Perjalanan Hayra Didunia Novel

Perjalanan Hayra Didunia Novel
EPISODE 31


__ADS_3

Di tengah malam yang gelap Xavier berjalan di tengah dinginnya malam, ingat dia tidak punya motor untuk bertemu Hayra di rumah sakit, jadi dia memutuskan berjalan kaki, dengan Hoodie hitam terpasang rapi untuk menghalau rasa dingin di jam 01:45 ini.


Sesampainya di sana Xavier langsung membuka pintu itu dan menampakkan Hayra yang tengah menonton tv. "Assalamualaikum!" salam Xavier menutup pintu.


"Xavi!" pekik Hayra pelan merentangkan tangannya seolah minta di gendong.


"Minimal jawab salam gue lah!" sindir Xavier, mendekat ke arah Hayra kesenangan.


"Waalikumus'salam, Xavi datangnya lama!" kesel Hayra.


"Aelah cil, Lo pikir ke sini naik motor, gue jalan kaki makanya lambat!" protes Xavier membuka kupluk hoodienya.


"Kenapa gak naik ojek aja, biar cepat," kata Hayra.


"Jam dua malam begini mana ada ojek!" seru Xavier hendak mencekik Hayra karena kesal.


"Oh ya ..." cengengesan Hayra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ceritain, kenapa bisa hilang dua hari ini, gue panik anjir!" kesel Xavier.


"Ceritanya panjang," ujar Hayra menguap.


"Ya di pendekin, lah!" sungut Xavier.


"Ck, iya-iya, jadi ceritanya tuh, gue kan di--"


"Langsung intinya!" potong Xavier.


"Ya makanya jangan di potong sapi! Dengerin dulu anjir!" pekik Hayra pelan dengan nada geram dan kesal. "Ceritanya tuh gue di culik sama si Silvia, yang menyamar jadi Amelia, terus bapaknya juga ikut-ikutan, udah itu aja!" jelas Hayra dengan kesal.


"Tapi kok, Lo bisa sampai rumah sakit?" tanya Xavier.


"Kata dokternya sih gue di tolongin sama dua orang paruh baya gitu," jelasnya.


"Ouh."


Patah tulang Hayra sebenarnya bisa langsung sembuh dengan kekuatan Phoenix tapi dia tidak mau orang-orang yang berada di dunia ini curiga, jadi si Phoenix hanya mengurangkan rasa sakitnya, dan membantunya lewat tenaga medis.


.  .  .


Perusahaan Soni ayah Azka kini tengah mengalami kerugian saham yang di jual karena terlalu murah sehingga menyebabkan likuiditas pada perusahaannya, di tambah kedatangan Madipurna ke kantornya membuat Soni semakin pusing dengan situasi sekarang.

__ADS_1


"Wah, wah, ada yang akan bangkrut, nih!" ejek Madipurna dengan pinggang yang sakit akibat lemparan Hayra dua hari lalu.


"Apa yang kau lakukan sialan!" kesal Soni menatap tajam Madipurna yang tersenyum mengejek. "Ini pasti kelakuan mu kan? Dasar bajingan!" umpat Soni.


"Bagaimana? Sepadan bukan? Kau telah berani membuat istanaku hancur Soni! Jadi sebagai balasan saya akan mempengaruhi para pemegang saham, untuk mencabut saham mereka yang telah mereka investor kan ke kamu!" senyum sinis Madipurna, mendorong pelan Soni hingga mundur beberapa langkah. "Selamat mengalami kebangkrutan Soni Mahardika!" sinis Madipurna lalu berjalan keluar meninggalkan Soni yang mengepalkan tangannya menahan amarah.


"Madipurna akan ku balas kau sampai ke akar-akarnya!" desis Soni dengan dendam yang sudah luar akal sehat.


.  .  .


Mengetahui sang ayah dalam pase kesulitan Azka mulai mencari pekerjaan part time untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang tak di inginkan terjadi pada keluarganya.


Soni yang tau sang anak sudah mulai mencari pekerjaan sampingan tidak menegurnya, 'sekali-kali jadi anak harus berguna' pikir Soni, dan untuk Sania dia hanya bisa terdiam menyemangati, meskipun tidak bisa membantu banyak.


.  .  .


Pagi-pagi sekali Xavier pamit pergi pada Hayra untuk bekerja, dan kini di siang harinya Hayra di pertemukan dengan orang yang sudah menolongnya.


"Apa kalian yang sudah menolongku?" tanya Hayra to the poin, pada kedua pasangan paruh baya yang masih muda ini.


"Iya, kami berdua yang menolong mu, bagaimana keadaanmu, apa sudah mendingan?" tanya Violetta, duduk di kursi.


"Alhamdulillah, itu apa?" tanya Violetta merasa asing dengan kalimat yang Hayra ucapkan tadi.


Hayra yang mendengar pertanyaan itu meringis ngilu, dia lupa di dunia ini kan isi penduduknya atheis semua. "Rasa syukur terhadap tuhan, tante," kasih tau Hayra.


