Perjalanan Hayra Didunia Novel

Perjalanan Hayra Didunia Novel
EPISODE 36


__ADS_3

Hayra mendapatkan perintah untuk menemui Amelia dan ayahnya karena ayah Amelia kunci dari jawaban yang Hayra cari, mulai dari kasus Mahardika dan Madipurna, walaupun Madipurna telah di tetapkan sebagai tersangka dari kasus pembunuhan berencana, tapi ada bukti lain yang harus polisi cari.


"Gue harap, semua ini bisa selesai dan gue bisa pulang, lelah anjir di sini, dapat masalah Mulu tiap hari, gak ada berhenti-hentinya!" gumam Hayra menekan bell pada gerbang besar itu.


"Cari siapa?" tanya satpam itu.


"Amelia, pak!" jawab Hayra.


"Apa sudah membuat janji?" tanya satpam itu.


"Emang harus buat janji dulu ya pak?" tanya Hayra dengan polosnya.


"Setiap yang orang yang datang ke rumah ini, harus memiliki janji dengan tuan rumah, jika tidak anda bisa pergi dari sini!" kasih tau satpam itu dengan mengusir Hayra.


"An--"


"Biarkan dia masuk!" perintah orang yang berada di dalam rumah, berbicara menggunakan earphone.


"Anda boleh masuk, silahkan?" ucap satpam itu tiba-tiba.


"Loh, tadi katanya gak boleh, kok sekarang--"


"Udah-udah nona masuk saja sana!" dorong satpam itu, hampir membuat Hayra nyungsep.


"Kalem bang kalem! Gak usah dorong-dorong, lah!" sungut Hayra menatap penuh permusuhan pada satpam yang sudah berdiri acuh tanpa memperdulikan ocehannya.


Sesampainya di depan pintu besar itu, Hayra langsung berteriak mengucapkan salam, bodoh amat gak ngerti, yang penting dia sudah mengucapkan salam, sebagai anak Adam dan umat nabi Muhammad Hayra harus menuruti sunah Islam, bila anda bertamu ke rumah orang, maka hendaklah kamu mengucapkan salam.


"Seleb banget anjing! Apa susahnya coba buat buka pintu!" maki Hayra, mulut toxicnya sudah keluar, jadi susah untuk di kontrol.


"Mari nona." ujar maid itu dengan ramah membimbing Hayra untuk sampai ke ruangan tempat tuanya berada. "Silahkan masuk nona, tuan sudah menunggu di dalam, permisi!" kata maid itu dengan suara pelan lembut, huh ... maid idaman sekali.


"Inikah yang di namakan rumahnya para mafia?" kagum Hayra melihat interior dan furniture rumah itu yang sangat mewah. "Assalamualaikum om?" salam Hayra setelah melihat perawakan lelaki gagah itu.


"Hayra Mahalani?" tanya pria itu berbalik badan membuat Hayra tidak bisa bernapas.


"Allahuakbar ...." kaget batin Hayra melotot melihat ketampanan manusia yang berdiri di hadapannya ini. "Kok tau nama saya om? Mata-mata ya ...?" gurau Hayra di akhir kalimatnya.


"Ada apa kamu mencari saya?" tanyanya mengalihkan pembicaraan Hayra yang tidak ada faedahnya.


"Maaf nih ya lancang, om kan yang adu domba antara Madipurna dengan Mahardika?" langsung Hayra tanpa neko-neko.


"Jika iya?" tanya balik pria itu dengan senyum miring.


Hayra mengangguk tenang sambil membetulkan posisi duduknya. "Ouh ..., apakah ini motif balas dendam untuk putri anda? Tuan Hendrawan Madipurna Jaya!" lirih Hayra sambil menekan kata nama Hendrawan Madipurna Jaya.


Hendra cukup terkejut dengan Hayra yang tau nama aslinya, dia salah menduga dengan bocah SMA ini. "Siapa kamu, anak kecil?" tanya Hendra.


Sedangkan Hayra yang di tanya begitu, jadi mengingat sifa kartun dari India itu. "Jangan panggil aku anak kecil paman!" gurau Hayra sambil tertawa pelan, tidak mungkin ngakak nanti jatuhnya tidak sopan, sebenarnya perlakuan Hayra yang seperti itu juga tidak sopan.


