Permaisuri Jahat !

Permaisuri Jahat !
Sakit, sungguh sakit


__ADS_3

"Hormat hamba, Yang Mulia.." ucap Jendral Xio..


"Jendral Xio aku ingin kau menyelidiki hutan itu." ucap Kaisar Yu datar..


"Maksud Yang Mulia.." ucap Jendral Xio keheranan, pikirannya mengarah pada gadis pujaan Kaisar Yu..


"Ya tadi aku bertemu dengan Anak ku, dia tumbuh dewasa bahkan dia sangat tampan.." ucap Kaisar Yu terkekeh, bahkan air matanya keluar menatap lukisan di hadapannya..


"Jadi.."


"Seperti yang kau duga, aku ingin kau mencarinya. Setelah ini aku tidak akan melepaskannya.."


"Lalu bagaimana dengan Permaisuri Lu, Yang Mulia.."


"Biarkan saja dia tau, jika bukan karna aku menuruti perintah Ibunda untuk menikahinya. Cinta ku tidak akan kecewa dan meninggalkan ku.." lirih Kaisar Yu..


"Kau boleh pergi.." perintah Kaisar Yu.


Jendral Xio menunduk hormat berlalu pergi.


Sementara disisi lain..


Malam harinya...


"Kemana si putih ? kenapa Yang Mulia tidak mengembalikan si putih ?" ucap Yue Fei sambil menggigit jarinya, mulai tadi pagi ia tidak tenang, hingga malam tiba pikirannya kacau..


"Permaisuri tenang lah, dia tidak akan kemana mana.." ucap pelayan Liu, ia pusing melihat Yue Fei mondar mandir menatap pintu kediamannya..


Aneh, hewan itu hanya bertemu sekali, kenapa Permaisuri sangat mengkhawatirkan nya..


Srekk..


Yue Fei menoleh ke arah jendela, ia langsung menggendong si putih..


"Kalian keluarlah, jika ada yang datang kesini. Bilang saja aku tidak ingin di ganggu.." ucap Yue Fei..


Para pelayan menunduk hormat berlalu pergi,,


Setelah kepergian para pelayan, Yue Fei menaruh si putih di ranjangnya..


Yue Fei yang masih dalam posisi berdiri, Seketika ia diam membeku, dengan reaksi si putih berubah menjadi manusia dan memeluknya begitu erat..


"Biarkan begini, aku hanya ingin begini.." lirih si putih menenggelamkan kepalanya di dada Yue Fei..


Yue Fei menghembuskan nafasnya, ia tau perasaan si putih. Orang yang dia harapkan selama ini. Namun tidak bersamanya. Ingin mendapatkan kasih sayangnya, tapi tidak mendapatkannya.


Sungguh beruntung Pangeran Chen batin Yue Fei..


Ia mengangkat tangannya, mengelus si putih..

__ADS_1


Selang beberapa saat, terdengar nafas teratur layaknya orang tidur..


"Kau tidur.." tanya Yue Fei namun tidak ada jawabannya..


Perlahan lahan Yue Fei membaringkan si putih di ranjangnya, kemudian ia menyelimuti tubuh si putih..


"Apa yang terjadi dengan mu ? aku tidak tau, tapi aku merasakannya, bahwa hati mu terluka.." ucap Yue Fei, ia mengelus kepala si putih..


Dengan hati hati Yue Fei turun dari ranjangnya lalu membuka jendela, ia menatap sang langit.. Entah kenapa ia merindukan zaman modern nya.


Selang beberapa saat, sepasang tangan kekar melingkar di perutnya..


"Kenapa kau tidak ikut tidur ?" tanya si putih membenamkan wajahnya di bahu Yue Fei.


"Hem, aku belum mengantuk. Kenapa kau bangun, sebaiknya kau istirahat saja agar hatimu tenang."


"Hatiku tidak tenang tanpa dirimu.."


Yue Fei terkekeh.. "Gombal.."


"Apa kau sangat suka menatap langit malam.."


"Benar, aku sangat suka. Ketika hatiku sedih, aku selalu menatapnya agar hatiku tenang. Aku sangat merindukan zaman ku. Biasanya waktu pagi, siang dan malam aku sangat sibuk mengobati pasien ku.." ucap Yue Fei tanpa berkedip menatap sang langit..


"Aku ingin tau pekerjaan mu ? bisakah kau menceritakan kehidupan modern mu.." ucap si putih..


