra, karena kedatangan mu yang tidak jelas membuat tokoh karakter novel ini berubah sialan!" amuknya kembali menampar Hayra yang sudah tersungkur bersama kursinya.
Rasa sakit menjalar keseluruh tubuhnya, punggungnya pun kian terasa nyeri tubuhnya seakan ingin hancur merasakan sakit di bagian punggungnya, bekas tamparan wanita itu Hayra tidak terlalu merasakan sakitnya, tapi punggungnya yang patah kian tambah nyeri membuat Hayra menangis diam.
"Gara-gara lo sialan! Gara-gara lo rencana gue jadi berantakan anjing ....!" teriak wanita itu dengan menggila lalu menendang perut Hayra sehingga menambah sakit yang tadinya sudah sedikit mendingan, menjadi dua kali lipat lebih sakit.
"Hah ..., ibu sakit!" gumam Hayra dengan mulut di penuhi darah. "Ya Allah, sakit, gak kuat, ini sakit banget ya Allah, siapapun tolong, ini sakit!" tangis Hayra tak di perdulikan yang ada di wanita itu malah tertawa jahat.
"Hahahaha .... Mati kamu Hayra Maharani!" di saat hendak mengayunkan kapak itu ke leher Hayra yang sudah pingsan, tiba-tiba sebuah cahaya muncul mengelilingi tubuh Hayra membuat wanita itu terpental membentur tembok dengan keras.
"Akhhh ....!"
__ADS_1