
Asakusa, Prefektur Tokyo
Tanjiro sekarang tengah berjalan di keramaian orang, banyak orang berlalu-lalang disana. Tanjiro sudah membunuh iblis yang dia temui didesa itu, berapa kalipun tanjiro bertanya tentang Kibutsuji Muzan, iblis itu akan tetap bungkam ataupun berteriak tidak akan membocorkan nya.
"Jalanan ini sudah berkembang pesat!! Walaupun malam sinarnya terang sekali!! Bangunan nya juga sangat tinggi!! Apa semua.. Kota seperti ini..." batin Tanjiro terkejut
"Ini membuatku agak pusing" lanjutnya, Tanjiro menoleh kesana-kemari berniat untuk pergi mengisi perutnya, tetapi sesuatu menarik penglihatannya. Seseorang, yang selama 2 tahun bersamanya.
Tanjiro bergegas membuntuti nya, menabrak beberapa orang, demi mengejar orang tersebut. Hingga akhirnya Tanjiro berakhir di sebuah gang yang sepi dan minim pencahayaan. Tetapi, penglihatannya tidak menangkap siapapun atau bahkan sekedar sekelibat bayangan pun.
Tanjiro menundukkan kepalanya, badannya bergetar antara menahan tangis dan rindu, selama ini dia sudah berusaha sekuat mungkin untuk merelakannya, namun nihil semuanya..... Usahanya sia-sia.
"Beginikah rasanya menyukai seseorang? Jika waktu bisa kuputar kembali, aku ingin mengatakan ini padamu. Aku mencintaimu, Rimuru-san" ucapnya sambil berderai air mata.
Disisi Rimuru
Rimuru berjalan mengarah hutan yang lebat, gelap dan menakutkan. Tiba-tiba saja tubuhnya merinding, bukan karena angin atau hal lain. Tapi, lebih dari itu.
"Siapa yang sedang membicarakan ku? " batin Rimuru.
Rimuru berjalan kembali, rambutnya berkibar terkena semilir angin, bau harum dari tubuhnya dan haorinya semerbak, memenuhi dan membuat tenang siapapun yang ada didekatnya, hewan malam mulai beraktivitas seperti pada umumnya.
Rimuru tidak terganggu dengan itu semua, dirinya malah menikmati suasana hutan yang saat ini didatangi nya. Membuatnya bernostalgia dengan suasana Tempest saat masih menjadi desa kecil- desa para goblin.
(penulis: ini adalah gambaran sungai yang Rimuru kunjungi, tolong anggap lukisan itu bernuansa malam hari)
Suara air dari anak sungai menambah kesan istimewa tersendiri bagi Rimuru. Dirinya melompati beberapa batu kecil, sesekali dirinya bermain air di sungai tersebut. Bulan bersinar dengan terangnya, Rimuru duduk di sebuah batu besar, siapapun yang melihatnya akan berpikir bahwa seorang dewi tengah turun dan bermain air.
"Sangat indah ya, Ciel? "
[Benar master]
"Aku jadi merindukan negaraku"
Ciel hanya diam, dirinya tidak menanggapi perkataan Rimuru. Dirinya tahu, tuannya sedang menikmati suasana yang membuat hatinya menghangat, dirinya pun juga merasakan hal itu, bagaimanapun juga Ciel dan Rimuru adalah satu.
Saat Rimuru terpukau dan terpaku dengan pemandangan yang dilihatnya, suara pertempuran membuyarkan semuanya. Suara pedang yang sangat nyaring tengah beradu dengan sesuatu.
Rimuru melompat turun dari batu itu, dia bergegas ketempat suara pertempuran tersebut.
"Tch, mengganggu saja" batin Rimuru, tak lupa dengan topeng yang sudah siap diwajahnya.
Saat sampai Rimuru melihat seorang pria dengan rambut yang seperti merak berwarna kuning dan merah tengah bertarung dengan beberapa iblis kecil, jika dihitung pria itu dikepung oleh 25 iblis.
"Hmm, lumayan. Gaya bertarung dan semangat yang membara darinya cukup lumayan" gumam Rimuru, tanpa mau membantu pria tersebut. Toh, pria itu dapat mengalahkan iblis itu dengan mudah.
Tiba-tiba saja seorang iblis muncul dibelakang Rimuru. Rimuru hanya diam menunggu serangan iblis itu, sementara pria itu terkejut dan berusaha menyelamatkan Rimuru.
"Nak! Dibelakang mu awas!! "
"Kau akan menjadi santapan ku" ucap iblis itu dengan senyum miringnya, menyombongkan dirinya sendiri.
"Dasar iblis rendahan" sedetik setelah Rimuru mengatakan itu, Rimuru berbalik dan menyentil kepala iblis itu, dijari Rimuru terdapat sesuatu berwarna ungu tua, tubuh iblis itu tiba-tiba berhenti, lalu meledak.
Sang pria terkejut, matanya melotot seakan siap untuk copot dari tempatnya. Rimuru tersenyum miring, walau tertutup oleh topengnya.
"Padahal aku hanya memberikan sedikit aura ku padanya, tapi dia sudah hancur, benar-benar lemah" gumam Rimuru.
