Perjalanan Rimuru Di Kny

Perjalanan Rimuru Di Kny
26. Manusia atau Iblis


__ADS_3

Pagi yang cerah dengan burung berkicau terdengar seperti alunan musik di kapal pesiar, terdengar kuno namun memiliki khasnya sendiri.


Matahari yang mengintip dari awan masuk ke celah jendela yang terbuka, wajah cantik yang tertidur pulas menggeliat tidak nyaman dan membuka matanya.


Tidak seperti kebanyakan orang yang harus mengumpulkan nyawa terlebih dahulu, dia langsung duduk lalu melihat langit indah di pagi hari itu. Senyum menawan terukir dibibir merah mudanya yang berwarna bunga sakura.


Kulit putih, rambut keperakan yang jarang dimiliki oleh orang lain, mata keemasan menambah nilai yang tak terhingga, membuatnya layaknya seorang dewi keabadian dari kejauhan yang turun melawan kebosanan.


Mengambil jubah mandi birunya, dia masuk kekamar mandi dan mulai berdandan. Lipstik merah, dan bedak tipis membuatnya menjadi kecantikan nomor 1 tiada tanding.


Dia menggeser pintu kayu, perlahan melangkah keluar menuju tempat pertemuan yang telah dijanjikan. Berbekal pakaian kimono dengan rok pendek berwarna putih dan hitam lalu hair stick emas berbentuk phoenix dengan ruby merah ditengahnya dan rumbai emas dengan ujung permata merah menghiasi kepalanya, semua laki-laki disana hanya bisa menahan seteguk air liur.




4 pria dari kejauhan yang memandang Rimuru berekspresi gelap.


"Beraninya mereka memandang Rimuru/San/Sama/Sensei seperti itu!! "


Dengan hati yang geram, mereka memandang sekumpulan sampah hidup ini dengan mematikan. Rimuru yang melihatnya hanya terkekeh pelan, tidak mengira bahwa mereka akan se posesif ini.


Rimuru melangkah maju di teh persimpangan jalan, sepatu hak tingginya mengetuk tanah dan menimbulkan bunyi.


"Apakah aku sangat cantik Ciel?? "


[Anda sangat cantik master]


"Oh? Kalau begitu apakah aku akan mendapatkan seorang suami? "


[Omong kosong! ]


"Hahaha bercanda"


Rimuru berjalan, senyuman nya semakin lebar dan menampakkan deretan gigi putih, matanya menyipit dengan menggoda, tidak bisa menahannya lagi para pria langsung mencari beberapa wanita dirumah bordil untuk dimainkan dengan fantasi mereka sendiri.


Rimuru yang merasakan gerakan ini tersenyum lebih lebar, akhirnya dia akan kenyang dengan semua emosi negatif ini, lagipula ada bawahannya yang harus diberi makan juga.


Kemunculan Rimuru membuat sensasi dan kegemparan, pasalnya untuk menemui oiran yang berperingkat tinggi tidaklah mudah, agar bisa bertemu mereka para pengunjung harus sering datang ke distrik lokalisasi seolah bersaing untuk bertemu dengan oiran.


"Apa kalian sudah memesan sesuatu? "


Rimuru bertanya dan tersenyum lembut, dia melambaikan tangannya untuk memanggil pelayan, dia duduk tepat disebalah Tanjiro dan Zenitsu.


"Kami baru saja tiba Rimuru-sama"


Diablo memandang tidak sedap pada Zenitsu yang gemetar disamping Rimuru, tangannya berkeringat sampai gelas yang dibawanya hampir tergelincir kebawah.


Melihat tatapan mengerikan Diablo, Zenitsu langsung membuang muka, tidak ingin tatapan mengerikan itu membunuhnya.


"Kalau begitu kita mulai diskusinya"


Rimuru menunjuk langit-langit kayu, dan dalam satu detik suara jentikan jari terdengar.


Pelindung berwarna putih terbentuk dari atas hingga kebawah kursi, Tanjiro dan kawan-kawan melihat fenomena ini dengan heran, sementara Uzui hanya menyesap tehnya seperti tidak terjadi apa-apa.


"Kenapa kalian melihat seperti itu? Terkejut? Hah! Itu adalah kemampuan guru kami!! "


Mengatakan hal itu didalam hati, Uzui tersenyum bangga, membusungkan dada dan kepalanya penuh kesombongan.


