
Time Hayra meraih tiga bintang, dan berhasil mengeliminasi time pertama dari SMA Swasta 4N bahkan di pertandingan kedua dan ketiga time Panji tidak bisa bergerak bebas karena Hayra sangat nafsu untuk menghabisi mereka.
"Dasar, kecil-kecil cabe rawit nih, betina!" gemes Weza mengusap rambut Hayra hingga berantakan.
"Kita menang gaes!" girang Jawi yang tak menyangka bakal bisa mengalahkan timenya Panji yang songong itu.
"Yoi, gak nyangka banget gue, cuy!" timpal Qamal yang masih gemetar saking senengnya.
Hayra tersenyum melihat keantusiasan mereka, karena masih tidak menyangka untuk bisa menang, bagi mereka uang tidak penting karena rata-rata mereka dari anak orang kaya semua, jadi kemenangan itu bukan di perebutkan untuk uang tapi harga diri! Maka dari itu time Panji sangat terobsesi akan kemenangan, sehingga sangat bernafsu saat bermain, tadi Hayra jadi senyum-senyum sendiri mengingat kegoblokan Panji.
"Ingat lawan kita masih banyak, jadi jangan terlalu senang," peringat Hayra.
"Ah ..., gak pa-pa, gue seneng aja gitu liat muka songong si Rizal tadi pas kalah," celetuk Timo, merasa puas akan kemenangan Hayra karena dia begitu kesal pada time Panji yang mengejeknya di pertandingan pertama.
Hayra hanya mengangguk menanggapi dan dia baru ingat bahwa Xavier juga datang untuk menonton pertandingan. "Oh ya, gue keluar dulu ya." pamit Hayra pada teman-temannya.
"Oke, hati-hati, cil!" teriak Qamal, saat tubuh kecil Hayra hilang di balik pintu.
. . .
Hari sudah mulai petang tetapi Hayra masih berkeliling di area depan untuk mencari Xavier dan anak-anak dari sekolah lain juga tengah kumpul-kumpul bercanda ria bersama teman-teman mereka.
Sehingga tepukan tangan di bahunya membuat dirinya terkejut dan reflek menoleh ke belakang dan menemukan tiga pria jangkung berdiri dengan gagah di hadapannya, Hayra mendongak melongo sehingga membuat ketiga remaja laki-laki itu tertawa.
"Apa?" tanya Hayra saat melihat ketiga remaja ini tertawa.
"Hihihi, gak nyangka gue badan sekecil ini, udah masuk SMA aja," ucap remaja yang berdiri di tengah.
__ADS_1
"Hem, mana mainnya ganas banget lagi!" sahut remaja yang berdiri di samping kiri, berambut coklat.
Hayra yang mendengar ucapan remaja terakhir itu di buat salah pikir, apa coba' ada-ada saja. "Apaan coba, aneh!" bingung Hayra hendak pergi, tapi keburu di hadang. "Apa lagi ini, minggir gak?" kesel Hayra merasa di permainkan dan di krumuni tidak jelas seperti ini, macam penjahat saja.
"Galak banget, sih!" kekeh Gilang, menunduk melihat wajah Hayra yang memerah menahan kesal. "Lucu banget," gemes Gilang mencubit pipi Hayra tapi di tepis begitu saja.
"Gak usah pegang-pegang, gak sopan banget jadi cowok!" sinis Hayra mengusap pipinya.
"Galak bos!" ketawa Juan melihat penolakan Hayra.
"Gak pa-pa gue suka," jawab Gilang.
"Minggir, kalian gak jelas banget ngehalangin jalan orang!" Hayra mendorong kedua remaja itu dengan susah payah sehingga dia bisa keluar dari lingkaran ketiga manusia titan itu.
"Dasar manusia titan gak jelas!" ejek Hayra lalu pergi kabur dengan rok selututnya yang tersingkap sehingga memperlihatkan celana hitam pendek miliknya, tapi karena dia tidak sadar jadi ya hanya lari saja.
. . .
"Sapi ....!" teriak Hayra dengan napas ngos-ngosan seperti habis di kejar rentenir. "Tunggu anjir, hah, hah," napas Hayra begitu memburu.
"Nih minum," suruh Xavier menyodorkan Hayra sebotol air mineral.