"Aduh, maaf paman maaf, kenapa bertanya lagi? Jelas-jelas kan om sudah tau nama saya, Hayra Mahalani!" kata Hayra. "Satu lagi, saya ke sini ingin meminta bantuan om--"

__ADS_1


. . .


"Akhh ...!" ringis Xavier memegang kepalanya yang berdenyut nyeri. "Apa yang terjadi?" bingungnya saat bangun di ruangan mewah. "Apa ini transmigrasi lagi?" tanyanya. "Anjing, yang satu aja belum kelar, lah ini pindah lagi! J*ncok!" umpat Xavier dengan kata-kata kasarnya.


"Sudah bangun sayang?" tanya seorang perempuan tua yang masih sangat cantik dengan suara lembutnya.


"Belum kok sayang!" jawab Xavier tak sadar, karena masih asyik dengan khayalnya. "Eh ..., nona cantik namanya siapa? Kenalkan dong?" goda Xavier dengan alis sebelah naik turun.


Berlina tersenyum sedu melihat tingkah anaknya yang sudah tak mengenal dirinya. "Mas,"lirih Berlina dengan air mata yang turun merembes keluar.


"Sini?" panggil Louis pada istrinya yang mulai mendekat.


"Lah, kok nangis?" bingung Xavier. "Aduh, nona manis jangan menangis, saya cuma bercanda, sius deh gak bohong!" bujuk Xavier dengan dua jarinya berbentuk V.


"Kau, benar-benar tidak ingat dengan mommy mu, boy?" tanya Louis.


"Aduh, udah berapa kali sih gue bilang, gue itu gak punya orang tua!" jawab Xavier, dengan nada suara yang sudah mulai berubah. "Satu lagi, pulangkan saya, adik saya pasti khawatir di rumah!"


..."Alamak, senangnya Xavier tidak pulang, lebih baik Xavier tidak usah pulang, pergi aja sekalian!" senang Hayra berjingkrak-jingkrak di dalam rumah....


"Tidak, di sini rumahmu, dan pelan kan suaramu, kami berdua adalah orang tuamu, nanti malam kamu harus melakukan pemeriksaan, tampaknya ada yang tidak beres dengan kepalamu!" ucap Louis lalu keluar, tak lupa mengunci pintu, dua penjaga berdiri di depan kamar Xavier.


Tak lupa Xavier di letakkan di lantai lima, agar tidak bisa kabur, Louis tidak ingin anak sulungnya menghilang lagi.


"Apa maksudnya ini? Sejak kapan gue anaknya si Louis, Louis itu!" bingung Xavier. "Kayaknya gue harus bertanya pada Hayra, ada yang gak beres nih!"


Xavier mencari telpon rumah, karena dia kan tidak punya telpon genggam. "Hayra angkat dong!" gumam Xavier.


. . .


"Hem ...." dehem Hendra, dia tidak menyangka bocah itu bisa mengetahui fakta tentang keluarganya, kali ini dia sedikit salah lawan, ingat hany sedikit tidak selebihnya.


Hayra merasa tenang, karena Hendra siap menjadi bekinganya jika sewaktu-waktu dirinya berubah jadi tersangka, karena semua data para bodyguard dan pembantu itu tengah di periksa, jadi otomatis Hayra akan ketahuan sudah berbohong.


"Gak nyangka banget nih novel banyak banget plot twistnya bjir!" kesal Hayra, mulai dari Amelia lalu Xavier, adoh ... pusing tuh Hayra.


"Halo, sapa ni?" tanya Hayra pada penelpon asing tu.


^^^"......"^^^


"Lo gak usah kemana-mana, diem aja di situ, besok siang sepulang sekolah, gue yang akan datang temuin Lo, jadi turuti aja, kemauan kelurga barumu itu, jangan banyak tingkah!"


^^^"......"^^^


"Gak usah tapi-tapian, gue tutup dulu, assalamualaikum!" Hayra mematikan sambungan telpon, besok dia harus datang ke kediaman Pramaja karena Xavier namapknya butuh keterangan diri.


"Huh .... Bismillah tinggal sedikit!"


. . .


"Halo, sapa ni?"

__ADS_1


^^^"Ini gue Xavier! Gue mau ketemuan sama Lo bisa, soalnya gue butuh penjelasan, masa iya gue di culik, sama orang, terus ngaku-ngaku jadi orangtua gue lagi, nanti gue usahain buat ka--" perkataan terpotong oleh suara Hayra.^^^


"Lo gak usah kemana-mana, diem aja di situ, besok siang sepulang sekolah, gue yang akan datang temuin Lo, jadi turuti aja, kemauan kelurga barumu itu, jangan banyak tingkah!"


