Perjalanan Hayra Didunia Novel

Perjalanan Hayra Didunia Novel
EPISODE 32


__ADS_3

Malam harinya Hayra sudah di perbolehkan untuk pulang, lagian jika mau menginap duit dari mana dia bisa bayar rumah sakit, itupun untuk kala si Violetta dengan berbaik hati membiayai perawatannya selama dua hari tiga malam.


Sesampainya di rumah Hayra langsung masuk tanpa merasa sakit di punggungnya. "Punggung Lo dah sehat! Perasaan cuman satu Minggu dah, kok udah sehat aja?" tanya Xavier.


"Ya lah, kan gue kuat!" sombong Hayra.


"Eleh, kemarin-kemarin siapa tuh yang nangis bilang te-- empph ...."


"Udah gak usah di ungkit, intinya gue bisa sehat walafiat berkat Allah SWT, lewat perantara burung Phoenix, jangan banyak cakep kau!" ucap Hayra masuk ke dalam kamar mulai menggeledah isinya.


"Cari apaan?"


"Gue mau cari kalung berbandul love yang ada foto keluarganya Hayra asli, orang yang udah nolong gue juga kebetulan mempunyai anak cewek, yang hilang di culik terus namanya tuh sama, Hayra Mahalani, nah maka dari itu gue bisa berharap orang itu benar-benar orang tua kandung Hayra asli!" jelas Hayra panjang lebar membuka kotak dus yang berisi baju orang dewasa yang sudah lusuh.


"Gue sih yakin seratus persen kalo Lo itu anak kandungnya yang hilang, terus Lo kasih tau gak nama asli Lo, pada ibu yang udah nolongin Lo itu?" tanya Xavier ikut mencari.


"Nggak, gue belum kasih tau, soalnya gue mau mastiin dulu, takut malu soalnya!" kekeh Hayra pelan lalu mulai mencarinya.


.  .  .


"Ayah yang sabar ya, pasti kita menemukan jalan keluarnya," ucap Azka duduk di samping sang ayah yang tengah kesusahan karena satu-persatu para investor telah menarik saham mereka di perusahaannya.


"Hem ..." balas Soni pada putra tunggalnya ini, demi anak dan istrinya dia akan berusaha untuk mengembalikan perusahaannya seperti sedia kala, dan untuk keluarga Madipurna dia akan membalasnya tunggu saja, dia akan mengumpulkan dananya dulu, baru bom ....


"Ayah jangan tidur larut malam, kalo udah lelah istirahat aja, Azka ngerti kok." Azka menepuk pelan pundak ayahnya lalu pergi dari sana.


.  .  .


"Bang! Xavier buka pintunya bang!" teriak Fandi, Qamal beserta Jayadi dan Jawi.


"Apaan sih anjir!" kesel Xavier mendengar teriakkan dari ketiga bujang SMA ini, anda juga bujang jika anda lupa.

__ADS_1


"Mana Hayra bang, dia udah ketemu kan?" tanya Qamal tanpa memperdulikan kekesalan Xavier.


"Masuk aja," suruhnya.


Mereka masuk menemukan Hayra yang tengah duduk sedang makan. "Hayra bocil!" pekik Fandi.


"Bused, Lo kemana aja sih, kok tiba-tiba hilang?" tanya Qamal.


"Panjang ceritanya bro ..., pusing kalo kalian denger, intinya gue di culik ma orang bertopeng terus gue di siksa, maka dari itu tulang punggung gue yang patah jadi bener kembali," ceritanya tanpa di mintai penjelasan oleh para calon sohibnya ini.


"Sakit gak?" tanya Jawi dengan nada polos saking ngerinya mendengar cerita Hayra.


"Aduh bro! Yang namanya tulang patah yo mesti sakit, apalagi pas di benerin, beh! Mau mati sakitnya!" kasih tau Hayra dengan penuh dramatis membuat mereka meringis ngilu.


Sedangkan Xavier dia hanya memutar bola matanya malas, bener-bener anak ini!


"Oh ya, lupa .... Kita kesini mau ngasih ini?" papar Jayadi mengeluarkan uang senilai 3 juta rupiah di dalam sling bag miliknya.


"Hadiah pertandingan, kita menang ya ... walaupun cuma juara tiga," cengir Qamal.


"Tapi kan--"


"Udah terima aja, buat kebutuhan Lo, Lo kan yang bisa bikin kita menang, jadi terima aja," potong Qamal.


"Makasih ...," lirih Hayra, tidak ada alasan untuk menolak duit 3 juta itu, karena uang tabungannya tinggal 200k mana beras udah mulai habis, bumbu dapur juga udah pada abis tinggal garam sama micin je yang ada.


. . .


Malam harinya di kediaman Madipurna seorang pria bertopeng membawa bangkai ular dan kucing tak lupa, sebongkah batu bata, dia naik ke balkon samping tempat kamar Silvia di sana dia mencongkel jendela mewah itu lalu menaruh kedua bangkai binatang melata itu di samping kasur Silvia. Dia kembali keluar lalu melempar batu bata di tangannya dengan keras hingga pecah, untuk cctv dia sudah merusaknya.


Bunyi suara pecahan kaca beserta pekikan Silvia yang menegangkan telinga. "Akhh ...!"

__ADS_1


"Hahaha ..., rasakan kamu jal*ng sialan!" desis pria itu lalu pergi.


. . .


"Ayah, tolong ayah!" teriak Silvia melihat bangkai ular dan kucing di atas kasurnya dengan darah yang sudah merembes ke seprai putih miliknya.


"Ada apa Silvia, kenapa teriak?" panik ibunya, beserta Madipurna yang datang dengan mata kantuk.


"Ibu, ayah, takut ...." tangis Silvia melihat bangkai kedua binatang itu.


"Siapa yang melakukan ini?" geram Madipurna. "Pengawal! Cepat kemari!" teriak Madipurna. "Cepat buang kedua bangkai ini?" titahnya.


"Kamu tidur di kamar tamu, biar ayah yang akan mengurus semua ini!" ucap Madipurna menenangkan putrinya.


Madipurna pergi ke ruang tengah tempat monitor cctv dia akan melihatnya, dia yakin pasti ini kelakuan Soni, dengan cepat dia langsung memerintahkan anak buahnya untuk menyerang kediaman Soni.


"Habis kamu Soni!" sinis Madipurna.


. . .


"Keluar sayang, kamu gak kasian sama ayah?" bujuknya pada sang anak yang tidak mau keluar dari kamar.


"Gak ayah, aku malu, aku gak mau keluar ...." tangisannya di dalam kamar.


Sang ayah yang mendengar tangisan putri satu-satunya itu, merasa sangat gagal menjadi orang tua, dia akan membalas kedua bajingan itu yang sudah berani membuat putri satu-satunya nangis, dia sangat sedih melihat perubahan putrinya yang ceria menjadi pemurung seperti ini.


"Ayah akan membuat mereka hancur, nak!" batin pria itu pergi dari kamar sang putri, apapun dia akan membalas semua orang yang sudah berani melukai putri satu-satunya ini


. . .


Maaf pendek, soalnya aku nulis buru² dan maaf lagi karena penulisan dan pengucapan kata²nya kurang tepat 🙏

__ADS_1


__ADS_2