Sang pria bergegas mendekat kearah Rimuru, dirinya langsung mengecek setiap inci tubuh Rimuru. Rimuru yang diperlakukan seperti itu merasa risih, dirinya menepis kasar tangan pria tersebut.
"Nak! Apa kau baik-baik saja?! Kau tidak terluka kan?! "
"Aku baik-baik saja! Singkirkan tanganmu dariku! "
__ADS_1
"Eh! Maaf aku hanya khawatir, tiba-tiba saja iblis itu meledak, dan aku tidak tau apa penyebabnya"
Setelah mendengar penuturan dari sang pria, Rimuru terkejut. Apakah pria didepannya ini tidak dapat melihat tindakannya.
"Apa bocah ini tidak dapat melihat auraku, Ciel? "
[Benar master, Orang-orang didunia ini tidak dapat melihat aura yang dikeluarkan dari tubuh anda, Veldora, maupun Diablo. Tetapi, jika aura yang anda keluarkan cukup besar bagi mereka, mereka dapat merasakannya]
"Ternyata begitu"
"Mungkin muzan yang membunuh nya" jawab Rimuru, sang pria terkejut.
"Apa kau pernah bertemu dengan mu-" Kata-kata pria tersebut terhenti saat seseorang berteriak kearahnya.
"Rengoku-sama!! Apa anda baik-baik saja?! " seseorang datang ke arah Rimuru dan sang pria yang bernama Rengoku Kyoujuro, sang pilar api. Orang itu biasanya disebut sebagai kakushi.
"Umu!! Aku baik-baik saja! Tidak perlu khawatir" wajah khawatir Kyoujuro menghilang digantikan dengan senyuman lebar dan bersemangat miliknya. Dan dirinya tidak lagi menyinggung tentang percakapan tadi.
"Silau" batin Rimuru saat melihat senyuman Kyoujuro.
Tiba-tiba saja sebuah gagak terbang diatas Rimuru dan Kyoujuro, gagak itu hinggap dipundan Kyoujuro.
"Kwakk, Rengoku Kyoujuro bawa seseorang yang ada disamping mu, orang itu bernama Rimuru Tempest. Oyakata-sama ingin bertemu dengannya, sekaligus membicarakan misi selanjutnya dengan mu kwakk"
"Baiklah, nak kinoe mari ikut dengan ku"
"Pertama-tama namaku Rimuru Tempest bukan kinoe, kinoe hanya pangkatku"
"Khuahaha!! Baik akan aku ingat itu! "
Rimuru dan Kyoujuro berjalan bersama dengan kakushi yang membuntuti nya dibelakang.
"Nak! Aku akan meminta penjelasan mu tentang percakapan mu tadi" ucap Kyoujuro
"Sudah ku bilang namaku Rimuru Tempest, berhenti menyebutku dengan kata 'nak' maupun 'kinoe' atau kata lainnya. Dan jika kau ingin mendengar penjelasan ku, apa imbalan yang kudapat darimu? " tanya Rimuru.
"Dia itu seorang pilar!! Sebaiknya jaga kata-kata mu!! "
"Dan kau hanyalah seorang pelayan jadi jaga kata-kata mu pada majikan mu! " balas Rimuru dingin. Sang kakushi ketakutan, tubuhnya menggigil tak karuan.
"Ini aneh, aku merasa dia sangat kuat" batin kakushi tersebut.
Kyoujuro hanya menghela nafasnya, dirinya menghentikan pertengkaran yang semakin memanas.
"Dengar Tempest-san.. "
"Rimuru"
"Huh? "
"Rimuru saja"
"Dengar Rimuru-san, jika kau mau memberikan pengetahuan mu tentang muzan, kita dapat mengalahkannya lalu kita dapat hidup secara makmur dan sejahtera. Tidak ada lagi teriakan orang-orang yang dimakan oleh iblis, tidak ada lagi bau anyir khas darah yang terbawa oleh angin, bukankah itu lebih baik? " tanya Kyoujuro
"Tadi kau bilang kesejahteraan bukan? Mengapa kalian tidak membangun kesejahteraan tanpa memandang ras? Ras iblis dan ras manusia, kedua ras ini akan saling bermusuhan, lalu bagaimana suatu negara(federasi jura tempest) di tempat lain dapat makmur dan sejahtera dengan kedua ras yang bercampur? Itu semua tergantung dari pemimpin mereka sendiri, Kyoujuro-san" ucap Rimuru
Kyoujuro tertegun, dirinya bertanya-tanya tentang negara mana yang dapat makmur dan sejahtera walau dihuni oleh ras selain manusia, bahkan semua ras ada disana.
"Dimana tempat itu? "
"Tempat yang sangat jauh"
Tak terasa Rimuru sudah sampai digerbang kayu yang cukup tinggi.
"Rumah siapa ini? " gumam Rimuru yang masih dapat didengar Kyoujuro.
__ADS_1
"Ini adalah rumah oyakata-sama" jawab Kyoujuro.