^^^"Tapi Ra, gue---"^^^


"Gak usah tapi-tapian, gue tutup dulu, assalamualaikum!"


Suara sambungan telpon pun, terputus. "Waalikumus'salam," lirihnya melihat sambungan telpon itu terputus. "Berarti Hayra tau dong, kalo gue di culik, semoga dia bisa bebasin gue besok!" senengnya.


Entah kemana hilangnya otak pintar lulusan S1 Xavier ni, kenapa jadi bodoh begini, aduh .... Xavier, Xavier.


. . .


Azka menangis di samping ranjang rumah sakit tempat mamanya berbaring, mamahnya seperti menolak bangun akibat insiden satu malam yang mereka alami, Azka merasa perihatin, apalagi dengan keadaan sang ayah yang harus bolak balik ke pengadilan untuk mengurus kasus keluarga mereka, padahal fisik Soni juga sama terlukanya seperti mereka.


Soni akan melakukan apapun untuk membalas keluarga Madipurna, Soni merasa gagal menjadi kepala keluarga, dia gagal, bahkan istrinya sempat di lecehkan di depan matanya, rasanya jika mengingat itu Soni merasa marah sedih secara bersamaan, Soni bahkan tak kuasa menahan tangisannya jika mengingat kejadian itu.


"Kali ini saya tidak akan main-main lagi Madipurna, rencanamu sudah keterlaluan!" desis Soni, lalu menelpon salah satu sahabatnya, untuk meminta bantuan, di pengadilan nanti, agar kasus Madipurna sang tersangka semakin di perkuat, jika perlu Madipurna akan di penjarakan seumur hidup dan di taruh di dalam sell napi yang sangat kejam.


"Maaf, gara-gara masalahku, kamu seperti ini, maafkan papa mah, maaf karena papa gak bisa jaga mama!" tangis Soni menelungkup kan kepalanya di bahu sang istri yang masih koma.


. . .


Seperti biasa Hayra berangkat ke sekolah, menggunakan angkutan umum, sesampainya di sekolah Hayra bertemu dengan Ema dan Tiwi, tak lupa sepuluh pria remaja yang masih nongkrong di parkiran yang masih pagi belum terkena sinar matahari.


"Hayra ..." pekik Tiwi pelan menyambut Hayra.


"Hay!" sapa Hayra balik. "Yuk masuk?" ajak Hayra.


"Ayo?"


Saat mereka akan melewati parkiran. "Pwitt ...! Tiwi sayang!" goda Qamal yang berdiri menggoda Tiwi yang semakin menunduk malu.


"Ayo, ih ..." kesal Tiwi yang sudah merasa malu, karena Qamal semakin gencar menggoda dirinya.


"Pwitt .... Ayang Tiwi, cuek bae?" goda Qamal yang kini sudah mendekat ke arah Tiwi yang hendak lari, karena dia sangat malu.


Bagaimana tidak malu, dia menjadi tontonan anak sekolah yang baru datang, mana mereka ikut menggodanya lagi. "Mal, tembak mal, ntar di tikung orang!" teriak salah satu murid yang ikut menonton.


"Selagi surat nikah belum keluar, masih aman kok untuk di tikung!" sahut Hayra yang ikut menggoda Tiwi, yang pipinya sudah seperti lobster rebus.


"Eak ..., mantap!" sahut Ema.


"Tuh, denger kata Hayra, sebelum surat nikah belum keluar, masih aman kok!" timpal Jayadi.


Anak-anak yang ada di sana tertawa senang melihat salah satu dari mereka yang terkena godaan atau semacamnya, drama pagi ini sangat menyenangkan. Qamal menarik tangan Tiwi untuk pergi dari sana, karena dia kasihan melihat Tiwi yang sudah sangat malu, bahkan hendak menangis saking malunya.


"Dedek, mau di bawa kemana bang!?" teriak Hayra dengan nada ketawa yang sangat keras.


Sudah berbulan-bulan dia di sini baru kali ini dia tertawa selepas tadi, seolah beban pikirannya pergi makan untuk membiarkan otak Hayra fresh sebentar menikmati pagi yang indah ini.

__ADS_1


. . .


Waduh, maaf Yo kemarin malam aku gak up 🙏🙂


__ADS_2