Perjalanan Hayra Didunia Novel

Perjalanan Hayra Didunia Novel
EPISODE 30


__ADS_3

Violetta dan Arlos mengurus surat administrasi milik Hayra, dan kebetulan mereka membawa Hayra ke rumah sakit yang sama, jadi dokter yang menangani Hayra kenal.


"Dokter, kondisi pasien tiba-tiba kritis!" beritahu suster itu saat melihat garis di monitor.


"Cepat pindahkan dia ke ruang ICU." perintah dokter wanita itu, berjalan mendorong bangsal milik Hayra untuk ke ruang ICU yang berada di lantai atas, jadi mereka harus menggunakan lift untuk naik, karena lift rumah sakit dua kali lipat lebih besar.


"Apa yang terjadi suster?" tanya Violetta, melihat suster itu hendak masuk ke lift yang satunya karena lift yang di gunakan Hayra sudah sampai atas.


"Kondisi pasien menurun buk, harap sabar, ya, permisi!" pamit suster itu.


. . .


Para pemegang saham Pramaja mereka tengah melakukan rapat untuk menentukan pewaris selanjutnya, karena pewaris pertama hilang entah kemana, jadi kali ini mereka melakukan rapat dua kali untuk menentukan.


"Menurut saya ini terlalu buru-buru, apalagi dengan umur tuan muda yang masih legal, belum cukup untuk memimpin sebuah perusahaan besar!" ucap kepala komisaris dengan nada tidak setuju.


"Tapi pewaris pertama tidak bisa di temukan tuan, jadi apa salahnya kita memilih tuan muda kedua sebagai pemimpin perusahaan," jawab kepala direktur.


"Bagaimana tuan Louis? Apakah anda setuju dengan usulan tadi? Tidak ada salahnya tuan muda kedua menjadi calon pewaris Pramaja Gurp." ucap sang direktur menatap ke arah tuan Louis Vernando Pramaja.


"Saya tidak bisa menyerahkan hak waris itu begitu saja, dan benar apa kata kepala komisaris bahwa anak kedua saya masih di bawah umur untuk memegang perusahaan besar ini, jadi sekali lagi rapat saya tutup!" ucap Louis dengan nada tegas lalu beranjak pergi dan di ikuti oleh kedua pengawalnya beserta satu sekertarisnya.


Para pemegang saham lainnya mereka cukup puas dengan pernyataan Louis yang menolak putra keduanya sebagai pemegang saham utama, mana mau mereka di pimpin oleh anak kecil, dan belum tentu pola pikir dan mindsetnya kuat.


Manusia mana yang menerima anak umur 17 tahun jadi CEO yang kerjaannya cuma menyusahkan orang perusahaan saja, tentu dia jenius tapi itu terlalu tidak masuk akal dan belum tentu dia bisa menjual belikan saham sesuai harga dan pasar, yang ada nanti bisa menyebabkan Capital loss dan resiko likuiditas.


. . .


Sudah dua hari kehilangan Hayra Xavier seperti mayat hidup, yang di mana dia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tapi rasa semangat itu hilang begitu saja, sebab keberadaan Hayra yang entah di mana.


"Kamu suka banget sih ngilanginnya?" gumam Xavier. "Baru juga ketemu, udah pergi lagi! Dasar ....!" lirih Xavier.


. . .


Sedangkan di alam bawah sadarnya Hayra, dia tengah duduk bersila berhadapan langsung dengan roh dari penjaga dimensi yakni si burung Phoenix yang menyala mengeluarkan sayap emas dan api miliknya.

__ADS_1


"Sebenarnya kenapa saya bisa ada di sini? Dan apa tujuannya?" tanya Hayra, dengan nada formal.


"Kamu manusia terpilih ..., kamu adalah pewaris penjaga dimensi dan pemberantas manusia jahat yang masuk ke dunia ini!" jawab si burung Phoenix dengan setengah manusia.


"Kenapa harus saya?" tanya Hayra merasa tak terima dengan takdirnya ini.


"Karena takdir, selama kamu berada di dunia ini, saya yang akan menjadi pendampingmu, saya berada di dalam kalung milikmu itu," tunjuk si Phoenix. "Untuk menyempurnakan kepemilikan kamu harus meneteskan daramu ke kalung itu, maka saya akan terikat dengan kamu sebagai majikan dan tuan!" jelas Phoenix.


