
...Hayra "Hidup itu harus saling tolong menolong, jadi tolong carikan saya pasangan."...
Hayra tak jadi menemui antagonis pria moodnya sedang tidak baik-baik saja, Hayra merasa di perbudak oleh jiwa Phoenix yang mengatur segala keinginannya, mulai dari tidak boleh menemui orang tua kandung Hayra asli, Phoenix yang melarangnya itu, bukan ke inginkannya.
"Awas!" pekik seseorang di atas motornya mencoba untuk menghindari Hayra yang terbengong seperti orang gila di tengah jalan.
Seseorang itu pun jatuh dari motornya karena tak siap untuk menghindari Hayra yang terbengong. "Aduh ...!" ringis-nya menahan sakit di siku dan di lututnya yang berdarah akibat tergores aspal.
"Lo, Napa bang?" tanya Hayra dengan nada bingung karena nih orang tiba-tiba jatuh dari motornya.
"Lo, nanya gue kenapa?" cengo si pemuda itu. "Gua jatuh gara-gara lo cewek gila!" sinis pria itu, mencoba berdiri.
"Kok jadi gue, gua kan gak ngapa-ngapain Lo!" sewot Hayra tak mau di salahkan.
"Dih, gak mau ngaku lagi! Mau bunuh diri tuh di jembatan kek, atau enggk di atas gedung, lah ini malah ingin di tabrak!" sewotnya.
"Yang mau bunuh diri siapa kocak!" sarkas Hayra.
"Lo lah, ngapain coba berdiri di tangah jalan? Mau bunuh diri kan? Mana gue suruh minggir gak mau lagi!" sungut pemuda itu. "Apa mau ngelak lagi!" sarkas-nya saat melihat Hayra hendak protes.
"Gak mau tau gue, ganti rugi Lo, cat motor gue ke gores jadi lecet kan!"
"Cuma kegores, gitu aja minta ganti rugi, gak mau gue, satu lagi, Lo jat--"
"Gue jatuh karena ngehindar dari lo, cewek gila, biar Lo gak ke tabrak sama gue!" tekan pemuda itu.
"Ya ..., ya udah sih, ngomongnya juga gak usah di depan muka gue juga kali, mulut Lo bau!" cicit Hayra melirik takut-takut.
"Ya udah ganti rugi?" pinta si pemuda itu memundurkan tubuhnya.
"Berapa? Jangan banyak-banyak ya, gue gak punya uang banyak, cukupnya cuma--" lagi-lagi perkataannya terputus karena pemuda itu menjauh sedikit untuk mengangkat telpon.
"Oke gue kesana." ucapannya mematikan sambungan telpon setelah itu dia mengangkat motornya setelah berdiri tegak baru dia menungganginya hendak melesat pergi, tapi dia baru ingat.
__ADS_1
"Woy, cewek gila sini Lo?" panggilannya setelah menghentikan laju motornya.
"Ck, kenapa gak pergi aja sih! Biar gue gak banyak ganti rugi!" decak Hayra lalu mendekat. "Apa?" ketusnya.
"Nih, datang ke sini besok siang, awas aja kalo gak datang gue penjarain Lo!" ancamannya tak lupa menyentil kening Hayra hingga memerah.
"Aduh ...," ringis Hayra mengusap keningnya. "Sialan tuh cowok!" dumelnya menatap pemuda itu yang sudah pergi menggunakan motor hitam miliknya.
"Dasar cewek gila!" batin pemuda itu tersenyum di balik helem miliknya setelah melihat Hayra di balik kaca spion.
. . .
Selesai makan, Hayra menatap kertas alamat itu. "Masalah baru kah? Yang satu aja belum kelar, lah ini nambah lagi!" Hayra tak bodoh, jelas-jelas lelaki itu akan meminta sesuatu, dan mau tak mau Hayra harus berinteraksi dengan orang baru lagi, itu membuat waktunya semakin terkuras.
. . .
"Ka, Lo gak pa-pa kan?" tanya Putra yang sudah kesekian kalinya, dia cukup prihatin terhadap masalah yang di hadapi oleh sahabatnya ini.
Tak ada jawaban, Azka hanya diam terbengong menatap kosong ke arah jendela pemisah antara mamahnya dan dirinya. "Kenapa harus mama, kenapa? Kenapa gak gue aja, gue emang anak yang gak berguna!" lirih Azka setelah menatap Putra sejenak.
