Perjalanan Rimuru Di Kny

Perjalanan Rimuru Di Kny
Tragedi


__ADS_3

"Kehidupan ini memang tidak mudah tapi.... Cukup membahagiakan kok. Hanya saja, melihat kehidupan itu seperti melihat langit, selalu berubah dan bergerak, karena langit tak akan selalu cerah dan salju tak akan turun terus menerus. Lalu.... Disaat kebahagiaan itu rusak.... Selalu tercium bau darah"


Tanjiro menuruni gunung menuju kota untuk menjual arang yang dibawanya. Sesampainya disana banyak orang yang berdatangan untuk membeli arangnya. Tanjiro terkenal akan keramahannya.


Dari kejauhan Rimuru melihat Tanjiro, karena penasaran Rimuru pun menghampirinya.


( penulis: chapter sebelumnya disaat Rimuru datang ke dunia ini hanya sudut pandang penulis, dan saya menceritakan bagaimana kedatangan Rimuru didunia ini untuk pertama kalinya di chapter sebelumnya)


"Sumimasen" ucap Rimuru


"Oh, haik? "


"Apa yang sedang kau jual? "


"Aku menjual arang, apa kau ingin membelinya?"


"Hmm, iya tentu"


Tanjiro memberikan arang nya pada Rimuru dan Rimuru pun membayarnya. Uang? Tanyakan itu pada Ciel-san.


"Ini terlalu banyak" ucap Tanjiro melihat uang yang dikeluarkan Rimuru


"Tidak apa-apa itu untukmu dan aku tidak menerima penolakan"


Setelah Rimuru mengatakan hal itu, Tanjiro tidak berkata apa-apa lagi.


"Maaf, tapi apa aku boleh bertanya? "


"Tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan"


"Apa kau bukan orang sini? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya"


"Ah itu, aku bukan orang sini dan aku baru pindah kesini kemarin, aku tinggal di penginapan di ujung jalan sana"


"Begitukah? Kalau begitu salam kenal namaku Kamado Tanjiro"


"Hmm, salam kenal juga namaku Rimuru Tempest. Panggil saja aku Rimuru"


"Kalau begitu kau boleh memanggilku Tanjiro, Rimuru-san"


Acara perkenalan singkat itu pun berakhir, Tanjiro hendak pulang kerumah saat melihat keranjang yang dibawanya telah kosong. Tetapi belum sempat Tanjiro melangkahkan kakinya, Rimuru menghentikan dirinya.


"Tanjiro-san, apakah aku boleh berkunjung kerumahmu? "


Tanjiro terlihat berpikir sebentar, lalu menganggukkan kepalanya.


"Tentu saja Rimuru-san"


.


.


.


.


Disepanjang jalan hanya ada kesunyian, tidak ada yang mulai berbicara, Tanjiro yang menyadari situasi ini pun mulai membuka pembicaraan.

__ADS_1


"Rimuru-san, kenapa kau memakai topeng? "


"Topeng ini... Milik seseorang yang berharga bagiku" ucap Rimuru dengan nada yang payau


"Ah! Maafkan aku yang telah bertanya seperti itu padamu Rimuru-san! "


"Hahaha tidak apa-apa, apa kau ingin melihat wajahku? Dari gerak-gerik mu sejak tadi kau seperti penasaran tentang wajahku"


Tanjiro gelagapan, dia panik karena gerak-gerik nya telah disadari. Rimuru tertawa kecil, manusia disampingnya ini benar-benar imut. Rimuru membuka topengnya dihadapan Tanjiro. Tanjiro melotot tidak percaya, dia seperti melihat bidadari tepat dihadapanya.


Mata kuning keemasan, rambut biru keperakan, kulit seputih salju. Membuat kedua pipi Tanjiro memanas. Tidak! Bukan hanya pipinya tapi seluruh wajahnya. Tanpa disadarinya Tanjiro mengatakan sesuatu yang membuat jiwa laki-laki Rimuru tertohok.


"Kau sangat cantik Rimuru-san"


Rimuru terdiam, dia ingin mengatakan kalau dia adalah laki-laki. Sayangnya, tubuhnya yang genderles tidak bisa membuktikan kalau dia laki-laki. Jika dia meminta Ciel untuk membuat itu Rimuru yakin hal itu akan ditolak. Dengan nada yang sedikit bergetar akibat sakit hatinya rimuru menjawab.


"Te-terima kasih atas pujiannya, Tanjiro-san"


" Sama-sama,seharusnya kau tidak menyembunyikan wajahmu itu Rimuru-san. Pasti banyak laki-laki yang akan menyukaimu "


"Termasuk dirimu? " tanya Rimuru dengan seringai jahil


Tanjiro terdiam,wajahnya memerah dan Rimuru sedikit mulai waspada, bagaimanapun juga dia laki-laki walau hanya jiwanya.


