
Kediaman Soni kini sudah di kepung oleh beberapa orang tak di kenal yang melempar bom asap ke dalam rumah mewah itu sehingga membuat pemiliknya terbangun dengan terbatuk-batuk. Para bodyguard yang berjaga tidak mampu menghalau musuh yang masuk, karena Soni sudah memecat separuh bodyguardnya dan para pembantu.
"Mas, apa yang terjadi?" tanya Sania terbatuk-batuk dengan asap yang mengepul. "Apa rumah kita kebakaran?" tanyanya lagi.
"Mas, juga gak tau." jawab Soni lalu keluar, sesampainya di lorong punggung dia di pukul sehingga membuatnya linglung jatuh, dengan dua orang yang sudah menyergap dirinya.
"Sial! Apa ini perampokan?"
"Lepas! Siapa kalian? Berani-beraninya memasuki rumah saya!" berontak Soni meminta di lepaskan, tapi yang namanya penjahat mana mau.
Soni di dorong di tengah ruang tamu miliknya, di sana dia melihat anak dan istrinya yang duduk di ikat, tapi penampilan istrinya begitu memperihatinkan, rambut acak-acakan, bibir sobek, tak lupa di samping matanya ada lebam dan darah mengalir di pelipisnya.
"Kurang ajar! Kalian apakan istri saya? Bajingan!" bentak Soni memberontak kuat kala istrinya di lecehkan oleh seorang pria botak dengan senyum tengil miliknya. "Bajingan! Jauhkan tangan kotormu dari istri saya!" Soni berteriak kesetanan, tapi yang ada para penjahat itu malah ketawa menikmati kemarahan Soni yang tak bisa melawan karena kedua tangannya di ikat.
Sania dia sudah tidak kuasa untuk melawan, seluruh badannya lemas tak berdaya kejadian ini begitu tiba-tiba membuatnya shock parah, mentalnya terguncang, hampir gila. "Mas ...." lirihnya tergeletak di lantai dingin itu melihat keadaan Soni yang di pukul menggunakan balok beserta tembakan di kaki dan bahunya.
Azka hanya bisa menangis, kedua kaki beserta tangannya di ikat dengan kencang beserta mulut yang di lakban. "Emhh .... Emhhh ....!" brontak Azka menggeliat seperti ulat bulu, di lantai yang dingin itu.
"Hahah, mau jadi ular kamu ngesot begitu!" ledek penjahat itu lalu menendang kepala Azka hingga berdarah.
"Hahaha ....!"
. . .
Dalam tidurnya Hayra merasa tak tenang, sangat terusik dengan suara yang mengganggunya. "Akhh!" pekik Hayra, dengan napas memburu.
"Protagonis pria dalam bahaya! Protagonis pria dalam bahaya!"
"Di mana?" tanya Hayra. "Kasih tau lah, jangan berbelit-belit, ini nyawa seseorang!" teriak Hayra merasa kesal, jika ini dirinya menolong seseorang minimal harus kasih tau yang jelas lah, jangan berbelit-belit macam tu.
"Protagonis pria dalam bahaya bersama keluarganya, rumah di jalan pisang blok, B nomer 23"
Tanpa banyak kata Hayra bangun mengambil Hoodie hitam miliknya, kebetulan dia menggunakan jans panjang jadi tidak masalah. "Xavi, bangun Xavi?" panik Hayra mengguncang tubuh Xavier.
"Enghh ..., apa sih Ra .... Udah malam ni, tidur!" suruh Xavier membenarkan selimutnya.
"Cepat lah sapi, ini tuh menyangkut nyawa protagonis pria yang akan di bunuh! Cepat bangun kita udah gak punya waktu lama!" teriak Hayra yang sudah berlari keluar di tengahnya malam, tak lupa dengan landep/parang yang dia bawa, entah dapat dari mana tapi dia tak peduli.
__ADS_1
. . .
Sesampainya di sana Hayra langsung masuk memanjat tembok tinggi lalu turun lewat pohon yang kebetulan ada di dalam, Hayra masuk mengintip dari jendela di sana dia terkejut melihat banyaknya orang.
"Sial gue kalah jumlah!" panik Hayra. "Ayo lah otak, mikir!" gumam Hayra tak punya banyak waktu.
Nanti kalo dia masuk, bukannya menolong malah ikut di aniaya, mending dia mengelilingi rumah ini dulu, siapa tau ada yang berjaga-jaga, Hayra ke belakang melihat satu orang berjaga lengkap dengan senjata, Hayra memasang sarung tangan yang entah dapat dari mana, lalu dengan gerakan pelan, dia mendekat ke arah pria itu, lalu membekap mulutnya tak lupa parang yang dia bawa untuk menebas leher pria itu, hingga sekarat.
Hayra menyeret pria itu entah ke mana, tapi dia masuk ke salah satu ruangan yang sialnya bikin Hayra kaget di sana ada sepuluh penjaga dan lima pembantu yang di sekap. "Anjing, gue kira komplotannya!" gumam Hayra merasa lega.
"Kalian punya senjata?" tanya Hayra setelah membebaskan ke lima belas orang itu.
"Punya," jawab pria itu, menunjukkan beberapa senapan, dan pistol beserta pelurunya.
