
Rimuru duduk ditemani oleh Amane dan Kagaya, menyeruput teh buatan Amane, sementara tangan satunya terdapat sebuah kue yang manis, membuat Rimuru mengunyah nya dengan rona merah dipipi. Matanya beralih memandang tehnya, lalu bergantian menatap Diablo, Diablo yang merasa diperhatikan mulai berbicara, berniat menawarkan bantuan jika Rimuru kesusahan.
"Ada apa Rimuru-sama? Ada yang bisa saya bantu"
"Ah! Tidak, bukan apa-apa"
"Teh buatan Diablo lebih enak" batin Rimuru
"Kemungkinan lidahku sudah terbiasa dengan yang namanya kemewahan, ditambah teh yang berasal dari Tempest terdapat magi, mungkin itu juga yang mempengaruhi rasanya" lanjutnya
"Rapat akan dimulai sebentar lagi Rimuru-sama"
"Hmm"
"Omong-omong ada berapa orang yang akan datang? " tanya Rimuru, meski sebenarnya Rimuru sudah mengetahui siapa-siapa saja yang datang. Kemampuan itu? Tanyakan itu pada dirinya dimasa lalu yang seenaknya dan mudahnya berevolusi dan menggemparkan dunia.
"Ada 9 orang yang berpangkat Hashira dan satu orang yang berpangkat Mizunoto"
"Mizunoto ya? "
"Benar, kalau tidak salah namanya Kamado Tanjiro"
UHUK
Rimuru terbatuk, Diablo langsung panik, mengambil lap putih dari celananya dan menyerahkannya pada Rimuru. Amane dan Kagaya juga ikut kaget, Kagaya berdiri dibantu Amane untuk duduk disebelah Rimuru, lalu memijit pelan belakang leher Rimuru.
"Rimuru-sama, apa anda tidak apa-apa? "
"Apakah dari perkataan saya ada yang salah, hingga membuat anda tersedak? Maafkan atas perkataan dan kelancangan saya, Rimuru-sama"
"Tidak, bukan apa-apa, aku hanya tersedak biasa, yah itu juga salahku yang minum terburu-buru" jawab Rimuru dengan tawa canggung nya
"Aku tersedak saat kau menyebutkan namanya, Kagaya-kun. Yah karena aku mengingat kejadian dimasa lalu, saat aku menggodanya, itu membuatku malu, namun seru juga" batin Rimuru
[Hahh... Master..... ]
"Apa? Apa ada yang salah? "
[Tidak! Lupakan saja!]
__ADS_1
"Hmm? "
Saat otak Rimuru masih dipenuhi tanda tanya akibat kebingungan dari kata Ciel barusan, anak Kagaya mengetuk pintu pelan, membuat 4 eksistensi menoleh keasal suara.
"Masuklah"
"Semua orang sudah siap"
Kagaya menganggukkan kepalanya, dirinya mulai berdiri menjauhi Rimuru, sementara Rimuru bersama dengan Diablo dan Amane disana. Alasannya adalah Rimuru tidak ingin memunculkan wujudnya terlalu awal, jadi nanti saja, begitulah yang diucapkan olehnya.
Rimuru dan Amane berbincang-bincang satu sama lain, mempererat hubungan dari tuan dan bawahan ini, terkadang Amane menceritakan hal-hal yang lucu, membuat Rimuru tertawa renyah, dan itu sangat imut.
"Yah... Meski begitu saya masih tidak percaya kalau anda laki-laki"
"Hahahaha.... Aku ini genderless Amane-san, hanya jiwa ku saja yang berkelamin" ucap Rimuru dengan tawa renyahnya
"Genderless? Itu artinya anda bisa menjadi perempuan? "
"Hmm! Tentu saja bisa, bahkan aku sering dijadikan boneka oleh bawahan ku sendiri"
"Boneka? Maksudnya anda sering dikhianati dan dipermainkan?! "
Amane yang berada disamping Rimuru masih mendengarnya, tubuhnya bergetar karena menahan tawa, mulutnya ditutup dengan satu tangannya, tapi usahanya gagal dia tertawa renyah menanggapi perkataan Rimuru.
"Hahaha... Saya jadi ingin melihat anda memakai baju wanita" serunya
"Sudahlah hentikan itu! " ucap Rimuru dengan wajah merahnya, dan itu benar-benar imut.
Ditempat pertemuan
"Ini adalah markas pusat pemburu iblis, kau sedang dalam persidangan sekarang, Kamado Tanjiro-kun" ucap wanita berhairpin kupu-kupu
"Tidak perlu ada keadilan disini! Melindungi iblis jelas-jelas sudah melanggar kode etik! Kita bisa menyelesaikan itu sendiri! Kita bisa memutilasi setiap iblis! " ucap seorang pria dengan rambut merak nya, Rengoku Kyoujurou sang pilar api
"Kalau begitu biarkan aku memenggal kepalanya dengan elok! Akan aku buktikan aku dapat menumpahkan darah lebih indah dari siapapun! Ini akan menjadi keelokan dari keelokan itu sendiri! " ucap pria dengan dandanan meriah, Uzui Tengen sang pilar suara
"Ehhh.... Kita akan membunuh wanita secantik ini? Dadaku sangat sakit! Sakit sekali" batin wanita berambut pink gradasi hijau, Kanroji Mitsuri sang pilar cinta
"Hahh..... Betapa hinanya anak perempuan ini, sangat menyedihkan. Ini sangat menyedihkan karena dia terlahir kedunia ini" ucap pria dengan air mata dan tasbih ditangan, Himejima Gyoumei sang pilar batu
__ADS_1
"Apa nama awan itu? Namanya.... Apa ya? " batin seorang laki-laki pendek dengan rambut mint, Tokito Muichiro sang pilar kabut
"Tunggu! Nezuko?! Dimana Nezuko?! " batin anak laki-laki berambut merah anggur, Kamado Tanjiro
Tanjiro menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri, namun tidak ada bayangan orang yang dicarinya tadi. Saat dirinya hendak berdiri, Tiba-tiba sebuah desisan ular terdengar di atas kepala Tanjiro, Tanjiro mendongakkan kepalanya, menatap pria dengan ular di lehernya.