Yue Fei tersenyum, ia menceritakan kehidupan zaman modern nya.


Ke esokan paginya....


Yue Fei mengerjapkan matanya, Tanpa ia sadari ia meraba raba dada bidang si putih..


Yue Fei membuka kelopak matanya, ia melotot kemudian langsung mundur..


"Kenapa kau bisa ada disini.."


Si putih terkekeh melihat Yue Fei yang menggemaskan.


"Apa kau lupa kejadian tadi malam.." jawan si putih sambil tersenyum.


Yue Fei mengingat kejadian tadi malam..


"Ah, begitu rupanya..." ucap Yue Fei mengangguk..


"Baiklah, kau ubahlah wujud mu. Jangan sampai ada yang tau.." ucap Yue Fei melirik si putih..


"Haha baiklah.."


Selang beberapa saat, datanglah pelayan Liu dan pelayan lainnya.

__ADS_1


"Hormat hamba Permaisuri, airnya sudah hamba siapkan.." ucap pelayan Liu..


Yue Fei mengangguk..


Kemudian ia menuju ke tempat pemandiannya..


Setelah selesai semua aktivitasnya mandinya, Yue Fei menuju kediamannya, Namun tidak melihat si putih. Ia pun di rias oleh pelayannya. Setelah selesai Yue Fei berniat mencari udara segar. Ia menuju ke taman istana..


Selang beberapa saat..


"Hormat hamba Permaisuri.." ucap Selir Yue Mei tersenyum sinis.


"Untuk apa kau datang kesini ?" tanya Yue Fei menatap tajam Selir Yue Mei..


"Tentu saja mencari udara segar.." ucap Selir Yue Mei sambil mengelus perutnya..


Karna jenuh, Yue Fei beranjak pergi.


"Permaisuri, kau sama saja seperti Ibu mu. Sama sama ******.." ucap Selir Yue Mei tertawa dengan mengejek..


"Bahkan sampai sekarang, Ayahanda tidak memberi tau mu.."


Yue Fei menghentikan langkahnya, ia mengepalkan tangannya kemudian...


Plakk...


Tamparan keras dan perih membuat Selir Yue Mei jatuh tersungkur ke tanah, hingga mulutnya mengeluarkan darah..


Plakk...


"Beraninya, kau menampar Adik mu seperti itu.." bentak Jendral Yue menatap Yue Fei dengan tatapan tajam. Hingga tubuh Yue Fei jatuh ke tanah..


Yue Fei memegang pipinya, dadanya naik turun, ia menoleh melihat Jendral Yue, Pangeran Chen, Kaisar Yu dan Permaisuri Lu..


Mereka bermaksud menjenguk Selir Yue Mei, karna tidak ada di kediamannya, Ia mencari Selir Yue Mei hingga melihat Yue Fei menampar Selir Yue Mei..


Yue Fei berdiri, ia menatap tajam mereka..


"Kalian puas.." teriak Yue Fei..


"Apa kau sudah gila menampar Mei'er, Jika kau membenciku seharusnya kau lampiaskan saja pada ku.." bentak Pangeran Chen..


"Ini tidak ada urusannya dengan mu Pangeran, baik. Kebohongan yang aku tanggung selama ini, Suami macam apa yang mengkhianati istri dan Ayah macam apa yang mengkhianati Anaknya. Bertahun tahun hingga Ibunda meninggal Ayah menutupi kebohongan Ayah, Pernahkah Ayah berfikir perasaan ku. Apa karna dia adalah Anak Ayah, Lalu Ayah tega menamparku, tanpa menanyakannya..." Yue Fei tertawa di dalam tangisannya..


"Dan Suami macam apa ? yang tidak pernah bisa melihat penderitaan istrinya.."


Deg,,


Seketika jantung Pangeran Chen berhenti, hatinya merasa sakit melihat Yue Fei yang penuh air mata menatapnya dengan tatapan kebencian..

__ADS_1


"Pangeran kau tidak pernah bertanya, kenapa aku sombong, kenapa aku angkuh dan kejam. Yang kau pedulikan hanya penglihatan mu tapi tidak perasaan mu.."


Yue Fei memukul dadanya. "Suatu saat nanti kalian akan merasakan apa yang aku rasakan, kalian akan menangis apa yang aku tangisi. Kalian akan merasakannya, Tuhan tau apa yang aku rasakan.." teriak Yue Fei ia mengeluarkan semua rasa yang di pendam nya selama ini..


__ADS_2