
Pada malam harinya..
Ratu Meili bersiap siap menemui Kaisar Yu dan Pangeran Chen bermaksud mengundang mereka di acara pernikahan Putranya..
Hanya dengan menjentikkan jarinya, Ratu Meili telah sampai di gerbang depan istana dengan pengawal dan para pelayannya..
Kedua penjaga gerbang yang melihat kedatangan Ratu Meili seketika bersujud.
"Ampun jangan sakiti kami, semoga Permaisuri tenang disana.." ucap mereka serempak.
"Memangnya kalian pikir aku sudah mati.." bentak Ratu Meili.
Kedua penjaga gerbang itu, mendongakkan kepalanya, mereka menatap Ratu Meili dari atas ke bawah..
"Jadi Permaisuri masih hidup.."
"Sudahlah, aku ingin bertemu Yang Mulia.." ucap Ratu Meili.
"Cepat kau beri tau Yang Mulia.." ucap penjaga gerbang ke teman di sampingnya..
Salah satu penjaga gerbang berlari, memberitaukan kabar gembira pada Kaisar Yu.
Istana ini tidak pernah berubah,
Ratu Meili melangkah kan kakinya masuk kedalam istana, ia menatap sekeliling istana tempat yang penuh akan kenangan.
Tatapannya terjatuh pada pohon sakura, dimana dia setiap harinya duduk bersama dengan Kaisar Yu, bercanda dan tertawa bersama..
Ratu Meili melangkah kan kakinya, menatap pohon sakura..
Dia meraba pohon itu, bertuliskan aku mencintai mu. Kaisar Yu lah yang menulisnya. Hanya demi pertengkaran kecil.
Ratu Meili tersenyum mengingat masa mudanya bersama Kaisar Yu.
"Hormat hamba, Permaisuri.." ucap Pangeran Chen dengan bersujud.
Ratu Meili menoleh. "Pangeran, apa yang kau lakukan ?"
Ratu Meili membantu Pangeran Chen berdiri.
"Ibunda lah yang salah, jadi hamba meminta maaf atas namanya. Tolong Ibunda jangan meninggalkan Ayahanda. Dia cukup menderita Ibunda. Selama menikah, benar Ayahanda memperlakukan Ibunda dengan baik, tapi hamba yakin sepenuhnya hati Ayahanda milik Ibunda." ucap Pangeran Chen menunduk.
"Jangan seperti itu, bagaimana pun juga, kau adalah Anak ku.." ucap Ratu Meili..
"Ibunda.."
Pangeran Chen menatap Ratu Meili dan memeluknya.
"Ibunda terimakasih.."
Pelukan hangat Ratu Meili membuat hati Pangeran Chen menghangat.
"Dimana Yang Mulia, Ibunda ingin menemuinya.."
"Mari Ibunda.."
Pangeran Chen mengantarkan Ratu Meili ke kediaman Kaisar Yu, semua pelayan atau prajurit senang ketika mendengarkan Permaisuri Meili telah kembali yang terkenal kecantikannya, kelembutannya terhadap pelayan ataupun prajurit yang tidak pernah membedakan kasta..
Dari kejauhan Ratu Meili melihat Tabib istana, Kasim dan para pelayan.
"Chen'er apa yang terjadi ? kenapa ada Tabib istana ?" tanya Ratu Meili.
__ADS_1
"Ibunda akan tau jika melihat Ayahanda sendiri."
Karna khawatir Ratu Meili mempercepat langkah kakinya, tanpa basa basi Ratu Meili langsung masuk menghiraukan penghormatan Tabib istana dan para pelayan.
Sampai di dalam, Ratu Meili terkejut melihat Kaisar Yu dengan rambut acak acakan dan arak yang berserakah dimana mana..
"Yang Mulia.."
Ratu Meili segera menghampiri Kaisar Yu.
"Apa yang kau lakukan, berhenti minum Yang Mulia.." ucap Ratu Meili mengambil arak dari genggaman Kaisar Yu..
"Li'er.." lirih Kaisar Yu, ia langsung memeluk Ratu Meili begitu erat..
"Jangan pergi, maafkan aku.." ucap Kaisar Yu menangis tersedu sedu..
"Hamba sudah memaafkan Yang Mulia.." ucap Ratu Meili melepaskan pelukannya.
"Chen'er.." panggil Ratu Meili..
"Hamba, Ibunda.." ucap Pangeran Chen menunduk hormat.
"Kau tidak perlu seperti itu, aku datang kesini ingin mengundang kalian. Besok pernikahan Kakak mu dan Putri Ying Hua.." ucap Ratu Meili.
Deg...
Pangeran Chen menguatkan hatinya, ketika mendengarkan ucapan Ratu Meili.
"Chen'er, apa kau bisa melepaskan nya ?" tanya Ratu Meili.
"Chen'er tidak pantas Ibunda, Putri Ying Hua hanya pantas untuk Kakak.."
"Baiklah, Ibunda percaya dengan mu Nak.." ucap Ratu Meili..
"Li'er aku ingin ikut dengan mu, jangan.."
