
"Kita didalam perutnya! Ini adalah pertempuran! "
"Diam! "
"Umai!! "
~~
Angin berhembus kuat dimalam itu, suasana kereta yang sedikit sepi menambah was-was seorang pria dengan bento ditangannya. Meski begitu, dia tidak dapat menghentikan acara makannya.
Bekas bento tersebut berserakan dilantai, mulutnya penuh dengan nasi serta lauk, sudah makan sebanyak itu perutnya tidak kunjung kenyang, entah perutnya terbuat dari apa hingga kuat menampung semua itu.
Rimuru menatapnya dengan datar, sebuah bola kristal berada dihadapannya. Rimuru melihat semua aktivitas Kyoujurou dari awal hingga akhir, tentu saja tidak termasuk aktivitas mandi, itu adalah hal privasi.
Memijit kepala sambil menghela nafasnya, Rimuru tidak habis pikir. Disaat-saat seperti ini muridnya terlihat sangat santai, walau dia tahu muridnya tidak mengendorkan rasa waspada nya, tapi bukankah lebih baik jika membangun sebuah rencana yang lebih matang daripada makan?.
"Sebenarnya perutmu itu terbuat dari apa? Itu hampir menandingi perut tanpa batasku! " seru Rimuru pasrah pada kelakuan semua muridnya.
[Tenang saja master, perutmu itu lebih besar dari miliknya! Jika ada perlombaan makan anda pasti akan menang! ]
"Ciel.... " seru Rimuru lemas, seakan pasrah dengan kehidupannya
[Aku hanya bercanda master, Hahaha]
"Ciel, apa menurutmu rencana kita akan berhasil"
[Tentu saja, Master. Peluang keberhasilan dari rencana anda adalah 100%. Apa anda benar-benar ingin membantu 'dia'? ]
"Tentu saja. Bukankah aku sudah bilang? Tidak selamanya makhluk di dunia ini adalah 'pelaku' tapi ada juga yang 'korban'. Kau harus ingat itu Ciel"
[Baik, Master]
"Diablo"
Siluet bayangan hitam muncul dibelakang Rimuru, tangannya berada di dada, kepalanya menunduk hormat, menjawab dengan penuh kehormatan yang tinggi.
"Ada apa, Rimuru-sama? "
"Kita akan pergi keruang bawah tanah, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada segumpalan daging di sel itu"
"Baik, Rimuru-sama"
__________
______________
__________
Suasana yang sedikit canggung berada di kursi samping kiri Zenitsu dan Inousuke. Yang satu sangat rakus sementara yang satu begitu terkejut dan sedikit canggung.
"Jadi? Apa yang ingin kau tanyakan, nak Mizunoto? "
Kyoujurou bertanya, dia sudah tidak melanjutkan acara makan-makannya, menyimak beberapa kata yang akan keluar dari mulut pemuda yang umurnya lebih muda darinya. Pemuda itu mulai bercerita Lalu setelahnya bertanya.
"Apakah anda tau tentang tairan dewa api? "
"Hmm? Oh! Aku tidak tahu! Ini adalah pertama kalinya aku mendengar tarian dewa api, aku sangat senang jika bisa melihatmu menggunakan tarian ayahmu saat pertarungan. Tapi, mari kita sudahi cerita ini! "
"Huh?! Bisakah saya mendapatkan informasi lebih?? "
"Jadilah muridku, aku akan melatih dirimu! "
"Tunggu sebentar! Anda melihat kemana?! " pekik tanjiro yang merasa tidak diperhatikan oleh kyoujurou
"Sejarah napas api itu sangat panjang"
"Ahli pedang yang bisa menggunakan api dan air telah menjadi pilar disetiap zaman tanpa terkecuali. Napas dasar terdiri dari api, air, angin, batu dan petir. Napas selain ini adalah percabangan nya. Kabut berasal dari angin! " lanjut Kyoujurou menjelaskan sedikit rinci tentang pernapasan.
Tanjiro mendengarkan dengan seksama, mencoba memahami informasi yang baru saja didapat sambil berpikir untuk mencari informasi lebih rinci lagi dari orang disebelahnya_yang berstatus Hashira tersebut.
"Nak Mizoguchi, apa warna pedangmu? "
Tanjiro tersentak dari lamunan nya, dia dengan sigap menjawab pertanyaan itu tegas.
"Namaku kamado dan warna pedang ku hitam" jawabnya seraya memperkenalkan dirinya pada Kyoujurou.
