
Iblis dengan rambut pirang menghentikan aktivitasnya saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat, menuju ke arahnya. Menatap bingung pada orang di hadapannya, dan rasa penasaran yang amat tinggi membuat iblis itu menyeringai.
"Hahaha, aku tidak menyangka akan ada manusia yang melihatku berburu, tapi sayangnya aku tidak suka laki-laki~"
Lawannya hanya tersenyum tipis, membuat iblis itu mengerutkan dahinya bingung. Apakah manusia ini tidak takut padanya? Membuat tanda tanya besar di kepala iblis itu.
"Aku ini iblis loh? Kenapa dia tidak takut? Hanya ada dua kemungkinan, pertama dia memiliki keberanian yang tinggi, dan kedua dia ingin mati"
Kalut dalam pikirannya, suara tepuk tangan membuyarkan semuanya. Iblis itu menatap bingung dengan apa yang dilakukan oleh pria di hadapannya ini.
PROKK
PROKK
"Untuk ukuran iblis rendahan seperti mu, membuat Rimuru-sama sampai marah benar-benar tidak bisa dimaafkan"
Iblis itu berdiri dan mulai melakukan pertahanan diri. Merasa bahwa pria yang ada dihadapannya ini berbahaya. Kipas berwarna kuning mengkilap itu dibuka, mengarahkannya kedepan wajahnya menutup mulutnya.
"Siapa namamu? "
"Apa aku harus memberi tahu pada iblis seperti dirimu? "
"Hee? Padahal aku hanya bertanya loh~"
"Kau membuatku muak! "
Pria misterius itu mulai menyerang, dia tidak memakai senjata sama sekali, membuat iblis itu berpikir bahwa pertarungan ini berat sebelah.
"Semangat ya Diablo"
Iblis itu menoleh keatas tepatnya diatas pohon, matanya sempat terpaku dengan pemandangan didepannya, gadis(?) dengan rambut biru perak dan pupil mata kuning keemasan itu membuatnya terpesona.
Akibat tidak fokus, iblis itu terkena tendangan Diablo, membuat perut itu berlubang menampakkan semua isi perutnya.
"Wah~ tendangan mu cukup kuat ya? Tapi tidak ada apa-apa nya untukku"
"Fufufu, benarkah? "
Iblis itu terkejut saat mengetahui darahnya tidak berhenti mengalir, jangankan darahnya bahkan dagingnya pun tidak beregenerasi.
"Ini..... Tidak mungkin kan? " gumamnya
"Khukhu, kau iblis terlemah yang pernah kutemui. Ah.. Tidak juga, aku bahkan pernah membantai beberapa iblis digunung Fujikasaneyama" ucap Diablo enteng
"Ah... Aku bahkan memakan jiwa mereka, jiwa mereka yang diselimuti amarah, sedih, kecewa dan semua kenegatifan terasa sangat lezat" ucap nya lagi dengan rona merah di pipinya, membayangkan betapa enaknya makanannya itu.
"Apa kau itu... Seorang iblis? " tanya nya, terdapat jeda dalam kalimatnya akibat keraguan didalam dirinya saat menyebut pria dihadapannya ini iblis.
__ADS_1
"Apa kau buta? Padahal kau punya dua mata loh, fufufu"
Menatap lama Diablo, iblis itu terkejut saat melihat mata Diablo. Iblis itu tersenyum tipis, dan melakukan pertahanan kembali, mengerahkan semua kekuatannya untuk regenerasi dirinya.
"Sebagai sesama iblis, kurasa aku perlu memperkenalkan diri, namaku Douma, namamu Diablo kan? Salam kenal ya~"
"Cih! " Diablo mendecih, rasa amarah didalamnya masih memembara. Siapapun yang membuat tuannya kesal, itu juga akan memancing kekesalannya.
Menarik nafas dan mengeluarkan nafas dengan kasar, Diablo menatap Douma nyalang. Kilatan amarah terlihat jelas dimatanya,membuat bulu kuduk Douma berdiri.
"Sepertinya kau akan berakhir tragis, Douma" ucap Rimuru dari dahan pohon
Douma melihat kearahnya, urat nadinya terlihat karna amarah yang dibuat-buat. Menatap Rimuru dengan senyuman miring nya.
"Setelah mengalahkannya kau akan menjadi milikku kelinci kecil"
"Beraninya kau berbicara seperti itu pada Rimuru-sama! " bentak Diablo
Douma termangu akan perkataan Diablo, lalu berbalik menghadap Rimuru yang masih dengan santainya, bersenandung ria menikmati pertarungan yang akan dimulai.
"Diakah tuannya? " batin Douma
"Tahan amarahmu Diablo" ucap Rimuru lembut sambil memainkan kuku jarinya
Sekali lagi Diablo menghirup udara dan menghembuskan udara dengan kasar. Menahan semua emosi yang ada dalam dirinya.
Douma mulai mengatakan jurusnya, udara disekitar berubah menjadi dingin, dan itu tidak ada artinya dihadapan Rimuru dan Diablo.
Dua buah patung es dengan kelamin wanita terbentuk, menghembuskan nafas dingin dengan jangkauan yang luas.
Rimuru terkagum dengan apa yang dilakukan oleh Douma, meski kekuatan yang Douma keluarkan lebih rendah dari miliknya.
Diablo tersenyum miring, mengangkat jari telunjuknya menghadap Douma, lingkaran sihir berwarna merah tua terbentuk, menampakkan beberapa segel-segel yang begitu rumit.