"A-aku mungkin juga akan menyukaimu, Rimuru-san"


"Sudah kuduga!!" batin Rimuru


[Hmph tidak akan aku biarkan kau merebut master dariku! ]


"Kau mengatakan sesuatu Ciel? "


Rimuru hanya menanggapi dengan tawa canggung nya, sementara Tanjiro wajahnya masih memerah akibat malu. Dari kejauhan terlihat nenek-nenek yang kesusahan membawa kayu bakar, Rimuru yang menyadarinya segera berlari dan menawarkan bantuan pada nenek tersebut.


"Maaf Tanjiro-san, sepertinya aku harus membantu nenek ini terlebih dahulu. Nanti aku akan menyusulmu, tenang saja aku akan bertanya pada orang-orang dimana rumah milikmu, sampai jumpa Tanjiro-san"


Rimuru dan nenek tersebut segera pergi, sejujurnya Rimuru hanya tidak ingin dalam situasi yang menurutnya canggung dan emm..... Sudahlah.


Setelah dirasa punggung Rimuru benar-benar menghilang, Tanjiro menghela nafas leganya.


"Rimuru-san terlalu cantik, pasti banyak yang menyukainya, dan aku adalah salah satunya"


Tanjiro berlalu pergi meninggalkan tempat dia berdiri. Hari semakin sore, matahari hampir pergi dari singgasananya dan akan digantikan sang rembulan.


"Pulangku jadi terlambat ya? Tapi, syukurlah terjual habis"


"Hei tanjiro" seorang pria paruh baya memanggilnya, Tanjiro menoleh pada pria tersebut.


"Kau mau pulang ke gunung? Karena, berbahaya sebaiknya jangan"


"Indra penciuman ku tajam, jadi aku akan baik-baik saja! " jawab Tanjiro dengan semangat


"Menginaplah dirumahku"


"Tapi... "


"Tidak usah protes, cepat kesini! Iblis akan muncul loh! "

__ADS_1


Karena paksaan dari paman tersebut akhirnya Tanjiro menyetujuinya, lalu paman tersebut membuatkan makan malam, dan Tanjiro memakannya dengan lahab.


"Hei, paman Saburo. Iblis itu seperti apa? "


"Iblis pemakan manusia (oni) selalu mencari mangsa saat hari sudah gelap. Karena itulah, jangan berkeliaran pada malam hari. Setelah makan tidurlah, kau boleh kembali pagi-pagi buta"


Tanjiro menurutinya, karena pada dasarnya sifat tanjiro itu kalem, penyabar dan penurut. Pagi telah tiba, Tanjiro bersiap dengan keranjangnya.


"Hati-hati dijalan ya? "


"Haik"


Tanjiro awalnya berjalan dengan santai, tetapi saat hampir dekat dengan rumahnya penciumannya yang tajam mencium bau darah, Tanjiro bergegas berlari ke rumahnya.


Pemandangan pertama kali yang dia lihat adalah Nezuko yang berlumuran darah sambil melindungi Rokuta.


"Nezuko!! " Tanjiro berlari menghampiri Nezuko yang terkulai lemas.


"Ada apa?! Ada apa ini?! Apa yang telah terjadi?! " pandangan Tanjiro beralih ke dalam rumahnya.


Rumahnya berantakan, darah dari semua keluarga Kamado menghiasi lantai dan dinding rumahnya. Tanjiro melihat kedalam rumahnya dari dekat, pupil matanya mengecil.


"Ibu... "


Tanjiro terduduk lemas melihat semua keluarga mati dihadapannya. Perlahan tapi pasti badan Tanjiro menyentuh lantai dengan tubuh yang bergetar.


"Hanako... "


"Takeo.... "


"Shigeru... "


"Nezuko...."


"Rokuta.... "


Tanjiro memeriksa semua tubuh anggota keluarga nya, tetapi hanya tubuh Nezuko yang masih hangat, sementara semuanya sudah dingin.


"Hanya tubuh Nezuko yang masih terasa hangat! Kalau kubawa ke dokter dia pasti akan terselamatkan! "


"Kenapa hal seperti ini bisa terjadi?! "


"Apa itu ulah beruang?! "


"Apa ada beruang yang tidak hibernasi?! "


"Aku kesulitan bernafas"


"Ditengah hutan yang dingin ini, paru-paru ku terasa sakit"


"Teruslah berlari, gerakan kakimu lebih cepat lagi! "


"Kotanya masih cukup jauh, tahu! "


"Cepatlah, aku tidak akan membiarkanmu mati! "


"Aku pasti akan menyelamatkan mu! "

__ADS_1


"Kakak mu ini akan menyelamatkan mu! "


__ADS_2