Selesai minum. "Lo gak pa-pa kan? Sumpah gue khawatir banget pas tuh bulan merah tiba, badan gue panas banget anjir!" heboh Hayra lalu duduk di dekat Xavier. "Btw, ini kepala Lo kenapa di bungku begini?" tanya Hayra.
"Gak pa-pa sih, cuman kejedot dinding rumah aja," jawab Xavier seadanya.
Hayra yang mendengar jawaban Xavier merasa kurang puas, dan apa-apaan tadi, kenapa nada suara Xavier jadi lemah gemulai begitu. "Lo kenapa? Kok gak, kek biasanya, Lo sakit ya?" cecar Hayra menatap wajah Xavier yang tidak seperti biasanya.
__ADS_1
"Hah, apaan ... gue biasa aja tuh," gugup Xavier. "Lagian Lo yang kenapa, kok tiba-tiba ada di sini, gak balik ke asrama, nanti di cariin lagi!" ucapannya mengalihkan pembicaraan.
"Nanti aja lah, bosen gak ada teman cewek buat di ajak ngobrol," cemberut Hayra, "jadi rindu Lidia, kira-kira tuh anak lagi ngapain ya?" sedihnya mengingat sahabat baiknya itu.
"Sama, gue jadi rindu sahabat gue, kira-kira mereka lagi ngapain, apa mereka udah lulus S1 atu belum ya?" gumam Xavier mendongak menatap bintang yang sudah mulai kelihatan.
"Lo udah kuliah?" tanya Hayra, karena dia belum begitu tau tentang Xavier.
"Seharusnya sih, bulan depan gue lulus, tapi karena kejebak di sini gue gak jadi deh kayaknya lulus S1 padahal pengen banget lulus terus bisa kerja, biar gak nyusahin orang tua Mulu," jelas Xavier.
"Ouh, gue juga dulu pengen kuliah tapi karena terhalang biaya jadi ya, di kubur dulu keinginannya!" cerita Hayra. "Eh ... dah magrib aja, gue mau sholat dulu, mumpung masih ada waktu." ucapannya lalu pergi masuk kedalam untuk mengambil air wudhu.
Xavier dia hanya diam di teras depan menatap langit, dengan pikiran yang berkeliaran bagimna caranya untuk pulang keluar dari dunia ini. "Argh ... pusing anjing!" keselnya lalu pergi masuk.
. . .
"Kak Azka, aku mohon jangan putusin aku!" Amelia duduk bersimpuh di depan kaki Azka agar tidak di putuskan. "Aku minta maaf karena udah selingkuh sama kak Nolan, tapi aku mohon kakak jangan putuskan pertunangan kita!" tangis Amelia.
Azka sempat goyah dengan permohonan Amelia tapi mimpi aneh itu kembali datang di pikirannya, yang di mana dia rela membunuh Hayra hanya karena kesalahpahaman, Azka tidak mau jadi pembunuh dia tidak mau, Azka memutuskan tunangan dengan Amelia bukan semerta-merta hanya karena tidak di restui oleh ayahnya tapi juga untuk menghindari mimpi mengerikan itu.
"Gue maafin udah Lo Amelia, tapi untuk kembali menjalin hubungan gue gak bisa," tolak Azka.
Amelia yang mendengar itu menjadi geram, sia-sia saja permohonannya, dia sudah rela menurunkan harga dirinya untuk bermohon-mohon pada Azka tapi hasilnya tidak ada. "Apa ini karena Hayra, makanya kakak tidak mau balikan sama aku?" tanya Amelia masih mempertahankan wajah lugu nan polos miliknya.
"Ini tidak ada sangkut-pautnya dengan Hayra, ini murni keputusan gue sendiri tanpa campur orang lain," jelas Azka tidak mau Hayra terseret dalam masalahnya karena Hayra tidak ada sangkut-pautnya di sini.
"Bohong, pasti kakak mutusin pertunangan kita karena perempuan itu kan? Jawab aku kak!" teriak Amelia yang mulai menangis lagi.
__ADS_1
"Kan udah gue jelasin, gue mutusin pertunangan gue tanpa campur tangan orang lain, jadi stop nyalahin Hayra, dia tidak ada urusannya sama hubungan kita ini!" jelas Azka yang ikut kebawa emosi dengan Amelia yang selalu menuduh Hayra, Azka muak, kenapa dia bisa-bisanya menjalin hubungan dengan wanita macam Amelia ini.