Perjalanan Hayra Didunia Novel

Perjalanan Hayra Didunia Novel
EPISODE 26


__ADS_3

Time dari SMA negeri Cendana 11 sekolah Hayra kekurangan pemain maka dari itu Wonzi ikut main lagi, mereka sangat sedih akan musibah yang menimpa Hayra, terlebih lagi Fandi dia sangat panik akan keadaan Hayra yang mengalami patah tulang belakang.


Pertandingan akan di tunda seminggu sampai penyelidikan itu selesai, jika masih belum terlalu aman mereka akan menambahkan beberapa penjaga untuk mengawasi gedung di titik tertentu beserta beberapa cctv tersembunyi, ini sekolah elit dan onpastinya penjagaannya juga elit.


Jangan sampai .... Sekolah elit penjagaan sulit!


.  .  .


"Makan dulu ya," ujar Xavier menyuapkan bubur yang di kasih oleh dokter.


"Nanti pulang ya?" ucap Hayra setelah menelan bubur yang di suapi oleh Xavier.


"Kamu belum sembuh total Ra, jan bandel deh!" kesel Xavier kembali menyuapkan bubur.


"Bukan masalah bandelnya, Xavi, tapi biayanya, kemarin aja bayar adminstrasi Lo sampe kelimpungan, apalagi tangung gue udah gak cukup, plis rawat di rumah aja ya ...?" mohon Hayra yang sudah mulai menangis, akan keadaan mereka yang sangat sulit ini.


Xavier terdiam menunduk, benar aapa kata Hayra dia tidak bisa membantu perawatan gadis itu, tapi Xavier lebih tidak tega lagi melihat keadaan Hayra yang mengalami patah tulang. "Gue akan cari kerja, Lo tenang aja!" ujar Xavier mantap.


"Ya, Lo mau cari kerja di mana? Sebelum Lo dapat kerjaan yang pasti, yang ada biaya rumah sakit akan semakin nunggak, gue kek gini karena ngertiin posisi Lo Xavier, nanti kalo udah ada kerjaan yang pasti, Lo boleh kok bawa gue berobat," ucap Hayra memandang serius Xavier yang juga tengah menatapnya.


"Kenapa Lo baik banget Hayra, padahal gue mau ngelakuin itu buat bales budi pada Lo, gue gak mau terus-terusan jadi beban buat Lo!" lirih Xavier, "oke nanti kita pulang, tapi maaf gue gak bisa tebus obatnya buat Lo ...."


"Gak pa-pa, gue ngerti gak usah merasa bersalah gitu." hibur Hayra dengan tersenyum manis.


Xavier berjanji lagi pada dirinya dia akan berbalas budi pada Hayra yang sudah begitu baik terhadap dirinya, Xavier sudah menganggap Hayra sebagai adiknya dia begitu menyangi Hayra seperti saudaranya sendiri tapi tidak tau besok atau besoknya lagi, akan seperti apa.


. . .


Fandi dan yang lainnya datang menjenguk Hayra kerumahnya, karena Hayra sudah pulang dari rumah sakit, sesampainya di halaman rumah Hayra yang begitu sepi, apalagi tetangga tidak ada yang berlalu lalang ke luar padahal masih siang baru jam sebelas lewat.


"Permisi ....! Ada orang gak?"


"Hayra! Ra ...."


Panggil mereka di depan rumah Hayra. "Gak ada di dalam mungkin!" celetuk Weza yang duduk di atas motornya.

__ADS_1


"Ya kalo gak ada di rumah, terus dia kemana?" tanya Timo yang sudah memakan snack yang dia bawa untuk Hayra.


"Kok nanya kita!" jawab Wonzi yang sudah nyebat duluan, karena mulutnya terasa asam oleh sambel buatan sang bunda tercinta.


Xavier pulang dengan menenteng sayuran dan lima butir telur, dia begitu terkejut saat melihat banyaknya anak laki-laki yang berada di depan rumah Hayra. "Kalian ngapain?" tanya Xavier sehingga memberhentikan perdebatan kecil Weza dan Timo.


"Nyari Hayra bang, dia udah pulang dari rumah sakit kan?" tanya Qamal, memanggil Xavier 'bang' karena kontur wajah Xavier yang tegas dan nampak dewasa.


"Oh, kalian teman-temannya, mari masuk, tadi Hayra tidur gak tau masih tidur apa enggak!" ucap Xavier membukakan mereka pintu, lalu masuk dan terlihatlah Hayra yang tertidur di luar.


