Perjalanan Rimuru Di Kny

Perjalanan Rimuru Di Kny
16. Murid Baru


__ADS_3

Semua orang sudah berkumpul, mereka sudah siap untuk berdiskusi yang pastinya akan membuat kepala panas, ataupun situasi yang memanas. Rimuru masih dengan santainya meminum teh buatan Amane, mengabaikan tatapan tidak senang dari para Hashira.


"Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting untuk kalian, aku harap kalian mendengarkan dengan seksama" ucap Kagaya


Para Hashira mulai menajamkan telinga mereka, sebisa mungkin tidak ada satu perkataan yang terlewat dari pendengaran mereka.


"Aku ingin kalian melakukan latihan bersama, kemungkinan Muzan semakin waspada, kekuatan kalian ini ada batasnya dan jika tidak dilampaui tidak tau apa yang akan terjadi dimasa depan, bukankah begitu Rimuru-sama? "


Rimuru terkejut saat namanya dipanggil, menyipitkan matanya menatap Kagaya, lalu tersenyum dingin sekilas.


"Jadi.... Itu tujuannya? "


"Kau ingin aku menjadi gurunya, Kagaya-kun? " ucap Rimuru


"Ba-bagaimana anda bisa tahu? " ucap Kagaya terbata


"Menurutmu? " tanya Rimuru dingin, seketika atmosfer ruangan menjadi mencekam, tentu saja karena aura Rimuru.


"Maafkan saya, saya hanya ing-"


"Dasar bocah ingusan tidak sopan!! " Sanemi mengeluarkan suara tinggi dengan tangan menunjuk ke wajah Rimuru.


Diablo menatap tajam Sanemi, rahang bawahnya bergemeletuk menahan amarah. Nafasnya juga sedikit memberat.


"Apa maksudmu ucapanmu itu, bocah tidak tau diri!! " ucap Diablo dengan penekanan disetiap kata.


Bulu kuduk Sanemi berdiri, bukan hanya Sanemi tapi semua orang yang ada disana kecuali Rimuru. Sanemi mulai takut. Namun, karena harga dirinya yang tinggi, dia tetap melangkah maju.


"Apa?! Apa aku salah?! Bocah ini adalah pemburu iblis, pangkatnya Kinoe, tentu saja dengan pemimpinnya harus berbicara sopan!! " ucap Sanemi dengan penekanan di kata sopan.


"Turunkan nadamu dihadapan Rimuru-sama, Sanemi!! " ucap Kagaya meninggikan suaranya juga, dengan intonasi yang menusuk dan dingin.


Para Hashira terkejut, ini pertama kalinya Kagaya mengeluarkan suara tingginya. Shinobu berdiri, menarik lengan Sanemi dan menyuruhnya duduk, sementara Sanemi hanya mengikuti Shinobu.


"Ma-maafkan saya Oyakata-sama" ucap Sanemi menunduk


"Sejujurnya siapa yang menjadi pemimpin disini? " gumam Rimuru lirih, yang masih didengar oleh Kagaya.


"Tentu saja, anda pemimpin kami, Rimuru-sama"


"Benarkah? "


"Tentu"


"Lalu, kenapa kau menyembunyikan tujuan aslimu menyuruh ku kesini Kagaya-kun? Walau sejujurnya aku sudah tahu semuanya, tapi itu tetap membuat ku terkejut sekaligus kecewa, semua bawahan ku tidak pernah menyembunyikan rahasia, kecuali kehidupan pribadinya. Tetapi, kau... Menyembunyikan sesuatu seperti ini padaku? Bagaimana caraku untuk menghukummu? "


"Rimuru-sama! Jika anda.... Jika anda ingin menghukum suamiku, maka anda juga harus menghukum ku" ucap Amane memohon pada Rimuru sambil bersujud.


Para Hashira hanya menatap bingung, mereka semua tidak mengerti dengan situasinya sekarang, sejujurnya apa yang sudah terjadi tanpa sepengetahuan mereka?.


