
Di perjalanan pulang Hayra di berhentikan oleh sekelompok orang bertopeng yang membawa senjata, para polisi yang di tugaskan untuk mengantarkannya pulang, langsung di keroyok habis-habisan, karena mereka kalah jumlah yang di mana kedua polisi dan sepuluh orang bertopeng, yang lima ini mereka menyeret Hayra keluar dari mobil lalu memukulinya hingga terduduk di aspal jalan yang sepi itu.
"Jangan bikin dia mati!" titah orang yang menggunakan bandana sebagi penutup mulut dengan kepala botak.
Hayra terduduk lemas melihat kedua polisi itu yang sudah pingsan dan di ikat menggunakan tali nilon bagaimana pun Hayra ini seorang perempuan kekuatannya tidak setara dengan laki-laki, apalagi ini sepuluh orang, mana bawa senjata.
"Gue pengen perkosa deh!" celetuknya dengan mata mengkilat menandakan dia sedang bernafsu.
"Kita di suruh untuk mengasih dia pelajaran, bukan buat perkosa dia!" tolak si ketua.
"Aelah bos, mumpung sepi, lagian yang nyuruh juga pasti seneng saat korbannya kita perkaos!" timpal salah satu dari mereka.
Hayra bergetar ketakutan, di perkosa, demi apapun Hayra lebih baik mati di keroyok dari pada menanggung penyesalan dan rasa bersalah terhadap Tuhannya dan diri Hayra tidak sanggup membayangkan betapa menyesalnya dirinya nanti.
"Ikuti perintah atau gaji kalian saya potong!" ancam sang ketua.
"Hahaha .... Potong aja ketua, kapan lagi kita mendapatkan perempuan secantik ini untuk di perkaos!" tantang salah satu dari mereka tertawa meremehkan, kapan lagi coba mendapatkan perempuan secantik Hayra untuk di perkaos!
Hayra mengambil pisau yang tergeletak di dekatnya dia mengambilnya dengan pelan, Hayra menunggu mereka untuk mendekat ke arahnya dan benar saja salah satu dari mereka berjongkok di depannya sembari memegang dagunya sehingga Hayra mendongak dengan mata sayu miliknya.
"Hay, cantik, malam ini kamu akan merasakan malam yang nikmat tak akan pernah terlupakan!" senyum si pria, dengn mata yang menyipit.
Hayra memperbaiki posisinya dengan salah satu tangan kirinya yang berada di belakang tak lupa pisau yang dia ambil tadi, Hayra berdoa kepada Allah untuk di mintai keselamatan, jika tidak selamat dia meminta agar di matikan dengan cara yang syahid dan khusnul khatimah.
Pria itu membuka topeng wajahnya dah terlihat wajah tua keriput miliknya hendak mencium Hayra, saat berjarak tiga cm dari mulutnya dengan gerakan cepat Hayra menusuk mata si preman itu hingga mengerang kesakitan, Hayra mencabutnya dengan kasar lalu dengan gerakan super cepat Hayra berlari, membuat kesembilan orang itu terkejut akan tindakan nekat Hayra.
Tujuh orang itu mengejar Hayra dengan keduanya yang membantu temannya yang mengerang kesakitan akibat matanya di tusuk oleh Hayra.
Hayra berlari pontang-panting di tangah jalan yang begitu gelap, napasnya sudah tidak teratur Hayra lelah, butuh minum tapi ketujuh orang itu masih mengejar dirinya, Hayra tidak bisa berhenti begitu saja!
Sehingga sebuah mobil putih hampir menabraknya, Hayra terduduk di aspal lalu hendak berdiri tetapi badannya sangat lemas seperti jelly maka dari itu dia langsung meng-cosplay menjadi zombi. "Tolong ....!" lirih Hayra di depan mobile itu, dengan harap-harap cemas karena para preman itu sudah keliatan dari jauh berkat lampu mobil yang begitu terang.
. . .
Xavier tidak bisa tenang sedari tadi sebab Hayra tak kunjung datang, apa polisi itu menipu dirinya? Jika iya, Xavier menyumpah kan mereka agar terkena sial. "Bocil, Lo baik-baik aja kan?" gumam Xavier panik tidak karuan. "Gini nih, kalo gak punya handphone mau telponan aja susah!" keselnya lagi.
. . .
Sedangkan di dalam mobile kedua pasangan pasutri itu tengah di landa panik. "Cepat pak kita kerumah sakit," suruh si pria yang duduk di kursi belakang.
"Baik tuan." ujar si sopir.
__ADS_1
Mereka awalnya terkejut saat menemukan Hayra yang sudah seperti mayat hidup terduduk di depan mobil mereka dengan nada memohon meminta bantuan, mereka berdua pun dengan secepat kilat membantu Hayra di tambah ada tujuh orang mencurigakan yang tengah berjalan ke arah mereka. Dan kini mereka tengah berada di rumah sakit, Hayra pingsan di perjalanan tak kuasa menahan sesak napas di dalam tubuhnya dia seperti tenggelam di lautan tidak bisa bernapas dengan baik.
Hayra di masukin ke ruang UGD (unit gawat darurat) kedua pasangan paruh baya itu menunggu Hayra di luar, entah naluri atau apa mereka berdua sangat cemas dengan keadaan Hayra. "Mas tolong telpon Putra, suruh dia ke sini," suruhnya pada sang suami, dia sampai lupa bahwa dia juga punya handphone untuk menelpon anaknya.