"Pantesan si bocil lagi tidur toh!" gumam Jawi.


"Kok dia tidur di sini?" tanya Sani, menatap Xavier.


"Dia yang mau, katanya sih biar mudah di bantu ke kamar mandi," jelas Xavier.


"Memangnya dia sakit apa?" tanya Fandi begitu penasaran.


"Patah tulang belakang," jawab Xavier.


Mereka menatap prihatin pada Hayra yang masih tertidur, mukanya sangat lusuh tapi tetap cantik, mereka menatap Hayra yang tertidur hendak berbalik tapi punggungnya merasa sangat sakit sehingga membuatnya meringis.


"Bukan cuma Lo doang, salah si bocil apa coba? Perasaan si bocil gak pernah buat masalah!" sahut Jayadi.


"Kalian ada yang punya rekomendasi kerjaan gak?" tanya Xavier memecahkan keheningan.


"Lo butuh kerjaan?" tanya Wonzi, lalu di balas anggukan oleh Xavier. "Kebetulan temen bokap, lagi butuh bodyguard buat anak ceweknya, gajinya juga lumayan, kalo mau gue kasih nomernya nih!"


"Boleh deh, bentar gue ambil handphonenya Hayra dulu," Xavier membuka tas sekolah Hayra lalu mengambil handphonenya. "Mana nomernya?" minta Xavier.


"Nih 0832xxxxxxxx"


"Oke makasih." ucap Xavier lalu di anggukkan oleh Wonzi.


. . .

__ADS_1


Amelia merayakan party di rumahnya bersama Nolan, sejujurnya dia tidak peduli dengan hubungannya bersama Azka tapi demi keberlangsungan misi dia rela menjadi gadis lemah dan lugu agar dapat menarik simpati orang-orang untuk berpihak dengan dirinya.


"Aku seneng banget bisa membuat si anak miskin itu patah tulang, tapi lebih senang lagi jika dia langsung mati!" ujar Amelia meneguk anggur merah yang hitam pekat.


"Lebih enak kalo kita liat dia menderita dulu gak sih yang?" sahut Nolan menc*mbu sekitar leher Amelia sehingga menimbulkan ruam merah di sekitarnya.


"Mantap sayang, terusin ....!" senang Amelia merasakan kenikmatan dunia ini, jika akhirat belum tentu dia mendapatkannya dia kan atheis.


. . .


"Nolan gak datang lagi?" tanya Azka.


"Nggak deh, kayaknya!"


"Gue liat sih, tadi dia pergi kerumahnya si lon*e!" jawab Pawan menunjukkan ketidaksukaan pada Amelia, dulu dia menahannya karena Amelia berstatus tunangan Azka sahabatnya, tapi sekarang dia juga berstatus selingkuh sahabatnya. Pusing Pawan tuh!


"Lo*te sapa tuh ...?" tanya Putra, dengan wajah tengil. "Eh .... Ka, Lo gak jenguk Hayra, gue liat Lo berdua dekat tuh!" ucap Putra.


"Emang dia sakit apaan?" tanya Azka sambil asik membalas pesan dari kekasih barunya siapa lagi kalo bukan Silvia.


"Dari kesaksian polisi yang gue denger, sih Hayra sempat di pukul oleh beberapa orang, terus pas di jalan bunda sama ayah nemuin Hayra lari gitu, terus di bawa deh kerumah sakit," jelas Putra sambil memantik rokoknya.


"Nanti malam gue mau ke sana, sekalian gue mau ngajak Silvia," ucap Azka.


"Gue ikut deh," timpal Pawan.


"Gue juga ah ..." sahut Putra cengengesan.


"Dih!"


. . .


"Sampai kapan Lo mau kek gini Zulfa, stop lah mencari yang tidak pasti!" sentak Kean merasa frustasi dengan keadaan Zulfa yang semakin ngelindur.


Akibat pertemuannya dengan nenek-nenek itu Zulfa manjadi berubah membuat Kean merasa prihatin terhadap sahabatnya sekaligus cinta pertamanya ini, ternyata benar persahabatan antara lelaki dan perempuan pasti akan melibatkan perasaan.

__ADS_1


"Kean, dia kesakitan Kean!" tangis Zulfa meronta-ronta di atas kasur, seharusnya tiga hari lalu Zulfa akan pulang ke jakarta tapi, karena keadaannya yang seperti ini, membuat Kean tidak mengijinkannya untuk pulang, orang tua Kean juga tidak ada di rumah mereka hanya bertiga bersama adik Kean yang cewek itu.


. . .


__ADS_2