"incendie nucléaire" ucap Diablo
Seketika api berwarna merah dengan pinggiran berwarna ungu terbentuk, api yang awalnya kecil mendadak besar, cukup untuk menghanguskan seluruh hutan.
"Aduh, sepertinya Diablo berlebihan" ucap Rimuru yang tetap santai
"Yah, apa boleh buat? Setelah semua selesai aku memperbaiki kerusakan yang diakibatkan oleh ledakannya" lanjutnya
Douma terkejut melihat api tersebut, hawa panasnya pun sudah terasa, padahal dirinya tidak berdekatan dengan api tersebut.
Keringat dingin bercucuran dari wajahnya, dirinya merasa ada yang berbeda dengan dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya dia merasakan rasa takut yang luar biasa.
Dua patung es berbentuk wanita tersebut mulai meleleh, Douma yang panik mengarahkan seluruh kekuatannya untuk menghadapi Diablo.
__ADS_1
Baginya, ini adalah pertama kalinya juga dia merasa sangat bersemangat untuk bertarung. Karena menurutnya selama ini tidak ada yang bisa menandingi dirinya kecuali 'dia' dan si uppermoon 1 itu.
Diablo mulai menembakkan api tersebut, dan Douma sudah bersiap dengan jurus terkuatnya.
"Jurus darah iblis, Embun beku Bodhisattva Waterlily" ucap Douma
"Fufufu, sangat lemah" ucap Diablo
Api tersebut sudah hampir dekat dengan patung Bodhisattva yang sangat besar, namun sedikit demi sedikit patung tersebut juga ikut meleleh.
Menyisakan Douma yang sebentar lagi terkena api, Douma menjerit kesakitan saat dirinya terbakar api tersebut, rasanya dia kulit dengan kasar.
Jeritan Douma menggema hingga keseluruh hutan, hutan yang awalnya rimbun berubah menjadi hitam tandus, itu semua akibat ledakan dari Diablo.
Diablo tidak membunuh Douma, yang dia lakukan hanyalah menyiksanya. Bisa dikatakan api yang Diablo tembakan, hanya untuk menyiksa, bukan membunuh. Walau memang api tersebut bisa membakar jiwa target hingga lenyap.
Jeritan Douma terus berlanjut, binatang malam berubah menjadi mayat, tubuh yang hangus terpanggang, menampakkan daging-daging yang mungkin terlihat lezat.
Rimuru masih setia duduk diatas pohon, dia membuat barrier untuk dirinya sendiri dan pohon yang ditempatinya, lalu tersenyum bangga pada bawahannya.
Api tersebut padam, menampakkan Douma dengan darah yang berceceran dari sela-sela kulit yang terbakar. Diablo berjalan kearahnya, menendang dengan kuat ulu hati Douma.
Douma terlempar beberapa meter, sesaat setelah ditendang, Diablo menghancurkan kedua tangan Douma lalu kakinya, membuat Douma kembali berteriak.
Teriakan yang mengerikan sekaligus pilu terdengar berkali-kali. Kali ini Diablo, menusuk dada Douma dengan kakinya saat Douma masih terlentanv ditanah.
Membuat kaki dan baju bersih Diablo terciprat darah segar, Diablo menyiksa Douma dengan senyumannya, bagaikan mainan yang sedang dimainkan.
Setiap Diablo mematahkan/menghancurkan Douma, Diablo juga menyembuhkannya lalu kembali menghancurkan nya lagi, membuat Douma frustasi dengan rasa sakit yang diberikan Diablo padanya.
Diablo menenggelamkan kepala Douma ketanah dengan kasar, baju atasan Diablo yang bersih kembali terciprat darah segar. Kepala Douma hancur, lalu kembali seperti semula dan dihancurkan kembali.
"Diablo sangat sadis ya? " ucap Rimuru yang memandang kasihan pada iblis yang dijadikan mainan Diablo
Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki, 9 pasang kaki mengarah kemari, membuat Rimuru tersenyum miring. Padahal 9 pasang kaki itu masih beberapa kilo meter lagi, tapi pendengarannya sudah lebih dulu menangkapnya.
Rimuru turun dari pohon tersebut, saat kakinya menginjak tanah, bisa dirasakan tanah ini masih panas layaknya lahar.
"Sudah cukup Diablo, bawa dia keruang bawah tanah, mendengar jeritan nya setiap malam, kurasa itu adalah ide yang bagus" ucap Rimuru
Menghadap Rimuru lalu membungkuk hormat seraya berkata
"Dimengerti, Rimuru-sama" ucap Diablo pergi sambil menyeret Douma
Rimuru kembali fokus, merentangkan tangannya kekiri dan kanan, lingkarang sihir dengan hijau muda terbentuk. Hembusan angin sejuk menerpa hutan yang sekarang berwarna hitam.
Sedikit demi sedikit, rerumputan mulai tumbuh, hewan yang mati hidup kembali, pohon yang hangus kembali berwarna hijau, tanah yang panas kembali seperti sedia kala.
__ADS_1
Tak lama kemudian Rimuru menghilang dengan teleportasi, setelah beberapa menit Rimuru menghilang. 9 orang dengan warna rambut dan pakaian pemburu iblis datang, dan perasaan heran pun menguasai diri mereka.
Setelah dirasa tidak ada apa-apa, mereka memutuskan pulang dan melapor pada pemimpin mereka, mereka pulang dengan hati yang penasaran.