Pernikahan Pahit

Pernikahan Pahit
Perasaan Ini Semakin Dalam


__ADS_3

"Aaahhhhh..  badanku rasanya mau copot saja," keluh Hilma sambil meregangkan tangannya ke atas kepala.


"Istirahatlah, aku akan menggantikanmu sebentar," ucap Eliza saat ia tak sengaja mendengar keluhan temannya itu. Eliza lalu mengenakan celemek dan mengambil alih posisi Hilma.


"Gak usah. Tanganmu kan masih sakit," cegah Hilma.


"Gak apa-apa. Aku bisa, kamu istirahat dulu saja," Eliza dengan cekatan melayani pembeli berikutnya. Tangannya yang terluka seolah tidak menghalangi semangat kerjanya. Saat pembeli tadi pergi, tak sengaja matanya menangkap sosok Bastian yang sedang menyanyikan lagu romantis di panggung. Suaranya begitu merdu membuat Eliza selalu terkesima saat melihatnya.


Namun tiba-tiba Eliza tersentak saat lelaki itu memergokinya yang sedari tadi memperhatikannya. Bastian tersenyum manis padanya, membuat Eliza juga ikut tersenyum saat melihatnya.


"Bukankah tadi kamu bilang mau pulang jam 7?" tanya Hilma mengagetkan Eliza. Pertanyaan itu mengingatkan Eliza pada Reino yang beberapa saat lalu menghubunginya dan membatalkan janji untuk menjemputnya. Senyumnya menghilang jika mengingat hal itu.


"Kamu mendengarku kan El?" tanya Reino dari ujung telepon.


"Oh iya aku mendengarmu," jawab Eliza lemah. Dia sedikit kecewa saat Reino mengatakan jika dirinya tiba-tiba ada pertemuan dengan klien. Padahal sebelumnya Reino sudah berjanji akan menjemputnya.


"Kamu tidak marah kan?,"


"Iya, tidak apa-apa. Lagipula aku masih ingin bantu-bantu di sini. Kasihan Hilma jika harus sendirian,"


"Ah iya. Mengenai karyawan tambahan untuk kafemu. Aku akan segera mencarinya. Jadi kamu tenang saja,"


"Hmm,, baiklah,"


Lamunan Eliza pecah saat Bastian sudah berada di depannya.


"Hayo ngelamunin aku kan?" ucap Bastian.


Eliza membulatkan matanya saat mendengar pertanyaan Bastian. Bagaimana bisa lelaki itu terang-terangan mengucapkan pertanyaan menggoda seperti itu di hadapan Hilma? Apalagi wajahnya seperti tidak punya dosa saja.


"Jangan ngawur!" bentak Hilma dan memukul punggung Bastian.

__ADS_1


"Kamu gak kenal suaminya? Kaya tampan dan mapan. Kamu tidak ada apa-apanya dibanding dengannya. Reino Julian, CEO muda pemilik perusahaan advertising yang sedang naik daun. Semua wanita pasti mengidam-idamkannya" puji Hilma panjang lebar.


Eliza melihat ekspresi wajah Bastian yang sedikit berbeda. Bibirnya tampak tersenyum pahit setelah mendengar Hilma yang membandingkan dirinya dengan suaminya.


"Sudah diam!" kata Eliza. Dia merasa harus segera membungkam mulut Hilma agar tidak terus-menerus membicarakan suaminya di hadapan Bastian. Hal itu pasti sangat melukai perasaannya.


"Jadi bagaimana El? Kamu mau kan?" tanya Hilma.


"Mau apa?" Eliza malah balik bertanya karena tidak mengerti ucapan dari temannya itu.


"Temani aku makan dulu, sebelum pulang," pinta Hilma.


Eliza melirik ke arah Hilma yang terus menerus mengatakan please dengan wajah memelas. Menurutnya tidak ada salahnya dia makan malam dengan Hilma, dia jadi tidak kesepian karena mungkin Reino akan pulang larut malam.


"Baiklah. Memang kita mau makan di mana?"


"Bagaimana kalau kita makan sate kambing yang ada di dekat perempatan lampu merah. Aku dengar sate di sana sangat enak," terang Hilma


"Aku ikut,"


Eliza dan Hilma melirik ke arah Bastian bersamaan.


