Perjalanan Hayra Didunia Novel

Perjalanan Hayra Didunia Novel
EPISODE 27


__ADS_3

Keesokan paginya Xavier berangkat untuk pergi ke rumah tempat rekomendasi dari Wonzi, dia akan melakukan tahap seleksi untuk menjadi bodyguard, dari informasi yang Xavier dapat bahwa si tuan rumah mencari bodyguard untuk menjaga anak gadisnya dari musuh bisnisnya, jadi di butuhkan bodyguard yang tahan banting dan bisa bela diri yang bagus.


Sedangkan Hayra yang bisa dia lakukan hanyalah berbaring menangis meratapi nasibnya, dia menunggu semoga ada keajaiban yang datang kepada dirinya untuk menyembuhkan patah tulang di punggungnya, bahkan obat pereda nyeri di punggungnya Hayra pun tidak punya karena harga tebusnya sangat mahal.


. . .


Sedangkan di tempat lain kedua pembisnis besar yakni Soni dan Madipurna tengah melakukan open war di depan kantor kedutaan besar negara Namalka mereka baru saja mengajukan banding atas sidangnya kasus Soni yang mengalami kerugian saham yang di sebabkan oleh pihak Madipurna.


"Bagaimana Soni? Apa permainan saya bagus!" tanya Madipurna dengan nada pongah beserta senyuman sinis dan mengejek dia keluarkan untuk musuh barunya.


"Permainan ya? Sejujurnya sih, permainan mu masih kurang bagus Adi! Bahkan permainan mu terkesan kaku!" jawab Soni dengan nada berpikir. "Satu lagi, permainan mu terlalu murahan! Kalo bisa jangan bawa-bawa bisnis dalam urusan anak," sambung Soni lalu pergi, dengan batin yang menyumpah kan Madipurna dengan absen kebun binatang.


"Hahaha, tapi saya tidak terima dengan perlakuan anakmu Soni! Dia sudah berani menyakiti putri dari keluarga Madipurna, jadi kau sebagai orang tua harus siap menanggung konsekuensi yang di perbuat oleh anakmu!" tekan Madipurna menatap tajam punggung Soni yang sudah pergi menjauh.


"Tunggu kejutan mu besok Madipurna!" batin Soni berkata dengan sinis, lalu pergi dari sana menaiki mobil hitam mewahnya.


Nama negara dan kota di dunia ini memang beda dengan nama kota di dunia nyata jadi jangan heran, Hayra saja sakit kepala memikirkannya.


. . .


Xavier di nyatakan lolos, setelah seharian penuh menjalankan seleksi pada tubuh beserta fisika dari sepuluh orang yang mendaftar hanya dua orang yang lulus salah satunya Xavier dan seorang yang lebih tua dua tahun darinya yakni Zero pemuda berusia 26 tahun.


Xavier begitu tidak sabar untuk mulai bekerja karena dia tidak sabar untuk mendapatkan gaji untuk bisa mengajak Hayra berobat, supaya tulang punggung Hayra yang patah bisa kembali normal, mengingat Hayra Xavier jadi kepikiran, apa gadis itu sudah makan? Semoga saja sudah, untuk makanan Xavier hanya menyiapkan nasi dan telur goreng, semuanya sudah Xavier taruh di dekat Hayra tidur, mengingat gadis itu tidak bisa bergerak dengan bebas, karena nanti punggung Hayra akan nyeri.


. . .


Amelia kembali berulah dengan menuduh pacar baru Azka yakni Silvia, dengan scandal bahwa Silvia adalah seorang pem-bully di sekolahnya dulu, beserta beberapa video dari pengakuan korban Silvia yang pernah Silvia bully dulu.


Azka yang melihat itu hatinya kembali goyah, apakah dia tidak salah dalam memilih kekasih lagi? Cukup bersama Amelia saja, jangan yang kedua ini, Azka rasanya ingin mengamuk dengan keadaan seperti ini membuatnya pusing tujuh turunan saja. "Semoga saja ini tidak benar!" batin Azka lalu pergi, oh Azka kenapa dirimu sangat plin-plan sekali.


