Pernikahan Pahit

Pernikahan Pahit
Menuju pernikahan


__ADS_3

"Ada apa dengan kalian? Apa kalian tidak punya TV di rumah? Mata kalian masih berfungsi dengan baik bukan?! Iklan seperti itu sudah banyak di bersebaran!" Reino merasa tidak puas dengan kinerja tim kreatif saat ini.


Ana, ketua dari tim kreatif hanya bisa diam dan menunduk, setelah mengutarakan hasil kinerja timnya yang ditolak oleh Reino pimpinannya.


"Kalian tidak sedang menginginkan kenaikan gaji bukan?" tanya Reino kemudian.


"Tidak Pak!" jawab semua tim kreatif serempak.


"Lakukan lagi dengan benar. Saya beri waktu sampai pukul dua siang, jika kalian belum menemukan ide yang bagus untuk proyek iklan kita, maka tidak ada yang boleh pulang hari ini," kata Reino lalu berdiri dan keluar dari ruangan rapat.


Para tim kreatif bernapas lega, setelah atasan mereka itu pergi dari sana.


"Bukankah sebentar lagi dia akan menikah? Ku kira dia akan berubah jadi lebih sabar dn lembut, ternyata sama saja," ucap salah seorang tim kreatif.


Ana menyenggol orang tersebut, saat Winda memperhatikan mereka.


"Jaga bicaramu," bisik Ana. Setelah itu dia dan timnya ikut keluar dari ruang rapat.


Setelah ruangan rapat sepi, Winda orang terakhir yang berada di sana juga ikut meninggalkan tempat itu. Dia mengejar langkah Reino, hingga berhasil mensejajarkan kakinya di sebelah lelaki itu. "Mereka menggunjingkanmu," bisik Winda sambil memperhatikan reaksi wajah dari Reino.


"Bukankah sudah biasa?" sahut Reino dengan santai.


"Apa kamu benar-benar akan menikah dengan wanita itu?" tanya Winda yang tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.


"Iya, memangnya kenapa?"


"Apa kamu mencintainya?"


"Aku akan mencobanya."


"Aku tahu dia mirip mendiang istrimu, tapi mereka tetap orang yang berbeda."


Kali ini Reino menghentikan langkahnya dan memandang Winda. "Lalu? Apa aku tidak boleh menyukai wanita yang mirip dengan mendiang istriku?" Setelah mengucapkan hal itu, Reino meninggalkan Winda dan masuk ke dalam ruangannya.

__ADS_1


Sementara Winda hanya bisa terdiam, melihat punggung Reino yang kemudian menghilang di balik pintu. "Kenapa tidak pernah ada kesempatan untukku masuk ke dalam hatimu?" gumam Winda yang saat ini kecewa.


Winda sendiri adalah seorang Accout Executive di perusahaan Reino. Dia juga teman baik Reino selama masa kuliah. Ia bahkan sudah menyimpan perasaan pada lelaki itu, sejak mereka di bangku kuliah hingga sekarang. 


Dan saat Reino menikah dengan Lyla, Winda masih memendam perasaan itu sendiri. Dia pikir, setelah kepergian Lyla, ia bisa dengan perlahan mengambil hati Reino. Tapi ternyata dia harus menerima kenyataan pahit lagi, saat Reino memutuskan untuk menikah dengan wanita lain yang bahkan belum lama ia kenal.


***


"Kamu yakin mau menikah dengan Pak Reino?" tanya Fahmi seperti mencemaskan anaknya. Dia berpikir ini semua terjadi karena dirinya. Jika dirinya tidak sakit, mungkin Eliza tidak harus berhutang budi pada Reino yang tidak lain adalah atasannya di kantor.


"Eliza yakin Ayah, sepertinya dia orang yang baik. Aku bisa lihat itu, saat dia mau berkorban untuk mendonorkan ginjalnya pada Ayah," jawab Eliza berusaha menenangkan hati Ayahnya.


"Ayah harap kamu akan bahagia dengan pernikahanmu nanti. Jika tidak, maka Ayah tidak akan memaafkan diri Ayah sendiri,"


Eliza memeluk Ayahnya dan tersenyum, agar Ayahnya tidak lagi mencemaskannya. "Ayah tidak perlu khawatir. Apapun yang terjadi, Eliza akan tetap bahagia asal Ayah bisa hidup lebih lama."