"Hari ini aku mengumpulkan kalian karena aku mendapat informasi"


"Informasi apa sensei? "


"Dengan teknik pernapasanku, beberapa hari yang lalu aku membuat tikus tanah liat untuk menyusup dirumah yang ada di distrik ini. Hal yang aku temukan cukup mengejutkan, kalian akan menghadapi iblis tingkat atas ditempat ini"


"Apa?! "


Keempatnya menoleh tidak sabar, ada rasa cemas, takut dan khawatir diwajah mereka, kecuali Inousuke yang bersemangat untuk mengajak tanding dengan iblis yang lebih kuat darinya.


"Dan juga beberapa tikus tanahku memberitahu kepadaku bahwa istrimu Suma 'kehilangan pijakan', hal ini diperkuat dengan catatan yang ditulis olehnya sendiri dimeja kamarnya, lalu istrimu Makio sedang disekap oleh iblis dikamarnya, iblis itu curiga karena dia terus mengirim surat kepadamu, dan selanjutnya aku berhasil menyelamatkan hidup Zenitsu dari iblis itu, untung hanya pingsan, jika dia mati entah apa yang akan terjadi"


Uzui hanya diam, dia menundukkan kepalanya lebih dalam dan dalam, tidak ada yang tau raut wajahnya, tapi bisa dilihat kalau dia sedang cemas dan kesal.


"Bocah, aku sedang berbicara dengan mu, demi menyelamatkan istrimu kau membuat langkah yang salah, kau hampir melenyapkan nyawa seseorang, tidak! Dalam beberapa hari terakhir ini meski tidak sepenuhnya terhubung denganmu ada banyak nyawa orang yang meninggal. Kau sudah salah langkah, dan kau masih tidak sadar, apakah aku mengajarimu seperti itu? Aku mengajarimu strategi bertarung karena keahlianmu, tapi apa yang kau lakukan.. "


Rimuru menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya, dia mengambil gelas tehnya dan menyesap tehnya dengan tidak sabar, tanpa dilanjutkan Uzui sudah tau apa yang ingin dibicarakan oleh Rimuru.


"Ini adalah salahku, kalian bertiga.. "


Uzui memandang Tanjiro dan kawan-kawan dengan wajah menyesal, dia berusaha menyesuaikan suasana hati dan melanjutkan perkataannya.


"Kalian bertiga bisa pergi dari sini, pergi sejauh mungkin, sejujurnya aku merasakan hawa yang tidak enak pada hari kedua setelah disini, namun aku tidak bisa mendeteksi secara pasti, karena hal-hal yang berbahaya sudah terjadi, aku hanya bisa menyuruh kalian menjauh dari sini selain itu peringkat kalian sangat rendah untuk pertarungan 'saling membunuh' ini"


"Tidak, Uzui-san!.. "


Uzui tiba-tiba berdiri, dan berjalan pergi dari penghalang, saat dia hampir melangkah keluar dari pintu, dia menghentikan langkah kakinya dan menoleh.


"Jangan malu, pemenang bertahan hidup, jangan kacaukan kesempatan ini"


Tanjiro ingin menyusul Uzui, tapi dia mengurungkan niatnya dan menatap Rimuru, usahanya untuk membujuk Uzui akan sia-sia, namun Rimuru berbeda.


Dia bergeser ketempat Rimuru, untuk berbicara, tapi sebelum mulut itu sempat terbuka, Rimuru sudah menyela.


"Jangan hentikan dia"


Tanjiro tertegun ditempat, lalu bertanya dengan cemas.


"Kenapa? "


"Bukan apa-apa, hanya untuk mendewasakan dirinya, selain itu dia butuh keadaan yang tenang untuk berpikir jernih, jika kau ada disana apa itu akan membantu? "

__ADS_1


Tanjiro diam, dan hanya bisa melihat gelas kosong miliknya. Rimuru yang melihat ini tergerak, dia mengulurkan tangannya dan memegang tangan Tanjiro.


Tanjiro terkejut sejenak, lalu melihat Rimuru secara spontan. Saat ini yang dilihat oleh Tanjiro adalah cahaya matahari yang menyinari wajah lembut dan putih itu, Rimuru tersenyum, bibir sakura dan rona merah asli di pipinya membuat dia sangat menawan.


Tanjiro tidak bisa menahan detak jantungnya jadi dia membuang muka ke samping, takut wajah merahnya dilihat oleh Rimuru.


"Tidak perlu khawatir, dia adalah muridku dan aku tau semua sifat muridku, dia tidak akan melakukan hal yang ceroboh, kecuali dia siap mati di pedangku"


"Iya.. "


Tanjiro menjawab samar, masih menyembunyikan wajah merahnya.


