
1 minggu telah terlewati, setiap seminggu sekali Rimuru dan Veldora akan mengunjungi Tanjiro yang sedang berlatih bersama Urokodoki-san. Hari terus berlalu, tak terasa sudah 1 tahun Tanjiro berlatih.
Tanjiro pov
Satu tahun saat aku datang ke gunung sempit ini, dia tiba-tiba bilang begini
"Aku tidak punya apa-apa lagi untuk diajarkan kepadamu"
"Eh? " jawabku bingung
"Dari sekarang kamu harus membuktikan diri kamu sendiri, melihat apakah kamu dapat meningkatkan dirimu sendiri melalui dasar yang sudah aku ajarkan"
"Jika kamu dapat membelah batu ini maka kamu akan aku ijinkan ikut seleksi akhir"
"Sebuah batu.... Apakah mungkin membelahnya? Pedang ku bisa patah, aku pikir aku tidak bisa" saat aku asyik kalut dalam pikiranku, Urokodoki-san sudah berjalan menjauh dariku.
"Urokodoki-san!! Tunggu sebentar!! Urokodoki-san!! " panggil ku tapi dia bahkan tak berpaling hanya untuk melihatku.
Pada saat itu Urokodoki-san tidak mengajarkan apa-apa lagi. Aku....... Melanjutkan latihan sesuai yang diajarkan Urokodoki-san setiap hari. Meskipun sampai 6 bulan aku tetap tidak bisa membelah batunya. Aku merasa gelisah.
Dan saat itu juga Rimuru-san datang untuk menenangkan ku, memotivasi diriku, selalu ada untukku, dan terus menyemangati diriku yang lemah ini. Dia selalu berharap aku menjadi orang yang hebat, aku tidak akan menyia-nyiakan harapannya, tidak akan pernah.
Suatu hari aku frustasi dan membenturkan kepalaku ke batu itu berkali-kali, aku mulai sedih, aku mulai menyerah.
"Aku harus kerja keras!!! Lebih keras!!! " teriakku sambil membenturkan kepalaku ke batu itu, Rimuru-san menenangkan diriku dengan menepuk pundakku lembut.
"Diam!! " ucap seorang anak laki-laki yang duduk dibatu itu, aku terkejut, bahkan aku tidak mendengar langkah kakinya.
Siapa dia?...
Tanjiro pov end
Rimuru dan Tanjiro mendongak untuk melihat seseorang yang tiba-tiba berteriak kearah mereka.
"Seorang laki-laki? Hmm? Ada yang aneh... Begitu ya, ternyata hanya sebuah jiwa" batin Rimuru.
"Kalau begitu aku akan menghisap jiwanya dan akan aku bangkitkan dia nanti, hawa keberadaan nya benar-benar bersih, dia pasti orang baik semasa hidupnya" lanjutnya.
[Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya kau pikirkan master? Kau ingin membangkitkan orang-orang yang mati itu kan? Lalu kenapa harus menunggu nanti? Kenapa tidak sekarang? ]
"Ciel apa kau tau happy ending? "
[Tentu saja master. Itu adalah akhir yang bahagia, lalu apa hubungannya dengan itu master? ]
"Aku ingin membuat Tanjiro bangkit dengan rasa sakit akan kehilangan hingga dirinya tidak dapat berdiri tegak, hingga saat itu aku hanya perlu membangkitkan orang-orang yang dia sayangi. Dirinya yang saat ini adalah manusia yang sangat rapuh. Diawal nanti semua orang yang dia sayangi akan mati, lalu orang yang dia sayangi akan hidup kembali diakhir nanti. Biarkan dia membentuk kepribadian miliknya, biarkan dia bangkit dengan kekuatannya, biarkan dia menangis karena kehilangan, biarkan dia bekerja keras untuk melindungi orang disekitarnya,karena pada akhirnya dia akan tersenyum bahagia"
[Aku mengerti master]
Disisi lain
Seorang gadis berambut kuning pendek dan seorang anak kecil berambut ungu tengah menangis alay di sebuah halaman dengan banyak kue kering dan tiga cangkir teh.
"Huaaa.... Aku kangen tuan"
"Kaupikir hanya kau saja?! Aku juga!! "
"Tch.... Carera dan Ultima berhentilah menangis seperti anak kecil!! " ucap Testarossa yang risih karena tangisan mereka berdua meski dia juga merindukan tuannya.
"Jika rindu hanya perlu bertemu bukan? Fufufu" gumam seseorang dibalik tembok lalu menghilang.
Kembali disisi Rimuru dan Tanjiro
"Memalukan sekali melihat orang berteriak aneh" ucap pemuda tersebut
Tanjiro hanya diam mendengarkan kata yang akan diucapkan oleh pemuda misterius itu.
"Sesulit dan sesakit apapun itu, diamlah dan terimalah semuanya, jika kamu laki-laki, jika kamu laki-laki sejati" ucap pria itu lalu melesat menyerang Tanjiro
Tanjiro memblokir pedang milik pemuda tersebut dengan pedang miliknya. Pria tersebut menendang perut Tanjiro hingga terpental kebelakang, untungnya Tanjiro berhasil menjaga keseimbangannya hingga tidak jadi jatuh.
"Lambat, lemah dan kaku, keadaan mu ini bukanlah laki-laki sejati" ucap pria itu
"Berapa lama kamu duduk seperti itu, siapkanlah dirimu" lanjutnya
"Bersiap? " beo Tanjiro
"Aku akan melatihmu, mari kita bertarung"
"Ta-tapi pedang ku adalah suguhan dan pedangmu adalah kayu, a-aku.... "
"Hahahaha" tawa pria itu dan Tanjiro yang terdiam karena tidak mengerti maksud pria itu tertawa
"Kamu menyanjungku, terimakasih atas perhatiannya, kamu pikir kamu bisa melukaiku? Tak usah khawatir, aku lebih kuat darimu, karena aku lebih kuat darimu" ucap pria itu dengan sedikit penekanan diakhir kalimatnya, dia melesat kembali menyerang Tanjiro secara bertubi-tubi, Rimuru berpura-pura ketakutan dan bersembunyi dia balik pohon besar, sambil menyaksikan pertarungan yang menurutnya sangat membosankan.
Pria itu tidak memberikan kesempatan pada Tanjiro untuk menyerang balik, dia terus menyerang secara membabi buta, Tanjiro yang pada dasarnya sudah kelelahan hanya dapat menghindar, memblokir dan melakukan perlindungan pada dirinya sendiri. Hingga akhirnya Tanjiro terkena serangan pria itu dan berakhir pingsan.
__ADS_1
"Aku serahkan sisanya padamu" ucap pria itu pada sosok perempuan berambut hitam dengan topeng yang sama seperti pria tersebut, yang membedakan hanya warnanya.
"Baik" jawab perempuan itu
Beberapa menit kemudian
Tanjiro terbangun dari pingsannya, Rimuru yang menyadari itu secara tidak sengaja mendekatkan wajahnya kearah Tanjiro.
"Oh!! Kau sudah siuman? " tanya Rimuru, Tanjiro hanya mengangguk dengan wajahnya yang merah merona.
"Apa kamu baik-baik saja? " tanya perempuan misterius tersebut
"Rimuru-san!! Apa kamu melihat itu?! " ucap Tanjiro mengabaikan pertanyaan perempuan itu
"Itu adalah pukulan yang bagus tidak ada gerakan yang sia-sia!! Sangat rapi aku ingin menjadi seperti dia, aku pasti bisa kan? Gerakan seperti tadi.... "
"Kamu pasti bisa" potong Rimuru sambil mengelus kepala Tanjiro lembut
"Aku akan disini untuk menyaksikannya" lanjutnya
"Ma-manisnya" batin Tanjiro gugup, wajahnya kembali merah merona
"Sangat senang menjahili nya" batin Rimuru puas
"Oh ya, kamu siapa? " tanya Tanjiro pada perempuan itu
"Namaku Makomo dan pria tadi bernama Sabito" ucap Makomo tersenyum manis
"Oh" Tanjiro hanya ber'oh' ria
Sejak saat itu Tanjiro terus berlatih bersama Makomo untuk menunjukkan dimana kekurangannya. Dia membantu mengurangi gerakan yang tidak perlu dan kebiasaan buruk Tanjiro. Pergelangan tangan, kaki, dan telapak kaki terasa seperti akan hancur, paru-paru, jantung, terasa seperti pedang rusak yang diperbaiki tapi masih bisa diayunkan. itu semua yang dikeluhkan Tanjiro pada Rimuru. Rimuru tetap menyemangati Tanjiro, dan selalu bersamanya.
Setengah tahun kemudian, Tanjiro menantang kembali Sabito. Tapi, dia menggunakan pedang sungguhan kali ini.
"Setelah setengah tahun kau sudah terlihat seperti laki-laki sejati" ucap Sabito sambil menarik pedangnya dari sarungnya
"Aku akan menang kali ini" ucap Tanjiro yakin
Kemenangan langsung sangat mudah, yang kuat dan cepat akan menang. Kemenangan dan kekalahan ditentukan langsung. Hari itu untuk pertama kalinya, pedang Tanjiro mengenai Sabito sebelum dia melakukannya.
Krakk
Topeng Sabito yang terkena tebasan Tanjiro terbelah menjadi dua, Sabito tersenyum kepada Tanjiro. Tanjiro hanya terdiam melihat Sabito tersenyum kearahnya. Itu adalah senyum kesedihan tapi juga kegembiraan, dan sebuah kedamaiannya didalamnya.
".... Kamu harus menang Tanjiro, melawan orang itu juga" ucap Makomo dan menghilang.
"Alasan aku tak ingin kau pergi mengikuti seleksi final adalah karena aku tidak ingin melihat ada anak mati karena ini lagi, tapi aku tidak memperhitungkan mu untuk membelah batu itu. Kau melakukannya dengan baik. Tanjiro... Kau seorang.... Anak yang hebat" Urokodoki-san membelai lembut surai merah panjang itu, Tanjiro menangis didalam pelukan Urokodoki-san.
"Kamu harus kembali.... Hidup-hidup dari seleksi final... Orang tua ini dan juga saudaramu akan menunggu mu disini" lanjutnya
Setelah Tanjiro memotong rambutnya, Urokodoki-san memberikan sebuah topeng, topeng ini disebut pencegah malapetaka, ini akan melindungi ku dari kesialan. Dikarenakan aku tidak bisa membawa Nezuko yang selalu tertidur, aku meninggalkannya didalam perawatan dan pengawasan Urokodoki-san.
"Urokodoki-san dan Rimuru-san aku berangkat! "
"Hati-hati dijalan" ucap Rimuru dengan mencium pipi Tanjiro, wajah Tanjiro sekarang sudah seperti tomat
"Mengerjainya benar-benar menyenangkan" batin Rimuru
[Hahhh]
"Urokodoki-san tolong jaga Makomo-chan dan Sabito-kun juga" ucap Tanjiro dan langsung berlari pergi meninggalkan Urokodoki yang membatu.
"Tanjiro.... Bagaimana kau... Tau anak yang sudah mati itu? " gumam Urokodoki
"Tenang saja Urokodoki-san, kau akan bertemu dengan mereka lagi"
"Eh? " bingung Urokodoki sementara Rimuru sudah menghilang dari hadapannya.
Disisi Rimuru
Apa ini? Aura keberadaan ini... Jangan bilang?!
Tiba-tiba saja sebuah kepompong hitam besar muncul dihadapan Rimuru, lalu kepompong itu menghilang menampakkan laki-laki berambut hitan dengan beberapa helai berwarna merah dan kuning.
"Apa yang kau lakukan disini Diablo? " tanya Rimuru sedikit dingin
"Aku hanya ingin menemui anda, saya sangat merindukan anda, kumohon!! Ijinkan saya tetap berada di dekat anda!!! Kumohon!! " ucap Diablo memohon sambil membungkuk berkali-kali.
Rimuru menghela nafas pasrah, Iblis yang ada dihadapannya ini sangat keras kepala, semakin dilarang semakin menjadi-jadi. Rimuru akhirnya mengangguk tanda setuju.
"Ahh... Senangnya bisa melayani anda kembali tuanku" ucap Diablo
"Dia mulai lagi" batin Rimuru
"Omong-omong aku akan ikut seleksi akhir, aku ingin merasakan kesenangan membunuh iblis rendahan, khukhukhu" Rimuru tertawa mengerikan, lagipula alasan utamanya adalah kebosanan tengah melanda dirinya.
Kembali disisi Tanjiro
__ADS_1
Fujikasaneyama, gunung yang akan dijadikan tempat seleksi akhir. Ditumbuhi oleh bunga wisteria yang terus mekar sepanjang tahun, menambah kesan indah.
"Wow, wisteria. Mereka seharusnya tidak mekar di musim ini" batin Tanjiro kagum
"Tanjiro-san!! "
Seseorang berteriak kearahnya, terlihat seorang gadis(?) bersurai biru keperakan berlari kearahnya.
"Rimuru-san?!! " pekik Tanjiro
"Kenapa kau ada disini Rimuru-san? "
"Aku hanya ingin bersamamu. Lihat, aku juga bawa pedang"
(Penulis: ini bukan pedang Tempest ya, kalau pakai pedang itu hancur sudah dunia yang ditempati Tanjiro)
"Tidak, tidak, aku tidak mengizinkannya. Bahkan kau tidak belajar pernapasan" Tanjiro menggeleng tanda tidak setuju
"Pokoknya ikut ya ikut!! Dan aku juga punya pernapasan buatanku sendiri!! Namanya pernapasan Gerhana! Veldora yang mengajariku tentang pernapasan, jadi kau tidak perlu khawatir padaku! " ucap Rimuru keras kepala, perdebatan kecil pun terjadi. Tapi, karena Rimuru yang keras kepala akhirnya Tanjiro memperbolehkannya.
Tanjiro dan Rimuru akhirnya berjalan menaiki tangga, sesampainya disana banyak sekali orang yang ikut dalam seleksi akhir. Omong-omong Rimuru memakai topengnya.
"Ada banyak orang.. " batin Tanjiro gugup, Rimuru menggenggam tangan Tanjiro untuk mengurangi rasa gugupnya.
"Halo semuanya, terimakasih telah mengikuti seleksi final malam ini. Disana ada banyak iblis yang ditahan digunung ini oleh pemburu iblis, mereka tidak bisa pergi"
"Karena dari kaki gunung ke jalan finish, disana ada banyak iblis yang menjauhi wisteria yang mekar sepanjang tahun"
"Bagaimanapun dari sini keluar, tidak ada lagi wisteria, hanya ada iblis"
"Kalau kalian lolos dari sini selama 7 hari, kalian berarti lolos seleksi final, sekarang biarkan seleksi dimulai" ucap 2 perempuan kembar secara bergantian.
Setelah 2 gadis kembar menyelesaikan perkataannya, semua orang yang ada disana langsung melesat pergi melakukan seleksi.
"Ayo, Rimuru-san" ucap Tanjiro dengan mengulurkan tangannya
"Hmm" Rimuru mengangguk dan menerima uluran tangan itu
Diperjalanan Rimuru dan Tanjiro dihadang oleh 2 iblis. 2 iblis itu berdebat untuk memangsa Rimuru dan Tanjiro.
"Dia mangsa ku"
"Diam!! "
"Kita putuskan siapa cepat dia dapat"
"Sudah lama tidak merasakan daging manusia"
Disaat 2 iblis itu bertengkar, Rimuru sudah siap dengan pernapasan nya.
"Nisshoku no kokyū ichi no kata: Hikari no yō ni tobu "
Zrasshh
Kedua kepala iblis itu terpenggal, tidak sampai disitu. Rimuru, terus berlari dan memenggal kepala iblis lainnya, Tanjiro hanya bengong ditempat, dia tidak menyangka Rimuru benar-benar belajar pernapasan. Sementara itu Diablo mengawasi Rimuru dari balik pohon sambil menenteng kepala iblis yang telah copot dari tubuhnya.
"Sasuga tuanku, fufufu" tawanya, memuji Rimuru
Tiba-tiba saja Tanjiro mencium bau busuk.
"Uwaaaa!! " teriak seorang laki-laki yang mengikuti seleksi itu, Tanjiro menoleh ke asal suara dan terkejut.
"Kenapa ada mutan raksasa disini, aku belum pernah mendengarnya! "
Wujud dari iblis itu adalah banyaknya tangan, ditangan satunya diisi oleh mayat calon pemburu iblis.
"Uwaaa!! " teriak calon pemburu iblis lainnya saat kakinya ditarik oleh iblis itu
"Jangan takut, selamatkan dia!! Sebelumnya aku seperti orang lemah itu!! Bergerak! "
"Nafas air jurus kedua: putaran air"
Zrasshh
Tangan iblis itu terputus, calon pemburu iblis itu terjatuh. Tanjiro melindungi calon pemburu iblis itu sambil mengarahkan pedangnya kedepan tanpa mengendorkan waspada nya.
"Datang lagi satu, rubah kecil imut" ucap iblis itu
Disisi lain
"Sabito" panggil Makomo pada Sabito
"Akankah Tanjiro bisa menang melawan itu? " tanya Makomo
"Aku tidak tahu. Dia.... Tidak perduli sebesar apa upaya yang dia buat, itu masih belum cukup. Kau tau itu kan? Kebenaran ini" jawab Sabito
__ADS_1