
"Jadi... Veldora-san adalah kakakmu Rimuru-san? " tanya Tanjiro, saat ini mereka (Rimuru, Veldora,dan Tanjiro) sedang berjalan untuk menuju rumah Sankoji Urokodaki, seseorang yang direkomendasikan oleh Tomioka Giyuu selaku pilar air.
Tentang keluarga kamado yang dibantai dengan kejam Rimuru sudah mengetahui semuanya, dia sangat kasihan dengan Tanjiro tetapi dia harus berusaha semaksimal mungkin terlihat seperti manusia biasa. Rimuru mengambil semua jiwa keluarga Kamado yang akan dibangkitkan sewaktu-waktu.
"Benar, Veldora adalah kakakku" ucap Rimuru tersenyum ramah, meski tertutup oleh topeng miliknya. Berusaha mungkin mengikuti alur drama milik Veldora.
"Begitu ya? Tapi wajah kalian tidak mirip sama sekali" ucap Tanjiro polos
"Itu karena Rimuru mirip dengan ibu sementara aku mirip ayahku" ucap Veldora selaku sutradara dalam drama ini.
Mereka terus berjalan hingga sampailah di sebuah desa, malam telah berganti menjadi pagi, dan Nezuko tengah bersembunyi disebuah gua.
"Permisi, apa saya boleh meminta keranjang, jerami dan sedikit bambu? " tanya Tanjiro pada orang yang ditemuinya di desa tersebut.
"Boleh saja tapi keranjangnya sudah berlubang loh"
"Tidak apa saya bayar"
"Tidak usah, lagipula keranjangnya sudah berlubang"
"Akan saya bayar"
"Tidak perlu, ambil saja jerami dan bambu nya gratis"
"Saya akan tetap membayarnya! " ucap Tanjiro lantang
"Sudah kubilang tidak perlu! Keras kepala sekali"
"Meskipun aku punya beberapa koin kumohon terimalah" ucap Tanjiro sambil menepuk kasar tangan pria itu, sementara pria itu kesakitan dibagian tangannya
"Terimakasih atas keranjang, jerami dan bambu nya" ucapnya berlari pergi.
Rimuru hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu melangkah maju menghampiri pria tersebut.
"Anuu.. " ucap Rimuru menggantung, pria tersebut menoleh.
"Aku akan menambahkan uangnya" ucapnya langsung memberikan uang tersebut dan berlari pergi menyusul Tanjiro dan Veldora. Bisa dikatakan Rimuru dan Tanjiro 11 12 dalam memberikan uang.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah gua yang tidak terlalu besar, tetapi gelap dan lembab.
"Nezuko"
"Ehh?! Nezuko!! Dia hilang?! " panik Tanjiro saat tidak ada yang menyahut panggilannya. Rimuru menghela napasnya, betapa bodohnya manusia disampingnya ini.
"Tanjiro-san.. Nezuko mulutnya tersumpal bambu, bagaimana dia bisa menjawab panggilan mu? " tanya Rimuru, dan Tanjiro yang menepuk jidatnya karena kebodohannya.
Tanjiro masuk kedalam gua bermaksud untuk mencari adiknya, dia pun menemukan sebuah lubang dan terlihat kepala yang menyembul keluar.
"Disana kamu rupanya!! " pekik Tanjiro
"Dia membuat lubang? Apa adikku berubah menjadi tikus mondok? "Batin Tanjiro
"Dan wajahnya terlihat murung, dia terlihat ingin menjauh dari sinar matahari" lanjutnya
"Tunggu disini sebentar ya? " ucap Tanjiro berlalu pergi keluar dan mengotak-atik keranjang berlubang tersebut.
Dibantu dengan Veldora dan Rimuru, keranjang tersebut sudah jadi dalam waktu 15 menit. Tanjiro masuk kembali kedalam sambil membawa keranjangnya.