Inousuke yang sudah lama penasaran bagaimana cara untuk membuat perisai tidak bisa menahannya lagi, dia berdiri dan menggebrak meja keras-keras, lalu menunjuk Rimuru dengan jari telunjuknya.


"Sial! Bagaimana caramu membuatnya?! Itu mengesankan! Ajari aku! "


"Hah? "


Rimuru tidak mengerti dan memiringkan kepalanya bingung.


"Dia bilang bagaimana caramu membuat perisai hanya dengan jentikan jari"


Veldora yang masih memegang manga ditangan kirinya dan teh hangat ditangan kanannya, menerjemahkannya.


"Sejak kapan kau mengerti bahasanya? "


Veldora mengangkat alisnya, bertelepati dengan Rimuru.


"Aku naga tentu saja bisa"


Rimuru menghela nafasnya dan menjawab


"Terserah"


"Jadi bagaimana kamu melakukannya?! "


Inousuke bertanya dengan antusias, dari dua lubang hidungnya mengeluarkan asap seperti banteng.


"Tenanglah dan duduklah dengan benar. Aku bisa membuatnya karena teknik pernapasan milikku"


"Apakah itu ciri khasnya? "


Zenitsu mulai penasaran.


"Itu benar. Berbicara tentang nafas, apakah diantara kalian ada yang mencium bau busuk? "


Mereka yang ada disana menghirup udara dengan kuat, dan didetik kemudian mata mereka melebar tak percaya.


"Ini.. Bau ini.. "


Zenitsu bergetar hebat, memegang katana kuningnya kuat, Tanjiro dan Inousuke waspada. Rimuru mengernyitkan alisnya bingung.


Sejak kapan mereka dapat berdiri dibawah matahari?


Rimuru memandang Veldora, sementara Veldora memandang luar jendela. Mata emasnya bersinar, menampilkan pupil mata runcing milik klan naga.


Diablo bermain dengan sarung tangannya, tapi siapapun yang memiliki penglihatan yang bagus, tangannya bergetar menahan gembira. Tersenyum menampakkan deretan gigi putihnya dan beberapa gigi runcing nya.


Rimuru mengalihkan pandangannya, sudahlah yang terjadi biarlah terjadi.


.


.


.


"Muzan-sama!! "


Seorang perempuan setengah telanjang bergegas masuk kedalam sebuah rumah. Dia menggeser pintu kayu tersebut dan melihat seorang pria duduk dengan nyaman di meja kayu.


Tangan kanannya memegang gelas transparan, didalamnya terdapat cairan merah kental sekaligus amis. Dia tersenyum saat melihat perempuan itu.


"Lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu? "


Dia berdiri dari meja itu, menggigit jarinya dan darah berwarna gelap menetes kedalam cairan merah itu.


Lalu dia berjalan mendekati perempuan itu, menyerahkan gelas kepada perempuan tersebut.


"Ambillah dan minum lah"


Perempuan itu tidak melawan perintah, dia memegang gelasnya dan meneguk nya dalam sekali teguk. Beberapa detik kemudian, bunyi gelas pecah begitu menakutkan disusul oleh teriakan kesakitan.


Pria itu, Muzan, hanya tertawa dengan keras. Mata merahnya bagaikan kucing di tengah malam, gigi runcingnya terlihat bersama senyum yang mengembang.


"Daki"


Perempuan yang dipanggil Daki melihat ke atas sambil mencekik tenggorokannya sendiri. Tubuhnya bergetar akibat menahan sakit. Muzan mengulurkan tangannya dan membelai pipi Daki, anehnya Daki menjadi tenang setelah disentuh oleh Muzan.


"Aku menaruh harapan yang besar kepadamu. Kau lebih cantik dari siapapun. Kau cukup kuat hingga dapat mengalahkan 7 pilar. Kau akan menjadi lebih.. Lebih kuat... Lebih kejam. Kau adalah iblis yang spesial"


Ditengah ketenangan Daki memandang Muzan, petikan biwa terdengar dan tubuh Muzan lenyap seketika.


Daki tersenyum lalu tertawa, apapun yang terjadi dia harus melakukan tugasnya dengan baik.


.


.


.


Perempuan berambut hitam disanggul dengan pernak-pernik indah dan mencolok. Para pelayan berlari kesana kemari untuk mendandani perempuan itu.

__ADS_1


Orang yang dilayani ini mengatakan kalau dia menginginkan sesuatu dan ingin pergi sendiri, ini adalah pertama kalinya dia pergi jadi dia berdandan sangat cantik untuk menarik perhatian.


