Perjalanan Hayra Didunia Novel

Perjalanan Hayra Didunia Novel
EPISODE 39


__ADS_3

Selesai membuat bumbu rujak Hayra langsung mencobanya dan rasanya sangat pas. "Yok, coba di jamin nagih, dah!" ucap Hayra menyodorkan cobek beserta buah yang sudah di kupas.


"Ngeri gue liat sambelnya coklat begini!" gurau Fandi mencoba rujak Hayra.


"Gimana Fan, enak gak?" tanya Jayadi yang hendak mencolek sambal tapi menunggu reaksi Fandi.


"Coba aja sendiri," ucap Fandi tak mau memberitahu Jayadi bagaimana rasanya, sedangkan yang lain sudah mulai dari tadi, dengan ekspresi masing-masing.


Hayra masuk ke dalam untuk membuat bumbu ikan, agar nanti saat di panggang tidak terasa hambar. "Ini ikannya udah di kasih garam belum?" tanya Hayra melihat ikan itu.


"Udah, tadi!" jawab Tiwi dengan mulut yang kepanasan.


. . .


Xavier termenung di atas balkon kamarnya, dirinya merasa seolah ada yang hilang dari dalam tubuhnya. "Sebenarnya gue kenapa?" lirih Xavier menatap bulan malam yang begitu indah.


"Nak, ayo turun makan?" panggil Berlina di daun pintu.


"Iya ma," sahut Xavier lalu ikut berjalan bersama sang ibu.


Louis yang melihat anaknya mulai menurut tersenyum lega, semoga anaknya tidak kembali, seperti sedia kala yang memberontak tak mengakui dirinya. "Selamat ayah, dek!" sapa Xavier lalu duduk di bangku dekat ayahnya.


Kedua adik kembarnya merasa terkejut atas kepulangan sang kakak. "Yah, kakak kapan ketemu?" tanya anak kedua.


"Maksud kamu apa Lewis?" tanya Xavier dengan nada dingin, meletakkan sendok yang hendak masuk ke dalam mulutnya.


"Aaa ...." bingung Lewis.


"Jadi, dia tidak mengingat dirinya?" batin Louis, menatap anak sulungnya. "Kamu mengingat gadis yang berbicara terakhir kali bertemu denganmu?" tanya Louis memastikan.


"Gadis? Aku bahkan tidak pernah dekat dengan gadis lain, ayah kan tau sendiri!" jelas Xavier.

__ADS_1


"Ada yang tidak beres, apa yang gadis aneh itu lakukan?" batin Louis, dia akan mencarinya nanti.


. . .


"Sederhana tapi enak!" ujar Qamal mengusap perutnya yang kekenyangan. "Mantap Ra, kapan-kapan kita buat lagi yang kek beginian," tutur Qamal.


"Bener gue dah nambah beberapa kali, soalnya sambel buatan Lo enak banget!" timpal Jayadi.


"Kapan-kapan, gue mau belajar masak sama Lo, bisa kan? Soalnya Lo udah buat sambel aja udah seenak ini, apalagi kalo masak, beh pasti enak banget!" sahut Ema.


"Sip, di tunggu undangannya," senyum Hayra, pada teman-temannya.


Selesai makan, kedua perempuan ini membantu Hayra untuk mencuci piring meskipun sudah di larang oleh Hayra karena tempatnya sempit, tapi mereka berdua tetap kekeuh ingin membantu.


Kini tinggal Hayra sendiri di dalam rumah kecil itu, tetapi sebuah goncangan mengagetkan Hayra sehingga berlari keluar, tak lupa asma Allah dia sebut, untuk menenangkan hatinya yang takut. "Astaghfirullah'lazim, gempa!" kagetnya.


"Itu, bukan gempa nak, melainkan bangkitnya sang antagonis pria utama, kedatangannya begitu terlambat!" tandas jiwa Phoenix. "Maka dari itu, kamu harus bisa melatih fisik, beserta batin kamu, untuk bisa melawannya!" perintah sang jiwa Phoenix.


