Perjalanan Rimuru Di Kny

Perjalanan Rimuru Di Kny
22. Pertemuan


__ADS_3

Aku sendirian di dalam kamar, malam yang panjang dan suara jangkrik yang berbunyi terasa menenangkan. Lilin ku terkadang meredup karena angin, tapi itu tidak membuatnya kehilangan api yang menjadi cahayanya.


Aku duduk diam menunggu seseorang, di ruangan ini juga ada lampu, namun tidak begitu terang. Tentu saja, ini adalah kamar khusus untuk orang sepertiku, untuk melayani orang lain.


Terkadang-kadang aku bertanya, kenapa bisa ada lampu disaat ada lilin? Mereka menjawab untuk hiasan, tapi bagaimanapun juga itu sangat aneh.


Suara ketukan pintu terdengar pelan. Diseberang sana terdengar suara gadis yang begitu lembut, dia mengantarkan seseorang yang pada dasarnya menjadi pelanggan ku.


"Masuk"


Aku menyuruhnya masuk. Pria itu tinggi dan memiliki otot tubuh yang sempurna, kulit yang sedikit coklat itu terlihat serasi dengan pakaian hitam emas miliknya. Sang gadis itu menutup pintu kembali, membiarkan kami berdua disini.


Pria itu duduk berhadapan dengan ku. Aku menuangkan segelas teh untuknya, ada beberapa jamuan yang tersedia dimeja. Aku mengambil nasi putih, kebiasaan pelanggan ku ini adalah makan terlebih dahulu sambil mengobrol santai.


Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Mangkuk kecil ku, kini telah penuh dengan nasi. Aku menyodorkan mangkuk itu pada pria dihadapan ku, dia mengambilnya dan mulai memakannya dengan lahap.


"Apa anda mau furikake juga, tuan? "


Dia menganggukkan kepalanya pelan, mulutnya masih penuh. Soal furikake, aku membuatnya sendiri. Ini adalah furikake modern, dan itu cukup lezat. Furikake buatanku ini cukup terkenal.


Saat itu...


Saat dimana aku mencoba skill memasak yang ku miliki, aku mencoba beberapa makanan yang muncul di otakku. Aku mencoba untuk yang paling mudah tapi menyehatkan terlebih dahulu. Dan hasilnya aku membuat furikake modern.


(Penulis: furikake modern ditemukan pada awal era kekaisaran Taisho tahun 1920-an. Seorang apoteker bernama Suekichi Yoshimaru dari kekaisaran awalnya khawatir tentang potensi kekurangan kalsium dalam makanan Jepang. Alhasil ia berpikir untuk membuat serpihan dan bubuk dari tulang ikan kering yang tinggi kalsium. Source: Google)


Aku menaburkan furikake itu dinasi panas, pria itu mulai memakannya dengan suapan besar. Aku terkekeh pelan saat melihat kelakuannya. Setelah selesai dia meletakkan mangkuk itu dimeja, dan mulai menatapku serius.


"Seharusnya bukan aku yang ada disini"


Aku mengerti itu. Tubuhku bukanlah milik semua orang, jadi aku hanya memilih 2 diantara banyaknya pria. Pemilik tempat ini tidak peduli, asalkan ada uang maka semuanya lancar.


Karena hanya memiliki 2 pelanggan, aku pun mulai membuat jadwal. Untuk siapa yang mengunjungi ku hari ini atau esok atau mungkin lusa nanti. Jadwal untuk pria ini adalah besok, sementara pria yang satunya lagi entah kenapa berhenti mengunjungiku sejak 3 hari yang lalu.


Alasannya pun aku juga tidak tau, bertemu pun hanya sebentar setelah itu berpaling bagaikan orang asing. Kupikir dia sedang menghadapi masalah, jadi aku akan menemuinya lagi dan memaksa untuk menceritakan apa yang terjadi. Ini terkesan memaksa dan egois.


"Jadi sepertinya kau akan menjadi pelanggan setia ku tuan"


Aku mengatakan itu dengan senyum sekilas. Dia hanya menghela nafas, lalu menampakkan wajah menggodanya. Aku tercengang sesaat, namun kembali sadar saat dimana suara miliknya memasuki indraku.


