Permaisuri Jahat !

Permaisuri Jahat !
salah paham


__ADS_3

Safira menatap tubuh pucat Raja rubah, ia sungguh, sungguh tak menyangka. Semua terasa mimpi baginya.


Safira memegang tangan Raja rubah, ia mengingat semua yang dilakukan Raja rubah, senyumnya dan gombalannya..


"Bangunlah, kau tak merindukan ku. Lihatlah aku sudah pulih.. Terimakasih.." ucap Safira sambil mengelus pipi Raja rubah..


"Hormat hamba, Putri. Hamba ingin mengompres tubuh Yang Mulia." ucap seorang pelayan yang masih menunduk.


"Kalian keluarlah, biar aku saja.." balas Safira tersenyum..


Safira mengambil nampan yang berisi air dan di samping mangkok itu ada kain. Setelah itu Safira membuka tirai benang di kasur Raja rubah dan menutupi seluruh ranjang Raja rubah.


Safira membuka hanfu Raja rubah, ia mengelap keringat Raja rubah dengan lembut.


Sesekali Safira memandang Raja rubah berharap dia akan membuka kelopak mata yang indah itu..


Selang beberapa saat


"Putri sebaiknya kau istirahat, tubuh mu belum sepenuhnya pulih.." ucap Ratu Meili, ia menyingkap kelambu keranjang Raja rubah..


Ratu Meili tersenyum melihat kelembutan Safira..


"Ratu, sepertinya ada yang memanggil Ratu.." ucap Kasim Sang.


"Kaisar Yu.." ucap Ratu Meili..


Safira yang mendengarkannya, ia langsung menoleh.


"Ratu, apakah yang memanggil Ratu, Yang Mulia ?" tanya Safira.


"Sepertinya begitu.. Kasim Sang lihat siapa saja yang datang.." perintah Ratu Meili.


Kasim Sang membaca sebuah mantra, setelah itu munculah cermin.


"Perlihatkan.." perintah Kasim Sang.


Selang beberapa menit,


Cermin itu memperlihatkan Kaisar Yu, Pendeta Tao, Pangeran Chen serta kedua Jendral..

__ADS_1


Waw canggih bener, tidak perlu Vidio call batin Safira..


"Maaf Ibunda, mungkin mereka mencari tubuh Permaisuri Yue Fei.."


"Benar, sepertinya begitu.."


"Ibunda, jika ingin menemui mereka. Bolehkah hamba ikut. Hamba hanya ingin mengucapkan terimakasih.." ucap Safira menatap Ratu Meili.


"Baiklah, kau boleh ikut.." ucap Ratu Meili tersenyum..


Safira menatap Raja rubah, ia membereskan hanfu Raja rubah.


Safira mendekatkan mulutnya di telinga Raja rubah lalu membisikkan sesuatu yang hanya di dengarkan oleh Raja rubah.


"Chang'er, Aku pergi dulu. Cepatlah sadar." ucap Safira tersenyum.


Kemudian mereka berlalu pergi, Tanpa mereka sadari kelopak mata itu perlahan lahan terbuka.


Sementara di sisi lain...


Kaisar Yu terus mencari dan meraba setiap pohon yang rindang mencari pintu menuju hutan putih..


"Meili.." teriak Kaisar Yu, dia menatap sekelilingnya. Namun tidak ada apapun..


Semua orang yang menatap Kaisar Yu merasa iba dengan cintanya yang begitu besar..


"Li'er.."


Munculah sebuah cahaya dari salah satu pohon rindang dan keluarlah dua sosok wanita yang kecantikannya luar biasa dengan rambut putih yang terurai..


Safira...



Semua orang menatap kedua wanita itu tanpa berkedip, Kaisar Yu yang melihat wanita yang di cintainya masih hidup, dia berlari menghampirinya. Namun saat mulai dekat kedua pengawal menyilangkan tombaknya menghadang Kaisar Yu.


"Lie'er.." lirih Kaisar Yu yang terkejut melihat reaksi wanita yang di cintainya tanpa senyuman bahkan hanya menatap datar.


"Kalian datang kesini hanya mencari tubuh Permaisuri Yue Fei, aku rasa kalian sudah tau. Jika di dalam tubuh Permaisuri Yue Fei adalah jiwa yang lain.." ucap Ratu Meili datar.

__ADS_1


Ratu Meili menjentikkan jarinya, munculah sebuah peti yang berisi tubuh Permaisuri Yue Fei.


"Aku rasa, aku sudah cukup.." ucap Ratu Meili beranjak pergi..


"Tunggu Ibunda, aku hanya berterimakasih pada mereka.." ucap Safira menatap Ratu Meili.


"Pertama aku berterimakasih pada Permaisuri Yue Fei yang telah meminjamkan raganya dan semoga dia tenang disana dan yang kedua aku minta maaf karna selama ini aku telah membohongi kalian.." ucap Safira menatap mereka terutama Pangeran Chen, Pangeran Chen menatap Safira dengan penuh lekat..


"Bolehkah aku berbicara dengan mu berdua.." ucap Pangeran Chen..


Safira mengangguk, Safira melangkah kan kaki mereka di ikuti Pangeran Chen dan pelayannya.


Sampailah Safira di dekat sungai, ia menoleh ke samping melihat Pangeran Chen yang menatap ke arah air sungai yang mengalir begitu tenangnya.


"Siapa nama mu ?" tanya Pangeran Chen tanpa menatap Safira.


"Safira.."


"Nama yang aneh, tapi unik dan cantik seperti orangnya.." ucap Pangeran Chen menoleh.


"Maaf, maafkan aku yang membuat mu sakit dan aku sudah tau kebenarannya dari Fei'er, dia menemuiku sebelum dia pergi.." ucap Pangeran Chen tersenyum.


"Dan terimakasih, telah memberi kehangatan bagiku. Jujur saja aku merasa nyaman dengan mu. Entah itu dengan tubuh Permaisuri Yue Fei atau dengan mu."


Safira tersenyum, ia menggigit jari telunjuknya hingga mengelurkan darah lalu mengarahkannya pada mulut Pangeran Chen.


"Aku sudah tau semuanya, minumlah darahku."


Pangeran Chen tersenyum, ia memegang tangan Safira menatap matanya tanpa berkedip.


"Kau tak perlu mengeluarkannya. Aku sudah cukup seperti ini.." ucap Pangeran Chen tersenyum.


"Bukankah selama ini kau menunggu ku hanya karna ini, anggap saja ini ucapan terimakasih ku.." ucap Safira.


"Baiklah, setidaknya darah mu, walaupun hanya setetes mengalir dalam tubuhku dan terimakasih kehangatan yang telah kau beri." ucap Pangeran Chen..


Pangeran Chen mengarahkan jari telunjuk Safira ke mulutnya, mereka pun saling tersenyum.


Tanpa mereka sadari sepasang mata berambut putih, bermata merah dengan memakai sebuah kursi duduk melihat mereka, ia mengepalkan tangannya hingga kukunya menusuk kulitnya..

__ADS_1


Apa aku di hatimu tak pernah ada batin Raja rubah...


Saat ia sadar, dan mendengar perkataan pelayannya, jika Ibundanya dan gadisnya menemui Pangeran Chen dan Kaisar Yu, ia langsung bergegas pergi walaupun tubuhnya masih lemah, namun ia tetap berusaha. Yang ia takutkan gadisnya akan bersama Pangeran Chen, tapi kenyatannya ia melihat sendiri jika gadisnya masih berharap pada Pangeran Chen.


__ADS_2