"Kamu bisa duduk disini? Aku akan berpergian saat siang hari dan kamu harus kubawa" ucap Tanjiro
"Kurasa dia bisa melakukannya tanjiro" ucap Veldora yakin
"Bagaimana kau bisa yakin Veldora? " tanya Rimuru
"Karena saat Nezuko pertama kali menjadi iblis dia menyerang Tanjiro dan memperbesar badannya. Jadi, jika memakai logika seharusnya dia bisa melakukan yang sebaliknya" ucap Veldora
"Sejak kapan Veldora jadi pintar?! " batin Rimuru
Merasa ada yang ganjal Rimuru pun lantas bertanya pada Veldora.
"Veldora... Kau bilang saat Nezuko menyerang Tanjiro kan? Berarti kau sudah ada disana benarkan? Kenapa kau tidak membantu Tanjiro-san hah?!! " pekik Rimuru marah dengan urat yang muncul didahinya.
"Aku malas selain itu aku sibuk mencari harta karun tersembunyi" jawab Veldora enteng
"Rasa ingin membunuhmu sangat tinggi, Veldora fufufu" tawa Rimuru, mengerikan dan Veldora yang merinding dibuatnya.
Tanjiro hanya menatap interaksi dua saudara itu dengan senyuman khas miliknya.
"Mereka bersaudara tapi sepertinya tidak terlalu akur ya? Tapi inilah persaudaraan, terkadang akur dan terkadang tidak dan itu yang membuat hubungan lebih erat" batin Tanjiro.
Veldora maju mendekati Nezuko didalam lubang.
"Oi Nezuko! Masuklah kedalam keranjang dan perkecil tubuhmu"
Nezuko hanya menuruti apa yang dikatakan oleh Veldora, perlahan tapi pasti Nezuko masuk kedalam keranjang dan memperkecil badannya hingga badannya muat didalam keranjang tersebut.
__ADS_1
"Kerja bagus, kerja bagus, Nezuko anak yang baik itu sangat mengesankan" puji Tanjiro sambil menepuk kepaka Nezuko
"Arigatou Veldora-san, Rimuru-san"
"Umu! Itu bukan apa-apa"
"Kalau begitu sebaiknya kita segera berangkat sebelum matahari tenggelam, bahaya akan mengintai saat malam, lebih cepat kita berangkat itu lebih baik" ucap Rimuru berlalu pergi meninggalkan Veldora dan Tanjiro, lalu mereka berdua mengekori Rimuru.
Mereka berjalan melewati hutan dan jalan yang terjal akibat bebatuan yang licin terkena lumut. Dalam perjalanan mereka bertemu dengan wanita yang menggendong bayi di punggungnya. Tanjiro pun menanyakan dimana letak gunung Sagiri pada wanita tersebut.
"Jika kamu ingin pergi ke gunung kabut yang sempit kamu perlu melewati gunung didepan sana... Tapi, ini sudah hampir malam dan kamu membawa sesuatu yang besar di punggungmu itu pasti berbahaya"
"Tenang saja bibi, ada aku dan Rimuru! Kami akan saling melindungi, benarkan Rimuru, Tanjiro? "
"Umm" angguk Rimuru mantap
"Aku akan sangat hati-hati, terimakasih banyak" ucap Tanjiro sambil membungkuk berterimakasih.
"Banyak orang tersesat disini, jangan sampai tersesat" teriak wanita itu.
Perjalanan pun berlanjut tidak terasa malam telah tiba dan nezuko sudak keluar dari keranjang. Hingga mereka menemukan sebuah rumah dengan atap jerami dan dinding kayu, gaya rumah tradisional.
"Ah, ada rumah kecil disini. Terlihat sedikit cahaya yang ada, sepertinya ada beberapa orang disana" ucap Tanjiro.
"Ciel... Analisis rumah itu" batin Rimuru berbicara pada Ciel, merasa ada yang ganjal pada rumah tersebut, Rimuru merasakan kegelapan meski samar-samar, tentu saja mengingat Rimuru adalah kegelapan itu sendiri.
"Baik, menganalisis........ Selesai, dikonfirmasi ada iblis didalam sana master" Rimuru terkejut, tetapi sudah terlambat Tanjiro sudah membuka pintu rumah tersebut.