"Ibunda, kami akan ikut dengan Ibunda dan membantu persiapan pernikahan besok.." timpal Pangeran Chen.
"Baiklah, pejamkan mata kalian..." perintah Ratu Meili.
Pangeran Chen dan Kaisar Yu mengangguk, mereka saling menggenggam dan menutup mata.
"Bukalah mata kalian.." perintah Ratu Meili..
Pangeran Chen tercengang melihat pemandangan di depannya, istana yang begitu megah. Setiap intieor terbuat dari bahan emas..
"Ayo.." ucap Ratu Meili.
"Pelayan, antarkan Pangeran Chen ke kediamannya.." perintah Ratu Meili..
"Chen'er istirahatlah, Ibunda akan mengantarkan Ayah mu.." ucap Ratu Meili tersenyum...
"Baik Ibunda.." ucap Pangeran Chen berlalu pergi..
Tanpa sengaja saat di perjalanan Pangeran Chen melihat Ying Hua dan Raja rubah tertawa lepas di sebuah gazebo, Seketika Pangeran Chen menghentikan langkah kakinya, ia juga melihat Raja rubah menyentil hidung Ying Hua yang menggemaskan.
Ku doakan semoga kalian bahagia batin Pangeran Chen. Ia menghela nafas lalu kembali melanjutkan perjalanannya..
Ke esokan paginya..
Ying Hua menatap wajahnya di cermin riasnya..
__ADS_1
"Aku baru tau, rambutku putih.." ucap Ying Hua. Sambil meraba rambut putihnya..
"Permaisuri sungguh cantik.." ucap Lin terkekeh yang telah selesai merias Ying Hua.
"Kau juga cantik.." balas Ying Hua terkekeh.
"Mari Permaisuri.." ucap Lin.
Ying Hua pun mengangguk, ia menuju aula istana dengan menaiki tandu dan di ikuti para pelayan..
Sampai di depan aula Ying Hua turun dari tandunya, dari kejauhan ia menatap anggota istana yang menunggunya, ia tidak menyangka Pangeran Chen dan Kaisar Yu menghadiri pernikahan mereka, Ying Hua menghela nafas, ia melangkah kan kakinya berjalan atas karpet merah di ikuti pelayannya..
Raja rubah turun dari tangganya, ia menyodorkan tangannya dan tersenyum.
Ying Hua membalas senyumannya dan meraih tangan yang begitu menghangatkan hatinya.
Mereka pun berjalan menaiki tangga, dan menatap para pejabat istana, pelayan, pengawal.
"Hidup Yang Mulia, Hidup Permaisuri.." teriakan seluruh orang istana membuat kedua pasutri itu saling menatap dan tersenyum..
Pada malam harinya..
Setelah acara pesta di mulai dengan sangat meriah, Ying Hua di temani para pelayannya menuju kediamannya yang telah disiapkan..
Ying Hua terkejut melihat halaman kediamannya yang di penuhi bunga sakura, serta sebuah gazebo di sertai danau yang di kelilingi bunga sakura..
"Lihatlah Permaisuri, Yang Mulia telah menyiapkan semuanya untuk Permaisuri. Yang Mulia sangat mencintai Permaisuri. Dari banyaknya kediaman, kediaman inilah yang paling indah dan luas khusus untuk Permaisuri.." jelas Lin tersenyum dan menatap Ying Hua yang masih kagum akan ke indahan kediamannya..
"Ekhem.." derheman Raja rubah membuat mereka menoleh..
"Hormat hamba, Yang Mulia.." ucap Ying Hua menunduk hormat di ikuti para pelayannya..
"Kalian, pergilah.." ucap Raja rubah datar..
Para pelayan pun menunduk hormat berlalu pergi.
"Bagaimana ? kau suka dengan kediamannya.." ucap Raja rubah terkekeh.
"Terimakasih Yang Mulia.."
Tanpa basa basi, Raja rubah langsung menggendong Ying Hua masuk ke kediamannya dan membaringkan tubuh Ying Hua di ranjangnya, yang di penuhi taburan bunga mawar.
Tanpa berfikir panjang, Raja rubah langsung ******* bibir Ying Hua dengan lembut, sementara tanganya melepaskan hanfu Ying Hua.
emmmm....
"Yang Mulia.." lirih Ying Hua yang merasakan gejolak di dalam tubuhnya..
"Aku mencintai mu, Ying'er.." ucap Raja rubah tersenyum sambil mencium kening Ying Hua
Sementara disisi lain.
Kaisar Yu dan Permaisuri Meili melakukan hal yang sama, melepaskan kerinduan 20 tahun tidak bertemu..
"Li'er aku sungguh mencintai mu.."
"Aku juga mencintaimu.."
Mereka pun melanjutkan aktivitas mereka tanpa beristirahat...
Lain halnya dengan Pangeran Chen, ia hanya termenung menatap sang bulan..
__ADS_1
"Hah, kapan jodoh ku datang, oh Tuhan di mana jodoh ku ?" ucap Pangeran Chen menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal..