Perjalanan Rimuru Di Kny

Perjalanan Rimuru Di Kny
7. Selamat atau mati?


__ADS_3

Ketakutan melanda Tanjiro dan calon pemburu iblis dibelakangnya.


"Hey rubah kecil, era apa sekarang ini? " tanya iblis itu


"Ini... Era Taisho sekarang"


"AHHHH" iblis itu berteriak, menggila.


"Nama eranya!! Walau nama eranya berubah!! Tidak cukup, tidak cukup sama sekali!! Sampai kapan aku akan terkurung disini?! Aku tidak akan pernah memaafkannya!! Urokodoki sialan!! Urokodoki sialan!! Urokodoki sialan!! " ucap iblis itu meracau tidak jelas.


"Kenapa kau begitu membenci Urokodoki-sensei? " tanya Tanjiro


"Kau tau kenapa!! Aku ditangkap oleh Urokodoki!! Aku tidak akan melupakan momen 47 tahun yang lalu, dia dulu masih berburu iblis. Selama periode edo... Selama era Keio" jawab iblis itu, sambil berteriak


"Itu bohong!! " sela si beban tidak maksudnya calon pemburu iblis di belakang Tanjiro


"Disini seharusnya tidak ada iblis yang hidup selama itu, karena... "


"Iblis disini harusnya makan 2 atau 3 orang saja, dan iblis dibunuh selama seleksi, juga Iblis membunuh satu sama lain, ini yang membuat mustahil" lanjutnya


"Tapi aku tetap hidup, didalam penjara wisteria ini, aku sudah makan sejumlah 50 anak kecil" jawab iblis itu


"Lima puluh anak kecil?! " batin Tanjiro, seketika Tanjiro mengingat perbincangan dirinya dan Urokodoki


"Ingat baik-baik, pada dasarnya jumlah manusia yang dimakan iblis menunjukkan seberapa kuat mereka"


"Semakin banyak yang dimakan semakin iblis itu menjadi kuat? " tanya Tanjiro


"Benar sekali, iblis meningkatkan kekuatan mereka dengan memakan manusia, beberapa iblis bisa menggunakan sihir untuk membuat perubahan pada daging mereka. Jika, kau bisa meningkatkan sensitifitas hidungmu, kau akan bisa tahu berapa banyak yang mereka makan" jelas Urokodoki


"12.. 13.. Lalu.. Kau yang ke-14" saat asyik mengingat perbincangannya dengan Urokodoki tiba-tiba iblis itu menghitung lalu tertawa.


"Apa yang kau bicarakan?! " tanya Tanjiro tidak mengerti


"Aku sedang menghitung murid Urokodoki yang sudah kutelan, aku sudah memutuskan untuk membunuh semua muridnya, omong-omong yang paling meninggalkan kesan adalah pasangan anak ini. Dari mereka berdua, anak yang punya rambut aneh adalah yang terkuat, kepalanya tertutup rambut merah jambu dan bekas luka di salah satu ujung bibirnya. Yang satunya adalah gadis kecil yang memakai baju bermotif bunga, walaupun dia kecil dan tak begitu kuat, tapi dia cepat dan ringan dengan gerakannya" jelas iblis itu


" mereka dibunuh oleh iblis ini? Tapi aku bertemu mereka..."batin Tanjiro tidak percaya


"Topeng rubah itu adalah sebuah tanda. Aku ingat jurus yang dipakai Urokodoki saat memakai topeng itu, topeng tengu yang dia pakai memiliki pahatan yang sama. Itu disebut topeng malapetaka atau semacamnya bukan? Itu karena mereka menggunakannya saat mereka dimakan, mereka semua kini ada didalam perutku, itu sama seperti Urokodoki membunuh mereka sendiri" jawab iblis itu tersenyum


"Khukhu, waktu aku memberi tahu dia, si gadis sangat marah. Dia punya air mata di ujung matanya. Khukhu, setelah itu gerakannya jadi kaku. Jadi, ku patahkan lengan dan kakinya" ucap iblis itu sambil cekikikan



Tanjiro sudah kehilangan kesabarannya, dia menyerang iblia itu tanpa strategi dan rencana, yang ada dalam pikirannya adalah membunuh iblis di depannya ini.


Duaghh


Tangan iblis itu menghantam pinggul Tanjiro, Tanjiro terlempar sampai membentur pohon di sampingnya lalu tidak sadarkan diri.