"Hitam? Itu sulit! "
"Sulit? "
"Aku belum pernah melihat ahli pedang berwarna hitam menjadi pilar. Terlebih lagi, kau pasti tidak tahu teknik pedang macam apa yang dirimu kuasai"
"Tenang saja! Aku akan melatihmu ditempatku jadi kau bisa tenang sekarang! "
"Dia benar-benar orang yang membantu" pikir tanjiro dengan wajah terkejutnya.
"Uwoww!! "
Suara teriakan yang melengking dan dapat merusak telinga datang dari kanan Kyoujurou dan Tanjiro. Inousuke berteriak kegirangan saat mengetahui makhluk (?) yang ditumpanginya berjalan dengan cepat.
Kepalanya yang tertutup topeng babi itu keluar dari jendela, angin yang berhembus kencang menabrak kepalanya membuat topeng itu hampir saja terbang.
Zenitsu mencoba untuk menenangkan teman absurd nya itu, menarik badannya untuk kembali duduk di kursi nya. Dia menahan malu karena harus dilihat oleh orang banyak saat Inousuke membuat ulah.
"Itu berbahaya bodoh! Bodoh itu ada batasnya! " pekik Zenitsu
"Itu berbahaya! Aku tidak tau kapan iblisnya akan muncul! "Seperti biasa Kyoujurou berkata dengan nada semangat.
"Hah?! " Zenitsu memutar kepalanya cepat saat pendengarannya menangkap sesuatu yang tidak disukainya.
"Kau bercanda. Iblis akan muncul di kereta ini?! " pekik Zenitsu mengalahkan suara Inousuke, urat malunya sudah menghilang entah kemana.
"Iya! "
"Iya? Tidaakkk! Jadi kita tidak ketempat iblis melainkan iblisnya yang muncul disini?! Tidaaakkk! Aku mau turun!! " rengeknya
"Dalam waktu yang singkat 40 orang menghilang dari kereta ini. Kami mengirim beberapa pemburu iblis kemari tapi tidak ada yang kembali. Karena itulah aku berada disini sebagai seorang pilar! " Kyoujurou mencoba menjelaskan misi ini kepada 3 pemuda tersebut.
Zenitsu masih merengek, air mata palsunya keluar_ terlihat menjijikkan. Dia membalas ucapan Kyoujurou masih dengan pekikan merusak telinga.
"Hahhhhh?! Begitu ya? Aku mau turun!! "
___________
______________
___________
__ADS_1
Tes... Tes
Suara tetesan air yang masuk melewati jeruji kecil diruang bawah tanah ___ menggenang membentuk kubangan air yang dalamnya sampai kemata kaki.
Dua sosok berjalan beriringan, sosok itu memiliki tinggi badan yang berbeda. Mata kedua sosok itu menyala dalam gelapnya malam, cahaya dari lilin tidak dapat menerangi kegelapan yang benar-benar gelap itu.
Drap...
Langkah kaki itu terhenti didepan jeruji penjara, sekotak kayu yang berisi daging segar menggeliat menjijikkan. Matanya yang terpisah dari rongga nya mulai bergerak melihat seseorang yang mengunjunginya.
Mulut yang terpisah juga ingin bergerak tapi tidak ada suara sebagai balasan dari usahanya. Sosok dengan tubuh pendek itu tersenyum tipis, lalu menghadap orang dibelakangnya, masih mempertahankan senyum tipisnya.
"Kau sangat kejam Diablo, kalau begini bagaimana aku bisa menginterogasi dirinya? "
"Maafkan saya, Rimuru-sama"
"Tidak" Rimuru menggeleng, tangannya terulur menyentuh daging segar dengan lumeran darah seperti daging yang dihiasi saus tomat __ terlihat lezat.
"Tindakan mu benar, hanya saja setelah menyiksanya setidaknya biarkan kepalanya tetap utuh, jika begini dia tidak dapat bicara, kau paham Diablo? "
"Dimengerti"
"Mari kita mulai interogasi nya. Beri tahu padaku semua yang kau ketahui, Douma sayang~"
________
___________
________
"Aaaaa! "
Teriakan dari segala umur terdengar menakutkan di salah satu gerbong kereta. Sesosok iblis dengan banyak tanduk di sekujur tubuhnya berjalan mendekat kearah kondektur yang baru saja memeriksa tiket masuk kereta milik Kyoujurou dan Tanjiro dkk.
Tubuhnya yang besar serta banyak mulut dan mata, membuat iblis itu benar-benar sangat menakutkan. Kyoujurou berdiri dari duduknya tangan kiri nya direntangkan untuk melindungi sang kondektur, tangan kanannya memegang gagang pedang untuk bersiap bertempur.