"Apa kau jatuh cinta padaku gadis kecil? "


Perempatan imajiner muncul didahiku, rasa ingin menonjok wajah tampannya itu seketika meninggi. Sayangnya, aku harus sabar untuk menghadapi pria yang menjengkelkan ini.


"Apa maksudmu tuanku? "


"Aduh~ nonaku yang manis. Saat gelapnya malam, kau duduk dibawah pohon sakura, membaca sebuah tulisan aksara, lantunan nya membuat ku terpana, terkagum-kagum aku dibuatnya, terimakasih telah membuatku terpesona, gadisku yang jelita"


"Berhenti menggoda ku Veldora! "


Aku naik darah, wajahku pun sudah memerah. Entah dari siapa Veldora belajar sesuatu seperti itu. Itu cukup menakutkan bagiku, bagaimanapun juga aku tidak sepenuhnya perempuan, mungkin jika aku ini orang lain, orang lain itu pasti akan pingsan.


Apa dia belajar dari manga? Novel?.


Tentang aku duduk dibawah pohon sakura itu adalah kebenaran. Aku sedang membaca buku ditemani hujan bunga sakura, tapi tidak aku sangka naga otaku ini mengintipku, sialan!.


"Kau duluan yang melakukannya"


Yahh... Dia benar, aku duluan yang menggodanya. Karma memang instant. Aku menghela nafas berat, setelahnya bertanya kepadanya.


"Apa dia baik-baik saja? "


Veldora membenarkan posisi duduknya, tangannya dibuat menumpu wajahnya. Terlihat suram.


"Diablo baik-baik saja. Namun, entah kenapa dia sedikit menjauh dariku. Waktu itu aku tidak sengaja melihat dia pulang dengan baju ternoda darah. Begitu banyak sampai-sampai baunya sangat menyengat. Dia pergi keruang bawah tanah, dan mengurung dirinya sendiri disana"


Aku tidak tau hal ini. Karena, aku tidak pulang kerumah selama 3 hari. Semua urusan rumah ditanggung oleh Veldora selama aku disini. Bisa dilihat dari wajah suram, sekaligus mata panda miliknya.


Sebenarnya aku diberi kebebasan untuk pulang atau tinggal. Terkadang aku pulang dan jarang sekali aku menginap. Menginap pun paling lama hanya 1 hari. Aku memecahkan rekor ku sendiri.


Veldora memantau segala urusan dirumah, terkadang dia akan pergi keluar untuk melihat bisnis penginapan milikku. Terkadang dia juga begadang mengerjakan dokumen hingga larut malam.


Dia bekerja begitu keras. Aku bangga padanya. Mungkin, aku akan memberi dia hadiah. Aku akan bertanya apa keinginannya nanti.


"Darah?... "


Aku menggumam pelan, keningku mengerut bingung. Kenapa bisa ada darah? Apa dia melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan ku?.


Aku menghela nafas pelan, mengurut pangkal hidung ku karena pusing. Ah! Bukan, maksud ku pura-pura pusing, bagaimanapun juga aku slime yang tidak merasakan sakit, benarkan?.


Eumm...

__ADS_1


Aku ralat, aku merasakan sakit saat menelan Veldora.


Veldora yang pada dasarnya memiliki pendengaran yang tajam menangkap kata-kata ku. Dia menghela nafasnya, sambil mengangkat kedua tangannya keatas, melakukan perenggangan.


"Samar-samar aku mencium bau yang berbeda dari darah itu"


Ucapnya sambil memakan cemilan yang tersedia dimeja. Udang dan sayuran yang terbalut dengan tepung itu jatuh kejurang dengan brutal.


Hah....


Bukankah dia baru saja makan tadi?. Sepertinya aku harus menjauhkan dia dari murid rakusku, agar setidaknya aku tidak bangkrut. Aku mulai fokus menanggapinya.


"Apa maksudmu? "


Dia menelan makanannya dengan susah payah, tangannya tergerak untuk mengambil minuman yang tersedia di atas meja, dia meminumnya dengan rakus seakan tidak ada esok hari.


Minuman itu kini hanya cangkang luarnya saja. Isinya telah pergi ketempat pembuangan. Dia bersendawa dengan keras, membuatku harus menutup setengah dari wajahku, agar baunya tidak masuk ke paru-paru ku.


