Pernikahan Pahit

Pernikahan Pahit
Masih Segel


__ADS_3

"Pimp Pimp !"


Suara klakson mobil mengalihkan perhatian Eliza dan Hilma yang sedang asyik berbincang di dalam kafe saat itu. Mereka lalu mendekati mobil yang terparkir di depan kafe.


Bastian keluar dari kursi kemudi dan menunjukkan kunci mobilnya pada mereka berdua. Eliza dan Hilma terkejut melihat mobil Bastian. Selang berapa minggu Hilma menyuruhnya membeli mobil kini Bastian benar-benar membelinya.


"Aku hanya mampu membeli yang seperti ini. Bukan mobil mewah seperti milik Pak Reino," ucap Bastian merendah sambil menyentuh mobil jeep wrangler sport berwarna merah yang belum lama ini dia beli. Dia membelinya bekas milik seseorang melalui kenalannya. Setelah lama berpikir akhirnya dia memutuskan untuk membelinya.


"Hei, ini bagus tahu. Kerenn!" Puji Hilma.


Ia lalu mengelilingi mobil itu, dan kembali pada Bastian.


"Bagaimana jika kita mencoba berkeliling sebentar? Mumpung kafenya belum buka," usul Hilma.


"Baiklah, satu putaran saja ya," jawab Eliza.


Hilma langsung melompat senang. Dia menuju kursi depan tapi dengan sigap Bastian menghalanginya dan menarik tangan Eliza untuk duduk di depan.


"Ah iya! Aku hampir melupakan Hyunsik. Kita juga harus mengajaknya," Hilma lalu kembali ke dalam kafe untuk mememui Hyunsik yang saat itu sedang mengelap gelas.


Eliza dan Bastian bertemu pandang saat sudah duduk di dalam mobil.


"Ehem, mobil yang bagus," ucap Eliza basa-basi.


"Terima kasih, aku membelinya agar kita bisa jalan-jalan berdua. Apa kamu mau?"


"Iya, aku mau," jawaban yang keluar dari mulut Eliza membuat dirinya terkejut sendiri. Bagaimana bisa dia semakin tampak murahan di depan Bastian? Dia selalu tidak bisa menolak perkataan lelaki itu.


Sementara itu Hilma menghampiri Hyunsik yang bergeming sambil mengelap satu per satu gelas.


"Hyunsik! Apa kamu mau jalan-jalan sebentar dengan mobil baru Bastian?" tawar Hilma.


Hyunsik melirik ke arah luar dan terlihat mobil milik Bastian. Lalu kembali pada Hilma.


"Tidak, kalian saja," jawab Hyunsik sambil menggeleng dan tersenyum.

__ADS_1


"Kenapa? Sebentar saja kok,"


"Kalian bersenang-senanglah sebentar. Aku harus menyelesaikan ini,"


"Kamu membuatku terlihat seperti rekan kerja yang jahat. Kalau begitu aku juga tidak ikut, aku akan menemanimu saja. Tunggu sebentar aku bilang dulu pada mereka," kata Hilma lemah lalu berjalan kembali ke depan.


"Mana Hyunsik?" tanya Eliza saat Hilma kembali tanpa Hyunsik.


"Dia tidak mau ikut. Sebagai kekasih yang baik aku akan menemaninya di kafe,"


"Sayang sekali, kalau begitu..." ucapan Eliza terhenti saat Hilma kembali menutup pintu mobil yang sebelumnya sempat ia buka.


"Kalian pergilah berdua. Masih ada 30 menit sebelum kafe buka. Bastian aku titip Eliza ya, sepertinya dia butuh menghirup udara segar," ucap Hilma.


"Baiklah, serahkan saja padaku," jawab Bastian sambil tersenyum pada Hilma. Tanpa menunggu waktu lama Bastian menyalakan mobilnya dan keluar dari area kafe. Hilma hanya melambaikan tangannya dan melihat kepergian mereka.


"Padahal aku ingin menaikinya," gumam Hilma nampak sedih.


"Kita mau ke mana?" tanya Eliza saat mobil Bastian sudah menjauh dari kafe.


Tidak lama mobil Bastian berhenti di halaman sebuah sekolah dasar yang sudah tak terpakai. Hal itu terlihat karena bangunannya sudah nampak tua dan tidak terurus. Meskipun berada di tengah kota, namun sekolah itu nampak seperti ditinggalkan.


"Sekolah dasar? Kenapa kita ke sini?" tanya Eliza penasaran.


