
Pada malam harinya Xavier pulang dari bekerja sesampainya di rumah dia melihat banyak motor sekitar ada lima Xavier merenggut bingung. "Kalian ngapain?" tanya Xavier terkesan tidak sopan, tapi bodo'amat.
"Bang, akhirnya Lo pulang!" celetuk Jawi langsung berdiri dari duduknya.
"Kenapa emang?" tanya Xavier.
"Hayra hilang bang!" jawab Jayadi.
"Maksud Lo?" bingung Xavier.
"Iya, Hayra hilang, soalnya dari tadi siang kita gak nemuin tuh anak," jelas Jayadi lagi.
"Gak usah bohong Lo, gak lucu!" kekeh Xavier memasuki rumahnya dan bener saja di sana tidak ada Hayra membuat Xavier menjadi emosi. "Lo pada sembuyiin Hayra di mana?" tanya Xavier dengan nada dingin menunjuk Fandi yang berdiri paling depan. "Jawab anjing! Lo sembuyiin adik gue di mana? Hah!" emosi Xavier menarik leher baju Fandi sehingga mendekat ke dirinya.
"Bang tenang bang, kita bicarakan ini baik-baik, Fandi gak salah!" lerai Qamal mencoba melepaskan tangan Xavier di leher baju Fandi.
"Gimana gue bisa tenang b*ngsat! Adik gue hilang!" geram Xavier menatap tajam Qamal.
"Iya bang tau, tapi tenang dulu, kita bicarakan ini baik-baik, dan Fandi kita semua di sini gak bersalah, karena saat kita datang Hayra udah hilang duluan, nah maka dari itu kami mengira Hayra di bawa sama Abang gitu!" jelas Qamal panjang lebar di balas dengan muka melongos, sungguh kesal sekali aku wahai kanda.
. . .
Sedangkan di posisi Hayra, setelah terpentalnya Silvia tiba-tiba Hayra bangkit lalu berdiri dengan sempurna tak lupa mata merah yang menghiasi mata Hayra.
__ADS_1
"Dasar wanita biadab!" geram Hayra dengan nada suara yang mirip laki-laki.
"Tidak mungkin! Tidak mungkin ....!" geleng Silvia menatap wajah Hayra yang sudah memerah seperti kobaran api. "Phoenix ...," lirih Silvia.
Madipurna yang baru masuk pun ikut terkejut melihat perwujudan Hayra yang di mana timbul bulu kemasan di punggungnya, sudah seperti malaikat maut.
Tanpa ampun Hayra mencekik leher Silvia hingga tidak memijak tanah. "A-ampun ...." lirih Silvia memegang tangan Hayra.
Suara tembakan mengalihkan pandangan Hayra, terlihat Madipurna sedang memasang pelatuk untuk menembak Hayra, tapi keburu pistol itu hancur oleh kekuatan Hayra.
"Akhh ..., sialan!" desis Madipurna saat pistol di tangannya hancur.
"Hahaha .... Kalian tidak akan bisa membunuh gadis ini, karena gadis ini sudah ku tandai!" desis Hayra yang tubuhnya di ambil alih oleh Phoenix yang masih belum bangkit sepenuhnya.
. . .
Selesai dengan kedua bajingan itu, tubuh Hayra di bawa ke tepi jalan yang sepi, lalu Phoenix itu melepaskan dirinya dari raga Hayra yang sudah tak sadarkan diri, di tepi jalan, kalung berbandul bulan sabit itu bersinar lalu redup seketika setelah sebuah mobil hitam berhenti di samping jalan.
"Ya ampun kasihan sekali anak ini mas!" panik wanita cantik glamor itu setelah turun dari mobil.
"Tolong bawa masuk?" suruh pria, yang berdiri di belakang istrinya. "Udah gak usah cemas, kita tolong okey?" bujuk sang suami pada istrinya yang terlihat gelisah.
. . .
__ADS_1
Xavier berjalan luntang-lantung di tepi jalan mencari Hayra. "Ra, kamu di mana sih, kamu baik-baik aja kan? Kenapa suka banget ngilang sih, bikin khawatir tau gak!" kekeh Xavier yang sudah gila karena kelelahan, bayangkan seharian penuh dia bekerja lalu pulang, dan mendapatkan adiknya hilang entah kemana.
. . .
"Bagaimana keadaan gadis tadi dok?" tanya Violetta seorang yang menolong Hayra.
"Pasien mengalami patah tulang punggung sehingga menyebabkan tulang ekor mengalami kerusakan, maka dari itu kami harus melakukan operasi, jika bapak dan ibu berkenan bisa langsung berbicara di ruangan saya, permisi." jelas dokter wanita itu lalu pamit pergi.
"Mas bagimna ini?" lirih Violetta pada suaminya yang hanya diam berdiri.
"Kita tidak bisa berbuat apa-apa sayang, kita bukan keluarganya," jelas Arlos pada istrinya.
"Tapi kasihan dia, aku gak tega liatnya mas ..." lirih Violetta mengingat wajah Hayra begitu mirip dengan dirinya.
"Iya sayang aku tau." gumam Arlos memeluk wanita tercintanya ini.
. . .
Silvia bangun melihat sekitarnya yang sudah tidak ada Hayra, dia bersyukur bisa selamat, dia tidak menyangka bahwa jiwa Phoenix itu akan hidup kembali, di ceritakan jiwa Phoenix itu telah di kutuk karena telah lalai dalam menjaga seorang kesatria penjaga dimensi dunia nyata dan dunia pararel tempat mereka sekarang ini, dengan dalih berada di dalam novel.
Kenapa bisa Silvia pelakunya? Ya karena Silvia adalah Amelia, Silvia sengaja menggunakan identitas Amelia untuk mendekati Azka, tapi karena tokoh Hayra yang sangat menggangu membuatnya kembali pada dirinya asli, sebagai Silvia siswi pindahan yang jenius, lalu Silvia memfitnah Amelia yang telah menyebarkan foto dirinya yang sudah mem-bully orang-orang di sekolahnya dulu.
"Akhh ..., sial, akan ku balas kau Hayra, jangan mentang-mentang jiwa Phoenix ada di dalam dirimu terus aku akan takut? Oh ... tentu tidak, bahkan aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang aku mau, termasuk Azka, dan ..., satu lagi? Keturunan Pramaja!" lirih Silvia tersenyum jahat, lalu pergi dari gudang kosong itu meninggalkan ayahnya yang masih terbaring tak sadarkan diri.
__ADS_1
. . .