
Ke esokan paginya...
"Yang Mulia dan Pangeran telah tibaa.." teriakan sang Kasim membuat Permaisuri Lu mendonggakkan kepalanya menatap mereka.
Mereka pun saling menatap, Kaisar Yu memalingkan wajahnya sementara Pangeran Chen menatap Ibundanya dengan tatapan iba..
"Ibunda.." lirih Pangeran Chen..
Seorang Kasim membawa sebuah nampan di atasnya terdapat secangkir racun berwarna hitam pekat..
Permaisuri Lu menangis tersedu sedu, ia menatap Kaisar Yu yang memalingkan wajahnya dan menatap Pangeran Chen yang menangis menatapnya.
Permaisuri Lu mengambil cangkir itu dalam sekali teguk ia meminum racun tersebut..
Akhirnya aku mati di tangan orang yang aku cintai batin Permaisuri Lu menatap Kedua orang yang di cintai, Hingga tubuhnya menjadi lemas..
"Ibunda..." teriak Pangeran Chen memeluk tubuh Permaisuri Lu yang telah tak bernyawa..
Kaisar Yu memejamkan matanya, ia mengingat kejadian saat saat bersama Permaisuri Lu yang di anggap Adiknya se dari kecil..
"Makam kan Permaisuri Lu dengan layak.." perintah Kaisar Yu berlalu pergi..
Pada malam harinya...
Pangeran Chen masih merenungi kematian Ibundanya, ia menangis tersedu sedu, mengingat begitu banyak kenangan yang ia lalui bersama Ibundanya, canda tawa yang menghiasi hidupnya dan ia juga ingat Permaisurinya yang pernah tersenyum dan tertawa padanya. Namun dalam sekejap mata hal itu membuat pukulan besar bagi dirinya..
"Nak..." sapa Kaisar Yu dari arah pintu..
Ia menghampiri Pangeran Chen dan memeluknya.
"Sudahlah jangan bersedih, kau harus memulai hidup baru.." ucap Kaisar Yu mengelus punggung Pangeran Chen..
Selang beberapa saat..
__ADS_1
"Hormat hamba, Yang Mulia, Pangeran. Pendeta Tao, ingin menemui Yang Mulia dan ini masalah tentang Permaisuri.." ucap sang Kasim..
Pangeran Chen langsung melepaskan pelukannya..
"Cepat, bawa dia masuk.." teriak Pangeran Chen..
Kasim itu pun berlalu pergi dan mempersilahkan Pendeta Tao masuk..
"Hormat hamba, Yang Mulia, Pangeran.." ucap Pendeta Tao.. Semenjak ia mendengar tentang kehilangan Permaisuri Yue Fei dan hukuman Permaisuri Lu,, Pendeta Tao langsung bergegas ke istana, ia tidak bisa membiarkan Permaisuri Yue Fei menghilang karna darahnya berguna untuk Pangeran, hingga ia memutuskan untuk memberi tau kebenaran.
"Kau tau dimana Permaisuri ku ?" tanya Pangeran Chen menatap Pendeta Tao dengan serius.
"Yang Mulia, hamba mohon sebaiknya memberi taukan pada Jendral Yue.."
"Baiklah, pelayan cepat panggil Jendral Yue.." teriak Pangeran Chen..
15 menit kemudian..
"Hormat hamba, Yang Mulia, Pangeran.."
"Permaisuri Yue Fei telah meninggal.." ucap Pendeta Tao. Membuat Jendral Yue, Pangeran Chen dan Kaisar Yu terkejut..
"Apa maksud mu ?" teriak Jendral Yue memegang bahu Pendeta Tao menatap tajam Pendeta Tao yang menunduk..
"Apa maksud mu? kau tau hukuman apa membuat rumor anggota kerjaan.." ucap Kaisar Yu menatap tajam.
"Hamba tidak berbohong Yang Mulia, semenjak hamba melihatnya. Jiwa di dalam tubuh Permaisuri, bukanlah jiwanya. Melainkan jiwa orang lain dan jiwa itulah yang dapat menyembuhkan kutukan Pangeran Chen.." ucap Pendeta Tao menggigil ketakutan.
"Omong kosong apa yang kau bilang.." ucap Jendral Yue, ia mendorong tubuh Pendeta Tao hingga jatuh ke lantai..
Sementara Pangeran Chen, seketika tubuhnya terasa lemas, ia langsung terjatuh ke lantai..
"Chen'er.." ucap Kaisar Yu, ia membopong tubuh Pangeran Chen ke ke kursi..
__ADS_1
"Pangeran..." sapa seorang gadis dari belakang Pangeran Chen menggunakan hanfu putih polos dan tersenyum..
Merekapun menoleh, Pangeran Chen langsung berdiri dan menghampirinya, memeluk gadis itu..
"Fei'er kau kemana saja, aku sangat merindukan mu.." ucap Pangeran Chen menatap Yue Fei dengan tatapan khawatir.
"Prajurit, Pendeta Tao berbohong. Dia harus di hukum.." teriak Pangeran Chen.
"Tunggu, aku memang sudang meninggal Pangeran.." ucap Yue Fei dengan lembut..
"Tidak, kau masih hidup.."
"Aku datang kesini hanya berpamitan dengan mu Chen'er, aku minta maaf selama hidup ku mengecewakan mu, maaf aku tidak membalas cinta mu. Suatu saat nanti kau akan menemui gadis yang kau cintai sesungguhnya, ketika kau mencintainya, tumpahkan semua rasa cinta mu, sayang mu dan kepercayaan mu. Jangan menyakitinya karna dia akan meninggalkan mu.." ucap Yue Fei, ia memeluk Pangeran Chen dan mengelus punggungnya, Yue Fei menatap Jendral Yue di balik bahu Pangeran Chen lalu melepaskan pelukannya.
Jendral Yue langsung menghampiri Yue Fei, ia memeluk erat Yue Fei..
"Ayah kau harus menjaga kesehatan mu dan ya, terimakasih karna selama ini menyayangi Fei'er." ucap Yue Fei di sela tangisannya, tak henti hentinya ia tersenyum.
"Fei'er maafkan Ayah, Ayah salah, Ayah salah.."
"Tenanglah Ayah, Aku dan Ibunda telah memaafkan Ayah.." ucap Yue Fei kemudian ia melepaskan pelukannya dan menatap Kaisar Yu.
Yue Fei menunduk hormat.. "Maaf selama ini hamba mengecewakan Yang Mulia.." ucap Yue Fei..
Kaisar Yu tersenyum, ia memeluk menantunya.
"Aku sudah memaafkan mu Putriku.."
Yue Fei melepaskan pelukan Kaisar Yu, ia menangis terharu.. "Terimakasih Ayah.." lirih Yue Fei..
Perlahan lahan Yue Fei memundurkan dirinya, selangkah demi selangkah sehingga berjarak dengan mereka, Yue Fei menatap Pangeran Chen, Jendral Yue dan Kaisar Yu tersenyum.
"Temuilah dia dan mintalah darahnya, aku yakin dia memaafkan sikap kalian. Karna dia memiliki hati yang baik, jagalah diri kalian. Jika kalian mencintai seseorang jangan pernah mengecewakannya.." ucap Yue Fei dan tersenyum, perlahan lahan tubuhnya menghilang bersamaan cahaya bagaikan kunang kunang di kegelapan malam..
__ADS_1