"Mari kita masuk" lanjutnya
Rimuru masuk kedalam rumah tesebut, tidak bisa disebut besar maupun kecil. Tapi, tempat ini sangat menenangkan. Rimuru berjalan melalui lorong-lorong dengan dipandu oleh Kyoujuro dan anak dari Kagaya.
Anak kagaya pun mengetuk pintu kamar ayahnya, suara lembut terdengar dari dalam, meyuruh Rimuru dan Kyoujuro masuk.
"Maaf mengganggu waktu istirahat anda oyakata-sama" ucap Kyoujuro sopan.
Kagaya bangun dari duduknya dibantu dengan istrinya, Ubuyashiki Amane. Rimuru melihat wajah kagaya, dirinya berniat untuk menyembuhkan nya.
"Bagaimana dengan misimu, anaku? " tanya kagaya lembut
"Semuanya berjalan dengan lancar oyakata-sama"
"Begitu ya? Syukurlah. Selanjutnya aku akan memberimu misi lagi"
Kagaya dan Kyoujuro sibuk membahas tentang misi, sementara Rimuru hanya diam mengamati interaksi dua manusia dihadapan nya. Setelah selesai kagaya menyuruh Kyoujuro untuk pulang ke kediamannya. Kini tinggal Rimuru dan Kagaya sekaligus istrinya.
"Rimuru Tempest, maukah kau memberi tahu tentang Kibutsuji Muzan? " tanya Kagaya langsung pada intinya
"Apa imbalan yang kudapat darimu? " tanya Rimuru
"Kau akan menjadi pilar, lalu kau akan mendapatkan kediaman, kau akan mendapatkan kesejahteraan dan kemakmuran" jawab Kagaya
"Atau.... Kau ingin jiwa dan ragaku? " lanjutnya
"Anata-sama!! " ucap Amane
Rimuru melepaskan topengnya, memperlihatkan mata indahnya. Amane terpaku sesaat, dirinya mengakui bahwa Rimuru lebih cantik darinya. Kagaya masih tersenyum lembut, matanya yang buta tidak dapat melihat Rimuru.
"Aku ingin jiwa dan ragamu! " ucap Rimuru
Amane terkejut, dia langsung berdiri dan menunjuk-nunjuk Rimuru sekaligus menghardiknya.
"Siapa kau beraninya mengatakan hal itu!! Dasar tidak sopan!! ******!! Bodoh!! Tidak memiliki etika!!" ucap Amane sambil terus menghardik Rimuru
"Amane" ucap Kagaya sambil mengarahkan jari telunjuknya kedepan mulutnya, mengisyaratkan untuk diam. Amane langsung diam seketika, dirinya kembali duduk dengan tenang walau nafasnya masih menderu akibat menahan amarah.
"Apa kau mengartikannya dalam bentuk lain Amane-san? Kalau begitu ku beritahu, aku ingin jiwa dan raga Kagaya-kun, tapi bukan berarti aku akan menikah dengannya" Rimuru berdiri, dia mengiris jari telunjuknya hingga berdarah, mengarahkannya ke lantai tempat kagaya duduk.
Tess
Darah Rimuru menetes, tiba-tiba saja angin kencang menghamburkan semua barang-barang yang ada dikamar tersebut. Sebuah lingkaran sihir pun terbentuk dibawah kaki Kagaya.
"Kuulangi sekali lagi. Kagaya-kun, maukah kau memberikan jiwa dan ragamu? Dengan begini kau akan menjadi bawahan ku" ucap Rimuru
Kagaya dan Amane terkejut dengan apa yang mereka lihat dan mereka dengar. Berpikir sebentar Kagaya pun menyetujuinya.
"Baiklah" ucapnya
Rimuru tersenyum, lalu lingkaran sihir itupun, mulai naik hingga ke leher Kagaya, membekas disana lalu menghilang. Angin kencang pun berhenti, Rimuru mengambil topengnya. Berjalan mendekati pintu.
"Mulai saat ini kau adalah bawahan dari Raja iblis dunia lain" ucap Rimuru, Kagaya dan Amane pun terkejut saat Rimuru mengatakan tentang Raja iblis.
"Kau adalah bawahan dari Rimuru Tempest, Raja iblis dari dunia lain, raja dari raja iblis, raja iblis terkuat, salah satu anggota octagram, dan seorang true dragon" ucap Rimuru berbalik sambil mengedipkan matanya genit lalu menghilang menggunakan teleportasi meninggalkan dua orang yang masih mematung.
"Suamiku!! Apa kau dengar itu?! Dia adalah seorang raja iblis!! " pekik Amane
"Sudah kuduga"
"Apa maksudmu? "
"Dia adalah orang yang hebat dan kuat, dan lagi aku juga tidak keberatan menjadi bawahannya, meski dia bergelar Raja iblis, aku tidak merasakan hawa membahayakan" jelas Kagaya
__ADS_1
"Oleh karena itu kau tidak perlu khawatir" lanjutnya, Amane hanya menghela nafas dan menganggukkan kepalanya. Bagaimanapun Kagaya adalah suaminya, apapun yang dikatakan olehnya (Kagaya) Amane akan menurutinya.