Sania sudah dua seminggu lebih belum sadar, seolah kejadian malam itu membelenggu dirinya di alam bawah sadar, sehingga dia takut untuk bangun.
Soni dia sibuk mengurus perusahaannya yang kembali bangkit dan tak jadi mengalami kebangkrutan, berkat kelurga Pramaja dan Hendrawan perusahaan Soni kembali maju. Soni begitu keras untuk mengembalikan perusahaannya seperti dulu karena istrinya membutuhkan biaya lebih untuk pengobatan traumanya itu.
. . .
"Ayah gak salah pilih calon kan?" tanya Xavier dengan nada dingin, menatap tajam sanga ayah.
"Tidak, ayah tidak salah memilih calon untuk menjodohkan mu dengan gadis itu, lagian dia juga cantik, cocok kok sama kamu," jawab Louis dengan nada tenang.
"Hahaha," kekeh kecil Xavier lalu menatap sang ayah. "Jika Xavier menolak perjodohan ini, apa yang akan ayah lakukan?" tanya Xavier sekali lagi.
"Ayah, tidak akan marah, paling mencabut semua fasilitas yang ayah berikan padamu!" senyum jahat saling terlempar antara anak dan yah itu.
__ADS_1
Mereka berdua sama-sama seperti iblis yang tengah bersembunyi, anak dan ayah sama saja tidak ada bedanya memiliki ego tinggi, tak ingin kalah satu sama lain. Begitulah kelurga Pramaja.
"Oh ya? Sepertinya ayah lupa bahwa aku ini bukan sekedar anak dari keluarga Pramaja, ayah tau kan bahwa aku ini adalah cucu tersayang dari keluarga Grisam?" ucap Xavier dengan nada mengejek, dia pikir akan takut dengan ancaman ayahnya itu? Tentu saja tidak!
"Sialan!" desis Louis, dia lupa bahwa anaknya ini masih memiliki bekinganya dari sang ayah mertua yakni dari pihak keluarga Grisam.
Maka dari itu Xavier sangat di incar oleh banyaknya musuh bisnis, karena secara tak langsung Xavier akan mewarisi dua perusahaan besar sekaligus, beruntungnya dia menjadi anak pertama dari keluarga Pramaja dan Grisam.
"Jadi batalkan perjodohan itu, ayah tidak semiskin itu untuk menerima saham dari keluarga Madipurna!" desis Xavier dengan nada dingin lalu bangkit untuk pergi dari ruangan sang ayah.
. . .
Sedangkan Amelia dia masih asik menangis di kamarnya, dia tidak mau di jodohkan dia masih mengharapkan Azka, meskipun yang Azka pacari Silvia yang telah menyamar menjadi dirinya tetapi dia masih mengharapkan Azka, dia berdoa semoga ia dan Azka di pertemukan kembali.
"Lia, gak mau, Lia mau sama ka Azka aja!" tangis Amelia di bawah bantal sehingga suara tangisannya terbenam. "Lia gak mau di jodohin, Lia mau kak Azka!"
. . .
"Jadi selama ini, gue cuma di bohongin sama dia?" tanya Azka memastikan.
"Hum, Amelia yang asli di suruh menyamar sebagai Silvia, tapi karena Lo udah gak suka lagi sama Amelia palsu, dia mengambil alih lagi identitas aslinya sebagai Silvia dan bom Lo berhasil dong pacaran sama dia!" jelas Putra, sedangkan Pawan dia hanya molor sedari tadi.
Jadi selama ini dia salah memilih? Hahaha .... Azka ingin teriak saja untuk melampiaskan kekesalannya kenapa hidupnya, sedrama ini sih? Azka jadi mengingat bahwa Amelia yang dia kenal sangat amat baik dan lugu, Azka suka itu tapi wanita sialan itu telah membuat kekasihnya menghilang.
"Lia, kamu pasti kecewa dengan kelakuan kakak ..., maafin kakak Lia!" batin Azka berkata lirih.
. . .
"Kak, Azka Lia kangen, Lia mau kakak." tangis Amelia di balik selimutnya.
. . .
"Maafin kakak sayang, kakak gak becus menjaga hubungan kita!" batin Azka berteriak marah.
__ADS_1
. . .
Kedua insan ini saling menangisi satu sama lain, jalan cinta mereka begitu rumit di penuhi banyak kesalahpahaman antara dua belah pihak dan pada akhirnya mereka harus saling menangisi satu sama lain.