
Ke esokan paginya,,
"Hormat hamba, Permaisuri. Maaf Yang Mulia tidak ingin di ganggu.." ucap sang Kasim.
"Aku hanya ingin bertemu dengannya.." ucap Permaisuri Lu menatap tajam sang Kasim.
"Maaf Permaisuri, hamba takut Yang Mulia bertambah marah.." balas sang Kasim.
Permaisuri Lu mengepalkan tangannya, ia langsung pergi menuju kediamannya..
"Sialan ! kenapa hanya dia yang ada di hati Yang Mulia.."
Prank..
Permaisuri Lu melempar vas bunganya. Kediamannya yang sudah acak acakan, di mana mana di penuhi dengan pecahan vas bunga..
Ia mengingat ketika Kaisar Yu menolaknya..
Flasback..
"Yang Mulia, hamba mencintai Yang Mulia.." ucap Permaisuri Lu yang sudah beranjak dewasa.
"Maaf, Lu'er aku hanya mencintai Meili dan aku sudah berjanji padanya untuk menikahinya.." tolak Kaisar Yu lembut. Ia langsung pergi meninggalkan Permaisuri Lu yang merasakan sakit.
Tidak bisa Yang Mulia harus menjadi miliku, bagaimana pun caranya batin Permaisuri Lu mengepalkan tangannya. Karna marah Permaisuri Lu mendatangi Tuan Rong di kota yang terkenal pembunuh di Kekaisaran Yu.
Sampailah di kota, ia langsung masuk ke kediaman Tuan Rong yang meminum tehnya.
"Nona Lu, ada apa kau datang kesini ?" tanya tuan Rong, laki laki paruh baya yang tersenyum sinis.
"Tuan Rong, tanpa basa basi. Aku ingin kau membunuh Meili, aku mendengar kabar besok pagi dia akan keluar istana dan kehutan, kebetulan dia hanya dengan pelayan dan beberapa pengawal. Bagaimana pun caranya kau harus membunuhnya.." ucap Nona Lu datar tersenyum sinis. ia melemparkan sekantong koin emas.
"Sisanya, akan aku berikan setelah kau selesai.." ucap Nona Lu langsung pergi..
"Baiklah, dengan senang hati..."
Flasback off...
__ADS_1
Prankk...
"Kenapa dia tidak mati sekalian dan melahirkan putranya.." teriak Permaisuri Lu..
"Bagaimana, bagaimana jika Yang Mulia, memilih nya meneruskan tahtanya. Tidak bisa, tahta itu harus menjadi milikku.." ucap Permaisuri Lu..
Disisi lain.
"Hormat hamba Yang Mulia.." ucap Jendral Xio. Dia membawa seorang laki laki paruh baya dengan tubuh yang di ikat tali, serta mulutnya di tutup dengan kain..
"Yang Mulia, hamba sudah menemukan bukti. Jika Permaisuri Lu ada hubungannya dengan kejadian 20 tahun lalu.." ucap Jendral Xio yang masih menunduk hormat.
Jendral Xio melepaskan kain di mulut Tuan Rong, dengan sigap Kaisar Yu langsung mengeluarkan pedangnya. Mengarahkan ke leher Tuan Rong.
"Ampun Yang Mulia, hamba akan, akan menceritakannya. To, tolong ampuni nyawa Yang Mulia." ucap Tuan Rong menatap Kaisar Yu yang menatapnya dengan tatapan tajam.
"Pada waktu itu, Nona Meili sedang mencari bunga di hutan dengan pelayannya dan pengawalnya, lalu hamba mengeluarkan serbuk racun kemudian mereka semua pingsan dan hamba membuang, mem,, mem, buang tubuh Nona Meili dan pelayannya ke ju, jurang.."
"Ampun Yang Mulia, hamba hanya melaksanakan perintah Permaisuri Lu pada waktu itu.." ucap Tuan Rong yang telah menggigil ketakutan..
"Lepaskan, kau harus menghormatiku. Aku adalah Permaisuri.." Jendral Xio memaksa Permaisuri Lu dengan kasar, karna ia tidak ingin menemui Kaisar Yu setelah melihat Tuan Rong di ikat oleh Jendral Xio menuju ke ruang kerja Kaisar Yu..