"Orang itu sudah kalah, aku harus pergi dari sini selama aku punya kesempatan" batin calon pemburu iblis lain dan lari terbirit-birit meninggalkan Tanjiro sendirian.


Tangan iblis itu terulur hendak membawa tubuh Tanjiro untuk dimakan. Didalam bawah sadar Tanjiro, seorang anak laki-laki terus meneriakinya berkali-kali.


"Kakak!! "


Tanjiro tersadar dari pingsannya, lalu reflek tubuhnya salto kebelakang untuk menghindari tangan si iblis.


Zrashh


Tanjiro memotong tangan iblis itu.


"Walau aku sudah memotong tangannya. Tapi, itu tumbuh kembali setelah beberapa saat. Hm?! Ada bau aneh disana" batin Tanjiro, lalu melompat tinggi saat 3 buah tangan keluar dari dalam tanah.


"Sangat tinggi!! Tangannya keluar dari dalam tanah!! Aku tidak bisa mengalahkannya!! " batin Tanjiro


Iblis itu mengulurkan tinjunya saat Tanjiro masih melayang di udara, Tanjiro menghindar dengan cara membenturkan kepalanya di tangan iblis itu lalu salto kedepan dan mendekati kepala iblis itu.


Iblis itu terkejut saat mengetahui kalau Tanjiro dapat menghindari serangannya, tetapi iblis itu tetap meremehkan Tanjiro.


"Bagaimanapun pertahanan ku dibagian kepala sangat kuat dan dia tidak dapat memenggal ku" batin iblis itu meremehkan


"Fokus. Nafas air jurus pertama: potongan permukaan air"


Zrashh


Kepala iblis itu terpenggal, lalu menggelinding.


Sebuah ingatan muncul saat detik-detik akhir iblis itu menghilang


"Kakak, aku sendirian dalam gelap, aku takut. Kakak, genggam tanganku seperti yang selalu kau lakukan. Kenapa aku menelan saudaraku? Eh? Siapa kakak yang sedang kupikirkan?" ingatan pertama kali yang muncul adalah saat dirinya memakan kakaknya sendiri lalu ingatan manusianya menghilang

__ADS_1


Tanjiro maju menggenggam tangan iblis itu.


"Aroma kesedihan" batin Tanjiro


"Tuhan, tolong jangan biarkan dia menjadi iblis lagi saat dia berenkernasi nanti" ucap Tanjiro, mendoakan iblis itu.


Iblis itu menangis, lalu ingatan kedua dirinya pun muncul


"Kakak, kakak gandeng tanganku"


"Iya, iya. Kau selalu kekanak-kanakan"


Iblis itupun perlahan-lahan menghilang menjadi abu dan menyatu dengan udara.


7 hari kemudian


"Selamat datang kembali"


"Selamat, menjadi segar bugar itu lebih baik dari apapun"


"Hanya ada 4 orang tersisa?! Tadinya ada 20 orang atau lebih" batin Tanjiro


"Akan mati!! Akan mati!! Walaupun kita selamat, kita tetap akan mati pada akhirnya" ucap seorang pria berambut kuning dengan histeris


"Eh? Sekarang apa yang kulakukan? Tunggu?! Dimana pedangnya?! " ucap seorang pemuda dengan banyak luka ditubuhnya


Setelah kedua gadis kembar itu menjelaskan semuanya dari pembuatan seragam hingga pedang, mereka memanggil gagak.


"Eh? Seekor gagak? Bukankah ini burung Gereja? " tanya pemuda kuning itu saat dirinya mendapatkan seekor burung gereja sendiri.


"Aku tidak peduli dengan gagaknya bodoh!! " teriak pemuda yang penuh dengan luka itu. Lalu, menarik rambut salah satu wanita kembar itu. Dia mencaci maki, membentak dan terus menjambak rambutnya.


Tanjiro mengehentikan perbuatan pemuda itu dan mengancamnya, keributan pun akhirnya berakhir. Setelah dirasa semua beres dan Tanjiro sudah memilih batu yang akan dijadikan pedang, mereka semua pun bubar. Merasa ada yang ganjal Tanjiro pun mengingatnya.


"Tunggu!! Dimana Rimuru-san?! " pekiknya, dia menoleh kesana kemari, tapi sayang Tanjiro tidak menemukan Rimuru dimana pun.


