Permaisuri Jahat !

Permaisuri Jahat !
Ying Hua


__ADS_3

Raja rubah menggeram, rasanya dia ingin mencabik cabik Pangeran Chen.


"Kita pergi.." perintah Raja rubah dingin.


Para pelayan dan pengawal menelan ludahnya susah payah.


Gawat bisa bisa istana hancur batin mereka saling menatap.


Selang beberapa saat, munculah cahaya putih dari tubuh Pangeran Chen.


Safira memejamkan matanya melihat silau cahaya yang keluar dari tubuh Pangeran Chen. Terlihat laki laki tampan gagah, tubuh kekar serta kulit putih dan mulus.



"Baiklah, aku harus pergi.." ucap Safira menunduk hormat.


"Tunggu, sekali lagi terimakasih dan maaf."


Dan terimakasih telah memberikan kehangatan bagi hidup ku, walaupun kau bukan dia...


Safira tersenyum, dia hanya mengangguk..


Safira hanya melongo melihat pemandangan di depannya, dimana Ratu Meili dan Kaisar Yu saling menatap. Namun tatapan Ratu Meili tersimpan sebuah kebencian sehingga Kaisar Yu hanya menatapnya.


"Bisakah kita bicara.."


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan.." ucap Ratu Meili dengan penuh penekanan.


"Maaf,,," lirih Kaisar Yu menatap sendu.


"Putri, kau sudah selesai ayo kita pergi.."


"Tunggu.." teriak Pangeran Chen..


Semua orang menoleh, menatap Pangeran Chen tanpa berkedip.


Ratu Meili tersenyum melihat perubahan wajah Pangeran Chen.


"Bisakah Ratu memaafkan, Ayahanda. Ini semua salah Ibunda. Jadi tolong maafkan Ayahanda."


Ratu Meili terkekeh..


"Setelah apa yang di lakukan oleh Ibunda mu, aku harus memaafkan dia.." ucap Ratu Meili menunjuk Kaisar Yu.


"Maaf, hati ku tidak berlapang dada.." ucap Ratu Meili tersenyum sinis.


"Putri.."


Ratu Meili melirik Safira..


Serem amet batin Safira menatap horor mata Ratu Meili..


Safira mendekati Ratu Meili, selang beberapa saat tubuh mereka menghilang seiringnya cahaya di tubuh mereka...


Tubuh Kaisar Yu lemes seketika, Pangeran Chen yang melihatnya, ia langsung menangkap tubuh Kaisar Yu.


"Ayah, Ayo kita pulang.." ucap Pangeran Chen


"Tapi dia, tenanglah Chen'er akan membantu Ayah.." ucap Pangeran Chen memeluk Kaisar Yu..


"Pangeran, akhirnya Pangeran sembuh.." ucap Pendeta Tao tersenyum bahagia..

__ADS_1


"Ya, mari kita pulang dulu..." ucap Pangeran Chen..


Disisi lain..


Sampailah mereka di depan istana rubah.


"Ibunda, apa tidak bisa memaafkannya ?" tanya Safira menatap Ratu Meili..


"Hati bisa memaafkannya, tapi tidak bisa melupakannya.."


"Bukankah lebih tenang jika kita memulai awal yang baru.."


Ratu Meili yang mendengarkan Safira, ia hanya diam membeku..


"Ibunda, tolong pikirkan kembali. Hamba harap Ibunda bahagia.." ucap Safira menunduk hormat berlalu pergi...


Dari kejauhan Safira melihat para pengawal dan pelayan saling menatap..


Kenapa tatapan mereka seperti khawatir..


Kemudian Safira mempercepat jalannya..


Sampai di pintu kediaman Raja rubah. Safira terkejut mendengarkan sesuatu dari dalam kamar Raja rubah..


Saat Safira ingin membuka pintu.


"Putri.." panggil seorang pelayan menunduk hormat.


"Ada apa ? kenapa kalian disini?" bentak Safira.


"Ampun Putri, sebenarnya Raja marah.." jawab pelayan.


Safira terkejut... "Sebenarnya apa yang terjadi ?"


Sekarang Safira mengerti apa yang sedang terjadi..


brakk


Safira melihat semua pecahan vas bunga dimana mana, ia juga melihat ranjang dan lukisan hancur berserakah. Semua yang ada disana hancur..


"Untuk apa kau kesini ? apa karna kau tau aku menjadi lemah. Kau kasihan pada ku.." teriak Raja rubah tanpa menatap Safira di belakangnya..


"Apa maksudnya ?"


Safira tidak tau lebih kondisi Raja rubah, dia berlari menghampiri Raja rubah dan memeluknya dari belakang..