"Yang Mulia.." ucap Permaisuri Lu, Dia langsung menjatuhkan dirinya dengan posisi terduduk melihat mayat Tuan Rong dengan kepala terpisah dari tubuhnya..
"Aku sungguh kecewa, aku memperlakukan mu begitu baik. Tapi apa balasannya.." teriak Kaisar Yu menatap tajam Permaisuri Lu..
"Ampun Yang Mulia, hamba hanya mencintai Yang Mulia.."
"Mencintai, sungguh menjijikkan. Mencintai tak harus menyakiti, mencintai harus berkorban demi orang yang di cintainya agar hidup bahagia. Tapi kau !!" Kaisar Yu menunjuk Permaisuri Lu dengan pedangnya.
"Bahkan kau bertahun tahun membuatku menderita dan tersiksa. Aku sebagai Suami mu, menghukum mu dengan meminum racun. Aku masih menghormati mu karna kau melahirkan putra ku.." ucap Kaisar Yu..
"Bawa pergi dia, dan perketat penjagaan. Besok pagi ia harus melaksanakan hukumannya.."
"Tidak Yang Mulia, hamba mohon..."
Kaisar Yu memalingkan wajahnya, ia sangat jijik melihat wajah Permaisuri Lu.
__ADS_1
Hukuman Permaisuri Lu kini tersebar ke seluruh penjuru Kekaisaran Yu, semua rakyat tidak pernah menyangka. Jika Permaisuri yang mereka puja akan kecantikannya dan kecerdasannya memiliki hati yang gelap..
Sementara Pangeran Chen, ia mengurung diri tak ingin menemui siapa pun setelah mendengarkan kejahatan Ibundanya, Dia tidak pernah menyangka Ibunda yang dia cinta dan sayangi, serta ia telah menuruti segala permintaan Ibundanya dan malah mendapatkan rasa sakit ini.
"Hormat hamba Yang Mulia.." ucap pelayan kediaman Pangeran Chen.
Setelah mendengar kabar Pangeran Chen mogok makan, Kaisar Yu langsung menghampirinya. Ia akan tetap menyayangi Pangeran Chen, karna Pangeran Chen tidak tau masalah apapun, seburuk buruknya Permaisuri Lu, Pangeran Chen tetap adalah darah dagingnya..
Kaisar Yu langsung masuk, ia melihat Pangeran Chen yang menatap kosong dengan rambut acak acakan..
"Chen'er.." Kaisar Yu memeluk Pangeran Chen yang menatap keluar jendelanya.
"Nak, jangan bersedih. Ibunda mu memang pantas mendapatkannya.."
"Ayah apa salah ku, kenapa harus aku.." lirih Pangeran Chen menangis tersedu sedu..
"Cobaan ini adalah pertanda kau putra ku yang kuat.." ucap Kaisar Yu menepuk nepuk punggung Pangeran Chen..
"Ayah boleh aku bertanya, siapa Meili.." tanya Pangeran Chen mendongakkan kepalanya.
"Meili adalah kekasih Ayah nak, Ayah dan Ibunda mu memang berteman semenjak kecil tapi Meili cinta pertama Ayah.."
"Apa pemuda rambut putih itu, adalah anak Ayah ?" tanya Pangeran Chen..
"Benar, setelah Meili dinyatakan meninggal. Ibunda Ayah langsung menikahkan Ibunda mu dengan Ayah. Pada saat itu Ayah tidak bisa berbuat apa apa dan sekarang Ayah harus mencarinya.."
"Aku ingin mencarinya Ayah, dia juga membawa Permaisuriku.." ucap Pangeran Chen..
"Kita akan mencarinya bersama sama setelah hukuman Ibunda mu telah selesai.."
"Ayah, dia memang Ibunda ku, tapi dia juga pantas mendapatkan hukuman.."
"Apa kau kuat ?" tanya Kaisar Yu tersenyum.
"Aku kuat, aku adalah Anak Ayah.." Kaisar Yu mengelus pucuk kepala Pangeran Chen..
"Baiklah, kau istirahat. Besok adalah hukuman Ibunda mu.." ucap Kaisar Yu, ia mencium kepala Pangeran Chen. Kemudian berlalu pergi.
__ADS_1