"Jika kau mengarahkan taringmu ke orang tak bersalah. Maka, sang pedang merah api Rengoku akan membakarmu sampai habis hingga ketulang! "
"Pernapasan api jurus pertama: lautan api"
Sedetik kemudian yang tersisa hanyalah bayangan Kyoujurou, api yang berkobar di pedangnya diarahkan tepat dileher sang iblis hingga terlepas dari tubuhnya. Tanjiro, Zenitsu, dan Inousuke tercengang ditempat.
Mereka bertiga menghampiri Kyoujurou, menghiraukan iblis yang perlahan menjadi abu. Sorakan kemenangan dinyanyikan bersama.
"Hebat sekali kau, aniki! Jadikan aku muridmu! "
"Tentu! Akan aku didik kau menjadi ahli pedang hebat! "
"Aku juga! "
"Aku juga! "
"Semuanya akan aku didik secara langsung! "
"Rengoku aniki! "
"Aniki! "
________
___________
________
Akhhh....
Ruangan-ruangan gelap, sel penjara, jeruji besi dingin, tetesan air, suara jangkrik, serta lolongan serigala tidak membuat takut kedua orang yang menyiksa tahanannya.
"Cih! Sia-sia aku menggunakan kekuatan ku untuk membuat tubuhmu utuh, jikalau kau masih tutup mulut"
"Biarkan saya yang bertindak, tuanku"
"Hahhh.... Tidak usah jika cara menyiksa tidak dapat membuka mulutnya maka cara mendobrak paksa ingatan adalah hal terakhir yang bisa kulakukan"
"Kenapa tidak menggunakan skill melihat masa depan? "
Seorang pria berambut pirang berdiri sambil melipat tangannya, bersender pada jeruji besi. Matanya melihat datar kearah tahanan, lalu beralih menjadi bingung saat melihat orang berambut biru keperakan.
"Tidak bisa, Veldora. Terakhir kali aku menggunakan kekuatanku saat pengendalian aura, itupun sudah membuat dunia ini hampir mengalami kehancuran. Demi menjaga keseimbangan dunia ini aku benar-benar harus mengontrol kekuatan ku, mencoba untuk tidak memakainya terlalu sering"
"Bukankah mendobrak ingatan juga butuh sihir? "
"Iya itu memang benar, hanya saja itu memerlukan sedikit magicule jadi seharusnya itu tidak masalah. Kita berada di dunia ini saja sudah menganggu keseimbangan dunia"
"Kau bohong, Rimuru"
"Hmm? "
"Benar adanya jika kau menghemat energimu untuk menjaga dunia ini dari keruntuhan, tapi kau masih bisa melihat masa depan. Melihat masa depan untuk makhluk seperti kita hanya membutuhkan sedikit kekuatan sihir. Sebenarnya apa alasanmu? "
"Mereka membuat penderitaan, membuat banyak orang kehilangan, memakan korban yang tak bersalah tanpa dapat dihitung jumlahnya. Lantas, apa aku akan diam saja? Meski aku membenci 'mereka(manusia) ' tapi bukan berarti aku bisa berpaling saat orang tak bersalah kehilangan nyawanya. Oleh karena itu aku melakukan tindakan mengurangi pemakaian sihir, setidaknya aku mengurangi dampak kematian dari makhluk dunia ini"
"Aku masih bingung, Rimuru. Siapa yang sebenarnya engkau bantu? Iblis? Manusia? Atau campuran dari kedua makhluk itu? "
"Aku tidak berpihak pada siapapun, Veldora.
Karena, pada dasarnya aku tidak tahu aku ini makhluk apa. Slime? Manusia? Iblis? Atau naga? "
Melihat kebingungan dari temannya dia mencoba meninggalkannya sendiri, untuk mencari jawaban dari pertanyaannya sendiri. Ditengah perjalanan dia berhenti, mengatakan sebuah kalimat yang membuat Rimuru bersemangat untuk menghadapi dunia dan membuat hatinya menghangat.
"Tidak peduli siapa dirimu, tidak peduli apa rasmu, tidak peduli bagaimana sifat serta perlakuanmu. Aku akan tetap mendukungmu karena aku sahabat mu dan mulai detik ini aku adalah keluarga mu satu-satunya"
_________
____________
_________
Sunyi.....
Itulah yang dapat digambarkan didalam kereta yang melawan angin malam. Dengkuran halus seperti nyanyian burung hantu, cukup menenangkan.