"Cih, kelakuannya sangat menjijikkan!"


"Kenapa Azka harus terpikat sama wanita pem-bully itu? Sudah cocok bersama Amelia malah memilih sampah!" bisik siwa itu kepada teman yang berdiri di dekatnya.


"Iya, apakah Azka sudah buta? Jelas-jelas Amelia lebih cantik dari pada wanita itu," timpalnya lagi.


"Beginilah kisah percintaan orang populer, sangat tidak penting! Untuk di lihat" ujar anak laki-laki bersama para teman-temannya yang bodoh amat.


"Biasalah, kesukaan betina!" sahut temannya yang duduk main game.

__ADS_1


"Mending neng Silvia ama aku aja!" teriak anak laki-laki di atas koridor lantai dua, lalu di balas ketawaan oleh anak-anak yang ngumpul di koridor lantai dua.


"Hooh neng, ma aku aja gak banyak drama kok, kek si onoh!" timpalnya dengan nada sindiran untuk Azka.


Para lelaki mendukung Silvia sedangkan perempuan mendukung Azka, ya begitulah women! Ganteng dikit langsung jadi bias, di ship-in sama ini itu, contohnya ini Azka sama Amelia mereka sudah sangat di ship-in oleh anak sekolah PPHS.


"Siapa yang nyebarin ini anjing!" teriak Silvia merobek foto yang kebetulan di tempel di mading. "Kalo merasa punya masalah sama gue keluar, gak usah pake nyebar aib gue kek gini! Cupu Lo b*ngsat!" emosi Silvia, merobek foto dirinya yang di tempel dengan kata-kata yang menyakitkan.


"Silvia kamu tenang ya ...," ucap Amelia mencoba untuk memenangkan sama Silvia, yang entah tiba-tiba datang dari mana.


"Gak sok lembut Lo, depan gue, gue yakin ini pasti ulah Lo kan?" tuding Silvia pada Amelia, dengan mata tajam menatap Amelia sinis.


"Ma-maksud kamu apa? Aku gak ngerti Silvia?" jawab Amelia dengan nada terbata-bata.


"Gak usah sok polos Lo anjing! Gue tau Lo dari pertama gue sekolah di sini, Lo gak suka sama gue!" sinis Silvia tak memperdulikan omongan sekitar. "Cara Lo basi Amelia Putri Madipurna! Entah dendam apa yang Lo punya sama gue sampe Lo tega fitnah dan tuduh gue kek gini." ucap Silvia menatap kecewa dan tak terima pada Amelia.


"Gue pastiin, gue akan bales kelakuan Lo dengan cara yang sama ja*ang!" bisik Silvia lalu pergi.


Kenapa Silvia bisa menuduh Amelia yang melakukan itu, karena dari gerak-gerik tubuh Amelia, yang mencurigakan satu lagi alasan kuatnya pasti karena Azka, Silvia yakin seratus persen.


"Sialan!" batin Amelia menahan marah dan malu, seumur-umur dia memfitnah sesosok pasti orang yang dia fitnah akan minta maaf dan memohon di kakinya, karena jika tidak maka para pawangnya akan mengancam untuk mengeluarkan gadis itu dari sekolah ini.


Tapi ini? Silvia dengan beraninya melawan dirinya seperti tadi, ya meskipun semua orang tidak ada yang percaya dengan ucapan Silvia tadi, tapi Amelia tetap kesal dan malu secara bersamaan.


Zyan mengajak Cella jalan-jalan ke mall untuk pergi bermain, sudah lama mereka tidak jalan bareng, hubungan kedua tokoh ini begitu baik-baik saja, bahkan beberapa hari lagi mereka akan melakukan acara pertunangan. "Sayang main ini ya?" tunjuk Cella pada permainan bola basket.


"Main sepuas mu baby!" jawab Zyan mengambil tas selempang sang kekasih, karena kesusahan, Zyan hanya melihat kelakuan gadis kecil cantiknya ini, pantas saja membuatnya terpikat orang Cella cantiknya seperti ibu peri.


