
"Fungsi ginjal Pak Fahmi sudah semakin menurun, akibatnya terjadi penumpukan racun di dalam tubuhnya. Untuk itu kita harus segera mencari donor ginjal untuknya," ucap seorang dokter spesialis penyakit ginjal tersebut.
Eliza menatap Ayah angkatnya yang sedang tak berdaya. Selama ini dia cukup menderita untuk selalu cuci darah karena penyakit ginjalnya. Dalam hati, ingin sekali Eliza mendonorkan ginjalnya pada ayah angkatnya itu. Tapi apa boleh buat, darah Eliza tidak sama dengan darah Fahmi.
Eliza sendiri diangkat anak oleh Fahmi sejak usia 9 tahun. Sejak lahir, wanita itu sudah tinggal di panti asuhan. Itu membuatnya tidak pernah tahu perihal orang tua kandungnya. Dan memang Eliza tidak pernah ingin mengetahuinya.
Pertama kali dia mendapat kasih sayang orang tua hanya dari Fahmi. Fahmi hanya pekerja kantoran biasa yang ditinggalkan istrinya karena dia tidak bisa memberikan keturunan. Sejak saat itu, Fahmi mengadopsi Eliza dan hidup berdua hingga sekarang.
Eliza menoleh saat terdengar suara langkah kaki dari luar.
"Aku akan mendonorkan ginjalku untuk Pak Fahmi," kata seorang pria yang Eliza tidak kenal.
"Siapa Anda?" Eliza berdiri menatap pria itu.
Beberapa bulan yang lalu.
Reino adalah seorang pria yang sukses di usia muda. Dia memiliki perusahaan advertising yang kini sudah membesar, dan membuat namanya semakin terkenal di dunia bisnis. Sayangnya seperti kata pepatah, tidak ada gading yang tak retak. Di balik kesuksesannya, mungkin dia menyimpan luka yang besar.
Bagaimana tidak? Istrinya yang baru ia nikahi satu minggu, meninggal dunia karena penyakit jantungnya. Sejak saat itu, Reino menjadi lebih dingin dan tak banyak bicara. Dia bahkan mudah marah, jika ada sesuatu yang tidak berjalan dengan baik. Padahal sebelumnya dia orang yang ramah dan murah senyum.
Sudah dua tahun istrinya meninggalkannya untuk selamanya. Selama itu pula senyumnya hilang. Tidak ada yang pernah melihat senyumnya lagi, setelah musibah yang menimpanya itu.
Saat itu Reino baru saja kembali ke mobil, setelah ziarah ke makam istrinya. Seperti biasa dia mengemudikan mobilnya dengan stabil. Sampai saat di mana ia terkejut, ketika mendengar suara benturan keras dari arah belakang mobilnya.
Reino keluar dari mobilnya untuk membuat perhitungan dengan orang ceroboh yang sudah menabrak mobilnya. Di sana ia melihat seorang wanita yang sedang sibuk memunguti beberapa gelas kopi yang berserakan di jalan.
"Ah, bagaimana ini? Tidak ada yang terselamatkan, aku pasti akan dipecat," keluh wanita bertopi hitam itu.
"Apa kamu tidak akan minta maaf, setelah menabrak mobilku?" Seperti biasa, Reino mudah terpancing emosi untuk hal-hal yang merugikannya.
__ADS_1
"Sepertinya mobilmu tidak rusak parah, apa kamu tidak melihat motorku yang lebih parah rusaknya?" Eliza mendongakkan wajahnya, untuk melihat pria yang tidak sopan itu.
"Lyla...." gumam Reino. Dia tertegun melihat wanita yang ada di depannya saat ini. Untuk sejenak mereka hanya saling memandang, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dengan segera Reino menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya. Hingga akhirnya bayangan istrinya yang sudah meninggal itu, menghilang dan berganti dengan wanita tadi.
Eliza memang sedikit mirip dengan wajah istri Reino. Jika diperhatikan, mata dan garis wajahnya sama dengan Lyla. Mereka memiliki garis wajah mars line yang sangat jelas.
"Tidak bisa begitu, kamu yang sudah menabrak mobilku duluan," kata Reino.