Tanjiro membeku didepan pintu, matanya membulat, pandangan yang mengerikan terpampang jelas didepan matanya. Seorang iblis tengah mukbang didalam rumah tersebut, bau anyir khas darah menusuk indra penciuman.
"Apa? Hey... Ini adalah... Daerah ku... Takkan aku maaf kan jika kamu merusak tempat makan ku.. " ucap iblis itu
"Hmm? Kamu terlihat aneh... Apa kamu manusia? " tanya Iblis itu dan tanpa aba-aba iblis itu menyerang Tanjiro, tetapi sebelum mengenai tubuh Tanjiro, Rimuru sudah lebih dulu menendang kepala iblis itu hingga copot.
Angin yang kencang akibat tendangan milik Rimuru membuat rumah itu berhamburan, tanah yang menjadi jalur tendangan Rimuru amblas hingga kedalaman 1 meter, sekedar mengingatkan, Rimuru sedang dalam mode manusia. Kepala iblis itu membentur pohon sementara badannya terguling-guling ditanah.
"Ri-Rimuru-san? " kaget Tanjiro
Badan iblis itu bergerak-gerak, merangkak, dan terus merangkak mendekati Rimuru. Nezuko langsung menendang tubuh iblis itu hingga terguling-guling kembali.
"Bagus Nezuko" batin Rimuru bangga
"Tak bisa dipercaya!! Kepalanya sudah lepas tapi tubuhnya masih dapat bergerak? " batin Tanjiro
"Oi, sialan!!! " teriak iblis itu
"Hentikan itu!! " teriak Tanjiro menghampiri Nezuko dengan kapak ditangannya, belum sempat Tanjiro menebas tubuh tanpa kepala itu, kepala iblis itu menyerang lebih dulu dengan tangan yang tumbuh di samping kepalanya.
"Mengapa bisa tumbuh lengan dikepalanya? " batin Tanjiro sambil memblokir mulut iblis itu dengan kapaknya.
"Kelamaan! " ucap Rimuru dengan melesatkan setitik api hitam pada tubuh dan kepala iblis itu, seketika iblis itu terbakar sampai ke area sekitar, tentu saja Rimuru sudah menyelamatkan Tanjiro lebih dulu, sementara Veldora menyelamatkan Nezuko. Omong-omong Veldora sejak tadi tidak bicara karena malas dan sedikit kesal dengan Rimuru yang tidak mengijinkannya membaca manga, dasa naga otaku.
Tanjiro membeku di tempat, dia pun bertanya-tanya siapa Rimuru ini sebenarnya, Rimuru yang menyadari kecurigaan Tanjiro segera nenyegel ingatannya tentang pertarungan tadi dan menggantikannya dengan dirinya dan Veldora yang ketakutan, sementara Tanjiro dan Nezuko yang terus melawan iblis itu hingga menang. Tanjiro tertidur dengan lelap bersama Nezuko.
ππΈπ
...Salam Urokodaki Sakonji-san...
...Aku telah mengirim seorang pemuda yang ingin menjadi ahli pedang pemburu iblis kesini untuk menemuimu. Dia memiliki semangat, dan dia berani manantangku tanpa senjata sekalipun. Keluarganya secara brutal dibunuh oleh iblis. Hanya adiknya yang selamat, tapi menjadi seorang iblis. Kupikir dia tidak akan menyakiti manusia. ...
...Aku rasa ada sesuatu yang berbeda tentang keduanya. Pemuda itu memiliki penciuman yang baik sepertimu. Aku tidak yakin tapi..... Dia mungkin dapat membuat "terobosan" dan "mewarisi" kerjamu. Tolong latih dia dengan baik. ...
...Aku sadar permintaanku yang sembrono ini, dan semoga kamu memaafkan ku atas hal ini. Jagalah dirimu, dan kuharap yang terbaik untuk usahamu. Sekali lagi maafkan aku. ...
...Atas segala hormat...
...Tomioka Giyuu...
Seseorang mengintip dari balik pohon lalu menampakkan dirinya sesaat pertarungan tersebut selesai. Orang itu memakai topeng tengu berwarna merah dan umur yang....emm...sudah tua.
"Kau... Apa kau iblis? " tanya kakek itu.
Rimuru menatap kakek tersebut dan menjawabnya.
"Lebih tepatnya Raja iblis" ucap Rimuru enteng dengan kakek itu yang terkejut setengah mati.
"Apa kau muzan?!! " tanya kakek itu dengan katana yang entah darimana munculnya.
"Jangan samakan aku dengan iblis rendahan seperti dia Sakonji-san" ucap Rimuru merendahkan, Veldora yang mendengar itu merinding seketika.
"Sepertinya tadi aku mendengar suara hantu" batin Veldora
Kakek itu terkejut kembali disaat Rimuru menyebut namanya, tanpa mengendorkan kuda-kudanya.
"Aku adalah raja iblis sejati dari dunia lain. raja dari raja iblis, raja iblis terkuat dan seorang true dragon Rimuru Tempest salam kenal" ucap Rimuru berbasa-basi.
__ADS_1
Sakonji mengerutkan alisnya bingung
"Aku tau kau bingung, tapi apa yang aku katakan itu benar, dan aku tidak memakan manusia" ucap Rimuru.
"Aku ingin mendengar penjelasan mu nanti"
"Tentu saja, saat ini hanya kau yang kuberi tahu, tetapi jika nanti ada orang yang tau identitas ku selain dirimu dan selain kuberi tahu sendiri, aku akan melahap jiwamu" ucap Rimuru mengancam, semenjak kekalahan yuuki, Rimuru menjadi sedikit tegas dan tidak naif walau terkadang kenaifan yang memang melekat dari dirinya sejak dulu itu Kadang-kadang kambuh.
Rimuru, Veldora dan Urokodoki berjalan ke kediaman milik Urokodoki. Rumah kayu tradisional yang masih layak huni, dengan pohon di sekelilingnya. Rimuru menidurkan Tanjiro dan Nezuko di dalam kamar dengan panduan Urokodoki. Setelah itu mereka bertiga duduk dia ruang tamu untuk mendengar penjelasan Rimuru.
Rimuru menjelaskan semuanya. Dimulai dari dirinya yang menjadi raja iblis, partarungan dengan Kekaisaran timur, dan terakhir kekalahan musuhnya yuuki, Rimuru juga menjelaskan kalau Veldora adalah seorang true dragon sama seperti dirinya. Rimuru menyembunyikan awal cerita dimana dia dulunya adalah manusia yang bereinkarnasi menjadi slime, Rimuru hanya memberitahu kalau tubuhnya genderless tetapi jiwanya laki-laki.
Urokodoki hanya mangut-mangut tanda mengerti, setelah itu dia membungkuk meminta maaf pada Rimuru.
"Maafkan aku atas kesalahpahaman tadi Rimuru-sama"
"Jangan memanggilku dengan kata 'sama' orang-orang akan curiga nantinya"
"Kalau begitu aku akan memanggilmu Rimuru-Dono"
"Terserah kau saja" ucap Rimuru cuek
ππΈπ
4 jam telah berlalu dan Tanjiro sudah sadar dari tidurnya, tapi saat dia sadar Rimuru dan Veldora sudah tidak ada.
"Dimana Rimuru-san? " gumam Tanjiro yang masih didengar oleh Urokodoki.
"Rimuru-dono dan Veldora-dono sudah pulang sejak tadi, kau.. Ikut aku keruang tamu"
Diruang tamu
"Aku Urokodoki Sakonji, apa kami yang ingin dikenalkan oleh Giyuu kepadaku? "
"Iy-iya" Tanjiro gugup
"Namaku Kamado Tanjiro dan ini adikku Kamado Nezuko... "
"Tanjiro" sela Urokodoki
"Apa yang kamu lakukan jika adikmu memakan manusia? " tanya Urokodoki, Tanjiro tertegun, dia terdiam sangat lama
Plakk
Urokodoki menampar pipi Tanjiro dengan keras, terlihat bekas merah dipipinya.
"Ragu-ragu sekali"
"Kamu terlalu ragu-ragu dalam mengambil keputusan, kamu bahkan tidak bisa membunuh iblis itu sebelum pagi, kamu tidak bisa menjawab pertanyaanku, tahu kenapa? Itu karena resolusi mu terlalu dangkal" ucap Urokodoki dengan bumbu kebohongan karena yang mengalahkan iblis itu adalah Rimuru.
"Jika adikmu membunuh manusia ada dua hal yang harus kamu lakukan, yang pertama bunuh adikmu dan yang kedua tusuk perut mu dan belah perutmu, resolusi seperti ini yang harusnya kamu bawa bersama adikmu. Membiarkan adikmu mengambil nyawa orang yang tidak tahu apa-apa, itu adalah hal yang jangan sampai terjadi, kamu mengerti apa yang kumaksud? " lanjut Urokodoki
"Aku mengerti!! " ucap Tanjiro semangat
"... Baiklah saatnya mengetes kemampuan mu, apakah kamu sanggup menjadi ahli pedang pemburu iblis, ikuti aku"
Tanjiro mengikuti Urokodoki sampai ke gunung.
"Kakiku sangat lelah sampai tak sanggup untuk digerakkan, kepalaku terasa pusing" batin Tanjiro
"Sampai sini kamu akan turun gunung sampai kerumahku yang berada dibawah, kali ini aku tidak akan menunggu sampai fajar" ucap Urokodoki lalu menghilang.
"Eh? " Tanjiro terkejut
"Itu saja? Jadi aku harus sampai kerumahnya sampai matahari terbit? Terlalu mudah!! Kemampuan penciuman ku sangat baik dan aku ingat bau Urokodoki-san itu seperti apa, meskipun dia sudah tak kelihatan aku tak akan hilang arah" batin Tanjiro sambil melangkahkan kakinya, tetapi tiba-tiba dia menginjak sebuah tali dan muncuk beberapa batu yang menghantam tubuhnya.
"Ada batu yang terlempar kearah ku? " batin Tanjiro dengan badan yang terhuyung-huyung, dan tidak sengaja masuk kedalam perangkap lainnya.
"Sebuah perangkap!! Begitu ya? Pasti ada banyak perangkap, jadi begitu maksudnya!! " batin Tanjiro lagi dan tidak sengaja tangannya menyentuh tali kecil ditanah.
"Tidak, aku terperangkap lagi!! " pekik Tanjiro bersamaan dengan tubuhnya yang terhantam sebuah balok kayu dari belakang.
"Gawat!! Gawat!! Jika aku terkena perangkap seperti ini aku tidak akan sampai kebawah sebelum fajar dan hutan ini, hutan ini!! Udara disini sangat tipis!! Lebih tipis dari hutan yang aku tinggali"
"Jadi ini yang membuat nafasku terasa berat dan kepala ku pusing, dapatkah aku sampai kesana? Aku mungkin akan pingsan, tidak aku harus sampai kesana!! Aku harus mengatur nafasku, jika aku menggunakan hidungku dengan baik maka aku dapat menemukan perangkapnya, perangkap yang dibuat manusia memiliki bau yang berbeda, baiklah aku mengerti!! Aku mengerti!! "
Tanjiro terus berlari hingga kebawah dan dia sering kebobolan dan masuk perangkap, sayangnya itu tidak mematahkan semangatnya dia tetap terus berlari sambil mengatur nafasnya.
Beberapa menit kemudian...
Srett
Pintu itu terbuka menampakkan Tanjiro dengan luka di sekujur tubuhnya. Nafasnya terengah-engah.
"Aku.... Sudah.... Sampai.... " ucap Tanjiro sambil mengatur nafasnya.
__ADS_1
"Kuakui kemampuan mu, Kamado Tanjiro" ucap Urokodoki.
"Orang yang direkomendasikan oleh murid ku Giyuu dan Rimuru-sama memang luar biasa" batin Urokodoki tersenyum walau tertutup topeng tengu miliknya.