
Rimuru dan Veldora menyantap sarapan paginya dengan khusyuk. Rimuru yang menyantap sarapannya dengan anggun layaknya bangsawan. Itu semua juga pelatihan tata krama yang diajarkan Vesta dan Shuna, dimulai dari tingkah laku, perkataan dan kehidupan sehari-hari. Sementara Veldora menyantap sarapannya dengan serampangan.
Membuat beberapa saus steak sapi menempel pada sudut bibirnya, bukan hanya itu dia juga menyantap dessert dengan serampangan pula, membuat krim vanilla bercampur madu dari Rimuru menempel di sudut bibir yang lain.
Setelah selesai, Veldora mengelap sisa makanan di semua sudut bibirnya dengan kain putih yang sengaja diletakkan diatas meja. Dirinya mengarahkan pandangannya pada Rimuru. Rimuru menoleh saat dirinya merasa diperhatikan. Lalu, tidak lama dahinya berkerut kebingungan saat mengetahui Veldora menatap dirinya serius.
Merasa pembicaraan ini akan berat dan rahasia, Rimuru memerintahkan Diablo untuk pergi, menyisakan dirinya dan Veldora. Melalui kontak mata, Rimuru mengetahui pembicaraan ini akan mengarah kemana. Dirinya lalu menghela nafas jengah, lelah dengan semua keadaan yang menimpa dirinya.
"Aku tidak pernah berpikir kau akan memiliki murid baru Rimuru" Ucap Veldora
Rimuru hanya mendengus tidak suka, lalu meminum wine dengan kehati-hatian.
"Awalnya aku juga tidak ingin Veldora, tetapi entah kenapa aku tergerak dengan sendirinya, yah jadinya terkadang aku malas mengajari mereka" Ucap Rimuru sambil memainkan gelas berisi wine tersebut
"Oh? Kupikir sejak kejadian itu kau akan sedikit ada rasa kebencian pada manusia" Ucap Veldora, tersenyum sinis pada Rimuru
"Bagaimanapun juga itu adalah sifat aslimu bukan? " lanjutnya yang kini memakan dessert dengan anggun seperti bangsawan
Ini bisa menjadi sebuah pemandangan langka yang pernah ada, Veldora yang selalu serampangan berubah menjadi lebih dewasa, walau terkadang sifat dirinya yang dulu masih tersisa.
Mengingat ini seharusnya Rimuru mengabadikan kejadian tersebut. Tetapi tidak. Pasalnya Rimuru sudah terbiasa dengan sifat baru Veldora yang muncul beberapa bulan terakhir tersebut.
Saat Veldora mengatakan hal itu, Rimuru mengingat kenangan yang menurutnya buruk. Memori-memori lama yang terkubur mulai terbuka secara lebar.
"Cih! " Rimuru mendecih, ingatannya kembali berputar layaknya film yang menampilkan semua gambar.
Meremas gelas winenya tidak suka, Rimuru langsung meneguk semua dengan sekali tegukan. Lalu, memandang Veldora yang menyantap dessert nya.
"Kau berubah Veldora, sejak kejadian itu" Ucap Rimuru memandang lurus Veldora
"Menurutmu? Bukankah kau juga sama denganku? " bukannya menjawab Veldora malah melayangkan pertanyaan yang membuat Rimuru terdiam.
Benar, Rimuru berubah. Dia berubah sejak kejadian itu, mulai timbul rasa benci dan sedikit tidak suka pada manusia, meski dirinya tau, tidak semua manusia melakukan hal yang sama.
Menghela nafas lelah, Rimuru kembali berfokus dengan sarapannya, tanpa mau menjawab pertanyaan Veldora. Sementara Veldora hanya mendengus tidak suka saat Rimuru mengabaikan dirinya.
Rimuru tidak pernah menginginkan hal ini, sejujurnya dia hanya tidak ingin berurusan dengan semua dokumen gila yang setiap hari menumpuk di mejanya.
__ADS_1
Alih-alih ingin berlibur, membuat tubuh dan pikirannya beristirahat sejenak, tetapi yang didapat malah permasalahan baru, membuat Rimuru bertransformasi ke Rimuru yang sekarang.
Rimuru menghela nafasnya sekali lagi, entah sudah berapa kali Rimuru menghela nafasnya, jikalau dihitung, jari-jari tidak mungkin sanggup menghitung helaan nafas miliknya.
"Rimuru" Veldora memanggilnya, kali ini suara miliknya mulai serius.
Rimuru kembali memandang Veldora, yang saat ini sedang memainkan Dessert-nya. Dessert lava cake. Dengan rasa strawberry dan lelehan coklat didalamnya ditambah gula putih halus dan cherry diatasnya akan membuat siapapun ingin memakannya.
Tapi kali ini, dessert ini tidak bernasib baik. Hahhh... Sia-sia Diablo membuatnya dengan penuh suka cita dan cinta.
"Bagaimana perasaan mereka saat mengetahui mereka dilatih oleh seorang demon lord? "
Rimuru terdiam, entah keberapa kali dirinya diam hari ini. Menyisakan keheningan selama satu menit, Veldora mendengus, lalu kembali berbicara pada Rimuru.