"Kalian ikuti perintahku, karena tuan kalian sedang dalam bahaya, untuk kalian yang perempuan, naik ke lantai atas, bagaimanapun caranya, cari posisi yang bagus, pake ini," perintah Hayra memberi strategi untuk kelima perempuan itu, dengan senapan yang dia berikan tak lupa Hayra memakainya amunisi terlebih dahulu.
Bagaimana Hayra bisa tau, ya pasti melihat dari YouTube, itulah gunanya handphone, untuk menonton video yang bijak.
Hayra sadar ini sangat membuang waktu, tapi mau bagaimana lagi, dia hanya seorang gadis bukan pendekar, lagian menyerang tanpa strategi bisa bikin berantakan, sama saja menyerahkan dirimu secara cuma-cuma, jika keluarga Azka tidak tertolong setidaknya, dia sudah berusaha membantu. Jiwa Phoenix? Hayra tidak bisa mengandalkannya, karena bukan dirinya yang sekarat, jadi jiwa Phoenix itu mana mau keluar.
. . .
Baru saja hendak memperkosa Sania kepala pria itu tiba-tiba bolong, membuat tigapuluh orang itu kaget, gawat, mereka ketahuan.
"Cepat berpencar!" teriak ketuanya. "Tangkap penyusup, yang berani ikut campur itu!"
Mereka langsung berpencar, kelima pembantu wanita itu, langsung melancarkan tembakan, walaupun dengan tangan gemetar, bila amunisi habis, mereka sudah di ajarkan oleh Hayra cara memasangnya.
Para penjahat itu berpencar, kesempatan emas bagi Hayra untuk menembak mereka, lima orang langsung tumbang!
"Berhenti!" cela temannya. "Jangan gegabah, diam, perhatian sekitar." bisiknya tak lupa kode mata mereka.
Hayra yang berada di atas pohon, cukup mengerti dengan gerak gerik mereka tu. "Jangan ada yang menembak!" imbuh Hayra, karena dia sara mereka tengah memperhatikan jarum jam arah tembak mereka.
"Yang di atas rooftop, tembak yang bagian kiri, dekat pot!" titah Hayra di balik earphone yang dia gunakan.
"Baik."
__ADS_1
"Sial dari mana datangnya musuh, ini?" geram pria itu melihat satu temannya mati tersungkur.
"******! Kok gue bego banget sih anjing!" gumam Hayra, mengambil handphonenya lalu menelpon polisi, kenapa tidak dari awal saja, ouy!
Bego banget sih!
"Nanti kalo udah ada suara sirene polisi, kalian cepat-cepat, turun kembali ke gudang, jangan lupa sembunyikan senjatanya juga, biar sidik jari kalian tidak ikut di periksa." titah Hayra, lalu turun dari pohon yang tingginya mencapai balkon lantai tiga kamar Azka.
Hayra dia harus mengambil parang miliknya, takut polisi menemukannya duluan, yang ada bisa masuk penjara nanti dia.
. . .
Setelah polisi sampai, Xavier pun ikut datang, dengan napas ngos-ngosan sehabis di kejar maling, tak lupa Hayra yang berlari dengan rambut acak-acakan sambil menangis, tentu itu tangisan palsu.
"Pak, cepat tolong majikan saya pak!" panik Hayra menangis di depan para polisi yang datang membawa tiga mobil.
"Mohon tenang dek, kami akan masuk untuk memeriksanya." ucap polisi itu, lalu masuk, untuk melihat.
. . .
"Tapi bagaimana dengan polisi itu tuan? Kami tidak mau berurusan dengan pihak polisi, kami hanya melaksanakan perintahmu saja," tukas pria itu, menatap tak setuju dengan ucapan Madipurna tadi.
"Kau berani menolak ku bajingan!?" marah Madipurna.
"Mengapa tidak, ini di luar kesepakatan bersama! Kami mengerjakan misi, tidak main-main, jadi jika anda bermain-main dengan ucapan anda tadi, kami tidak akan segan-segan untuk memburu keluargamu!" tegas pria itu, salah besar jika Madipurna ini, bermain-main dengan dirinya, duit saja tidak cukup, karena anak buahnya harus mati tewas atas misi sialan ini.
"Sialan kalian, saya tidak mau tau, jika polisi mengetahui hal ini, saya tidak mau ikut campur!" tolak Madipurna mentah-mentah.
"Oh, tidak bisa tuan Madipurna yang terhormat, kami memang penjahat yang membutuhkan uang, tapi kami tidak setuju dengan usulan mu tadi, karena anak buah saya harus mati di misi sialan mu itu," tekan pria itu. "Satu lagi, yang kau transfer ke kami, tidak sepadan dengan misi yang kami lakukan, jadi sebagai gantinya ...." sinis pria itu menatap anggotanya yang mengangguk setuju.
"Hajar!"
"Kurang ajar kalian!" teriak Madipurna, merasakan sakit di seluruh tubuhnya karena di keroyok oleh anak buah gadungan yang dia sewa.
. . .
Aduh² we, maaf Yo krna ceritanya malah kek gini, semoga nyambung, dan maaf jika alur ceritanya lambat 🙂🙏
__ADS_1