Perjalanan Hayra Didunia Novel

Perjalanan Hayra Didunia Novel
EPISODE 40


__ADS_3

Xavier kembali berkuliah, dan hari ini kelompok mereka akan melakukan KKN di salah satu sekolah negeri yakni di SMA negeri Cendana 11 mereka akan melakukan KKN di sana selebih satu atau dua Minggu, untuk yang lain mereka melakukan KKN satu bulan lebih.


Mereka melakukan perjalanan sekitar satu jam lebih, jauh kan? Ya jelas jauh.


.  .  .


"Kemana aja Lo Maemunah!" ucap Weza tiba-tiba di belakang Hayra lalu merangkulnya.


"Ngagetin aja Lo kamvert!" delik Hayra merasa terkejut atas tindakan Weza.


"Hehe, tumben gue liat Lo, sehat kak?" tanya Weza melepas rangkulannya, karena dia tau bahwa Hayra tidak nyaman, huh salah dirinya sih main rangkul-rangkul segala.


"Alhamdulillah sehat walafiat!" jawab Hayra, meskipun Weza tak mengerti dengan kata awal dan akhir kalimat yang di ucapkan Hayra dia hanya mengangguk sebagai respon.


Mereka berenam berjalan di lorong sekolah yang masih ramai, dengan beberapa tatapan siswa-siswi. "Mau gak Ra?" tawar Timo, menunjukkan eskrim yang sudah ia makan.


"Bekas Lo, gak mau," tolak Hayra.


"Padahal kalo Lo mau bisa gue beliin kok," papar Timo.


"Iya udah gue mau," sahut Hayra.


"Gak jadi ah, tadi aja nolak!" kilah Timo merasa sedih.


"Yee, anak Dugong!" kesel Hayra. "Dah lah, kamvert lu timun!" kesal Hayra lalu berlalu pergi, bertepatan dengan itu para anggota KKN juga masuk, mereka datang saat jam pelajaran kedua, jadi mereka akan melakukan kegiatan mengajar pada kelas tertentu yang sepertinya di acak, tapi setiap kelas pasti akan dapat.


.  .  .


Sebuah tabrakan kecil terjadi, antara Hayra dan Xavier, sehingga menyebabkan buku yang di bawa Xavier terjatuh.


"Aduh bang, maaf ya, saya gak sengaja!" panik Hayra membantu memungut tiga buku yang jatuh itu.

__ADS_1


"Caper!" sinis salah satu dari mereka, karena biasanya itu yang di lakukan para bocah SMA untuk menarik perhatian mereka jika bertemu atau kebetulan.


"Sekali lagi maaf bang!" balas Hayra, lalu pergi tak mau memperkeruh keadaan, tanpa mau melirik mereka.


Xavier hanya menatap diam, dia seolah mengenal suara gadis itu, tapi di mana, akhh ... dia pusing, semenjak bangun dari kamarnya dirinya seolah berbeda seperti ada yang hilang tapi apa!


"Vier, vier, Xavier!" panggil salah satu temannya yang melihat keterdiaman Xavier.


"Hah," linglung Xavier.


"Lo gak pa-pa kan?" tanya mereka.


"Gak pa-pa, udah ayo ke kantor?" ajak Xavier menormalkan ekspresi wajahnya.


.  .  .


"Aduh, itu Xavi?" gumam Hayra menormalkan napasnya yang ngos-ngosan, "waduh, si Xavi dingin ya, beda kali pas dia hilang ingatan, kek mak-mak, cerewet." kekeh Hayra pelan, sejujurnya Hayra rindu Xavier, dia kangen, bahkan saat dia sedih Xavier selalu mengerti keadaannya, tapi sekarang dirinya harus merelakan sosok Xavier untuk bersama keluarganya, dia tidak boleh egois.


Bohong jika dirinya tidak merasakan getaran saat berada di samping Xavier, dia tidak bodoh untuk tidak merasa tau bahwa hatinya telah jatuh dalam pesona Xavier, gadis mana yang akan tidak jatuh cinta pada pria yang tinggal satu atap tanpa ikatan apapun apalagi effort yang di lakukan Xavier telah membuat dirinya jatuh, sejatuh-jatuhnya.


"Huh ..., Malah jadi sad!" gumam Hayra.


.  .  .


Entah angin dari dari mana, tiba-tiba Hendrawan meminta salah satu anak Louis untuk bertunangan dengan anaknya Amelia, Hendrawan tidak mau anak sepupunya itu memiliki anaknya Hendrawan tidak akan pernah mau.