Deg deg...


"Kau sudah gila, siapa yang meninggalkan mu, siapa yang kasihan dengan mu ? kau itu si putih yang kuat. Mana ada orang yang akan mengasihi mu. Tapi kebanyakan orang yang akan mencintai mu. Kenapa tadi tidak menghampiri ku ?" ucap Safira ia membenamkan wajahnya di leher Raja rubah.


"Bukankah kau akan kembali dengannya. Jika memang begitu semoga bahagia."


Safira terkekeh, ia berjongkok di hadapan Raja rubah dan menatapnya.


"Jika aku memilihnya, aku tidak akan datang kesini.." ucap Safira ia mencium kening Raja rubah..


Raja rubah tercengang dengan perlakuan Safira.. "Benarkah ??"


Safira mengangguk dan tersenyum, kemudian Raja rubah memeluk Safira..


"Jangan pernah meninggalkan ku.." lirih Raja rubah, tanpa sadar ia menangis bahagia..

__ADS_1


"Kau tidak akan menyesal bersama ku, Aku tidak bisa berjalan.."


"Maaf, karna aku. Kau jadi begini.." ucap Safira menatap lembut Raja rubah..


"Tidak masalah, asalkan kau tidak meninggalkan ku.." ucap Raja rubah tersenyum.


"Kau tidak perlu melakukan hal bodoh, jika kau marah. Kau bisa mendatangi ku.."


"Aku tidak bisa, aku tidak ingin melukai orang yang ku cintai. Lebih baik aku menumpaskannya dengan tubuhku sendiri.." balas Raja rubah..


Safira merobek hanfunya, ia menutupi telapak tangan Raja rubah..


"Pengawal, pelayan !"


"Pengawal bantu aku membawa Raja keluar dan para pelayan kalian bersihkan kediaman ini.." ucap Safira..


Sampailah mereka di taman istana..


"Tinggalkan kami.." ucap Safira datar.


Para pelayan dan pengawal mengangguk mengerti.


"Chang'er.." sapa Ratu Meili..


Raja rubah dan Safira menoleh, lalu menunduk hormat..


"Chang'er, kau sudah sadar Ibunda kira, kau butuh waktu lama untuk sadar.." ucap Ratu Meili memeluk Raja rubah.


"Awalnya seperti itu, mungkin karna kekuatan cinta Ibunda.." balas Raja rubah melirik Safira.


"Ibunda, aku ingin secepatnya menikah." ucap Raja rubah.


Ratu Meili tersenyum, ia melepaskan pelukannya dan menatap putranya..


"Kau tidak sabaran.." ucapnya.


"Bagaimana dengan mu putri ? apa kau setuju ?" tanya Ratu Meili.


"Emm, bagaimana ya..." ucap Safira membuat Raja rubah menunduk lemas..


"Sepertinya aku tidak bisa menolak.." ucap Safira terkekeh.


"Ibunda besok aku akan melaksanakan pernikahan, aku tidak ingin lama. Pangeran Chen pasti mencari cara untuk membawanya.." ucap Raja rubah dengan nada sewot.


"Hahaha, semenjak kapan putraku yang sedingin es ini bisa ketakutan, bahkan seluruh wanita tau jika Raja rubah tidak bisa di dekati.." ucap Ratu Meili sambil menggeleng gelengkan kepalanya..


"Chang'er, apa kau setuju jika Ibunda bersama Ayahanda mu ?" tanya Ratu Meili menatap serius..


Raja rubah menggenggam tangan Ratu Meili dan menatapnya.


"Jika bisa membuat Ibunda bahagia. Terserah Ibunda.."


Safira mendekat.. "Baiklah, kita akan memulai hidup yang baru dengan awal yang baru.." ucap Safira sambil memeluk Ratu Meili dan Raja rubah..


"Em, tapi aku belum tau nama mu. Jangan menggunakan nama Permaisuri Pangeran Chen.." ucap Raja rubah melepaskan pelukannya.


"Kau bisa memanggil ku Safira.." ucap Safira..


"Tidak, aku tidak setuju, nama mu sekarang Ying Hua.."


"Ying Hua artinya bunga sakura, bunga yang di artikan sebagai bunda kehidupan yang dijadikan sebagai simbol harapan karna bunga sakura bermakna untuk kehidupan yang penuh harapan dan masa depan yang cerah.." jelas Raja rubah..

__ADS_1


"Berarti, Permaisuri Ying Hua.." timpal Ratu Meili tersenyum.


Mereka pun saling berpelukan lagi, dan tertawa bersama sebagai keluarga yang harmonis.


__ADS_2