"Bercak darah yang ada di tubuh Diablo memiliki bau yang berbeda, tidak seperti bau darah manusia pada umumnya, hanya saja aku hanya menciumnya sekilas, karena Diablo langsung pergi keruang bawah tanah dengan cepat. Dia juga memberi penghalang pada pintu sel, kupikir dia tidak ingin diganggu jadi aku pergi dari sana"


Aku memangku kepalaku, rambut biru keperakan ku yang sebagian terurai menggantung, bagaikan tirai yang menawan.


Sekarang aku mengerti, Diablo membunuh iblis. Entah itu untuk kesenangannya sendiri, atau mungkin untuk mengisi waktu luangnya. Begitu banyak kemungkinan sehingga aku tidak dapat memilih yang benar.


Masih setengah sadar, suara burung gagak masuk dalam indra ku. Aku duduk dengan tegak dan menyodorkan lenganku untuk dihinggapi oleh gagak tersebut.


Dibawah kaki gagak itu, terdapat kertas kecil berwarna putih terikat dengan rapi, jangan lupakan pita kecil berwarna merah muda.


Ugh...


Lupakan tentang pita itu...


Aku mengambil kertas itu dan mulai membacanya.


Salam hormat Rimuru-sensei


Maafkan atas kelancanganku karena memutuskan suatu hal tanpa persetujuan dari anda. Saya beserta hashira lain mengetahui rencana anda, kami berniat untuk membantu anda.


Saat ini kami sedang bersiap-siap untuk pergi menemui anda. Selagi kami mencari anda, kami akan melakukan penyamaran untuk menutupi identitas kami.


Kami benar-benar minta maaf atas hal ini.


Uzui Tengen.


"Surat yang singkat dan membuat merinding "


Aku menggumam pelan diakhir pesan. Lalu, tanganku terulur untuk membakar kertas putih itu.


"Aku menantikan kalian murid nakal, lagipula sudah lama aku tidak memarahi kalian, fufufu"


______


________


_____


Rumah kayu khas Jepang dengan lambang bunga wisteria adalah tempat dimana orang-orang disana membantu pemburu iblis tanpa mengaharapkan apapun.


Suara gemericik perhiasan putih terdengar beribawa, tatapan matanya begitu tegas dengan otot dan tubuhnya yang besar.


Hanya karena dia adalah 'atasan' dia memerintah sesuka hatinya, menyuruh ini dan itu pada pelayan sekaligus pemilik rumah tersebut.


Memesan 2 kamar untuk dirinya serta ketiga orang yang ikut dengannya. Berjalan dilorong yang sempit dan sepi, hingga sampai didepan kamar.


Pria itu menyuruh ketiga orang yang mengikutinya untuk masuk kedalam kamar, membuat rencana sekaligus memberitahu tujuannya.


"Setelah berhasil menyusup, kita akan mencari istriku dahulu dan mencari informasi mengenai iblis, aku juga ingin menemui seseorang yang penting bagiku" dia berbicara dengan tenang, menggantung tangannya di lutut sebagai tumpuan, benar-benar berandalan.


"Intinya kita memiliki 3 tujuan, ingat itu diotak kalian yang sempit" dia mengatakan itu dengan nada sarkas, 2 dari 4 orang disana tidak terima.


"Hah?! Istri?! Kau ingin aku mencarikan istrimu?! Yang benar saja?! "


"Apa maksudmu otak sempit hah?! Otakku tidak sempit tau! Bahkan aku bisa menghafal sesuatu hanya 1 detik! Dasar uzoyou"


"Namanya Uzui sialan! "


"Sudahlah kalian berdua tenanglah"


Urat kemarahan muncul didahi sang pria, memukul kedua kepala itu dengan keras hingga pingsan dan meninggalkan mereka disana.


Dia menutup pintu dengan kasar diikuti dengan aura yang menakutkan. Berjalan kesamping kanan untuk memasuki kamarnya dan beristirahat, untuk memperlancar tujuannya esok hari.

__ADS_1


"Kuharap surat itu sudah sampai, guru pasti merindukan murid meriahnya ini"


Dengan ini, dia menutup mata untuk memasuki dunianya sendiri.


_______


__________


_______


Keesokan harinya mereka berdiskusi kembali. Memilah rencana yang sesuai dengan kemampuan masing-masing. Menyamar semaksimal mungkin untuk terlihat menyakinkan.


"Permisi perlengkapannya sudah siap"


Seorang pria mengetuk pintu, membukanya sedikit untuk melihat orang yang ada didalam ruangan.


"Taruh saja disana"


"Dimengerti"


Sebuah kotak besar yang mencurigakan membuat tiga pemuda disana penasaran. Mengintip dari celah kotak. Badan mereka bergetar dan segera mundur.


"Apa-apaan?!! "


"Nah waktunya menyamar"


Waktu yang singkat itu diisi dengan tangisan, kemarahan dan pasrah. Mereka didandani dengan asal-asalan.


Bedak putih yang sangat tebal, rambut yang berantakan, perona merah yang sangat tebal serta lipstik yang belepotan dimana-mana. Menyeramkan.


"Kita pergi sekarang"


Distrik lokalisasi Yoshiwara, tempat hiburan malam dimana sebuah napsu dan pesona dari pria maupun wanita berkumpul menjadi satu, menjadikan tempat penuh dengan asmara cinta sementara dan kebencian dari relung dalam.


Distrik ini juga disebut sebagai distrik bunga, sama seperti namanya tempat ini memiliki bentuk sebuah bunga.


Pelacur-pelacur yang ada ditempat ini adalah orang yang miskin dan tidak memiliki pekerjaan untuk menompang kehidupannya, atau orang-orang yang terlilit hutang hingga harus mengorbankan badannya.


Tapi sebagai gantinya kehidupan mereka menjadi terjamin. Makan, minum maupun tidur.


Jika seorang pelacur dapat meningkatkan posisi dirinya sendiri, mereka memiliki kesempatan untuk merangkak dikasur bangsawan untuk menjadi keluarga dari bangsawan itu sendiri.


Yang paling menonjol dari mereka semua biasanya disebut sebagai "oiran".mereka adalah para wanita yang memiliki kecantikan, pendidikan dan prestasi yang luar biasa.


Untuk bertemu dengan oiran, mereka yang berpangkat rendah harus sering berkunjung ketempat ini agar bisa bertemu dengan mereka, seakan-akan mereka bersaing untuk berebut mata memandang oiran.


Disebuah jalan yang ramai 3 kurcaci dan satu raksasa berjalan beriringan. Membelah lautan manusia.


" kita akan kemana, Uzui-san? "


Uzui hanya diam, terus berjalan hingga sampai disebuah rumah pelacuran.


"Ini... "


"Ayo masuk"


Mereka melangkah masuk, didepan pintu mereka disambut hangat oleh seorang karyawan, mengantar mereka kekamar. Pelayan itu meninggalkan keempatnya sendirian.


Uzui mengetuk pintu pelan, setelah suara yang ada didalam memerintahkan keempatnya masuk, Uzui membuka pintu. Sementara 1 dari 4 orang disana merasa familiar dengan suara ini. Jantung nya berdebar kencang, rasa hangat menyelimuti hatinya.


Setelah dibuka sepenuhnya sesosok wanita (?) cantik terlihat sanggul tinggi dengan jepitan emas sangat menawan. Rambut biru keperakan nya sebagian terurai indah. Mata emas, kulit seputih salju, dan senyum indah itu...



Tanjiro membeku ditempat, matanya memerah, tidak tau apakah karena marah atau karena air mata, deru nafasnya seperti orang yang sesak nafas.


Wanita(?) itu juga terkejut, namun hanya sesaat, dia tersenyum hangat seperti matahari, lalu menyapa Tanjiro sama seperti dulu.


"Sudah lama tidak bertemu, Tanjiro-san"


Tanjiro diam badannya bergetar, entah karena menahan apa. Sementara yang lainnya hanya bingung menanggapi situasi yang cukup canggung ini.


Setelah lama terdiam, sambil membuka menutup mulutnya, dengan susah payah Tanjiro berbicara. Suaranya bergetar seperti tenggorokannya kering.


"Aku pergi dari sini"


Tanpa basa-basi dia pergi keluar meninggalkan mereka bertiga dengan rasa bingung. Rimuru masih sama tersenyum dan mulai melangkah.


"Biar aku yang mengejarnya"


(penulis: sebenarnya foto rimuru jepit nya lebih sederhana, tapi karena susah cari fotonya yaudah itu aja. sederhana tapi berkelas boss😂)

__ADS_1


__ADS_2