
Mereka terus berdiskusi hingga tengah malam. Mengetahui bahwa semua orang lelah Rimuru pun mengusir mereka untuk tidur dikamar masing-masing.
Saat Tanjiro ingin keluar dari pintu, dia menoleh kebelakang dengan enggan lalu menghela nafas dan berjalan keluar dari ruangan itu. Untuk saat ini Rimuru akan menginap dengan Veldora.
Sementara disisi lain.
Dentang rantai yang bertabrakan satu sama lain terdengar nyaring bersamaan dengan suara daging yang tertumbuk. Pria berambut emas terduduk lemas dilantai, dikepalanya terkulai lemah.
Tidak ada suara keluar dalam tenggorokan yang menganga dengan darah keluar begitu deras hingga membentuk anak sungai kecil. Rantai di lehernya menembus kedalam kerongkongan.
Dikaki dan tangannya juga diikat dengan rantai yang terus bergerak setiap getaran hebat dari tubuhnya. Rantai berduri panjang ditancapkan di pinggangnya membuat beberapa lubang besar dan dalam disana. Sesekali akan terlihat organ dalam disana saat dia menggerakkan sedikit tubuhnya.
Pria berambut hitam diatas tubuhnya terus menyiksanya, palu besi panas tertanam jauh kedalam dada saat pria berambut hitam itu terus menumbuk nya, beberapa tulang rusuk menancap di jantung nya. Anehnya saat ini pria yang lemas itu masih hidup, jantungnya berdetak lemah walau sudah tertusuk tulang berkali-kali. Tidak ada tanda-tanda akan berhenti.
Geraman kecil sekali keluar dari pria berambut emas itu saat palu panas menghantam kakinya hingga melepuh lalu hancur. Gertakan gigi lawannya terdengar diruangan yang sunyi, dia membuang palu nya, membalikkan badan dan mencekik leher orang dibawahnya dengan erat.
Rantai besi itu lebih jauh tertanam. Tidak cahaya dimatanya hanya tatapan kosong menginginkan kematian. Pria berambut hitam itu melihatnya, lalu tersenyum sinis dan mencibir.
"Apa kau sudah menyerah? "
"Tidak... " gumaman lemahnya seharusnya tidak terdengar, namun karena suasananya yang sunyi itu terdengar cukup jelas.
Pria lawan mendengus kasar, membanting orang ditangannya dengan satu gerakan, membuat rantai di pinggang itu menembus ususnya, erangan menyakitkan namun lemah kembali terdengar. Pria itu mencekik nya lagi mengangkatnya hingga hidung nya hampir bersentuhan. Bau amis seharusnya membuatnya muntah, namun itu menambah nafsunya.
"Jika kau memberitahuku sesuatu yang berharga aku akan membuat kematianmu lebih mudah, bukankah cukup sengsara seperti ini? Ah? Atau jangan-jangan kau menginginkan lebih? "
__ADS_1
"Tidak ada.... Tidak... Mau"
Pria itu mengernyit tidak suka, saat hampir membuka mulutnya, pria itu meronta dan meraung, suaranya tersendat akibat cekikan tak berperasaan milik lawan. Rantai di seluruh tubuhnya berdentang hebat, bertabrakan satu sama lain, kakinya terus menendang kedepan.
"Diablo... Kau... Baj*ngan... Lebih baik... Dibunuh olehmu daripada 'dia'! "
"Oh? Sayang sekali aku tidak berniat mengabulkannya"
Setelah itu Diablo kembali melempar orang ditangannya hingga menabrak dinding batu, kepalanya terlebih dahulu menghantam, menyebabkan aliran darah kembali keluar menetes sampai kelopak matanya, bulu mata cantik itu terkulai lemah dengan getaran. Detik itu juga pintu besi terbuka.
Sosok itu berdiri menghalangi cahaya lilin, pupil mata merah emasnya seperti serigala kelaparan, lentera berwarna biru menggantung tangannya, kain pada tangan yang awalnya putih menjadi merah, api biru di lentera yang awalnya kecil dan tenang mulai berkobar memenuhi setiap celah lentera.
"Douma kau benar-benar menjijikkan"
Dengan itu pintu kembali tertutup, suara langkah kaki dan cipratan air menggema disetiap lorong menambah air dingin di suasana mencekam tersebut.
**
Sesekali dia akan menjawab pertanyaannya atau mencoba mencair suasana jika terlalu hening, kedekatan diantara sangat terasa.
Saat seekor gagak terbang mendekat barulah berhenti bermesraan, tanpa membuang waktu keduanya segera berlari menyusul gagak tersebut.
**
Dentang wajan dengan spatula memenuhi dapur layaknya istana, wanita cantik berdiri dengan celemek berenda sambil tersenyum manis, bau bumbu wangi berterbangan diudara, memenuhi sebuah sudut.
__ADS_1
Menata masakan yang sudah siap dimeja, dia melepas celemek ditubuhnya, berlari menaiki tangga dan mengetuk pintu coklat dengan hiasan merah emas pelan.
"Diablo-san makanan sud-"
Mungkin pintu itu tidak terkunci dengan baik, dengan dorongan pelan jemari yang mengetuk pintu itu terbuka sedikit memperlihatkan otot dada orang disana. Tangan yang membuka baju terhenti, kedua nya saling membeku dan tidak berkata-kata.
Otot dadanya yang lembut dan tidak terlalu kekar tapi sangat kuat dan keras, otot perutnya terbentuk sempurna dengan sentuhan garis putri duyung begitu menggoda. Kulitnya yang putih, tetesan air dari rambutnya melewati leher, dada, perut lalu...
Setelah beberapa saat pintu terbanting dengan keras, lalu suara kaki yang berlari ditangga dengan jeritan kecil terdengar setelahnya. Pria didalam hanya menghela nafas, meneruskan untuk mengganti baju miliknya, dan menuruni tangga.
Malam itu suasana makan malam canggung sebelah.
**
Rimuru menikmati udara malam yang segar teh ditangannya masih mengepulkan uap , mengawasi sekitar nya dengan waspada, seseorang berjalan mendekat kearahnya. Selimut tebal disematkan di bahunya.
"Terimakasih Veldora"
"Sudah siap untuk besok Rimuru? "
"Tentu saja, mari kita beristirahat"
Kedua orang tersebut berjalan bersama keruangan dalam, bersiap untuk menutup mata dan beristirahat.
(penulis: pertarungan epik uzui dan kawan-kawan akan dimulai, ini akan memakan waktu yang sangat lama untuk menulis. Selain ide juga keterbatasan waktu, saya harap kalian semua dapat menunggu, sekian dan terimakasih)
__ADS_1
(penulis: anggap aja kayak gitu ya gambaran diablo, susah nyari gambar)