"Amane, ini adalah salahku! Jadi kau tidak perlu ikut campur! Rimuru-sama, ini adalah kesalahan saya, saya harap anda hanya menghukum saya, jangan libatkan keluarga saya, bagaimanapun mereka tidak tau apa-apa"


Rimuru hanya memijit pangkal hidungnya, saat ini dia sedang memikirkan hukuman yang pantas untuk didapatkan, tapi karena kesalahan dibilang cukup kecil, akhirnya Rimuru sudah memutuskannya.

__ADS_1


"Kau dilarang keluar kamar selama seminggu, tidak boleh berinteraksi dengan orang disekitar, bisa dimengerti? "


"Saya mengerti, Rimuru-sama"


"Hey! Apa-apaan ini! " ucap Sanemi


"Kagaya-kun? "


"Iya, Rimuru-sama"


"Kau bilang aku akan menjadi guru mereka kan? Kalau begitu aku akan menerimanya, hanya saja aku akan memberikan mereka kesempatan untuk bertarung denganku, yah.. Bisa dilihat dari wajah mereka yang tidak menyukaiku dan begitu meremehkanku, bagaimana menurutmu? "


"Terserah anda saja"


"Kalau begitu anak-anak nakal.... " ucap Rimuru sambil berdiri, menepuk-nepuk lembut bawah pakaiannya, dan mengangkat jari telunjuk keatas sambil tersenyum bangga. Hahh.... Sepertinya Rimuru menjadi mode guru sekarang.


"Waktunya memberi kalian pelajaran pertama, yayaitu kesopanan"


Dihalaman belakang kediaman Kagaya


Rimuru sudah bersiap dengan tongkat kayunya sementara para Hashira menggunakan pedang sungguhan. Awalnya Sanemi kembali mengamuk dan mengatakan 'kenapa bocah rambut biru itu menggunakan boken? Apa dia meremehkan kita? 'Itulah yang dikatakan nya, dan masih banyak lagi.


Para Hashira sudah bersiap, mereka mencabut pedang nya dan mulai melakukan kuda-kuda bertarung. Rimuru bisa mendengar suara nafas yang berbeda-beda. Tentu saja mengingat jurus mereka yang berbeda pula.


"Mulai" Rimuru memberi intruksi untuk mereka maju


Tidak perlu berlama-lama, mereka menyerang Rimuru secara serentak, yang pertama adalah wanita berhairpin kupu-kupu. Rimuru bisa mendengar suara gemerincing dalam wadah pedangnya. Rimuru juga mencium aroma racun didalamnya.


"Baiklah anak-anak nakal, pelajaran yang dapat kita petik barusan adalah, jangan lengah dalam setiap pertempuran, entah itu lawan maupun kawan, apa kalian mengerti? "


Para Hashira hanya memandang Rimuru tajam, mereka kembali menerjang Rimuru termasuk Shinobu yang sudah kembali berdiri, dan berusaha menahan nyeri dibagian perutnya.


"Teknik pernapasan angin, bentuk kedua: cakar angin" tiba-tiba hembusan angin yang sangat tajam yang meninggalkan bekas seperti luka cakar binatang mengarah ke Rimuru.


Rimuru hanya menghela nafasnya, lalu dengan gesit dia menghindari semua serangan-serangan tersebut dengan mudah, Rimuru menghilang dari tempatnya dan muncul dibelakang Sanemi, lalu memukul punggung Sanemi dengan boken. Sanemi meringis kesakitan ditambah dia juga terpental dan menabrak pohon mangga yang cukup besar.


"Pelajaran kedua, kalian boleh bersemangat, tapi juga harus dikontrol" ucap Rimuru.


Hari ini semua Hashira babak belur dihajar Rimuru, Kagaya hanya mengamati dari kejauhan, tidak berani mendekat kearea pertempuran, ditambah Rimuru yang cukup bersemangat mengejar, membuat Kagaya tersenyum lembut.