. . .


"Selamat kedua tokoh sudah bahagia, mereka tidak akan ada di dalam list novel!"


"Tokoh siapa?" tanya Hayra yang tertidur berbaring.


"Tokoh figuran Zyan dan Antagonis Cella nona!" jawab suara misterius itu.


"Ouh ...," gumam Hayra entah senang apa tidak, karena keadaannya yang sekarang membuat mentalnya down!


"Gak peduli sih, mau bahagia apa kagak bukan urusan gue lagi!" sinis Hayra tersenyum kecut. "Ngomong-ngomong Lo sistem apa gimana?" tanya Hayra berharap suara itu kembali ke luar tapi tidak ada sahutan membuat dengusan kesal ke luar.

__ADS_1


"Ra, Lo udah tidur?" tanya Xavier yang entah sejak kapan sudah pulang.


"B*bi!" kaget Hayra. "Minimal salam dulu lah, ngagetin aja!" kesel Hayra merasakan nyeri di punggungnya akibat refleks terkejut tadi.


"Maaf elah, assalamualaikum, udah tuh!" ucap Xavier menaruh tas bawaannya yang isinya entah apa itu dia tidak tau.


"Waalikumus'salam, gimana, keterima gak?" tanya Hayra.


"Keterima lah ..., liat? Gue bawa apaan?" Xavier menunjukkan obat pereda nyeri patah tulang.


"Obat?" jawab Hayra dengan bingung.


"Iya obat, buat Lo, biar punggung Lo gak terlalu sakit," ucap Xavier.


"Lo dapet uang dari mana?" tanya Hayra.


"Tenang, ini halal kok, gue nemu di jalan tadi 200 ribu!" jawab Xavier tersenyum kecil.


"Ye ..., punya orang itu!" seru Hayra.


"Tapi gak ada orangnya, bahkan gue tunggu tuh duit supaya yang punya datang buat ambil, tapi gak datang-datang juga, jadi ya gue ambil lah, lumayan buat beliin Lo obat," ucap Xavier memperhatikan piring Hayra yang sudah tidak terisi nasi. "Lo laper gak?" tanya Xavier.


"Iya," jawab Hayra.


"Ya udah gue mau cek nasi dulu, moga aja masih ada," sahut Xavier pergi ke dapur.


Xavier membawa dua piring nasi beserta tumis sayur yang kemarin dia beli, Xavier tidak bisa masak tapi karena keadaannya yang terdesak mau gak mau dia harus bisa, apalagi Hayra tengah sakit sekarang, mereka sudah seperti suami istri, dengan Xavier yang merawat Hayra begitu perhatian sehingga menyuapkan Hayra nasi, setelah selesai makan, Xavier kembali kebelakang untuk mencuci piring dan gelas yang mereka pakai tadi.


Xavier menggelar tikar lalu mengambil bantal dan berbaring di samping Hayra, jarak mereka hanya satu meter, Xavier menemani Hayra tidur di luar, dia tidak setega itu membiarkan Hayra tidur sendiri di luar.


"Xavier?" panggil Hayra pada Xavier yang sudah berbaring memejamkan matanya.


"Hem ..." sahutnya.


"Makasih ...," lirih Hayra menatap Xavier yang sudah membuka matanya dan melihat dirinya.


"Untuk?" tanya Xavier.


"Semuanya, makasih udah mau rawat gue," gumam Hayra menunduk menghalau air matanya. "Makasih Xavier, gue gak tau apa jadinya kalo Lo gak ada, mungkin gue udah ma--" perkataan Hayra terpotong oleh Xavier yang sudah berbaring di dekatnya.

__ADS_1


"Settt, udah gak usah di lanjutin, gak pa-pa kok, gue tau, kita di sini gak punya siapa-siapa jadi gue sebagai Abang yang baik, akan ngerawat Lo dengan baik, begitupun Lo, kalo gue sakit Lo harus siap rawat gue!" ucapnya dengan kekeh riangan di akhir kalimatnya untuk mengurangkan rasa sedih di antara mereka.


. . .


__ADS_2