"Karena di sini banyak pepohonan. Aku dengar tadi kamu butuh udara segar,"


"Tapi kenapa ke sini? Di taman juga banyak pohon,"


"Sebenarnya ini dulu sekolahku," lirih Bastian.


"Benarkah? Ah jadi kamu mau bernostalgia. Aku juga rindu sekolahku,"


"Sebenarnya tidak ada yang ku rindukan dari sekolah ini. Banyak kenangan buruk saat itu,"


"Kenapa?" tanya Eliza. Dia melihat wajah murung Bastian. Meskipun ia menjalin hubungan terlarang dengannya tapi ia tak banyak tahu mengenai lelaki itu.

__ADS_1


"JEDER!"


Tiba-tiba suara petir menyambar. Lalu di ikuti hujan yang langsung deras. Eliza melihat hujan yang turun ke kaca mobil. Seketika Bastian menangkup pipi Eliza dan membawa matanya lagi padanya.


Jantung Eliza lagi-lagi berdegup kencang karena perlakuan Bastian. Jari-jari lelaki itu terasa hangat menyentuh kulitnya. Bibirnya menangkap bibir Eliza dan mengulumnya perlahan. Eliza memejamkan matanya saat Bastian membawanya semakin dalam kehangatan yang mereka ciptakan.


Tangan Bastian meraih tuas kursi dan menariknya membuat kursi Eliza tertarik ke belakang. Tangannya lalu kembali pada kepala Eliza dan mengelus rambut wanita itu tanpa melepaskan pagutannya. Tangannya kini menuju kerah kemeja Eliza kemudian turun melalui kancing-kancing dan membukanya satu per satu.


Seolah sudah terbuai dengan seluruh sentuhan Bastian. Eliza membiarkan dirinya pasrah dengan segala yang di lakukan Bastian. Lelaki itu berhasil melepas semua yang menghalangi tubuh Eliza tanpa melepaskan bibirnya dari bibir Eliza.


Eliza memalingkan wajahnya yang malu setelah Bastian melepaskan pagutannya.


"Kenapa? Aku tidak akan memaksamu jika kamu tidak ingin melakukannya," suara Bastian terdengar parau.


Eliza memandang wajah Bastian. Ia tahu jika sekarang lelaki itu sedang menginginkannya. Dan ia sendiri juga menginginkan sentuhan Bastian lebih jauh lagi. Tanpa menjawab pertanyaan Bastian, Eliza melingkarkan tangannya pada leher Bastian dan mengecup bibirnya.


Mendapat lampu hijau dari Eliza, Bastian membalas kecupan Eliza. Tangannya kini dengan berani bermain di sekujur tubuh Eliza dari bawah hingga atas membuat wanita itu semakin lepas kendali menikmatinya.


Dengan cepat Bastian melepas seluruh pakaiannya dan memasuki tubuh Eliza. Wanita itu tampak kesakitan saat Bastian kesulitan menerobos dinding kehormatan Eliza. Dengan tekanan yang lebih keras akhirnya milik Bastian berhasil menembus pertahanan Eliza.


Bastian menoleh ke arah Eliza yang sudah duduk memandang kosong ke arah depan.


Ia tidak menyangka jika selama ini Eliza masih suci. Dia tahu jika wanita itu tidak bahagia dengan pernikahannya, tapi ia sama sekali tidak mengira jika Eliza belum pernah melakukan hal itu dengan suaminya.


"Apa kamu menyesal?" tanya Bastian pada akhirnya.


"Heh, emm tidak," jawab Eliza sambil tersenyum tipis.


"Maafkan aku," ucap Bastian penuh penyesalan.


"Tidak, jangan minta maaf seperti itu. Hal itu membuatku tidak nyaman. Kita melakukannya atas dasar saling suka. Jadi tidak perlu ada yang menyesal,"


Bastian mengecup pipi Eliza, dan menggenggam tangan kirinya.


"Aku akan selalu ada untukmu. Jadi jangan khawatir," ucap Bastian yang dibalas anggukan oleh Eliza.

__ADS_1


Kini mereka berdua kembali ke kafe karena sudah melewatkan jam buka. Entah alasan apa yang akan mereka gunakan untuk Hilma dan Hyunsik. Mungkin untuk Hilma mereka tidak perlu ambil pusing, tetapi kalau Hyunsik mengingat jika lelaki itu sudah mengetahui hubungan antara Eliza dan Bastian. Mungkin dia tidak akan semudah itu percaya pada alasan mereka.


__ADS_2