Perjuangan Hidup Dan Ketulusan Cinta

Perjuangan Hidup Dan Ketulusan Cinta
"BAB 25 Citra selain cantik juga rajin"


__ADS_3

Citra pun langsung berdiri hendak menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu terlebih dahulu. dan ingin menunaikan ibadahnya. Karna memang sudah masuknya waktu untuk sholat asar.


Setelah selesai mengerjakan sholat. citra langsung merapikan mukenah dan sajadahnya dan meletakkan kembali di tempatnya. Setelah itu citra pun langsung membersihkan ranjang tempat tidurnya yang belom sempat Iya bersihkan setelah bangun tidur tadi. Setelah semuanya bersih citrapun langsung menuju dapur, untuk mengbil sapu dan peralatan kebersihan lainnya yang ingin hendak citra gunakan untuk berberes rumah.


Citra memang anak yang rajin dan suka beres beres. Karna dari kecil citra sudah terbiasa mbantu ibunya untuk memasak ataupun beres beres rumah. karna selain citra anak sulung dan masih memiliki dua orang adek yang masih kecil kecil, Iyapun sering merasa punya tanggung jawab dan kewajibannya sendiri. untuk membantu sedikit meringankan beban kedua orangtuanya. Sewaktu citra masih berkumpul dengan keluarganya dikampus dulu.


Ya begitulah citra selain cantik, dan penurut. Iyapun anak yang sangat baik, menghormati kedua orangtuanya, dan juga menyayangi kedua adek adeknya. Dan tidak lupa pula citra selalu menghormati orang yang lebih tua darinya. Tentunya itu semua juga tidak lepas dari didikan dan kasih sayang yang ditanamkan oleh kedua orangtua citra sedari kecil. Walaupun keluarga citra terbilang sangat sederhana dan sangat susah dalam perekonomian, tetapi mereka sangat kaya dalam adab dan kasih sayang.


Dan itu semua yang membuat kebanyakan pemuda pemuda di desa itu ingin memiliki citra. Selain memiliki paras yang cantik citra juga sangat dikenal dengan kebaikan hatinya.


Dewi terlihat masih sangat sibuk dengan semu pekerjaanya.


Setelah keluar dari ruangan beni tadi dewi pun langsung melanjutkan semua pekerjaannya yang sempat tertunda. Karna libur selama beberapa hari, membuat pekerjaan dewi jadi menumpuk dan harus segera diselesaikanya.

__ADS_1


Sedangkan beny terlihat sudah bersiap siap dan hendak pulang. Tetapi sebelum Iya keluar dari tempat itu beni terlebih dahulu mengecek semuanya, termasuk semua karyawan yang ada disana. Karna memang itu tugas beni sebagai asisten pribadi bosnya itu.


Setelah berkeliling dan para karyawan juga sudah pada berpamitan kepada beni untuk meminta izin pulang karna memang pekerjaan mereka semuanya sudah selesai. Beni pun langsung bergegas menuju pintu keluar menyusul teman teman rekan kerjanya untuk kembali pulang kerumah mereka masing masing.


Tetapi baru beberapa langkah beni berjalan matanya langsung tertuju terhadap salah seorang wanita yang masih terlihat sangat sibuk bekerja disalah satu pojok ruangan tersebut. Beni pun membelokan langkah kakinya kearah wanita tersebut. Dan perlahan lahan menghampirinya. Ternyata beni melihat siapa sosok wanita yang tidak asing baginya.


Dewi..?! Sapa beni yang tiba-tiba mengangetkan dewi yang tengah fokus bekerja.


Lho..? kok masih panggil pak sih dewi,, memangnya aku setua itu. ucap beni yang tampak tidak suka dengan panggilan yang ditujukan dewi kepadanya.


Hmmm kan sedari tadi kita diruangan kerjanya pak beni memang berbicaranya seperti itu.. dan bapak juga tidak protes sama sekali. Lagian,, memang seharusnya saya berbicara sopan seperti itu sama bapak karna bapak adalah wakil atasan saya. Jawab dewi santai yang masih tetap fokus melanjutkan pekerjaannya itu. Beni yang mendengarkan perkataan dari dewi tersebut langsung memegang dahinya bingung ingin menjawab apa karna memang tadi mereka berbicara diruangan kerjanya seperti itu. dan saat itu beni tidak merasa keberatan sama sekali.


Ntah karna sedang banyak fikiran. atau memang ada sesuatu yang penting yang ingin Iya sampaikan saat itu kepada dewi. jadi beni tidak memikirkan setiap bahasa yang mereka bawakan, walaupun sebenarnya beni dan dewi pun menyadari ada suasana cangung terasa saat itu untuk mereka berdua.

__ADS_1


Ya,, itukan tadi sekarang kan udah enggak lagi jawab beni seadanya.


Dewi hanya sedikit tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya namun tetap fokus dengan pekerjaannya.


Tapi dewi,, aku lebih suka kalau kita berbicara seperti biasanya aja.. ngomongnya seperti aku dan kamu gitu,. jadi terasa lebih santai. Mulai sekarang kamu jangan panggil aku dengan sebutan pak lagi ya. Ucap beni yang ingin menyampaikan keinginanya tersebut.


Oke..?! Baiklah jika itu yang bapak mau.


Jawab dewi.


Dewi,..!! Teriak beni.


Eh,, eh.. Maaf' hehehe kelupaan..? sahut dewi dengan tergelaknya karna melihat ekspresi wajah beni yang cukup mengemaskan baginya itu.

__ADS_1


__ADS_2