
"Pangeran, Pangeran.." teriak pelayan setia Selir Yue Mei..
Kaisar Yu, Pangeran Chen dan Jendral Yu menatap tajam pelayan, yang tidak ada sopan santunnya langsung masuk kediaman Pangeran Chen.. Mereka pun menatap tajam pelayan tersebut.
"Maaf, hamba tidak memiliki sopan santun. Tolong Selir Yue Mei, dia merasakan sakit di perutnya.." ucap pelayan setia menangis tersedu sedu..
Merekapun langsung menuju istana dingin, dengan wajah penuh khawatir. Bagaimana pun juga Yue Fei telah mengandung anggota kerajaan. Karna anak yang di kandungnya tidak membawa salah..
"Bagaimana keadaanya ?" tanya Pangeran Chen menatap Tabib istana yang tengah memeriksa denyut nadi Selir Yue Fei..
"Maaf Pangeran, kandungan Selir Yue Mei tidak bisa tolong." tutur sang Tabib..
"Tidak ! aku mau anak ku. Bagaimana pun juga dia anak ku dengan Pangeran.." teriak Selir Yue Mei histeris, padahal dalam hatinya ia sangat senang karna hanya melahirkan seorang Putri bukan Pangeran.
"Ini semua salah mu, seharusnya kau tidak mengurungku disini.." bentak Selir Yue Mei menunjuk Pangeran Chen.
Plak..
Jendral Yue langsung melayangkan tamparan ke pipi Selir Yue..
"Jaga ucapan mu, pertama kau yang salah dan memulainya. Seharusnya kau bersyukur Pangeran tidak membunuh mu.." bentak Jendral Yue menatap tajam Selir Yue Mei yang memegang pipinya dalam keadaan terkejut.
"Jika memang salah ku, aku minta maaf. Tapi kau bukan Selir ku lagi.." ucap Pangeran Chen penuh penekanan berlalu pergi..
Selir Yue Mei sungguh tidak percaya, ia pikir Pangeran Chen akan merasa bersalah dan mengembalikan kehormatannya. Namun malah sebaliknya..
"Pangeran, tidak jangan tinggalkan hamba.." teriak Selir Yue Mei, Pangeran Chen hanya mengabaikan teriakannya.
"Yang Mulia, Pangeran hamba minta maaf telah membuat kekacauan.." ucap Pendeta Tao menunduk dan merasakan bersalah di hatinya..
"Sudahlah, ini bukan salah mu.." jawab Kaisar Yu tersenyum menepuk nepuk bahu Pendeta Tao..
"Tapi bagaimana dengan tubuh Permaisuri.." ucap Pangeran Chen memasang wajah lesu.
"Kita akan mencarinya di hutan putih.."
"Hutan Putih ??" jawab mereka serempak kebingungan.
"Aku rasa dia ada disana.."
"Maksud Yang Mulia ?" tanya Jendral Yue kebingungan.
"Kalian akan tau, jika kita menemukannya.."
"Bagaimana jika kita mencarinya sekarang Yang Mulia.."usul Jendral Yue.
__ADS_1
"Benar, Ayahanda lebih cepat lebih baik." timpal Pangeran Chen..
"Baiklah, jika begitu mari kita bersiap siap mencarinya.."balas Kaisar Yu tersenyum.
"Yang Mulia, bolehkah hamba ikut.." ucap Pendeta Tao..
"Silahkan, lebih cepat lebih baik.." ucap Kaisar Yu.
Merekapun bersiap siap menuju hutan putih, hutan para siluman rubah yang tidak bisa di jangkau oleh manusia biasa. Hutan Putih, hutan yang terletak di kedalam hutan Yushon, yang menurut orang hutan biasa namun siapa sangka di kedalaman hutan Yushon terletak Hutan Putih, di mana tumbuhan serta bangunannya semua berwarna putih, bahkan bunga sekalipun berwarna putih.
Selang beberapa saat, Kaisar Yu, Jendral Xio, Jendral Yue, Pangeran Chen dan Pendeta Tao serta satu kereta yang membawa bekal mereka di depan istana telah siap.
Merekapun saling menatap dan mengangguk menunggangi kuda masing masing.
Butuh sehari semalam, mereka sampai di hutan Yushon tanpa istirahat.
Selang beberapa menit merekapun sampai depan hutan Yusho, hutan yang dipenuhi binatang buas, sangat jelas hutan itu di jadikan perburuan..
Pendeta Tao menatap sekeliling hutan Yushon yang menurutnya sangat menyeramkan. Melihat pohon yang rindang, bahkan matahari sangat sulit masuk dan hawanya sangat dingin..
