Perjalanan Rimuru Di Kny

Perjalanan Rimuru Di Kny
21. Akaza vs Kyoujurou


__ADS_3

Sret...


Sebuah tali jerami terikat kuat di setiap tangan kanan Kyoujurou dan Tanjiro dkk. 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan itu memiliki lingkaran hitam disetiap bawah kelopak mata mereka.


Wajah mereka juga pucat. Tetapi, tidak sepucat satu anak laki-laki yang mengikat talinya di tangan Tanjiro. Mereka mulai bersiap untuk melakukan sesuatu.


"Selamat tidur.... Dan lupakanlah cara bernapas... Khukhu"


~ ~


Kekuatan khusus yang dibuat untuk orang lain memasuki mimpi siapapun yang terikat dengan tali tersebut. Tali yang dibuat oleh iblis tidur.


Enmu.....


"Aku harus hati-hati agar dia tidak menyadari ku, aku harus segera menuju 'ujung mimpi' ini"


Gadis itu berlari hingga hampir melupakan cara bernapas, poninya begitu berantakan berserta pakaiannya. Dia tidak peduli. Sama sekali tidak peduli.


Dunia mimpi yang ditunjukkan oleh iblis tidur, enmu. Memiliki batas. Sang pemilik mimpi berada didalam sebuah lingkaran.


Diluar lingkaran itu terdapat area yang biasanya disebut 'alam tak sadar'. Disana, di area itu terdapat inti spiritual.


Jika inti spiritual iti dihancurkan, sang pemilik akan mengalami kelumpuhan secara mental. Gadis itu meraba-raba sebuah pagar kayu.


Saat tangannya merasa menyentuh sesuatu yang ganjal, dihatinya dia merasa begitu senang karena menemukan apa yang dia cari, dia berteriak tapi tidak dengan mulutnya.


"Ini dia! Ini 'dinding' nya! "


Gadis itu mengangkat tangan kanannya, sesuatu yang berkilauan namun syarat akan ketajaman ditusuknya tepat didepannya. Bunyi seperti kain yang dirobek pun terdengar.


"Disini panas, rasanya sangat gerah"


Gadis itu terengah-engah saat berada dalam 'alam tak sadar' milik Kyoujurou. Sesaat setelah benda tajam itu di arahkan kedepan, sesuatu seperti kertas tersobek dan menjadi tirai untuk dirinya masuk.


Disaat itu juga insting tajam dari seorang petarung bereaksi, semakin banyak pengalaman bertarung semakin tajam instingnya. Tidak terkecuali Kyoujurou itu sendiri.


Dia mengerutkan dahinya, badannya digerakkan tidak nyaman.


Gadis itu terus berjalan, melangkah maju mengabaikan beberapa api yang menyala, mengabaikan keringat yang membasahi bajunya.


Dia benar-benar tidak peduli bahkan dengan kondisi tubuhnya sekalipun. Pada dasarnya manusia diselimuti oleh keserakahan akan dunia. Tidak, pada dasarnya makhluk hidup yang bernafas pasti memiliki satu atau bahkan lebih dari sifat dosa besar.


Bola merah....


Gadis itu melihat kedepan dan mendapatkan sebuah benda bulat seperti bola namun indah bak permata. Itu adalah inti spiritual.


"Inti spiritualnya sangat rapuh jadi aku bisa menghancurkannya dengan mudah! "


Gadis itu mengarahkan benda tajamnya lagi, berniat untuk mengakhiri tugasnya dan mendapatkan bayaran yang dijanjikan. Namun..


"Kagh!!! "


Menakutkan....


Insting seorang petarung yang hampir kehilangan kehidupan benar-benar menakutkan. Kyoujurou tidak segan-segan mencekik gadis didekatnya. Gadis yang berani merasuki mimpinya.


Gadis itu tidak dapat bergerak karena dia mengalami tekanan di dunia nyata, dan Kyoujurou tidak bisa bergerak lebih jauh karena dia tidak memiliki niatan atau alasan untuk membunuh manusia. Keduanya sekarang berada dalam situasi buntu.


Gadis itu memukul-mukul tangan Kyoujurou berharap dia dapat terlepas, sayangnya tangan seorang pria dan wanita berbeda. Doakan saja dia tidak mati karena kehabisan nafas...


________


___________


________


Rimuru diam memandang kosong rumput dihadapannya, saat ini dia ada di taman belakang. Emosi kesedihan dan penyalahan untuk dirinya sendiri begitu terasa.


Veldora datang dari belakang, membawa cemilan serta teh hangat untuk dirinya dan 'adik tirinya'.


Rimuru tidak menyadari kedatangannya, lebih tepatnya dia tidak peduli. Veldora hanya duduk diam mengamati, lelah dengan kesunyian, dia mencairkan suasana.


"Apa ada yang mengganggu mu Rimuru? "


Tidak ada jawaban...


Tidak ada tanggapan....


Veldora hanya menghela nafas, mengambil sepotong roti kering dan memakannya. Saat roti itu berada di mulutnya sensasi lumer membuatnya berseri-seri.


"Apa kau masih kepikiran tentang-"


"Tidak"


Rimuru langsung menyelanya, mengabaikan tatapan kesal dari Veldora yang kalimatnya disela. Mengerucutkan bibirnya, dia ngambek.


"Tapi gerak-gerik itu-"


"Sudah aku bilang tidak"


"Apa kau benar-benar menganggap ku sebagai keluarga? "


Rimuru menoleh seketika, dan Veldora hanya tersenyum.


"Aku melakukan kesalahan" sesal Rimuru


"Seharusnya aku tidak melakukan perjalanan antar dimensi dengan begini-"


"Rimuru" kali ini Veldora menggenggam tangan Rimuru, memberi semangat.


Saat itu....


Saat Rimuru melakukan perjalanan antar dimensi, Rimuru terjebak di kehampaan. Gangguan distorsi ruang dan waktu membuatnya seperti terkurung disana.


Menghabiskan waktu 1000 tahun. Membuatnya bosan dan melakukan latihan terus menerus untuk dirinya agar lebih menguasai kekuatannya.


800 tahun digunakannya untuk latihan dan sisanya untuk malas-malasan. Berterimakasih pada Ciel, karena saat itu, sebelum melakukan perjalanan antar dimensi Rimuru pergi kedunia nya yang dulu.


Membaca semua manga dan menonton semua anime, tidak sampai disitu Rimuru melompati waktu ke 100 tahun kemudian lalu melakukan hal yang sama, hingga seterusnya sampai 600 tahun dan diapun mengakhiri perjalanannya.


Tak terhitung berapa banyak manga, anime, novel, dan live action yang telah dilihatnya. Jadi, saat berada di kehampaan 200 tahun dia melihat ulang semua yang terekam di otaknya.


Rimuru tersenyum saat mengingat hal itu, saat itu Rimuru tidak menyadari tentang musibah yang mengguncang jiwa dan batinnya hingga membuatnya seperti ini, bukan hanya Rimuru, Veldora dan Diablo juga mengalami hal yang sama.


Senyum itu hilang tergantikan wajah bersalahnya, dia mengutuk dirinya sendiri dan berniat untuk mengakhiri hidupnya. Sayangnya setiap kali ingin melakukan itu, Rimuru selalu teringat orang-orang yang berada disampingnya. Terutama Ciel.


"Jangan terus-menerus menyalahkan dirimu sendiri, Rimuru. Setiap perjalanan untuk menuju masa depan itu tidak lah mudah. 'Masa depan'. Disana terdapat perjuangan, tangisan, kehilangan, kebahagiaan, rasa sayang, pengkhianatan, kegagalan, kekecewaan, dan penolakan. Ini adalah jalanmu, apapun yang kau pilih, aku sebagai kakakmu akan mendukungmu, selalu berada disampingmu. Jadi lakukan yang terbaik untuk masa depan dan untuk mereka ya? "


Rimuru meneteskan air matanya, dia menangis tersedu-sedu dipelukan Veldora. Veldora hanya tersenyum simpul, hem putih miliknya basah karena air mata, tapi dia tidak mempermasalahkannya.


Mengusap lembut punggung Rimuru, sementara tangan yang lain mengusap surai biru keperakan itu dengan lembut. Veldora benar-benar seorang kakak yang baik.


Sementara itu disebuah pohon, iblis dengan rambut hitam dan beberapa helai merah dan kuning mengamati interaksi 2 tuannya.


Kedua tangannya tergenggam erat, menampakkan urat-uratnya. Dia menggertakan giginya. Dia dipenuhi dengan rasa amarah. Amarah karena dia tidak berguna.


Untuk meredakan kekesalannya, dia pergi dari sana. Melakukan sesuatu untuk meredakannya. Yaitu....


Pembantaian......


_______


__________


_______


Tess...


Tinta hitam ku menetes, membasahi kertas putih dengan gambar perempuan yang sangat cantik jelita disana. Aku tersenyum puas mendapati hasilnya.


Aku tidak tau siapa dia, dia terus berada dimimpi ku dan aku tidak mengenalnya. Namun perasaan tidak bisa dibohongi, aku mencintai dirinya.


Seseorang yang tidak ku ketahui apakah dia berada di dunia ini atau hanya imajinasi. Jika dia adalah imajinasi maka...


Aku ingin terus bermimpi...


Aku dan dia disatukan didalam mimpi dan dipisahkan oleh dimensi. Dia nyata dalam dunia imajinasi tapi dia tidak ada disini.


Dibuat sedemikian sempurna hingga aku terpesona dengan sosok dirimu yang tidak nyata. Kau tercipta dari goresan pena dan tinta, aku tercipta dari gumpalan darah.


Kuharap kau benar-benar nyata, ini membuat ku tersiksa. Setiap malam aku dihantui oleh dirimu. Aku kecanduan tawamu, dan wajahmu. Aku gila karenamu.


Terakhir kali aku bermimpi, kau membuatku terbang ke awang-awang. Saat itu..


Cahaya surya yang tunggang gunung, ombak yang bergelombang pelan, burung camar yang menari indah, dibalik bebatuan yang terjal, sekilas memori mulai bermunculan, kau menatapku dengan senyuman sambil berkata.


"aku sudah menunggumu terlalu lama, sayang"

__ADS_1


Ah... Aku sudah gila...


Sekarang aku tersenyum bak orang gila. Untungnya tidak ada orang disini jadi aku bisa tersenyum sep-


"Tanjiro"


Aku salah...


Dengan cepat aku menoleh, menyembunyikan kertas itu dibalik punggung.


"A-ada apa ibu? "


Aku bertanya dengan gugup, sebutir keringat dingin menetes. Kuharap ibuku tidak melihat lukisan ku tadi dan kelakuanku barusan.


"Bisakah kau membantuku sebentar? "


"Huh? Tentu saja! "


Aku berdiri, menuju kedapur untuk membantu ibu memasak, menyiapkan makan siang untuk kami sekeluarga.


"Sepertinya anakku sedang jatuh cinta ya~? "


Aku membatu, itu berarti ibu mengetahui kelakuan tadi? Ah!!! Sialan!!! Aku malu sekali!! Saking malunya aku ingin menghilang dari dunia!! Entah seperti apa wajahku sekarang, bahkan kepalaku dipenuhi dengan asap.


Ugh... Memalukan...


"Tidak apa-apa jangan malu-malu, anakku sudah dewasa jadi jika jatuh cinta itu adalah hal yang normal"


Ibu memberiku senyuman, tangan terulur mengusap pelan kepalaku dengan lembut. Aku nyaman dengan usapan miliknya.


Setelah itu kami berjalan kembali menuju dapur, entah kenapa saat disana aku merasa ada yang kurang. Aku menghitung dan mengamati semua orang satu persatu. Lalu...


"Huh? Dimana Nezuko? " tanyaku saat tidak melihat bayangan miliknya.


"Kakak sedang mencari beberapa tanaman" Takeo menjawab, kedua tangannya tengah menumbuk bumbu.


Entah kenapa aku merasa terkejut mendengarnya, segera aku bertanya kembali. Semua yang ada disana kembali kebingungan. Hah... Mungkin hanya perasaan ku saja. Memangnya Nezuko itu iblis yang tidak bisa terkena sinar matahari, dia kan manusia, aku berpikiran aneh lagi.


"Tanjiro, bisakah siapkan air panas untuk mandi?"


"Tentu saja! "


Aku segera menenteng dua ember kayu untuk kuisi air, biasanya kami mengambil air di sungai dekat rumah kami, tidak terlalu jauh. Air sungainya juga jernih, terkadang aku dan adik-adik ku bermain disana, itu menyenangkan.


Aku berjalan menyusuri hutan, ini sangat dingin, bahkan kain tebalku tidak mempan di udara ini. Aku mengamati setiap jalan, mungkin saja aku bertemu dengan Nezuko atau mungkin berpapasan dengan wanita can-


Ah! Tidak, tidak! Bukan! Hah aku jadi ingin segera tidur dan memimpikan dirinya. Saat aku menoleh kekiri tiba-tiba saja penglihatan milikku menangkap sebuah kotak kayu yang terlihat familiar.


Kotak perkakas....


Aku mengamatinya, secara tidak sengaja aku tersandung batu kecil dan terjatuh ditumpukan salju dingin. Saat aku melihat kembali tempat tadi, kotak itu sudah tidak ada, mungkin hanya halusinasi ku.


Beberapa menit kemudian aku sampai disungai, seperti yang ku katakan airnya sangat jernih dan arusnya tidak terlalu deras, aku berancang-ancang untuk mengambil air.


Saat melihat kedepan, aku melihat bayangan ku sendiri, tapi ada yang aneh. Bayanganku bergerak sendiri?!


Aku terkejut dan hampir terjungkal kebelakang, namun tangan dari bayangan ku menarikku hingga jatuh ke sungai. Aku berenang sekuat tenaga, berharap tidak tenggelam hingga kedasar sungai.


Sementara bayanganku kembali mencengkram bajuku, kali ini adalah kerah baju. Dia berbicara, nadanya begitu mengkhawatirkan. Dia berteriak, dan aku tidak bisa mengeluarkan suaraku.


"Bangun! Kita sedang diserang! Mimpi! Ini adalah mimpi! Bangun dan bertarung lah! "


Ah.. Benar...


Aku sedang menjalankan misi sekarang, aku berada didalam kereta sekarang. Aku sudah ingat semuanya. Aku menutup mataku berharap aku bisa terbangun saat kembali membuka mata. Namun aku salah, aku kembali kerumah, bersama dengan keluarga ku yang telah meninggalkan diriku lebih dulu.


"Gawat! Aku berada didalam mimpi dan aku tidak bisa kembali, apa yang harus kulakukan untuk keluar dari sini? Padahal aku sudah menyadari kalau ini adalah mimpi"


Aku berkeringat dingin, otakku berusaha mencari cara untuk keluar dari sini, tapi aku tidak bisa menemukan rencana maupun kelemahan dari tempat ini, karena aku masih 'baru', pengalaman miliku masih sebesar biji gandum, terlalu kecil.


Saat aku sedang mencari cara, tiba-tiba saja sebuah api yang berwarna merah muda membakar seluruh tubuhku, aku merasa begitu hangat, dan didetik selanjutnya bajuku berganti menjadi baju pemburu iblis.


Saat didalam api, aku sekilas mencium bau darah yang sangat aku kenal. Bau darah itu milik adikku. Nezuko. Apakah Nezuko terluka? Aku segera bangkit dari sana, aku menundukkan kepala, tidak ingin melihat karena akan menyakiti hatiku.


"Maaf aku harus pergi... " aku mengatakan itu tanpa tenaga.


Aku berlari keluar rumah, mengabaikan teriakan mereka karena memanggilku. Aku menutup erat pendengaran serta mataku. Aku tidak ingin tersiksa lebih jauh, meski aku ingin disini lebih lama lagi.


"Kakak, kamu mau kemana? "


Aku mengenal suara ini, aku mengenal bau ini. Kaki ku langsung berhenti. Egois? Sesaat aku berpikiran untuk tetap disini selamanya. Aku ingin berpaling dan kembali kerumah. Andai semua ini nyata. Aku akan tetap disini selamanya.


Nezuko bisa berada dibawah langit biru dan sinar matahari. Aku akan datang kesini untuk membakar batu bara dan aku tidak akan pernah memegang pedang. Tapi.... Aku sudah kehilangan mereka, aku tidak bisa kembali.


Aku berlari lagi, mengabaikan mereka semua dan bersiap untuk bertempur kembali.


"Aku harus segera menghancurkan inti spiritual miliknya" ucap seseorang yang berdiri di balik pohon besar


                                      ~~


________


___________


________


Tanjiro kembali kedunia nyata setelah membunuh dirinya sendiri, dengan memenggal kepalanya sendiri. Dia kembali dengan nafas yang memburu. Saat itu juga dia menyadari sesuatu yang cukup berat dan erat melingkari pangkal tangannya.


"Tali apa ini? Talinya terbakar, apa jangan-jangan Nezuko yang melakukannya? " batin Tanjiro yang melihat Nezuko berdiri disisi paling pojok bangku, dia terkejut saat Tanjiro berteriak.


Tanjiro mencium tali itu, berharap mendapatkan petunjuk kecil. Setelah menemukan petunjuk, selanjutnya dia memeriksa tiket kereta tersebut.


"Jurus darah iblis bisa dilakukan seperti ini meski tidak tajam... " batinnya mengingat kejadian ini, tersimpan kedalam otaknya.


"Ugh"


Suara jeritan tertahan dari gadis yang dicekik Kyoujurou, membuat Tanjiro segera tersadar. Dia memanggil Kyoujurou dan kedua temannya, namun tidak ada yang mendengarnya.


Tanjiro mulai berpikir untuk menyelamatkan mereka, dia mengenggam nichirinnya, bersiap untuk memotong tali yang melingkar di pergelangan tangan. Sayangnya, dia segera berhenti.


Menyadari jikalau keputusan itu bukanlah hal yang tepat, dia langsung teringat akan Nezuko yang membakar talinya dan membuatnya tersadar. Dengan permohonan Tanjiro, Nezuko segera menurutinya.


Tak butuh waktu lama, Nezuko mulai melakukan prosesnya. Api merah muda miliknya mulai melahap ketiga orang tersebut. Tanjiro menanti dengan kekhawatiran.


Bisa dibilang insting Tanjiro tepat. Jika kau memotong talinya menggunakan pedang nichirin. Mereka yang tidak bermimpi tidak akan pernah mendapatkan kesadarannya kembali. Untuk selamanya.


Sang iblis, Enmu tidak pernah memberikan penjelasan sepenuhnya mengenai hal itu. Karena, manusia tidak berguna baginya. Sejak awal dirinya memandang manusia sebagai makanan.


'Sringg'


Gadis dengan poni itu menyerang Tanjiro, benda tajamnya digenggam erat. Sorot matanya penuh dengan kemurkaan. Dia memprovokasi semua teman-temannya, tidak terkecuali pemuda yang memasuki mimpi Tanjiro. Dia terbangun dengan air mata.


Pemuda itu memiliki penyakit tuberkulosis. Pemuda yang sakit ini sudah tidak memiliki niat buruk lagi setelah melihat betapa luasnya kebaikan Tanjiro saat memasuki alam tak sadarnya.


Tadinya dia berpikir kalau menyakiti orang lain bukanlah masalah besar. Selama dia lepas dari penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Dihadapan inti spiritual yang diliputi cahaya dan kehangatan. Pemuda ini tidak bisa melakukan apa-apa selain menangis. Hanya menangis.


Memasuki mimpi orang lain sangatlah berbahaya, apabila kesadaran si pemilik mimpi sangat lah kuat, pemilik mimpi dapat dengan mudah mempengaruhi seseorang yang memasuki mimpinya. Sama seperti yang terjadi dengan pemuda itu, karena itulah, Enmu tidak memasuki mimpi orang lain. Untuk keselamatan dirinya sendiri.


Tanjiro berlari keluar kereta setelah membuat tiga orang pingsan. Pemuda yang memasuki mimpinya dibiarkan begitu saja. Saat berada diatas, Tanjiro hampir saja muntah karena bau busuk yang menyengat.


Dihadapan Enmu, Tanjiro tidak gentar. Dia menggerakkan kakinya, nichirinnya tepat diatas kepala, siap menebas kepala Enmu secara vertikal. Meremehkan lawan adalah keputusan yang salah. Tanjiro yang diliputi rasa marah, menyerang secara gegabah.


Untuk sekali lagi dia terkena perangkap. Enmu, menunjukkan Tanjiro sebuah mimpi buruk, dimana dia sedang dipojokkan oleh keluarganya. Karena, mimpi buruk ini kemarahan Tanjiro meluap, dia memenggal kepalanya lagi untuk tersadar.


"Jangan menghina keluargaku!! "


Berteriak, nichirinnya menyayat kepala Enmu dengan jalur dari kanan ke kiri, membentuk vertikal lurus. Jejak air biasa berubah bentuk menjadi naga. Dia berhasil memenggal kepala Enmu.


Tentu saja penjahat tidak akan mati semudah itu. Tubuh yang dipenggal Tanjiro bukanlah tubuh asli. Setelah pemenggalan yang sia-sia, Tanjiro segera berlari menuju dalam kereta, karena disitulah tempat Enmu yang sesungguhnya berada.


"Rengoku-san! "


Tanjiro menceritakan semuanya dengan panik, dan Kyoujurou hanya menganggukan kepalanya, setia dengan senyuman.


"Bagaimana ini? Sekarang iblisnya... "


"Tak peduli wujudnya seperti apa, dia pasti punya leher, aku akan mencari titik lemahnya saat bertarung nanti. Saatnya beraksi nak! "


Dengan batuan Inousuke, Tanjiro berlari kearah gerbong depan. Ditempat penyimpanan batu bara. Inousuke sampai ditempat itu terlebih dahulu. Disana terdapat seorang laki-laki yang diketahui sebagai masinis.


Begitu sampai Inousuke langsung diserang segerombolan tangan, yang memiliki tekstur seperti daging giling. Menjijikkan.


"Nafas air jurus keenam: pusaran air"


Tanjiro membantu dari belakang, dengan penciuman yang tajam, dia berhasil menemukan tempat yang berisi 'leher' Enmu. Demi menghalangi Tanjiro. Enmu membuat puluhan bahkan ribuan mata untuk membuatnya tertidur. Dan setiap kali tertidur Tanjiro selalu menebas lehernya berkali-kali sehingga membuatnya frustasi dan berfikir dunia yang diinjak nya adalah mimpi. Untungnya Inousuke segera menghentikan dan membuka jalan untuk Tanjiro menebas leher Enmu.


Dia terus menjaga Tanjiro tanpa tahu bahwa masinis itu berdiri sambil memegang sebuah pisau kecil untuk ditusuk kan tepat di perut Inousuke. Tanjiro reflek melindungi temannya, membuat dirinya yang terkena tusuk kan. Tanjiro memukul masinis itu dengan gagang pedang, lalu segera mencabut benda tajam di perutnya.

__ADS_1


Tanpa membuang-buang waktu Inousuke kembali membuka jalan untuk Tanjiro, meski dirinya khawatir dengan temannya. Setelah dirasa cukup, Tanjiro menggunakan napas bara api miliknya. Singkat cerita, Tanjiro berhasil mengalahkan Enmu, dan kereta itu pun terguling-guling, keluar dari jalur kereta.


"Kau baik-baik saja? Santarou"


Tanjiro yang masih didalam kereta, terlempar keluar. Saat mendarat ditanah perut yang ditusuk berdenyut nyeri, membuatnya meringkuk sambil meringis. Inousuke langsung menghampiri.


"Fokuslah sebentar, dan tingkatkan akurasi nafasmu.. "


Kyoujurou memberi arahan pada Tanjiro yang kesulitan untuk menangani pendarahan di perutnya. Dengan bantuan Kyoujurou, pendarahan itu terhenti, meski rasanya begitu sakit.


'BUMMM'


Suara dentuman yang keras dari belakanh Kyoujurou membuat Tanjiro terkejut. Insting pilar Kyoujurou berbunyi. Dia segera berwajah datar dan masuk dalam mode siaga.


Pria dengan rambut merah jambu muncul dibalik kepulan asap, terbuat dari debu. Pria itu berjongkok, matanya menatap Kyoujurou, dengan senyuman tentunya.


Tanpa aba-aba dia langsung menyerang Tanjiro yang masih terkapar ditanah. Mengarahkan tinjunya tepat diwajah Tanjiro.