"Ayah juga berharap setelah Pak Reino menikah denganmu, kamu bisa mengembalikan Pak Reino yang ramah seperti dulu," batin Fahmi, sambil mengelus rambut anak kesayangannya itu.


***


Sementara itu, pukul sepuluh malam Reino masih berada di ruang rapatnya bersama Winda dan tim kreatifnya. Dia memijit keningnya, karena lelah dengan pekerjaan hari ini.


"Kamu harus pulang, bukankah besok kamu akan menikah?" bisik Winda mendekatkan tubuhnya pada Reino yang duduk di sebelahnya.


"Tapi ini semua belum selesai," jawab Reino.


"Besok bisa kita lanjutkan lagi, lagipula mereka semua sudah lelah." Winda mencoba membujuk Reino agar bisa sedikit lebih bermurah hati.


"Baiklah, hari ini kita sudahi. Kita lanjutkan besok lagi," kata Reino di hadapan semua orang.


Sontak para tim kreatif yang sebelumnya lemas sudah, bisa bernapas lega karena akhirnya mereka diijinkan untuk pulang.


"Kamu mau pulang denganku?" tanya Reino saat berpapasan dengan Winda yang masih menunggu taksi di depan kantor.

__ADS_1


Winda menjawab dengan senyuman dan menggeleng. "Aku tidak bisa berduaan dengan lelaki yang sebentar lagi akan menikah," jawabnya.


"Baiklah, jika begitu maumu. Aku pergi duluan," kata Reino.


"Oh iya, selamat untuk pernikahanmu." Perkataan Winda itu berhasil menghentikan langkah Reino.


"Seharusnya kamu mengatakan itu besok kan?"


"Maaf, tapi aku tidak bisa datang ke acara pernikahanmu besok." Winda masih mencoba tersenyum tegar di hadapan lelaki yang sudah sangat lama ia sukai itu.


"Lagi? Pernikahanku yang dulu kamu juga tidak bisa datang. Kenapa?"


"Karena aku tidak bisa melihatmu bersanding dengan wanita lain," jawab Winda dalam hati.


Reino masih menunggu jawaban dari Winda yang masih terdiam.


"Tentu saja karena aku ada urusan lain," jawabnya berbohong. "Walaupun aku tidak bisa datang, tapi aku tetap mendoakan yang terbaik untukmu. Semoga kamu bisa bahagia dengan pilihanmu, Reino."


"Terima kasih." Reino akhirnya meninggalkan Winda seorang diri di depan kantor. Tetapi sebenarnya dia tidak benar-benar pergi dari sana. Reino menunggu di dalam mobil, sampai Winda mendapatkan taksi untuk pulang. Karena sebenarnya dia adalah orang yang hangat. Dia tidak bisa meninggalkan temannya seorang diri di malam hari, apalagi ia adalah seorang wanita.


Reino memperhatikan Winda dari kejauhan hingga wanita itu masuk ke dalam taksi. Setelah memastikan Winda pulang dengan aman, barulah Reino menyalakan mobilnya dan pergi dari sana.


***


Reino sampai di rumahnya pukul sebelas malam. Setelah selesai membersihkan diri, ia berbaring di tempat tidurnya. Matanya menerawang ke atas langit-langit kamarnya. Memikirkan pernikahannya besok. Apa dia bisa membuat Eliza bahagia dengannya, yang belum benar-benar melupakan mendiang istrinya? Reino terus mencemaskan hal itu. Kalau saja Eliza tidak bahagia menikah dengannya.


"Rei..."


Suara seorang wanita terdengar di telinga Reino. Sontak ia menoleh ke samping tubuhnya. Dia melihat Lyla, mendiang istrinya sedang berbaring di sebelahnya. "Aku senang kamu menemukan wanita lain yang bisa mencuri hatimu. Aku baik-baik saja Rei, kamu tidak perlu khawatir. Aku turut bahagia jika kamu menemukan kebahagiaanmu lagi."


Reino membelai wajah Lyla dengan lembut. Ia berharap malam ini akan lebih panjang, agar ia bisa lebih lama berada di samping Lyla. Dia tidak ingin terbangun dari mimpi indah ini, mimpi yang mungkin tidak bisa lagi ia dapatkan setelah dirinya menikah dengan wanita lain.


__ADS_1


__ADS_2