Kyoujurou, Tanjiro, Zenitsu, dan Inousuke terbuai dalam layaran, menyisakan pemandangan indah dinegeri dongeng antah berantah.
Disisi lain, sesosok pria berdiri dengan wibawa diatas kereta. Angin yang berhembus tidak membuat nyali yang dia punya menghilang. Rambut yang terurai berkibar laksana syal lembut, begitu mempesona.
"Bisa mati selagi tertidur adalah sebuah anugerah"
__ADS_1
~~
Burung pipit meninggalkan sekumpulan kayu dan daun membentuk sarang, mencari makan untuk keluarga kecilnya. Bunga bermekaran di hamparan rumput hijau, kupu-kupu berkeliling menghisap nektar bunga. Membantu penyerbukan sang bunga.
Aku menggenggam tangan seseorang, itu seperti mimpi yang selalu kuinginkan, tidak dapat diucapkan dengan kata-kata dan tidak dapat diekspresikan dengan mudah, hanya satu sebagai perwakilan, aku begitu bahagia.
Berlari sambil bergandengan, sinar surya saat itu tidak terasa menyengat juga tidak meredup karena mendung. Tangannya terasa lembut dan itu membuatku candu.
"Sini, sini. Disini ada banyak buah persik, dan buah persiknya sangat enak. Disini juga ada bunga semanggi putih yang bermekaran" aku menceriakan yang ingin aku ceritakan padanya, dia tersenyum senang padaku dan hatiku menghangat.
"Ada sungai didepan sana, airnya dangkal, tidak apa-apa kan? "
"Sungai? " dia berhenti, membuat langkahku ikut berhenti.
"Zenitsu-san, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak dapat berenang"
Wajahnya berubah menjadi kecewa, aku tidak tega melihatnya. Tunggu!! Bukankah ini adalah sebuah kesempatan?. Secercah ide yang brilian muncul dikepalaku.
"Aku akan menggendong mu dan kita bisa melompati nya! Itu hanyalah sungai" ujarku seraya membungkuk dihadapannya, punggung milikku aku arahkan tepat didepannya.
Dia tercengang sebentar, lalu dengan senang hati tangannya memeluk leherku. Aku bisa merasakan tubuhnya, terutama dadanya. Bau harum dari rambutnya yang terurai menguar wangi.
Aku berdiri dengan tegap, kedua tanganku ku arahkan kebelakang menompang tubuhnya, agar dia tidak terjatuh saat aku mulai berlari sambil menyeberangi sungai. Ahhh... Ini adalah sebuah mimpi yang berubah menjadi kenyataan yang begitu indah.
~~
Aku membuka mata, seorang pria yang mirip denganku tengah berbaring. Bau dari sake memenuhi ruangan ini. Aku merasa ada yang kulupakan, Namun sayangnya aku tidak mengingatnya.
Meneliti pakaian ku, membuatku tersadar. Jikalau aku kemari ingin memberitahu seseorang yang tengah berbaring itu kabar gembira.
"Ayah, aku datang kemari ingin melaporkan bahwa aku sudah menjadi pilar! "
"Terus kenapa kalau kau menjadi pilar? Itu tidak ada artinya... Tidak penting. Lagipula kita tidak akan menjadi orang besar, baik dirimu dan diriku"
Aku membatu kala mendapati jawabannya. Cukup pedas dan menyakitkan, tapi aku tidak bisa menyalahkan dirinya. Tidak ingin mengganggu nya, aku keluar. Menggeser fusuma, berjalan dengan pelan.
"Kakak"
Seorang anak kecil menghampiri diriku, kepalanya terlebih dahulu menyembul dibalik pilar kayu. Dia mirip denganku, mungkin ini adalah gen dari keluargaku yang memiliki wajah serta rambut yang unik dan mirip.
"Apakah ayah senang mendengar nya? Jika aku menjadi pilar, mungkin ayah akan mengakui diriku juga"
Dia menatapku dengan rasa keingintahuan. Aku tidak tau harus berbuat apa, ayahku dulu bukan orang yang seperti ini. Dia orang yang penuh semangat dan juga seorang pilar.
Tapi suatu hari dia tiba-tiba berhenti mengayunkan pedangnya. Secara tiba-tiba. Dia orang yang mendidik kami dengan semangat, tapi kenapa...
Meskipun aku memikirkannya, aku merasa itu tak dapat diabaikan. Situasi yang dihadapi oleh adikku yang bernama Senjurou bahkan lebih parah lagi.
Dia tidak memiliki ingatan apapun tentang ibu kami, yang meninggal sebelum dia belajar untuk mengingat. Ditambah ayah yang berada dalam keadaan seperti ini.
Aku menatapnya sendu, senyum lebar palsuku terpampang jelas. Aku berjongkok sambil menyentuh pundaknya.
"Aku akan jujur, ayah tidak begitu senang"
Raut wajahnya menjadi sedih, ini menyakitkan tapi tidak bisa disembunyikan. Aku tidak ingin dia berharap dan berakhir terluka.
"Tapi! Semangat ku tidak akan mati hanya karena itu. Api dalam hatiku tidak akan pernah padam! Aku tidak akan merasa kecewa! Kamu berbeda dari diriku Senjurou, kau punya kakak dan kakakmu percaya padamu! Tak peduli jalan mana yang kau pilih, kau akan menjadi orang hebat! Lakukanlah yang terbaik! Meskipun kau kesepian! "
Dia mulai menangis, aku mendekapnya erat. Jubah putihku mulai basah karena air matanya. Tidak bisa dipungkiri kalau dia menghangat karena ucapanku. Mulai detik itu aku berjanji untuk selalu bersamamu, adikku.
~~
Derap langkahku terdengar disetiap lorong gua, aku menghentakkan kakiku keras sambil berseru. Dibelakang ku ada dua cecunguk yang menjadi bawahanku. Mengikutiku dengan setia, setiap detik dan setiap saat.
"Bos! "
Mereka berdua memanggilku, aku menoleh pada mereka. Mereka kuberi nama Chuuitsu dan Ponjirou.
"Ada apa? "
"Aku mencium bau tuan dari gua ini"
Ponjirou memberitahu ku, giginya yang besar bergerak-gerak lucu. Tangannya terus menunjuk di sebelah utara gua. Omong-omong Ponjirou juga memiliki penciuman yang hebat.
"Aku juga mendengar suara dengkuran nya! "
Chuuitsu menimpali, wajah konyolnya benar-benar menjijikkan. Namun, dia juga dapat diandalkan karena pendengaran miliknya yang tajam.
Aku mengangguk paham, berbalik dan bersiap untuk menyerang tuan dari tanah ini. Jika aku menang aku bisa menjadi penguasa disini, bukankah itu menguntungkan?
Saat berbalik, aku tidak sengaja melihat kelinci kecil tengah meringkuk ditanah. Lututnya ditekuk dan tangannya melingkari lututnya. Dia terlihat kesepian jadi aku mengajaknya untuk bergabung denganku.
"Hei kau yang disana! Ayo ikut dengan ku, akan kuberikan biji ek mengkilap nanti"
Dia berdiri dan mengangguk patuh, mengikuti dari belakang dan mulai menyanyikan seruan semangat.
"Penjelajah! Penjelajah! "
~~
Aku membuka mataku, hawa dingin langsung menusuk tulangku. Aku melihat kebawah, mendapati kakiku yang terendam krital dingin dan mengkilap, seperti es serut.
Melihat kiri dan kanan, aku seperti mengenal tempat ini. Tempat yang tidak akan kulupakan seumur hidupku. Dipunggung ku terdapat keranjang kosong yang biasa nya aku pakai untuk menjual arang.
Masih merasa tidak yakin, aku berjongkok. Menyentuh kristal dingin dibawah kakiku.
"Salju... " gumamku pelan
"Kakak! Selamat datang! "
"Apa kau sudah menjual semua arangnya? "
Aku termangu, saat mendengar suara yang familiar dibenakku. Dengan cepat aku melihat kedepan, mendapati dua sosok yang entah kenapa sangat kurindukan. Perasaan ini tidak bisa dipungkiri, aku berlari lalu memeluk mereka.
Air mata ku keluar deras. Mereka terkejut dengan perlakuan ku. Rasa rindu yang menyeruak tidak dapat dihentikan meski aku sudah memeluk mereka, seakan-akan mereka telah pergi dari dunia.
________
____________
________
Sret...
Sebuah tali jerami terikat kuat di setiap tangan kanan Kyoujurou dan Tanjiro dkk. 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan itu memiliki lingkaran hitam disetiap bawah kelopak mata mereka.
Wajah mereka juga pucat. Tetapi, tidak sepucat satu anak laki-laki yang mengikat talinya di tangan Tanjiro. Mereka mulai bersiap untuk melakukan sesuatu.
__ADS_1
"Selamat tidur.... Dan lupakanlah cara bernapas... Khukhu"