Perjalanan Rimuru Di Kny

Perjalanan Rimuru Di Kny
18. Rumah


__ADS_3

Rimuru duduk dibawah pohon, matanya menatap langit yang cerah, tubuhnya memang berada disana namun pikirannya melayang entah kemana.


Suara nyaring Helen membuyarkan lamunan Rimuru, menepuk-nepuk pelan bajunya, Rimuru berdiri dan siap menemui semua muridnya. Mantel kulit berwarna biru yang selalu dikenakannya saat mengajar di ingrassia membuat dirinya rindu dengan murid-muridnya.


"Ohayo sensei, okurete sumimasen" ucap mereka sambil membungkuk kan badannya


Rimuru tersenyum canggung sambil mengibaskan tangannya tanda tidak masalah.


"Kalau begitu sebaiknya kita latihan sekarang"


"Haik"


"Emm... Dan kau Sora"


"Iya? "


"Tolong buatkan minuman untuk kami ya? "


"Haik"


Sora berlari menuju dapur, menyiapkan minuman yang diinginkan Rimuru. Sementara Rimuru sudah siap dengan boken nya.


"Baiklah, majulah kalian semua"


Mereka menerjang Rimuru tanpa ragu, tidak peduli jika mereka bertarung dengan niatan membunuh, bagaimanapun Rimuru adalah sosok yang tidak dapat disentuh, jadi sekalipun mereka menyerang dengan sungguh-sungguh itu hanya akan membuang energi mereka sendiri.


DUAGHH


"Ugh... " obanai meringis saat siku Rimuru menghantam punggungnya.


Sriing


DUAGHH


"Agh... " Giyuu mencoba menahan teriakan yang hampir keluar dari mulutnya, darah sedikit merembes keluar dari mulutnya.


Kondisi para Hashira yang lain lebih mengenaskan ketimbang mereka bertiga. Giyuu, Obanai dan Gyoumei berhasil bertahan dari serangan main-main Rimuru. Namun, mereka harus kehilangan beberapa jari yang terpotong oleh boken Rimuru.


"Padahal hanya pedang kayu, tapi kenapa sekuat itu? " pikir Kyoujurou sambil terengah-engah ditanah.


Hashira yang lain juga terkapar ditanah, tidak sadarkan diri. Kondisi mereka hampir sama dengan ketiga orang tersebut tapi goresan ditubuh mereka lebih banyak dari orang yang selamat.


Rimuru mendekati mereka, lalu mengeluarkan segumpal cairan berwarna biru muda dan melemparkan cairan tersebut Kemurid-muridnya.


Saat cairan itu menyentuh kulit mereka, semua luka langsung hilang, seakan-akan memang tidak pernah terluka. Rimuru menghela nafasnya, lalu memasang kuda-kuda kembali.


"Ayolah, kalian baru 10 menit melawanku, masa langsung tepar? " ucap Rimuru dengan santai


"Itu karena kau sangat kuat sensei" Mitsuri merengek kecil, dan diangguki oleh Obanai disampingnya.


"Bukan itu faktor utamanya" Rimuru menggeleng tanda tidak setuju dengan ucapan Mitsuri.


"Faktor utamanya adalah kalian terlalu meremehkan musuh seakan diotak kalian selalu terpatri kata 'aku pasti bisa, aku pasti menang, akan aku kalahkan dirimu' lalu kau menyerang musuhmu tanpa strategi dan rencana, hanya karena kalian Hashira bukan berarti kalian bebas dari gelar manusia kalian, lalu baru saja kalian menyerang ku dengan niat membunuh, niat membunuh hanya akan menumpulkan semua seranganmu, karena kau akan terfokus untuk membunuh tanpa memikirkan peluang untuk dirimu melukai musuhmu bisa dikatakan kalian terbakar api amarah.... "


Rimuru mengambil secangkir teh yang disiapkan oleh Sora sebelum melanjutkan kata-katanya.


