
BAGIAN XIX
HALLO PARA PEMBACA SETIAKU.
INI MERUPAKAN NOVEL KETIGA YANG AKU BUAT DAN KETIGA NOVELKU BERKAITAN DENGAN ABDI NEGARA.
NOVEL PERTAMAKU “JODOHKU PAK TARA”
NOVEL KEDUAKU “I LOVE YOU PAK POLISI”
DAN INI YANG KETIGA “PERJUANGAN CINTA KAPTEN DIMAS A.P LAKSONO”
Sebelumnya author minta maaf jika ada yang salah penulisan gelar atau pangkat, karena disini author juga kurang terlalu paham dengan pangkat-pangkat yang ada di dunia militer.
Jika ada kritik dan saran jangan lupa untuk dikomen dibawah karena menurut author komenan dari pembaca semua itu sangat bermanfaat untuk diri author. Terus janganlupa di klik like dan menambahkan kedalam daftar favorit.
Jika ada kesalahan pengetikan author juga minta maaf ya para pembaca setiaku.
HAPPY READING
Aku kaget bukan main, aku mau dijodohin. MasyaAllah iki piye.
Terus mas triplekku kepiye. Bapak punya ide dari mana pake acara mau jodoh-jodohin kaya begini. Ya Allah bantu hambamu ini.
"Ndok malah bengong to" Bapak.
"Bapak ga becanda kan? " Tanyaku.
"Engga ndok, bapak dan ibu serius" Tiba-tiba nyaut dan duduk disebelahku.
"Tapi kok dadakan sih buk, aku lo durung arep rabi disek (aku belum mau nikah dulu) " ucapku penuh melas.
__ADS_1
"kami itu perempuan, umurmu udah berapa. Temen kamu udah pada punya anak, lha kamu kapan to ndok (lha kamu kapan to ndok) " bapak
"Lagian Pika juga ga kenal sama itu laki-laki, pokoknya Pika ga mau dijodohin buk" ucapku.
"Ya Allah ndok, ini udah keputusan final bapak sama ibuk" bapak.
Aku berjalan menuju kamar dan aku menutup kamarku dengan sangat keras.
nyesel aku balek ke rumah kalo ujung - ujungnya cuma mau dijodohkan. Tau gini aku di jogja aja ga pulang - pulang
Aku mengambil ponselku dan menelfon Lettu Dimas.
turut. tuut. tuttt
"Hallo Assalamu'alaikum" ucap Lettu.
"Walaikumsalam mas, mas dimana? boleh adek minta tolong" Ucapku.
"Jemput adek besok pagi di bandara ya mas. Ga usah bilang ke mas masku kalo aku mau pulang. Pokoknya mas jemput besok pagi" Ucapku sambil nangis.
"Loh kenapa kamu dek, jangan bikin mas khawatir. kamu ndak apa-apa kan? " Lettu Dimas dengan nada khawatir.
"Mas sayangkan sama aku? " Tanyaku.
"Iya mas sayang sama kamu. Kok nanya gitu, Emang ada apa to? " Lettu Dimas.
"Aku mau dijodohin sama bapak ibuk mas" ucapku dengan terisak.
"Kok bisa? " Lettu Dimas.
"Ceritanya panjang mas, besok kalo ketemu aku ceritakan. Ya udah aku tutup dulu telfonnya. Assalamualaikum" Ucapku
__ADS_1
"Waalaikumsalam" Jawabnya.
Aku segera memesan tiket pesawat untuk besok pagi, aku berangkat jam 6 pagi dari Surabaya.
"Ndok, kamu gapapa" tanya ibuku.
"ndak buk, Pika capek. mau istirahat" Jawabku.
"Ya sudah kamu istirahat, ibu mau keluar ada acara beberapa hari di luar, besok siang bapak sama ibuk pulangnya" ucap ibukku.
Aku berpura-pura memejamkan mata. Setelah ibu keluar dan aku mendengar suara mobilnya sudah pergi. Aku menangis sejadi - jadinya. Mungkin aku adalah anak yang tidak tau diuntung atau apalah. Tapi jujur aku ga bisa nerima perjodohan ini. Bagaimana mungkin di jaman yang sudah modern seperti ini masih berlaku perjodohan seperti zaman Siti Nurbaya.
Di lain tempat di rumah lettu Dimas
Hari ini aku dan adikku pulang kerumah bapak dan ibuk karena mereka memintaku pulang.
Seperti biasanya kami makan bersama dan setelah makan bersama kami duduk duduk di sofa ruang TV sambil mendengarkan berita.
"Dim, kalo seumpama kamu dijodohin mau ndak? " Tanya bapak tiba-tiba.
"Bapak ga usah becanda, ini jaman udah modern pak. masak main jodoh-jodohin" jawabku.
"Minggu depan kamu ikut bapak sama ibuk kerumah calon kamu ya" ucap bapak.
Aku semakin bingung, entah calon siapa yang dimaksud. Aku saja tak memiliki pacar bagaimana aku memiliki calon.
Aku mengerutkan dahiku.
"Bapak udah jodohin kamu sama anak temen bapak. Jadi 2 hari lagi kita kesana ya. Bapak ga mau penolakan" Bapak.
Dan aku hanya menganggukkan kepala.
__ADS_1
Bagaimana mungkin aku dan Pika akan dijodohkan dalam waktu bersamaan. Aku tak rela jika harus melihat Pika bersanding dengan pria lain. Dan aku tak akan sudi dengan wanita pilihan bapak. Bagaimanapun aku hanya mencintai dan menyayangi Pika seorang.