"Baiklah, ini alamat kafe tempatku bekerja. Kamu bisa ke sana nanti, jika memang mobilmu rusak parah. Aku harus buru-buru mengganti pesanan kopi yang tumpah," ucap Eliza, lalu bersiap untuk pergi, setelah memberikan kartu kafe tempat ia bekerja.
"Ah, untung saja masih menyala." Eliza bernapas lega setelah motornya masih bisa untuk dia naiki saat ini.
"Tunggu dulu, tapi-- banmu sedikit bengkok." Ucapan Reino tidak terdengar oleh Eliza, karena wanita itu terlanjur pergi menjauh. Reino lalu kembali masuk ke dalam mobilnya, dan mengikuti motor Eliza. Dia mengemudikannya pelan-pelan, karena wanita itu terlihat tidak stabil menggunakan motornya.
Setelah beberapa lama, Eliza berhenti di sebuah kafe yang tidak terlalu besar. Dan Reino diam-diam memperhatikan wanita itu dari dalam mobilnya. Eliza tampak sedang dimarahi atasannya, karena sudah merusakkan motor milik kafe dan menjatuhkan semua pesanan kopi. Dan setelah selesai dimarahi, Eliza kembali membuat beberapa pesanan kopi yang sudah terjatuh akibat kecelakaannya tadi. Lalu dia keluar dari kafe, dan menaiki ojek yang mangkal di dekat kafe.
Reino keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam kafe itu. Dia menuju ke meja konter dan berkata, "Aku ingin berbicara dengan atasanmu."
"Aku ingin tahu apa yang terjadi dengan wanita tadi?" tanya Reino.
"Wanita yang mana?" Pemilik kafe itu tampak tidak mengerti dengan ucapan pria yang sedang duduk di depannya saat ini.
"Wanita yang berambut panjang dengan warna cokelat yang baru keluar dari sini? Dia salah satu karyawan di kafe ini," terang Reino.
"Oh, maksud Anda Eliza? Yang tadi kecelakaan dan membuat saya rugi?" Si pemilik kafe langsung marah, ketika ia mengingat kejadian yang menimpa salah satu karyawannya tadi.
"Iya dia. Apa dia harus ganti rugi untuk kerusakan motor dan pesanan kopi yang sudah jatuh?"
"Tentu saja, aku akan memotong setengah gajinya setiap bulan!"
__ADS_1
"Berapa yang harus ia ganti?" tanya Reino tiba-tiba.
Pemilik kafe itu melihat Reino yang tampak seperti orang kaya.
"Lima juta," jawabnya kemudian.
"Baiklah, tuliskan saja nomer rekeningmu." Dengan santai Reino mengeluarkan ponsel dari saku celananya, dan membuka aplikasi mobile banking. "Tulis saja nominal yang ingin kamu terima," tambahnya sambil menyerahkan ponselnya pada pemilik kafe.
Dengan ragu pemilik kafe itu mengetikkan nomer rekeningnya di sana. Dan dia terkejut, karena tak lama setelah itu, ada pemberitahuan sejumlah uang masuk ke dalam rekeningnya.
"Sebagai gantinya, jangan potong gajinya dan tolong perlakuan dia dengan baik," ujar Reino lalu meninggalkan kafe itu.
"Baik Pak, saya akan memperlakukan Eliza dengan baik!" seru pemilik kafe tersebut dengan senang.
Setelah kembali ke dalam mobil, Reino melihat foto istrinya yang tergantung di spion mobilnya. "Sayang, apa aku boleh jatuh cinta lagi?"
***
Setelah operasi berhasil dilakukan.
"Terima kasih banyak, karena sudah menolong ayahku," kata Eliza pada Reino yang masih terbaring. Dia masih harus istirahat untuk pemulihan setelah operasi.
"Sama-sama. Aku melakukannya karena Pak Fahmi adalah salah satu karyawanku yang setia." Reino duduk dan bersusah payah membenarkan posisinya.
"Apa ada yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikanmu?" tanya Eliza lagi.
Reino menatap serius wajah Eliza saat ini. "Apa kamu mau melakukannya? Apa saja yang aku inginkan?"
"Yah, jika itu mungkin." Eliza menunduk menghindari tatapan wajah Reino yang begitu tajam ke arahnya.
__ADS_1
"Apa kamu mau menikah denganku?" tanya Reino dengan serius.
"A--apa? Menikah?" Eliza terkejut dan mengulangi pertanyaan pria itu.