"... Kalian harus tenang untuk menyerang, kemampuan berpedang bukan sekedar mengayunkan, hunus, sayat dan tebas. Tapi, salurkan perasaan kalian pada pedang tersebut, peluang keberhasilan serangan-serangan yang kau berikan akan berdampak pada musuh, jika rencana yang satu gagal buat yang lain, jika peluang untuk menyerang lengan gagal serang perutnya, jika strategi kalian ketahuan buat strategi baru, apa kalian paham? "


"Kami paham, sensei"


"Baiklah, kalian minumlah dulu setelah itu kembali berlatih, kalian tidak akan pulang jika tidak menyentuh ujung rambutku"


"HEE!!?? "


Rimuru hanya hanya tersenyum tipis saat para Hashira menampilkan wajah suram mereka sambil mendekat untuk meminum teh mereka, namun hanya beberapa saat, setelah itu mereka langsung memekik heboh dengan rasa teh milik Rimuru.


"Wahh!! Ini sangat enak sensei"


"Ara~ aku setuju denganmu Kanroji-san"


"Umai!! "


"Teh apa ini sensei? Rasanya begitu lezat"


"Teh impor" ucap Rimuru sangat yakin dengan jawabannya, bagaimanapun juga teh tersebut datang dari jauh kan?.


Yang lain hanya bisa sweatdrop saat Rimuru mengatakan itu.


"Aku lupa kalau sensei orang kaya" batin mereka.


______________


________________________


_______________


Kembali ke beberapa saat yang lalu


Para Hashira terbengong dengan mulut menganga lebar, bahkan sanemi dengan wajah mengantuknya langsung melebarkan matanya tidak percaya.


Kyoujurou mengerjapkan matanya lucu, cemilannya sudah hilang terjatuh ketanah. Giyuu dan Shinobu menampilkan wajah cengo nya. Tengen mematung dengan mata melebar.


Mitsuri dan Obanai menganga dan mengerjapkan matanya berkali-kali. Sementara Gyoumei, dia beruntung dapat melihat pemandangan seumur hidupnya sekali. Mata Gyoumei sudah disembuhkan oleh Rimuru setelah Kagaya. Masih setia ditempat Gyoumei seperti Hashira lainnya, mulutnya menganga, matanya mengerjap-ngerjap, dan tangan masih setia dalam bentuknya (🙏).

__ADS_1


"Anu.... Hashira-sama apa anda sekalian tidak berniat untuk masuk kedalam? "


Seorang gadis dibelakang mereka bertanya, rambut panjang nya diikat dengan pita berwarna merah, seragam kakushinya sedikit berterbangan terkena sepoi-sepoi angin. Tersadar dari lamunan mereka, mereka mulai memalingkan muka, sedikit malu dengan sikap mereka beberapa detik yang lalu.


"Tentu saja kami masuk" Gyoumei bersuara, mewakili para Hashira lainnya.


"Kalau begitu, selamat datang dikediaman Rimuru-sama" gadis itu menyambut mereka dengan hangat, membuka gerbang lebar-lebar mempersilahkan mereka untuk memasuki kediaman tersebut.


Para Hashira melangkahkan kakinya, hati mereka sedikit menghangat saat disambut seperti itu, terutama untuk Kyoujurou. Menatap tanah dengan mata sendunya, membayangkan jika ayahnya melakuan hal yang sama.


Tidak ingin terlarut lama dengan kesedihannya, Kyoujurou menggelengkan kepalanya cepat, adiknya sudah cukup untuk menyambut dirinya, lalu sesaat kemudian senyuman lebar yang selalu diperlihatkan pada semua orang kembali mengembang.


_______________


_____________________


_______________


Dan sinilah mereka, ditempat guru baru mereka, dan berlatih bersama guru mereka, daripada berlatih mereka lebih menganggap melawan iblis bulan atas. Kekuatan guru mereka benar-benar bukan main.


Hanya dengan pedang kayu saja sudah dapat membuat luka gores yang cukup lebar, bahkan ada yang berulang kali pingsan, namun kembali tersadar hanya karena sebuah cairan berwarna biru muda tetapi bercahaya saat terkena sinar matahari.