Violetta mengangguk mengerti, lalu mulai mengalihkan pembicaraan. "Oh ya, orang tua kamu sudah datang belum?" tanya Violetta penasaran.


Hayra meringis lagi. "Saya yatim-piatu tante," kasih tau Hayra meringis tak enak saat melihat ekspresi sedih Violetta. "Tante kenapa sedih?" tanya Hayra.


"Maaf, karena telah mengungkit kesedihan kamu!" minta maaf Violetta.


"Ah ..., tidak apa-apa kok tante, saya sudah ikhlas kok, tante jangan sedih ya ..." bujuk Hayra, jelas dia tidak sedih karena dia Hayra yang berasal dari dunia lain, yang menggantikan jiwa Hayra Mahalani.


Arlos dia hanya menatap kedua interaksi wanita yang berada di depannya, dirinya merasa sedih saat mengingat putrinya yang telah hilang di culik entah kemana, jika putrinya masih ada mungkin dia akan sebesar Hayra.


.  .  .


Hari ini adalah seni final dari pertandingan MLBB antar sekolah yang telah di selenggarakan oleh pihak PPHS untuk memperkuat persahabatan antar sekolah negeri mereka.


Pengumuman kemenangan telah di hitung mundur oleh juri, dari time PPHS time satu mereka telah di eliminasi di babak kedua, sedangkan time dari JBHS time satu mereka telah di eliminasi begitu juga dengan SMA Swasta 4N time satu mereka Ter eliminasi oleh time Hayra Minggu lalu, dan time dari SMA negeri Cendana 11 mereka sudah jelas time dua lolos.

__ADS_1


Keempat time besar itu berbaris menunggu pengumuman. "Pemenang juara pertama ada-lah ....!" teriak sang juri di tengah lapangan yang panas itu. "Juanda Brahmana High School!" teriaknya, sehingga siswa dari JBHS berteriak senang.


"Untuk juara kedua di menangkan oleh ....! Perwira Pramaja High School, selamat!" teriaknya. "Untuk juara ketiga di menangkan oleh ....!" keadaan mulai hening, mereka menerka-nerka siapa yang akan menang. "SMA Negeri Cendana 11, selamat!"


SMA Negeri Cendana 11 yang mendengar kemenangan itu, melotot tak percaya, walaupun juara tiga setidaknya mereka bisa menang, anak-anak SMA Negeri Cendana 11 yang ikut nonton pun berteriak senang.


"Gila ..., gak nyangka banget gue!" terharu Jawi memeluk para kawan-kawannya.


"Gak nyangka banget!" sahut Qamal.


Pak Sandi ikut terharu melihat perjuangan anak didiknya yang bisa menang dalam pertandingan ini. "Nanti kita ke rumah sakit, gue denger Hayra udah di temukan dan sekarang dia berada di rumah sakit!" seru Fandi mengagetkan teman-teman, tadi pagi dia mendapat pesan dari Xavier kalo Hayra sudah di temukan.


"Serius Lo?" tanya Jayadi.


"Dua rius malah!" seru Fandi.


"Gas ke rumah sakit, sehabis ini!" timpal Qamal.


.  .  .


"Dulu saya juga punya anak cewek, tapi kecelakaan menimpa kami, sehingga putri pertama saya harus hilang di culik seseorang, saya selalu berharap semoga putri saya masih hidup dan bisa bertemu sama saya." cerita Violetta yang terdiam mendengarkan.


"Kalo boleh tau, nama anak tante siapa?" tanya Hayra.


"Nama dia Hayra Mahalani, saat masih bayi saya memasangkannya kalung berbandul love yang berisikan foto Saya dan suami saya, kalung itu bisa di buka jika menggunakan jarum kunci khusus yang berada di samping bandul kalungnya," jelas Violetta, entah kenapa dia bisa bercerita seterbuka ini pada Hayra yang dasarnya orang baru.


"Oh ya, sudah lama mengobrol tapi belum tau nama masing-masing, kenalkan nama tante Violetta dan suami tante bernama Carlos, tapi panggil saja paman Arlos."


Arlos? Dia sudah pergi satu jam yang lalu, karena dia harus kembali ke kantor untuk mengurus pekerjaan, karena dia adalah seorang Presdir di perusahaan Pramaja Gurp, karena ada panggilan rapat untuk membahas perdagangan saham yang tengah naik turun di harga pasar.


"Nama, saya Ayra tante," kasih tau Hayra, dia sengaja tidak memberitahu nama aslinya karena ingin memastikan sesuatu dulu.


"Nama yang cantik seperti orangnya," puji Violetta.


"Sama-sama tante juga gak kalah cantik!"


Hayra tak sabar untuk pulang, dan menggeledah barang peninggalan Hayra yang dulu, siapa tau ada kalung berbandul love itu, tidak ada salahnya dia berharap jadi anaknya Violetta untuk mengubah hidupnya, apalagi masalah yang akan datang, pasti untuk melakukan balas dendam membutuhkan dana.


"Semoga saja, tokoh ini ibu kandung Hayra asli! Ya Allah semoga saja!" doa Hayra di dalam hatinya.


. . .

__ADS_1


__ADS_2