"Napas api jurus kedua: tebasan kobaran api langit"


Kyoujurou menebas tangan Akaza dari bawah keatas, membentuk lingkaran. Akaza melompat mundur, dia pun mendarat dengan tenang. Akaza sang iblis bulan atas nomor 3


"Pedang yang bagus"


Komentar Akaza sambil menjilati tangannya, tersisa bercak darah. Regenerasi nya yang cepat membuat Kyoujurou merasa dejavu. Dibandingkan dengan regenerasi milik iblis ini, regenerasi milik gurunya sangat menakutkan.


"Apa ada yang perlu dibicarakan diantara kita? "


Kyoujurou bertanya untuk berbasa-basi, iblis lebih memilih untuk hidup menyendiri di satu wilayah. Bukankah menemukan 2 iblis langsung dalam satu wilayah adalah hal yang mencurigakan?.


"Bagaimana kalau kau berubah jadi iblis juga? "


Akaza langsung memberitahu tujuannya, kekuatan dari orang yang hebat tidak boleh disia-siakan. Apalagi menghilang, mengingat Kyoujurou adalah seorang manusia biasa.


"Aku menolak. Karena, kau dan aku memiliki perbedaan dalam menilai sesuatu"


"Begitu ya? "


Merasa tekad dari Kyoujurou yang begitu kuat, Akaza langsung melancarkan jurusnya.


"Jurus penyebaran: serangan penghancur jarum kompas"


Tiba-tiba dibawah kaki akaza terdapat sebuah simbol, simbol angka dengan huruf kanji. Kanji kuno. Dari angka nol sampai sepuluh.


Aura bertarung akaza begitu kuat, hingga dapat dilihat dan dirasa. Berwarna biru muda. Kyoujurou mengangkat pedang tepat di bahunya. Dia bersiaga.


Aura api yang membara, bagaikan Phoenix dimalam itu. Hangat serta sangat indah.


Akaza menghujani Kyoujurou dengan pukulan bertubi-tubi. Tidak membiarkan dia melawan sedikitpun. Namun bagi Kyoujurou, ini bukan apa-apa. Bahkan, serangannya mudah dibaca dan tidak terasa.


Akaza cukup terkejut dan terkesan dengan pertarungan ini, diapun mulai tertarik dalam permainan darah ini. Akaza melompat, memukul ruang kosong disisi Kyoujurou, yang bahkan bisa menjangkau Kyoujurou


Jurus Akaza cukup mematikan.


Dalam kondisi seperti ini Kyoujurou mendekat, membuat jarak cukup pendek diantara mereka. Akaza sekali lagi terkesan, dia cukup mengagumi kecepatan reaksi dari lawannya ini.


Tanjiro mencoba bergerak untuk membantu, meski saat ini dia tidak memiliki pedang ditangannya.


"Tetaplah disitu prajurit! " Kyoujurou berteriak, menginstruksikan untuk diam.


Akaza dan Kyoujurou bertarung dengan cepat, beberapa kali Kyoujurou berhasil melukai akaza, meski setelahnya pulih kembali.


Akaza mulai terdesak, dia tidak menyangka kekuatan dari seorang manusi bisa sehebat ini.


Kyoujurou melompat mundur, memberi ruang untuknya berbicara.


"Apa kau tau, apa yang abadi didunia ini? "


Akaza mengerutkan keningnya, kebingungan dengan apa yang diucapkannya.


"Iblis" dengan yakin dia menjawab, sambil tangan kirinya beregenerasi akibat ditebas Kyoujurou sampai bahu.


"Salah" Kyoujurou menggeleng, dia tersenyum tipis menanggapi perkataan Akaza.


"Yang abadi didunia ini adalah dosa. Sekalipun kau mati dosa masih tetap ada, jika kau adalah orang yang baik, mungkin yang akan tetap abadi adalah amalan mu? "


"Apa yang sebenarnya kau bicarakan? "


"Saa na, hanya memberi tahumu tentang dosa mu dimasa lalu maupun sekarang"


"Cih! "


Akaza kembali menyerang, dia melesat dengan cepat untuk segera mengakhiri pertarungan ini, lebih tepatnya segera mengakhiri Kyoujurou.


"Serangan penghancur: mode perang"


"Harimau api"


Dua kekuatan besar saling berbenturan, membuat tanah dan debu berterbangan. Menjadi angin ****** beliung besar berwarna merah api.