Mereka yang penasaran selalu bertanya tentang cairan tersebut, tetapi guru mereka selalu menjawab


"Ini hanyalah obat, bukan racun atau apapun itu, jika tidak percaya kalian boleh meminumnya"


Dan dengan keberanian yang tinggi mereka mencoba cairan tersebut dan ternyata tidak terjadi apa-apa pada mereka, awalnya mereka mengira tidak masuk akal, tapi mengingat guru mereka yang tidak masuk akal, mereka hanya bisa percaya.


"Baiklah, waktunya makan siang, kalian semua makan sianglah disini, aku menyambut kalian dengan tangan terbuka" Rimuru tersenyum hangat, sehangat matahari saat itu, lalu berdiri meninggalkan mereka yang masih terengah-engah karena berlatih.


"Sora"


"Ya? "


"Tunjukkan kamar mandi pada mereka, siapkan baju untuk mereka juga"


"Dilaksanakan"


___________________


________________________


___________________


Para Hashira kembali menganga saat Sora mengantarkan mereka kekamar mandi.


Kamar mandi....


Tapi apa yang mereka lihat sekarang?


Ruangan yang besar ini tidak pantas disebut kamar mandi, ini lebih ke onsen daripada kamar mandi, para laki-laki dan perempuan dibedakan tempatnya, tetapi masih bersebelahan.


Sanemi terhuyung kebelakang akibat rasa keterkejutan nya. Dengan sigap, Kyoujurou menahannya, tangannya dan kakinya gemetar karena rasa terkejut, bukan hanya Kyoujurou namun Hashira lainnya mengalami hal yang serupa.


"Ha... Haha... "


Sanemi tertawa dengan wajah tertekan miliknya, sementara yang lain sudah mulai menguasai perasaan mereka.


"Aku tau sensei kaya raya, tapi.... " Tengen bersuara, Kata-kata nya menggantung diudara dan dengan cepat dilanjutkan oleh Giyuu.


"Ini adalah istana! " pekik Giyuu dan diangguki oleh Hashira lain.


Mereka mulai melepas pakaiannya dan berjalan kesebuah kolam air panas yang besar, merendam tubuh mereka disana, menikmati sensasi rileks.


"Omong-omong apa mereka juga bersenang-senang disana? " Obanai bersuara sambil memandang Pemandian disebelah mereka, hanya terpisah dengan pagar kayu yang tebal.


"Apa kau mengkhawatirkan Mitsuri? " Tengen membalas, mencoba bercengkrama dengan pawang ular tersebut.


"Apa yang kau bicarakan?! " Obanai mengelak, wajahnya direndam kan ke air sepenuhnya. Para Hashira hanya tertawa, sementara Giyuu dan Muichiro hanya tersenyum tipis.


Setelah selesai mereka memakai kimono santai yang telah disiapkan oleh Sora didalam kamar mandi tersebut, handuk yang masih berada dirambut yang basah sedikit digosokkan untuk mengeringkan rambut mereka.


"Ah~ tubuhku terasa sangat segar" Mitsuri mengatakannya dengan nada ceria seperti biasa.


"Kau benar Kanroji-san" Shinobu membetulkan perkatan Mitsuri


Saat ini mereka sedang menuju meja makan untuk makan siang, dipandu oleh Sora didepan. Saat sampai, pintu besar berwarna coklat menjulang tinggi, Sora membukakan pintu mempersilahkan mereka untuk masuk.


Ruangan ini lebih besar dari kamar mandi, karena mereka terus-terusan terkejut, jantung mereka sudah terlatih sekarang. Rimuru duduk dengan santai diujung meja.


Meja tersebut masih kosong, hanya menampakkan Rimuru yang membawa buku coklat dengan pinggiran berwarna emas, masih setia membaca dengan secangkir teh hangat.