Tanjiro terduduk lemas ditanah, sebuah air bening mengalir mulus dan deras di pipinya, dia menangis dengan keras dan berteriak, hatinya terasa sakit saat mengetahui wanita(?) yang dicintainya dan selalu bersama dirinya, menyemangati dirinya,telah pergi meninggalkannya.


"Seharusnya!! Seharusnya aku menghentikannya!! Seharusnya saat dia datang kesini, aku harus mengantarnya kembali kerumahnya!! Kau bodoh Tanjiro!! Kau bodoh!! " makinya dalam hati, awan mendung seakan mengetahui perasaan Tanjiro, setitik air hujan mulai turun lalu menjadi deras, Tanjiro mendongakkan kepalanya, tidak peduli dengan air hujan yang mengenai mata dan mulutnya , mengambil nafas dalam-dalam lalu berteriak dengan keras.


"Rimuru-san!!! "


Seorang pria paruh baya sedang mengelus gagak di pundaknya.


"Jadi, begitu. Ada 6 orang tersisa termasuk anak berambut biru keperakan itu? Mereka benar-benar hebat ya, aku ingin tahu pengguna pedang seperti apa mereka" ucap orang itu


Disisi Rimuru


"Hatchu!!.. Sepertinya ada seseorang yang memanggilku" ucap Rimuru sambil membersihkan ingus dihidungnya.


"Omong-omong ini sudah 7 hari, bagaimana keadaan Tanjiro ya? Aku lulus ujian hanya dalam waktu setengah hari dan aku membunuh setengah iblis di hutan itu. Ahh... Aku bersenang-senang saat itu, saat melihat wajah ketakutan mereka, lalu saat mereka berteriak meminta tolong saat jiwanya aku hisap, betapa senangnya" ucap Rimuru sambil menyesap tehnya.



"Aku juga sudah mendapat seragamku dan juga nichirinku, katanya harus menunggu 15 hari. Tapi, kenapa milikku tidak sampai 7 hari sudah selesai? Sudahlah aku tidak ingin memikirkannya" lanjutnya


Kembali ke Tanjiro


Tanjiro berjalan pulang dengan terseok-seok akibat luka yang dialaminya, dia berpegangan di sebuah tongkat kayu untuk menjaga keseimbangannya. Tidak terasa Tanjiro sudah sampai di rumah Urokodoki.


"Ah.... Aku sudah sampai. Urokodoki-san, Nezuko. . " batin Tanjiro


Dug dug


Sebuah bunyi pintu di tendang terdengar, lalu saat pintu itu terlepas dari engselnya, terlihat Nezuko yang berjalan dibawah sinar bulan.


"Ne-nezuko!! Kamu.. Kamu sudah bangun ya?! "


Nezuko berlari kearah Tanjiro lalu memeluknya.


"Waghh.... Kenapa kamu koma seperti itu? Kamu tidur dan tidak bangun-bangun lagi! Kupikir kamu sudah mati! " tangis Tanjiro sambil memeluk balik Nezuko.


Urokodoki yang mengetahui Tanjiro kembali langsung berlari kearahnya dan memeluk Nezuko dan Tanjiro.


"Akhirnya! Akhirnya kamu kembali dengan selamat! " ucap Urokodoki sambil meneteskan air mata


Tanjiro melepas pelukannya, lalu dia mulai menangis dengan menutup wajahnya.


"Aku memang selamat! Tapi Rimuru-san tidak! Hiks... Aku tidak bisa melindunginya.... Aku lelaki yang lemah.. Hiks" tangisnya


Urokodoki mengerutkan alisnya bingung meski tertutup oleh topeng tengunya.

__ADS_1


"Rimuru-sama tidak mati. Bahkan, aku berlatih dengan nya kemarin walau akhirnya badanku remuk semua, Nezuko juga bangun karena cairan aneh berwarna biru milik Rimuru-sama" batin Urokodoki


Hari-hari terus berlalu, meski begitu Tanjiro tidak mengikhlaskan kepergian Rimuru.


"Apa aku harus memberitahunya kalau Rimuru-sama masih hidup? " batin Urokodoki saat melihat Tanjiro termenung menatap jendela dengan tatapan kosongnya.


15 hari kemudian


Kringg


Terdengar bunyi lonceng dari luar rumah Urokodoki. Tanjiro segera menemui orang yang ada didepan pintu itu.