"Jika seperti ini terus kamu bisa kalah nak, karena mulai sekarang kamu hanya akan melawannya sendiri, tanpa campur tangan orang lain!" jelas si jiwa Phoenix.


Energi alam bisa membuat elemen angin semakin kuat sedangkan energi hujan atau air bisa membangkitkan petir beserta es, sedangkan energi panas kering bisa membangkitkan elemen api, kekuatan Phoenix asli yakni api. Maka dari itu Hayra akan memulainya di musim panas, karena dua Minggu lagi akan datang musim panas, karena dari itu Hayra memulainya dari musim panas.


. . .


"Why, dear? I'll do it slowly, it won't hurt," bujuk si lelaki menindih tubuh kecil Amelia yang bergetar ketakutan.


"Aku mohon jangan lakukan itu, nanti ayah bisa marah!" tolak Amelia bergetar ketakutan di bawah kukungan kakak kelasnya.


"Aku akan tanggung jawab kok baby, jadi mau ya?" bujuknya.


Amelia menggeleng kuat, sembari memberontak kecil, si pria yang merasa terganggu dengan pemberontak Amelia merasa marah, tapi baru saja hendak menamparnya sebuah ketukan pintu, membuat kedua sejoli itu bangkit.

__ADS_1


"Ayah ...!" panggil Amelia memeluk Hendrawan karena dirinya sangat takut pada kakak kelasnya yang sangat menyeramkan.


Sebagi seorang ayah Hendrawan tentu tidak bodoh untuk tidak mengetahui ketakutan anak gadisnya, yang merasa ketakutan, maka dari itu Hendrawan menatap tajam pemuda itu, sialnya lagi malah di balas dengan senyum miring seolah merasa meremehkannya.


"Ayo pulang." ajak Hendrawan membawa putri satu-satunya itu, pergi dari rumah Kevaro, kenapa mereka bisa ada di sana karena Hendrawan tengah mengunjungi sepupunya, dan sialnya lagi anak sepupunya yakni Kevaro begitu menyukai Amelia anaknya, terbukti dari hasil kiss mark miliknya tertinggal di tubuh anaknya.


"Kurang ajar!"


. . .


Seperti biasa Hayra berangkat ke sekolah menggunakan angkot, sesampainya di sekolah Hayra begitu bingung, kenapa para anak perempuan berteriak begitu heboh. "Ini kenapa, kok pada teriak-teriak?" tanya Hayra pada siswi yang duduk di sana.


"Wah, Lo gak tau?" tanya cewek itu balik.


"Nggak, emangnya kenapa?"


"Kita tuh kedatangan anak kuliah yang melakukan KKN, nah maka dari itu mereka heboh karena KKN yang datang tuh ganteng-ganteng, begitu!" jelas si siswi itu dengan nada antusias.


Hayra yang mendengar itu meringis ngilu. "Haduh!" batin Hayra, gak di sini gak di sana sama aja, tapi kita gak seheboh mereka.


"Ngeri cuy!" ringis Hayra. "Tapi bisa lah, nanti minta foto!" gurau Hayra Menaik turunkan kedua alisnya.


"Jiak! Lo mah, nanti kalo si kakaknya mau!" becanda mereka.


"Gue sih harus dapat ya, pokonya gak boleh nggak!" teriak siswi lainnya dengan nada lebay.


"Nanti kalo yang datang KKN nya jelek, gimana?" timpal satu cowok dengan senyum menyebalkan.


"Dih, pasti ganteng lah, gak mungkin buriq kek Lo!" sinisnya.


"Aduh, hati Abang tersentil dek, pedes sekali!" lebay cowok itu, semakin gencar menggoda cewek emosian itu.

__ADS_1


Hayra hanya bisa tertawa melihat ke absruttan mereka, setidaknya dia tidak di musuhi oleh teman sekolahnya di sini.


. . .


__ADS_2