"Kalian sudah tiba rupanya? " ujar Rimuru yang masih fokus oleh bukunya


"Duduklah makanannya masih belum siap"


"Baik, sensei"


Para Hashira yang lain berjalan mendekati kursi, hanya Shinobu yang masih setia pada tempatnya, membuat yang lain berpandangan heran.


"Sensei" Shinobu memanggilnya


"Hmm? " masih setia dengan bukunya, Rimuru sesekali menyesap tehnya.

__ADS_1


"Bolehkah saya membantu memasak makanan? Saya merasa sedikit tidak enak" ujar Shinobu sambil menunduk. Rimuru hanya melirik sekilas, lalu kembali berfokus pada bukunya yang entah apa itu.


"Silahkan" Rimuru memberi ijin pada Shinobu, dan dengan semangatnya Shinobu mengatakan terimakasih berkali-kali.


"Aku juga ikut Shinobu-san" Mitsuri berteriak saat Shinobu sudah meninggalkan ruangan.


___________


_________________


_____________________


Pintu coklat tua dengan beberapa hiasan berlian terpampang didepan Mitsuri dan Shinobu, dengan panduan Sora mereka bertiga saat ini berada di depan pintu dapur.


Berlian tersebut berkilauan indah, memantulkan sinar matahari yang menembus jendela, membuat jiwa menjual mereka meronta-ronta.


Sora terlihat gugup saat ingin membuka pintu dapur tersebut, tangannya bergemetar hebat dengan knop ditangannya. Mitsuri dan Shinobu hanya saling pandang, dengan keberaniannya Mitsuri bertanya pada Sora.


"Ada apa Sora-chan? " Sora menoleh saat Mitsuri menanyakan keadaan dirinya


"Sejujurnya... Ini adalah pertama kalinya aku masuk dapur saat menyiapkan makan untuk Rimuru-sama ditambah Diablo-san ada disana, dan itu adalah pertama kalinya aku akan melihatnya berkutat dengan peralatan dapur" ujar Sora dengan wajah memerah nya.


"Oh! Begitu rupanya. Tapi, tidak baik membuat mereka menunggu dan mungkin Diablo-san sedang kesulitan untuk memasak di dalam, sebaiknya kita segera masuk" Shinobu memberi saran, dan Sora hanya mengikuti perkataan Shinobu.


Pintu itu terbuka, menampilkan seorang laki-laki yang menawan tengah memegang sebuah loyang berisi kue kering yang belum jadi. Kemeja berwarna putih, celana yang berwarna hitam dan apron yang juga berwarna hitam melekat ditubuhnya.



Ketiga gadis itu terpesona dengan pemandangan tersebut, kemeja yang sedikit tipis itu menampakkan seluk beluk punggung sang laki-laki. Berjalan mendekati oven untuk memanggang kue keringnya, beberapa kali rambutnya terbawa angin yang masuk lewat ventilasi.


"Mau sampai kapan kalian disana? " dia bersuara, membuat para gadis tersadar dengan wajah merah mereka.


"Dan untuk apa kalian ada disini? " dia kembali berbicara, menatap tajam pada para gadis tersebut.


"Ka-kami ingin membantu mu Diablo-san" ucap Sora mewakili Mitsuri dan Shinobu.


"Tidak perlu aku bisa sendiri" Diablo menolak, tangannya terulur mengambil sebuah mangkok besar untuk mengaduk adonan kue lainnya.


"Kami hanya ingin membantu, lagi pula lebih banyak orang lebih baik kan? Dan juga Rimuru-sensei pasti sangat kelaparan sekarang" Mitsuri mengatakan itu dengan ekpresi sedihnya.


Bagai disambar petir, Diablo terkejut dengan perkataan Mitsuri, dengan semangat yang tinggi dia langsung memotong semua bahan dengan kecepatan tinggi, tidak akan dia biarkan tuannya kelaparan.


"Apa yang kalian tunggu?! Cepat bantu aku!! " ucap Diablo sambil memotong wortel dan kentang secara bersamaan, anehnya potongan-potongan tersebut terlihat rapi, membuat para gadis terkagum-kagum.