"Apa jaminan yang saya dapatkan jika saya menjodohkan salah satu anak saya kepada putri anda?" tanya Louis.


"Saya akan memberikan salah satu saham saya yang berada di Benuzzla!" jawab Hendrawan dengan mantap.


Louis mengangguk mengiyakan, dirinya akan menjodohkan Xavier, kenapa dia memilih Xavier agar Xavier bangkit dari keterpurukannya dan tidak alergi terhadap perempuan lagi, Louis jadi bingung dengan sang anak tu.

__ADS_1


.  .  .


Waktu pulang sekolah, sudah tiba Hayra pamit pulang lebih dulu, sebelum semuanya pulang, Hayra harus pergi ke sekolah PPHS guna memastikan bahwa antagonis laki-laki tu beneran muncul.


"Panas banget bused!" keluh Hayra yang berdiri di bawah pohon menatap gerbang besar itu yang tak kunjung terbuka.


"Percuma anda menunggu di sini nak, karena antagonis pria itu orang kaya kemungkinan besar dia akan pulang menggunakan mobil," papa jiwa Phoenix.


"Ya, juga sih," molong Hayra. "Tapi siapa tau dia pulang menggunakan motor!" sambung Hayra.


"Paling juga dia menggunakan helem!" sahut jiwa Phoenix.


"Ck, adoh ...," ringis Hayra merasa kesal.


"Lagian nak, kita mencarinya nanti saja, saat acara pertunangan Amelia dan Xavier, satu Minggu lagi akan di adakan," jelas jiwa Phoenix.


Hayra yang mendengar Xavier akan bertunangan dengan Amelia, entah kenapa hatinya menjadi sesak, seperti tidak terima. "Huh, Xavier akan tunangan ya?" lirih Hayra.


"Ada apa denganmu nak? Jangan bilang kau sudah jatuh cinta padanya, ingat nak, kalian tidak akan pernah bisa bersama karena kau di takdirkan hanya untuk menjadi penjaga dimensi dunia nyata dan pararel ini!" tegas jiwa Phoenix.


Lagi, lagi dan lagi, dirinya tidak bisa apa-apa hanya bisa mengikuti kata Phoenix sialan ini, kapan dirinya akan bebas, masa iya dia akan melanjang seumur tanpa mencari pasangan, Hayra bertekad jika semuanya sudah selesai dia akan berusaha untuk pulang ke dunia asalnya, sampai kapanpun Hayra menolak keras jika dirinya hanya akan menjadi penjaga dimensi yang tidak berguna, membuang-buang waktunya saja, jika bukan karena terdesak di sini Hayra meludah tidak Sudi untuk membantu mereka.


Membantu sih membantu, tapi jika seperti ini terus lama-lama dia bisa muak! Sudah di suruh menjadi penjaga dimensi, tanpa di gaji di larang memiliki suami? Maksudnya apa anjing! Jadi dia hanya akan seperti ini terus, hanya melihat keharmonisan mereka semua, sedangkan dia sibuk menjaga dimensi agar tidak ada orang jahat masuk untuk menghancurkan keharmonisan mereka yang ada di sini, sedangkan dia sibuk bertarung nyawa demi mereka-mereka ini!


Rasanya Hayra ingin berteriak sekuat-kuatnya bahwa dia bukan robot, bukan budak mereka! Dia juga manusia yang lahir dari rahim manusia bisa sewaktu-waktu mati kapan saja!


"Hah, hah, hah." Hayra merasa sulit mengatur nafasnya, dia melirik sepasang sejoli yang tengah bermesraan, lalu melirik sekumpulan anak cewek yang tengah bercanda tawa tanpa beban, banyak sekali yang bahagia, sedangkan dirinya harus sibuk mengurus masalah yang bukan sama sekali urusannya.


"Kalian tertawa sangat puas, sedangkan gue sudah seperti tuhan saja yang menjaga keharmonisan kalian ini! Bajingan!" sinis Hayra lalu pergi, mengusap bulir bening yang berjatuhan di kelopak mata indahnya. "Karena aku bukan Nagato yang harus melindungi kalian meski aku yang menderita." lirih Hayra.


. . .

__ADS_1


...Aku hanya ingin melindungi mereka meski harus mengalami penderitaan....


...Nagato )>...


__ADS_2