"Ini masih perbatasan saja, kita belum masuk ke dalam hutan. Sudah seperti ini.." ucap Pendeta Tao..
"Ayo, kalian harus bersiap siap, hutan ini dipenuhi binatang buas.." ucap Kaisar Yu..
Sampai di tengah perjalanan..
"Sepertinya kita kedatangan tamu, waspada.." ucap Kaisar Yu..
Goeer...
Lima singa muncul di hadapan mereka..
"Yang Mulia biar hamba saja yang menanganinya.." ucap Jendral Xio..
"Baiklah, berhati hatilah Pangeran.." balas Kaisar Yu.
"Aku akan membantu mu Jendral Xio.." timpal Pangeran Chen.
Jendral Xio dan Pangeran Chen langsung turun dari kuda mereka, dan memasang kuda kuda siap menyerang..
Salah satu singa maju, meloncat ke tubuh Pangeran Chen dengan sigap Pangeran Chen mundur ke samping dan mengayunkan pedangnya hingga membuat singa itu terluka di bagian punggungya..
Singa itu pun menatap sengit Pangeran Chen dan Jendral Xio, mereka langsung menyerang Jendral Xio dan Pangeran Chen..
cras cras...
__ADS_1
Jendral Xio dan Pangeran Chen dengan gerakan lincah, mereka menghadapi lima singa tersebut..
"Hati hati Pangeran.."
Cras cras..
Jendral Xio menggunakan qingqongnya menaiki punggung di singa itu lalu menancapkan pedangnya, sementara Pangeran Chen seringkali bersalto dan menusuk perut singa tersebut.
Selang beberapa saat..
Terlihat genangan darah di pedang Jendral Xio dan Pangeran Chen, mereka saling menatap dan tersenyum karna kemenangan ada di pihak mereka.
Merekapun melanjutkan perjalanan tanpa memperdulikan mayat para singa..
"Ayahanda ini sudah malam, sebaiknya kita berkemah." usul Pangeran Chen..
"Benar, kita harus beristirahat. Prajurit siapkan tenda.." perintah Kaisar Yu..
Merekapun duduk melingkar dan menyalakan api unggun.
"Ayahanda, aku ingin tau kisah Ayah dengan Permaisuri Meili.." ucap Pangeran Chen menatap Kaisar Yu yang menghangatkan telapak tangannya dengan mendekatkan ke api unggun..
Kaisar Yue tersenyum, ia menggosokkan telapak tangannya agar menghangatkan tubuhnya..
"Meili, sebenarnya putri siluman rubah, Ayah bertemu dengannya sewaktu berburu. Pada waktu itu Ayah dan Jendral Xio di serang oleh 6 harimau dan kebetulan tubuh Ayah dan tubuh Jendral Xio terluka. Hingga Ayah bertemu dengan gadis berambut putih, Sangat cantik. Gadis itu menolong Ayah dan Jendral Xio. Lambat laun kami saling mencintai. Karna Meili tidak punya orang tua, ia tinggal dengan neneknya dan kami melakukan perjanjian sebelum membawa Meili ke istana, jika kelak Ayah menikahi seorang gadis lain. Maka anak yang di lahirkan akan buruk rupa dan anak itu adalah kamu Nak.. Maaf !" ucap Kaisar Yu menatap Pangeran Chen..
"Ayah, itu bukan salah Ayah. Andaikan saja Ibunda tidak melakukan hal itu, Mungkin Ayah akan hidup bahagia." balas Pangeran Chen tersenyum.
"Tapi yang lebih utama kita harus meminta maaf pada jiwa di dalam tubuh Fei'er.."
"Yang kau katakan, benar Pangeran.." ucap Kaisar Yu..
"Yang Mulia, hamba tidak menyangka jika mendapatkan cerita seperti ini.." ucap Pendeta Tao.
"Tapi aku mohon, kalian harus merahasiakannya.." ucap Kaisar Yu menatap mereka dengan tatapan serius.
"Baik, Yang Mulia.." ucap mereka serempak.
"Yang Mulia, sebaiknya beristirahat. Biar hamba yang berjaga." ucap Jendral Xio.
"Benar, mari kita istirahat."
"Yang Mulia, hamba akan berjaga dengan Jendral Xio.." timpal Jendral Yue..
"Baiklah.." ucap Kaisar Yu berlalu pergi..
__ADS_1
Merekapun menuju ke tenda masing masing kecuali dua Jendral.