"Pelajaran kelima, pegang pedangnya kuat-kuat. Jika tidak, nanti bisa terpental dan musuh bisa membunuhmu dengan mudah"


Kini giliran Kyoujurou dan Tengen yang maju dengan luka lebam di pipi dan tubuh mereka membuat mereka menahan sakit sambil terus mengayunkan pedangnya.


"Pernapasan api jurus kesembilan: Rengoku"


"Pernapasan suara jurus pertama: guntur"


Rimuru hanya menghindar dengan mudah, bahkan mereka tidak dapat menyentuh Rimuru sama sekali, jangankan tubuhnya, rambutnya saja mereka tidak dapat menyentuhnya. Rimuru maju, kali ini dia memukul kedua kaki Kyoujurou dan Tengen, membuat mereka jatuh terduduk dan menahan sakit dikaki.


Rimuru melihat sekitar, para Hashira semua terduduk di tanah dengan pedang menancap sebagai tumpuan, nafas mereka terengah-engah, sepertinya Rimuru sudah berlebihan. Rimuru berdehem, membuat 9 eksistensi menoleh kearahnya.


"Nah, bagaimana sekarang? Apa ada yang masih keberatan jika aku menjadi guru kalian? "

__ADS_1


Para Hashira hanya diam, tidak ada yang berani berbicara. Rimuru mangut-mangut mengerti.


"Kalau begitu mulai saat ini kalian harus memanggilku sensei, cobalah"


"Baik sensei" ucap mereka lirih bahkan hampir tidak terdengar. Rimuru tersenyum dan mengerjai mereka.


"Aku tidak dengar, sepertinya kalian masih keberatan, bagaimana kalau kita latihan lagi? "


"Tidak! Terimakasih atas tawarannya sensei! " ucap mereka serempak.


"Pffftt" Rimuru tersenyum, membuat semua orang disana terpesona.


"Sasuga Rimuru-sama" ucap Diablo


"Apa anda butuh sesuatu untuk menghilangkan rasa lelah anda? "


"Hmm tentu! Buatkan aku teh"


"Hanya itu? "


"Iya! Selain itu kau harus menyelesaikan masalah mu dengan gadis yang ada disana" ucap Rimuru sambil menunjuk seorang kakushi perempuan yang mengintip di pohon besar.


"Dimengerti" ucap Diablo lalu berlalu pergi membuat teh.


"Dan untuk mu Kagaya-kun"


"Saya disini Rimuru-sama"


"Aku akan memberikan hadiah untukmu, kemarilah dan tutup matamu"


Kagaya berjalan menuju Rimuru dibimbing Amane, setelah sampai Kagaya menutup matanya seperti yang dikatakan Rimuru.


Rimuru mengangkat tangannya, lalu diletakkan diatas kepala Kagaya, semua orang disana kebingungan. Rimuru berkonsentrasi mengalirkan sedikit auranya pada Kagaya.


Kagaya merasakan ada sesuatu yang mengalir dalam dirinya lalu menumpuk menjadi satu dikepalanya. Rimuru bergumam lirih menyebut jurusnya.


"Api hitam"


Seketika seluruh tubuh Kagaya tertutup oleh api, semua orang disana terkejut dan mulai berancang-ancang menyerang Rimuru, namun suara Kagaya menghentikan mereka. Setelah selesai Rimuru menyuruh Kagaya untuk membuka matanya.


Lagi-lagi Kagaya terkejut, dia dapat melihat sekarang, semua orang disana juga terkejut. Kagaya berlutut pada Rimuru dan melakukan sumpah setia padanya. Rimuru hanya tertawa canggung, lalu beristirahat sejenak disana sebelum kembali pulang.


Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Rimuru pun pulang ke kediamannya, Rimuru juga bilang kepada para Hashira untuk latihan di kediamannya besok, dengan bimbingan elangnya. Mereka mengangguk sekali.


"Hahh... Hari yang melelahkan ya Ciel? "


[Anda benar, Master]


(penulis: selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan, semoga puasa kalian semua lancar, sampai jumpa lagi di chapter berikutnya)


nih ada bonus foto


__ADS_1


__ADS_2