"Angin... Bunyi lonceng... " gumam Tanjiro


"Namaku Haganezuka, akulah orang yang menempa pedang yang akan digunakan oleh Kamado Tanjiro"


"Aku Kamado Tanjiro, silahkan masuk kedalam"


" ini adalah pedang nichirin"


"Umm.. Silahkan masuk kedalam saja"


"Aku yang menempa pedang ini"


"Silahkan masuk kedalam dulu"


"Bahkan dari pedang ini adalah pasir dan bijih besi dari pegunungan tertinggi yang dekat dengan matahari. 'Pasir besi merah tua' dan 'Bijih besi merah tua' itu semua adalah material yang menyerap matahari"


"Tasmu akan kotor jika disitu terus" ucap Tanjiro yang masih mencoba untuk membujuk Haganezuka masuk kedalam.


"Gunung asal material ini, gunung matahari, tersinari oleh matahari seluruhnya. Tak terganggu oleh awan atau hujan"


"Seperti biasanya orang itu tidak mau mendengarkan perkataan orang lain" batin Urokodoki yang mendengar suara Tanjiro dan Haganezuka.


"Tunggu sebentar!! Bisakah kamu berdiri dulu? Karena membungkuk seperti itu agak.. " ucapan Tanjiro terpotong saat Haganezuka melihat kearahnya dan mengejutkan Tanjiro saat melihat topeng Haganezuka yang aneh.


"Hmm? Ah... Apa kamu adalah anak dari Burning Crimson? " tanya Haganezuka


"Tidak, tidak, aku Tanjiro dan anaknya Kamado Kie"


"Aku tidak bermaksud seperti itu, rambut dan matamu itu merah kan? Jika sebuah keluarga yang bisnisnya berkaitan dengan api maka anaknya akan sepertimu. Jadi ini adalah sebuah keberuntungan, senanglah dan banggalah dengan itu" ucap Haganezuka sambil menunjuk Tanjiro.


"Bagaimana ya? Aku tak begitu mengerti" jawab Tanjiro


"Sepertinya pedangnya akan berubah menjadi merah benarkan? Urokodoki" tanya Haganezuka menyembul kan kepalanya dibalik pintu


"Hmm" jawab Urokodoki


Tanjiro, Urokodoki, Haganezuka, dan Nezuko duduk di ruang tamu.


"Coba tarik pedang itu dari tempatnya"


Tanjiro melakukan apa yang disuruh oleh Haganezuka. Dengan perlahan-lahan Tanjiro menarik pedangnya.


"Nama lain dari pedang nichirin adalah pedang yang berubah warna, pedang berubah menyesuaikan penggunanya" jelas Haganezuka


"Ohh! " Tanjiro terkejut saat mengetahui pedangnya berubah warna menjadi hitam


"Kupikir aku akhirnya akan melihat pedang merah tua kali ini. Sial... " ucap Haganezuka sambil menarik pipi Tanjiro


"Ow.. Ow sakit tau. Berapa sih umurmu? " tanya Tanjiro kesakitan


"37 tahun" jawab Haganezuka ketus


"Akhirnya Tanjiro tidak lagi bersedih" batin Urokodoki.


"Caw caw. Kamado Tanjiro, cepatlah pergi kekota arah barat laut caww. Cepatlah dan pergi buru iblis itu! Ini adalah tugas pertama kamu. Ingat itu baik-baik, dikota arah barat laut, banyak gadis muda yang hilang. Tiap malam. Tiap malam. Ada gadis. Ada gadis. Yang tiba-tiba menghilang" seekor burung gagak hinggap di jendela rumah Urokodoki lalu menginformasikan tugas pertama Tanjiro.


Disisi Rimuru


"Oho? Tugas pertama ya? Aku ingin lihat seberapa kuat iblis yang akan kubunuh ini" ucap Rimuru tersenyum sambil membelai burung elang ditangannya.



"Omong-omong kenapa aku mendapatkan burung elang? " lanjutnya.


Rimuru berdiri dari duduknya,memakai topengnya dan mempersiapkan pedang nichirin nya. Pedang nichirin Rimuru memiliki warna biru tua di ujungnya, lalu mulai ke ungu tua dibagian tengahnya dan diakhiri warna hitam, 3 gradasi warna.


"waktunya berpetualang" gumam Rimuru tersenyum lalu melangkah keluar pergi.


"semoga perjalanan anda menyenangkan Rimuru-sama" ucap Diablo sambil membungkuk hormat pada Rimuru

__ADS_1


__ADS_2