"Lebih penting lagi, apa yang akan kita lakukan terhadap Tomioka? Aku pusing melihat dia yang tidak terikat disitu. Menurut kochou, Tomioka juga melanggar kode etik pemburu iblis, bagaimana kita menangani? Bagaimana kita membuat dia bertanggung jawab? Bagaimana caranya membuat dia menderita? " ucap laki-laki tersebut, Iguro Obanai sang pilar ular
Sementara yang disebut oleh Obanai hanya diam, menjauh dari mereka dan tidak bergerak seinci pun dari sana, seakan-akan kakinya telah menyatu dengan tanah.
"Ya, tidak apa-apa bukan? Dia mengikutiku tanpa memberontak, kita pikirkan hukumannya nanti saja, yang lebih penting kita dengarkan cerita bocah ini" ucap wanita berhairpin kupu-kupu, Kochou Shinobu sng pilar serangga.
Kegaduhan terjadi disana, pertengkaran antara Tanjiro dan para pilar semakin panas, semakin Tanjiro menjelaskan semakin mereka menyangkalnya. Pria dengan luka bahkan menusuk Nezuko, dan berakhir dengan sundulan pembalasan dari Tanjiro.
Tapi semua kegaduhan tersebut langsung terhenti, saat salah satu anak Kagaya mengumumkan kedatangannya.
"Selamat pagi semua, cuacanya sangat cerah hari ini, apakah langit berwarna biru? " tanyanya, tentu saja karena dia tidak bisa melihat.
"Kami sangat senang bisa hadir dihadapan anda Oyakata-sama, kami selalu berharap anda bahagia" ucap pria penuh luka Shinazugawa Sanemi sang pilar angin.
Sanemi mengatakan sesuatu tentang Nezuko dan Tanjiro, Oyakata-sama atau Kagaya hanya tersenyum lembut sambil mengatakan dirinya menyetujui hal tersebut. Sontak semua orang disana merasa kaget, mereka dengan keras menentang apa yang dikatakan dan disetujui oleh Kagaya.
Namun, Kagaya mengatakan bahwa Tanjiro pernah bertemu dengan Kibutsuji Muzan. Selain itu, jika Nezuko memakan manusia. Maka, Urokodaki, Tomioka, dan Tanjiro akan merobek perutnya sebagai permintaan maaf, mereka tidak menanggapi tentang pernyataan maafnya, tetapi yang mereka tanggapi adalah Tanjiro yang bertemu dengan Muzan.
Semua orang disana kembali berisik, pertanyaan dari mulut satu dengan yang lain terus terdengar di pendengaran Tanjiro. Semua orang mulai bertanya, seperti apa kekuatan muzan, seperti apa wujudnya dan lain sebagainya. Membuat Tanjiro kewalahan menanggapinya. Kagaya menempelkan jari telunjuknya dibibirnya, mengisyaratkan untuk diam. Seketika semua orang yang ada disana terdiam.
Setelah beberapa menit pergulatan lidah dan ego tersebut akhirnya rapat untuk Tanjiro berakhir, Tanjiro kembali ke kediaman kupu-kupu. Dan akhirnya rapat pilar yang sesungguhnya akan dimulai.
Semua orang yang ada disana masuk kedalam kediaman kagaya, lebih tepatnya di dalam ruangan yang berisi Rimuru. Rimuru yang mendengar langkah kaki menuju kemari langsung memerintahkan Diablo mengganti matanya, itu karena Rimuru tidak ingin terjadi kesalahpahaman terlalu awal.
Diablo menuruti permintaan Rimuru, dan dengan perubahan yang cepat, warna mata Diablo berubah seperti manusia pada umumnya, dengan pupil mata yang hitam. Rambut juga berubah hitam legam, tidak ada helaian merah dan kuning disana.
Para Hashira masuk kedalam ruangan, semua orang terkejut saat melihat Rimuru disana termasuk Giyuu dan Kyoujurou. Sementara yang lain hanya menatap Rimuru dengan tatapan hangat dan kaget, hmm.... Sepertinya mereka sudah terpesona dengan pesona Rimuru.
Kyoujurou bertanya pada Kagaya tentang kenapa Rimuru bisa ada disini, Kagaya hanya tersenyum lembut dan mengatakan 'kalian akan mengetahuinya nanti' setelah itu tidak ada lagi yang bertanya, meski semua orang disana penasaran.
Namun, didalam hati seseorang merasakan kehangatan yang mendalam saat melihat Rimuru, bahkan dia tersenyum tipis. Meski tidak ada orang yang melihat senyumnya saking tipisnya.
"Akhirnya aku bisa melihat mu lagi"
__ADS_1