"Ini adalah jebakan untuk kalian, bersiaplah"


Ditengah kesibukannya dia berbicara samar, lalu tersenyum lebar sambil memiringkan kepalanya, menatap luar jendela.


.


.


.


Rimuru masih didalam toko teh, dia berpikir sangat keras sementara Tanjiro dan kawan-kawan mulai cemas tingkat dewa. Diablo sesekali tertawa, dan Veldora sesekali melihat jendela, membuat suasananya menjadi aneh dan canggung.


Ditengah suasana tegang ini, suara halus seperti komputer mengalir kedalam otak Rimuru.


[Jebakan Master]


"Aku tau"


[Apa rencana anda selanjutnya? ]


"Analisis semuanya dan beri padaku segera setelah kau mendapatkannya mengerti? "


[Oke Master]


Rimuru memandang Tanjiro disebelahnya, cukup lama hingga Tanjiro menoleh untuk melihat Rimuru.


"Tanjiro-san, apa tanggapan mu tentang ini? "


"Ini bahaya, Rimuru-san jika iblis itu dapat berdiri dibawah sinar matahari maka tamatlah sudah! "


"Kau percaya begitu saja? "


"Apa maksudnya, Tempest-san? "


Zenitsu menyela mereka, mengernyitkan alisnya bingung.


"Kau dapat mendengar suara lebih bagus, tentu saja kau pasti mengerti"


Tanjiro menoleh untuk melihat Zenitsu, sementara Zenitsu hanya diam dan menggigit jari telunjuknya seperti memikirkan sesuatu.


"Aku mendengar nafas iblis, tetapi kenapa terputus-putus? Mungkinkah.. "


Mata Zenitsu melebar tak percaya, dia membeku ditempat dan tidak tau harus menaruh tangannya dimana.


Tanjiro merasa ada yang salah, jadi dia mengandalkan kemampuan penciuman miliknya dan menemukan kejanggalan.


"Ini... "


Rimuru tersenyum dengan pikiran cerdas mereka, dan menganggukkan kepalanya lembut.


"Benar ini jebakan, eksperimen untuk berdiri dibawah matahari belum sempurna tapi dia memancing kita untuk keluar, dia mengeluarkan bau busuknya agar siapapun pemburu iblis datang kepadanya dan masuk dalam jebakannya"


"Lalu Uzui-san... Bagaimana dengan dia? "


"Tidak perlu khawatir, panca indra nya lebih hebat dari kalian, kejanggalan yang terlihat jelas ini, dia menemukannya terlebih dahulu"


"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Bagaimana dengan rencananya? "


"Zenitsu"


Zenitsu menoleh kearah Rimuru.


"Kau bego"


"Hah?! "


"Tapi, kau sangat cerdas dalam keadaan kritis seperti ini, aku serahkan rencana kecil untuk mengalihkan perhatiannya kepadamu"


"Apa maksudmu?! "


Zenitsu berteriak ngeri, dia berdiri dan menggebrak meja cukup keras.


"Beraninya kau bocah"


Diablo yang duduk disebelah Veldora dan tepat dihadapan Zenitsu memandangi nya, wajahnya hitam dan tangannya mengepal. Zenitsu menciutkan lehernya dan duduk kembali dengan sedih.


"Zenitsu ini adalah keadaan hidup dan mati, aku serahkan ini kepadamu, karena aku percaya kamu pasti bisa"


Zenitsu menunduk dan memegang katananya lebih kuat dan kuat, sampai Jari-jari nya putih bagaikan mayat.


"Dimengerti, aku akan melakukannya! "


Zenitsu berteriak, teriakan yang penuh semangat, Tanjiro tersenyum melihatnya, dan Inousuke menepuk-nepuk pundak Zenitsu sampai berbunyi.


"Hari ini... "


Mereka bertiga menoleh untuk melihat Rimuru yang memegang cangkir teh.


"... Akan menjadi kisah baru dalam lembaran baru, kemenangan umat manusia"


Ketiga orang itu mengangguk dan memegang katananya kuat. Pasti! Manusia pasti menang! Sekalipun harus mengorbankan nyawa ini, mereka akan menang!


Disatu sisi api gelora pertempuran demi manusia dan disatu sisi semangat untuk menaklukkan dunia. Diantara mereka siapakah yang pada akhirnya menang?


Apakah manusia?


Ataukah iblis lagi?


Malam ini semua akan dipertaruhkan di distrik ini.

__ADS_1


__ADS_2