Hayra bimbang untuk melakukannya tapi mengingat kekejaman Silvia jadi mau tak mau dia harus mengikat dirinya dengan burung setengah manusia ini. "Saya mau bertanya, apakah benar ini dunia novel?" tanya Hayra begitu penasaran dengan dunia ini.


"Itu hanya kedok belaka untuk menyamarkan dunia ini, karena manusia jahat yang ikut masuk dan ingin merusak dan menguasai dunia ini untuk kepentingan mereka, dunia ini dan dunia mu mereka bersebelahan, tapi karena penjaga dimensi yang sudah tiada menyebabkan banyaknya jiwa asing yang ikut terseret saat bulan merah tiba." jelasnya.


Hayra terdiam mendengar penjelasan burung setengah manusia itu. "Lalu apakah tubuhku di duniaku dulu masih hidup? Maksudnya tuh kek semacam mengalami koma gitu, atau apa?" bingung Hayra.


"Tubuhmu di---"


Sebelum mendengar jawaban dari si Phoenix tiba-tiba suara yang sangat nyaring membuat kepala Hayra berdenging sakit.


"Syukurlah anda sudah sadar nona!" ucap dokter wanita dengan nada lega, pasalnya tubuh Hayra mengalami kejang-kejang selama 40 menit, setelah habis koma dua hari.


"Iya nona ini saya,"


"Kok saya bisa ada di sini?" tanya Hayra. "Terus kakak saya mana?" tanyanya lagi.


"Anda berada di sini sudah dua hari nona, anda mengalami koma," jawab dokter itu.


"Koma?" beo Hayra, perasaan dia berbicara dengan si Phoenix tidak lebih satu jam, lah ini udah dua hari aja.


"Iya nona koma, dua hari nona di bawa oleh ibu saya ayah nona ke sini."


"Ibu?" beo Hayra lagi. "Perasaan saya gak punya ibu deh dok, salah orang pasti, oh ya boleh pinjem handphone gak, saya mau ngabarin kakak saya, saya takut dia khawatir sama saya," ucap Hayra.


"Oh ini silahkan."


Hayra dengan cepat menelpon nomer handphonenya dan dia cukup terkejut melihat jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, dokter wanita itu pamit keluar, meninggalkan Hayra yang masih menelpon seseorang.

__ADS_1


"Xavi angkat dong ...." batin Hayra gelisah menggigil kuku tangannya.


. . .


Sedangkan Xavier dia masih asik tidur karena kelelahan di tambah dia semakin stress akan melakukan anak majikannya yang sangat menjengkelkan.


"Ck, siapa sih telpon malam-malam!" kesel Xavier melihat nomer tak di kenal, menelpon dirinya. "Halo!" ketus Xavier dengan mata terpejam masih mengantuk.


"Xavi ...." lirih orang yang berada di sebrang telpon.


^^^Xavier langsung membuka matanya melihat nomer si penelpon. "Hayra?" tanya Xavier memastikan.^^^


"Iya Xavi ini Hayra," ucap Hayra meyakinkan Xavier.


^^^"Lo kemana aja anjing! Cepat kasih tau gue Lo di mana? Bikin orang khawatir aja asu!" kesal Xavier bangun membawa handphonenya ke kamar mandi buat buang air kecil sehingga Hayra yang di sebrang sana mendengar suara air mengalir.^^^


"Lo ngapain?" tanya Hayra dengan semburat merah di pipinya, untung Xavier tak melihatnya.


^^^"Kencing!" frontal Xavier memasang celananya.^^^


"Gak tau malu!" sinis Hayra di sebrang telpon.


^^^"Aelah Lo juga gak liat!" sahut Xavier tak mau kalah.^^^


"Tapi gue denger Lo ...," kesel Hayra. "Udah buruan Lo ke rumah sakit, tempat gue di rawat sebelumnya, di-- bentar tanya perawatannya dulu, mbak ini di kamar berapa?" tanya Hayra.


"Ini di ruang rawat nomer 15 lantai satu, kamar melati," jawab perawat itu.


"Ah, oke makasih, tunggu sebentar ya," pinta Hayra menyuruh perawat itu untuk menunggu. "Lo datang aja ke kamar rawat nomer 15 kamar melati, udah gue matiin ya, soalnya ini handphone orang, bay!"


^^^"Hem ..."^^^


"Ini, sus, saya mau mengembalikan handphonenya dokter wanita tadi, bilangin saya minta maaf karena udah lama banget pinjem handphonenya!" kata Hayra.


"Baik kalo begitu saya permisi dulu ya dek!"

__ADS_1


. . .


__ADS_2