Setelah semua angin kencang itu berakhir, semua orang dapat melihat dengan jelas hasil pertarungan tersebut. Kyoujurou yang mengorbankan uluh hati nya agar tangan Akaza hanya satu yang dapat digunakan.


Darah segar merembes keluar dari dada hingga kebaju Kyoujurou tidak terkecuali mulutnya yang juga mengeluarkan darah segar. Merasa dialah yang menang, Akaza pun tersenyum senang.


Diluar ekspetasi Akaza, Kyoujurou tertawa keras.


"Apakah dirimu sedang berpikir untuk menang? Naif! "


Detik selanjutnya, Kyoujurou menancapkan pedang tersebut tepat dileher akaza. Akaza terkejut dan mulai menyerang lagi dengan tangan satunya, namun berhasil terhalang oleh tangan Kyoujurou.


Tangan yang memegang gagang pedang itu terlepas, dan masuk kedalam sebuah tas. Sebuah cahaya pelangi menyinari tempat itu.


Belati yang telah diberi sihir oleh Rimuru menjadi senjata pamungkas Kyoujurou. Kyoujurou langsung menusuk belati tersebut tepat di jantungnya, sesuai arahan dari gurunya.


"AKHH"


Kyoujurou memajukan wajahnya, membisikkan sesuatu ke telinga Akaza.


"Aku yang menang"


Akaza melebarkan matanya, dia merasa kesakitan yang amat sakit. Dia mengerang, membuat lubang didada Kyoujurou sedikit melebar akibat gesekan nya. Tidak butuh waktu lama dia menjadi abu.


Kyoujurou jatuh bersimpuh, darah menggenang dibawahnya. Menutup mulutnya karena terus-menerus mengeluarkan darah setiap dia batuk.


Tanjiro berdiri menghampiri Kyoujurou, dia berjalan tertatih-tatih. Sedikit perih akibat luka yang dideritanya.


"Rengoku-san!! "


Kyoujurou menoleh, mendapati wajah Tanjiro yang basah karena air mata. Diapun tertawa.


"Aku tidak akan mati semudah itu, guruku menyuruhku untuk tidak mati sebelum dia pergi, aku tidak tau apa maksudnya, yang jelas jika aku mati terlebih dahulu dia akan menyiksa jiwaku, saat guruku bilang begitu itu membuatku merinding"


Bulu kuduk Kyoujurou berdiri mengingat perkataan mengerikan gurunya itu. Dengan cepat dia mencari cairan berwarna biru muda lalu menuangkan sekujur tubunya. Dengan sekejap luka yang diderita Kyoujurou pulih kembali.


Kyoujurou juga memberikan Cairan biru itu kepada Tanjiro, untuk penyembuhan diri. Beberapa waktu kemudian rombongan Kakushi berdatangan.


Membersihkan medan pertarungan, dan membawa beberapa orang yang cidera untuk segera diberikan pertolongan pertama.


Dengan ini sisi manusia kembali menang.


______


_________


______


Rimuru merasa puas dengan perkembangan Kyoujurou. Dia melihat pertarungan itu melalui bola kristal.


Rambut biru keperakan itu tersanggul rapi dengan beberapa hiasan berwarna emas dan biru.


Baju kimono yang didominasi warna biru begitu serasi dengannya. Sangat cantik.


Sora membantunga berdandan. Karena kulit Rimuru yang sudah berwarna putih, bedak tipis sudah membuatnya begitu cantik dan manis.


Setelah dirasa selesai, dia berdiri. Melihat dirinya ke cermin. Tersenyum puas.


[Anda luar biasa master]


"Terimakasih Ciel"


Rimuru keluar dari rumah, menuju tempat yang 2 minggu ini menjadi pekerjaannya.


Pekerjaan yang hanya di malam hari, melayani beberapa pria. Meski begitu Rimuru bukanlah seorang rendahan.


Sejak mulai berkerja Rimuru hanya melayani 2 orang saja, orang yang begitu dekat dengan Rimuru tentunya.


Akibat kecantikannya, dihari pertama Rimuru langsung terkenal dikalangan para pria dan wanita, entah itu rakyat jelata maupun bangsawan.

__ADS_1


Rimuru dikenal sebagai....


Angel Diamond blue, sang oiran terkenal Rimuru Tempest


__ADS_2