"Seandainya mereka tau, kalau kau demon lord apa yang terjadi? " mengulangi perkataan dengan inti yang sama, Veldora menatap Rimuru lurus, sorot matanya mengatakan kali ini pertanyaan harus di jawab.
Rimuru menghela nafasnya lagi, meletakkan pisau kecil dan garpu disisi piring, lalu menatap Veldora tak kalah serius. Veldora menghela nafasnya kasar, melihat ekspresi sahabatnya hatinya seperti teriris, yah mengingat kejadian yang membuat hatinya juga teriris.
"Aku tidak tau Veldora, lagipula aku juga tidak perduli dengan semua itu. Entah mereka kecewa atau tidaknya itu bukan urusan ku. Lagipula aku hanya membantu mereka mendapatkan kedamaian yang mereka cari... " merasa tenggorokannya kering Rimuru menuangkan wine kedalam gelas lalu meminumnya
Mengamati ekspresi Rimuru, Veldora mau tak mau menghentikan pembicaraan ini, dirinya berdiri dari kuris dan hendak ketaman belakang melakukan rutinitasnya seperti biasa. Tapi saat dirinya berada di ambang pintu, dirinya mulai bersuara membuat Rimuru kembali terdiam untuk kesekian kalinya.
"Sejujurnya siapa yang menjadi korban disini? "
Rimuru memandang punggung Veldora dalam-dalam, merasa terkejut dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya. Setelah Veldora menghilang, Rimuru menyandarkan punggungnya di kursi, menatap langit-langit ruangan dengan mata menerawang.
Kata-kata Veldora tertancap jelas di ingatannya, seakan-akan sudah terpaku didalam memorinya. Sementara Ciel hanya diam mengetahui emosi dalam diri tuannya tidak teratur.
"Aku tidak tau mana yang korban dan mana yang pemangsa. Tetapi yang jelas, mereka hanya melakukan satu hal yaitu....
.... Bertahan hidup"
_________
__________________
_________
__ADS_1
Disini lain
Para Hashira berkumpul di kediaman kupu-kupu, mereka sudah bersiap untuk pergi menuju kediaman gurunya. Hari ini mereka akan berlatih, melatih diri mereka agar dapat menjadi kuat dan bisa membunuh Kibutsuji Muzan.
Sinar matahari mulai memanas, tetapi tidak ada tanda-tanda kelengkapan pada murid baru milik Rimuru. Seperti, Sanemi yang belum datang, Tengen yang katanya ingin membeli aksesoris yang menurutnya cukup meriah, dan Kyoujurou yang katanya membeli beberapa cemilan untuk dijalan.
"Mereka sangat lama" Mitsuri mengeluh, kakinya terasa pegal terus berdiri, hingga akhirnya dirinya lebih memilih mendudukkan bokongnya di tanah.
Iguro terkejut, dirinya pun menawarkan pahanya untuk diduduki, tentu saja Mitsuri menerimanya dengan senang hati, setidaknya pakaiannya tidak akan kotor saat berada di kediaman gurunya.
Lain halnya dengan Mitsuri, Iguro malah sangat senang karena tawarannya diterima. Wajahnya dia alihkan ketempat lain agar tidak ada orang yang melihat dirinya memerah. Persetan dengan pakaiannya yang kotor, yang penting wanita yang dicintainya bahagia itu sudah cukup.
"Ini sudah lebih dari jam janjian" Giyuu bersuara, membuat semua orang disana menatapnya tidak percaya.
Giyuu...
Si tembok es itu berbicara.....
Kejadian yang benar-benar langka. Shinobu mendekat berniat menjahili nya seperti yang selalu dilakukannya. Mentoel-toel pundak Giyuu dengan senyuman andalannya, Shinobu berucap dengan nada sarkas.
"Ara~ kupikir kau bisu hingga tidak dapat bersuara Tomioka-san"
Giyuu hanya memandang wanita ini lelah, dirinya sudah terbiasa dengan jahilan yang terlontar dari mulut wanita ini, entah nadanya sarkas maupun mengejek.
"Eh? Ada apa dengan wajahmu yang berubah Tomioka-san? ~"
Memutar bola matanya malas, Giyuu lebih memilih pergi dari sana lalu menyendiri dibawah pohon rindang dikediaman milik Shinobu. Shinobu hanya mengerucutkan bibirnya kesal merasa diabaikan. Yah... Salahnya karena berbicara pada si tembok es.
Tapi menurutnya itu adalah hal yang menyenangkan, dan dirinya ingin terus melakukannya, setiap hari dan setiap saat.
15 menit telah berlalu akhirnya semua orang sudah berkumpul, bunyi gemerincing dari aksesoris Tengen, suara kunyahan dari mulut Kyoujurou terdengar, jangan lupakan Mitsuri yang ikut memakan cemilan Kyoujurou, dan Sanemi dengan rambut berantakan.
Di lihat dari kondisinya, sepertinya dia baru bangun tidur, jangan bilang kalau dia melupakan janjian mereka hari ini.
Setelah dirasa semua sudah siap, Giyuu memimpin perjalanan, dengan panduan elang milik Rimuru, Helen.
"Baiklah ayo kita berangkat, aku harap sensei tidak akan marah karena keterlambatan kita" ucap Kyoujurou dengan suara kunyahan nya, sementara semua orang disana hanya menganggukkan kepalanya setuju
__ADS_1