"Memangnya kenapa Bun?" tanyanya pada sang istri.
"Perempuan itu sepertinya satu sekolah sama anak kita, siapa tau kan anak kita kenal," jawab sang istri. "Bunda, melihat logo PPHS ada di samping jaket yang dia kenakan yah," lanjutnya.
"Dengan keluarga pasien?" tanya dokter wanita itu melepas Stetoskop yang menempel di kedua telinganya.
"Ya, dok kami paman dan Tantenya, apa yang terjadi pada keponakan saya?" tanya Amora pada dokter wanita itu.
"Kami menemukan tulang belakang pasien patah, sepertinya pasien mengalami kekerasan, begitu?" jelas sang dokter dengan satu pertanyaan.
"Baiklah, terima kasih dokter." ujar Aksa lalu dokter wanita itu pergi, sehingga Putra datang dengan wajah mengesalkan.
"Siapa yang sakit sih bun?" tanya Putra to the poin, karena kesel di ganggu mana dia lagi main rank.
"Udah kita masuk, dulu!" ujar Amora lalu mereka bertiga masuk.
Putra terkejut melihat Hayra yang terbaring pingsan di atas ranjang rumah sakit, musuhnya masuk rumah sakit. "Hayra ...!" terkejut Putra.
"Kamu kenal?" tanya Amora.
"Dia di kejar banyak orang terus hampir ketabrak oleh mobil ayah kamu, maka dari itu bunda saya ayah bawa kerumah sakit," jelas Amora. "Kamu kenal keluarganya gak?"
"Gak tau mah, tapi Putra tau rumahnya kok, nanti Putra, kasih tau," jelasnya.
. . .
Hingga jam 12 malam Hayra masih belum pulang, Xavier dia jadi uring-uringan sendiri dengan tekad yang kuat dia keluar untuk pergi ke asrama PPHS tapi baru saja hendak menutup gerbang tapi sebelum motor gede berwarna putih berhenti di depan rumahnya.
"Ini bener rumahnya Hayra?" tanya Putra melepaskan helem di kepalanya.
"Lo siapa?" tanya balik Xavier menatap curiga pada Putra.
"Gue Putra, cuma mau ngasih tau Hayra ada di rumah sakit," jawab Putra males memperpanjang masalah mending to the poin, toh dia juga bukan penjahat.
"Yang bener Lo, rumah sakit mana?" tanya Xavier terkejut.
"Lo abangnya Hayra?" tanya Putra.
__ADS_1
"Iya, cepet kasih tau adek gue di rawat di rumah sakit mana?" cecar Xavier.
"Udah Lo naik, biar gue bawa Lo ke sana." suruh Putra, tanpa drama penolakan Xavier langsung naik, karena rumah sudah dia kunci pintunya.
. . .
Sedangkan orang tua Putra mereka sudah pergi melanjutkan perjalanan mereka untuk pergi ke rumah bibinya karena ada yang mau mereka urus.
Sesampainya di kamar inap Hayra Xavier langsung masuk, dan melihat Hayra yang tengah menangis dengan tangan yang di infus, untuk memberikan cairan pada tubuhnya.
"Ra, apa yang terjadi sama Lo, kok bisa kek gini?" cecar Xavier dengan pertanyaan khawatirnya Xavier mengusap rambut Hayra tak lupa tangannya yang di infus juga di pegang.
"Xavi .... Punggung aku sakit ...!" tangis Hayra tak lagi menggunakan kata 'gue, lo'
"Oke, oke tenang ya, jangan nangis ...," ujar Xavier mengusap kepala Hayra dengan air mata yang tak berhenti keluar.
Entah kenapa Putra menjadi kesal dengan Xavier yang mengusap kepala Hayra, tapi dia mencoba tenang, dia itu kan hanya abangnya. "Gue kenapa sih anjing!" batin Putra menahan kesal dengan hatinya yang tak terima Hayra berdekatan dengan laki-laki lain.
"Gak-gak, nggak mungkin gue suka sama cecenguk itu, iya gue gak mungkin suka!" batin Putra membantah tegas.
"Khem!"
Suara Putra menghentikan gerakan tangan Xavier lalu menoleh. "Gue titip Hayra bentar," ujar Xavier lalu pergi keluar tanpa mendengar jawaban Putra.
. . .
Xavier pergi ke depan untuk bertanya pada suster administrasi. "Permisi,"
"Ya, ada yang bisa di bantu?" jawab resepsionis administrasi itu.
"Ee ..., saya mau bertanya, ruang rawat mawar nomer 12 apa sudah di lunasi?" tanya Xavier.
"Sebentar saya cek dulu ya," jawab suster itu, lalu mengotak-atik komputer yang ada di depannya. "Kamar rawat nomer 12 belum di bayar dek, ini suratnya jika mau menebus," suster wanita itu memberikan Xavier surat administrasi.
"Makasih mbak."
"Sama-sama dek."
Xavier membuka surat itu lalu melihat total bayar senilai 500rb sekali inap. Xavier terduduk lemas di depan ruang rawat Hayra, bagimna caranya dia bisa melunasi biaya rumah sakit Hayra sedangkan dia hanya pengangguran akut tidak punya kerjaan sedangkan hidupnya saja bergantung pada Hayra.
"Apa aku hubungi aja nomer itu, semoga belum ada yang mengisi!" gumam Xavier lalu masuk kedalam untuk meminjam handphone Hayra, dia mana punya handphone.
__ADS_1
. . .