Para gadis berhamburan masuk kedalam dapur, melihat Diablo yang panik membuat mereka juga ikut panik. Diablo membagi pekerjaannya kepada mereka. Seperti, membuat adonan, memotong bahan-bahan, dan mencetak beberapa kue kering.


Kerusuhan namun menyenangkan terjadi di dapur, sesekali Mitsuri maupun Shinobu saling menabrak satu sama lain, sementara Sora terkadang menumpahkan terlalu banyak air dalam adonan. Dan untuk pertama kalinya Diablo tersenyum tipis namun sangat tulus dari hatinya.


_______________


___________________


______________________


"Wahh!! Memasak benar-benar menyenangkan! " Mitsuri kembali bersemangat dengan tubuh yang di renggangkan.


Awalnya para Hashira sempat kaget saat melihat Shinobu, Mitsuri dan Sora kembali dengan tubuh yang terhuyung-huyung, wajahnya mengungkapkan kata lelah, rambut mereka sedikit berantakan, dan tidak jauh berbeda dengan pakaian mereka.


Diablo menghela nafasnya lega, akhirnya tuannya tidak kelaparan sekarang, mengusap sedikit rambutnya kebelakang, dia mulai berjalan untuk menyajikan semua masakan yang dia bawa menggunakan food troli.


"Sepertinya kalian bertiga bersenang-senang" Rimuru tersenyum hangat, saat ini semua masakan sudah tersaji didepan mereka, namun tidak ada dari mereka yang menyentuh makanan tersebut.


"Sensei, siapa yang sebenarnya kita tunggu? " untuk pertama kalinya Sanemi bersuara setelah sekian lama terdiam, tentu saja jiwa penasarannya menjadi-jadi, padahal sudah tersaji makanan lezat, tapi gurunya tidak menyentuhnya sama sekali seakan menunggu seseorang.


BRAKK


Pintu berwarna coklat itu terbuka dengan kasar hingga terlepas dari engselnya. Sanemi yang masih penasaran terlonjak kaget hingga membuat dia hampir terjengkang kebelakang, andai Gyoumei tidak menahan kursinya, mungkin dia akan mengalami serangan jantung dan amnesia karena kepalanya yang akan terbentur terlebih dahulu.


"Seperti biasa kau sangat kasar pada pintu-kun, Veldora"


"Ha?! Apa kau memberi nama pada pintu ini Rimuru?! "


"Tidak. Tapi, kau selalu menghancurkan pintunya Veldora"


"Oh ayolah hanya pintu, tinggal diperbaiki apa susahnya? "


"Otakmu yang susah" Rimuru merasa jengkel dengan Veldora, sambil mengalihkan pandangannya ke taman tidak ingin melihat temannya, sementara Veldora hanya tertawa tidak jelas.


"Kau... " Giyuu menyipitkan matanya seakan pernah melihat pria berambut pirang tersebut.


"Oh! Dia adalah Veldora, kakakku" Rimuru memperkenalkan Veldora, dan Veldora yang duduk diujung kursi lain berhadapan dengan Rimuru hanya membalas dengan melambaikan tangan singkat.


"Yosh, semuanya! Mari makan! " Veldora berteriak, menyuruh mereka semua untuk mengikuti apa yang dilakukannya. Mereka mulai memakannya, dan pekikan heboh lainnya kembali terdengar.


Sesekali mereka akan bertengkar karena sesuatu atau mungkin mereka akan berembut menggunakan pisau kecil yang memang disediakan. Hingga berakhir dengan kepala benjol karena pukulan Rimuru.


"Bisakah seperti ini lebih lama lagi? " batin Rimuru yang menatap semua orang disana, menampilkan raut wajah bahagia.


"Rengoku Kyoujurou, Oyakata-sama telah memberi misi kwakk, kwakk pergilah ke stasiun untuk membasmi....... "


"Eh? "


(penulis: maaf baru up sekarang, karena saya ada ujian jadi saya fokus ke ujiannya. semoga chapter kali ini menarik, sayonara🖐)

__ADS_1


__ADS_2