"Aku rasa terlalu bahaya jika kalian cuma pergi berdua. Setidaknya aku bisa menjaga kalian kalau ada apa-apa," ucap Bastian mencoba menjelaskan maksud tujuannya ingin ikut bersama Hilma dan Eliza. Meskipun bukan itu tujuan sebenarnya. Dia hanya ingin lebih lama menghabiskan waktu bersama Eliza. Itu saja.


Setelah menutup kafe akhirnya Eliza, Hilma, beserta Bastian pergi menuju warung sate yang Hilma maksud menggunakan taksi.


"Coba kamu punya mobil Bas, kita gak perlu naik taksi. Bahkan kita bisa setiap hari pergi makan bersama setelah menutup kafe. Benar kan El?" tanya Hilma tiba-tiba.


"Hah? Apa sih kamu jangan bicara hal aneh. Gak usah dipikirkan Bas. Dia kalau ngomong memang gak pernah dipikir dulu," sahut Eliza yang tidak enak terhadap Bastian.


"Sebenarnya memang sedang aku pikirkan untuk membeli mobil. Aku sedang mengumpulkan uang," ucap Bastian santai.

__ADS_1


"Tuh kan. Bastian kamu memang the best!" ucap Hilma girang.


"Aku jadi kangen Hyunsik," lanjut Hilma. Dia lalu mengeluarkan poselnya dan melihat foto Hyunsik yang pernah ia ambil tanpa sepengetahuan Hyunsik tentunya.


Saat Hilma sedang asyik memperhatikan foto Hyunsik dari ponselnya, Bastian yang duduk di depan tersenyum pada Eliza yang duduk di belakang. Jempol dan jari telunjuknya ia tautkan membentuk sebuah hati kecil seperti yang belakangan ini sedang nge-trend sebagai kode cintanya untuk Eliza.


Eliza tersenyum dan tersipu malu melihat hal itu. Baru kali ini ia merasakan perhatian yang begitu manis dari seorang lelaki.


Setelah sampai di tempat yang mereka tuju, Hilma langsung turun dan mengaitkan tangannya pada Eliza dan menyeretnya menuju meja makan lesehan yang ada di sana.


"Kamu yang ngajak kenapa Bastian yang harus bayar ongkosnya?" protes Eliza saat Hilma langsung mengajaknya turun meninggalkan Bastian yang sedang membayar ongkos taksi.


"Biarkan saja. Memang tugas lelaki membayarkan untuk wanita. Lagipula dia yang pengen ikut. Ayo cepat kita duduk di sana," tunjuk Hilma pada sebuah meja yang di depannya terdapat sekelompok lelaki yang sedang makan sambil nongkrong. Sudah pasti Hilma ingin kecentilan di hadapan mereka.


"Tidak ada meja lain apa?" protes Eliza. Dia merasa tidak nyaman karena saat itu dia mengenakan setelan rok pendek. Seolah tidak mendengarkan perkataan Eliza, Hilma langsung duduk di meja tersebut dan melihat-lihat kertas menu yang ada di meja. Mau tidak mau Eliza ikut duduk di sana, matanya mencari-cari sosok Bastian yang sudah tampak dari kejauhan.


"Lihat El, yang pakai baju merah dia tersenyum padaku," bisik Hilma. Eliza lalu mencari sosok lelaki berbaju merah di antara 4 orang yang ada di depan mejanya.


"Baru beberapa menit yang lalu, kamu bilang kangen Hyunsik. Sekarang sudah kecentilan sama lelaki lain," gumam Eliza. Dia sudah tahu betul sifat Hilma yang suka genit terhadap lelaki.


"Hyunsik tetap di hati. Namanya manusia kan terkadang bosan dan butuh hiburan. Kita gak bisa terpaku sama pasangan kita saja," sahut Hilma.


Eliza terdiam mendengar jawaban Hilma. Mungkinkah jika dirinya sedang bosan terhadap Reino dan menjadikan Bastian hanya hiburan semata baginya? Bukankah itu terdengar sangat kejam?


Saat perkataan Hilma tadi terus terngiang di benak Eliza, Bastian datang dan tiba-tiba melepas jaketnya dan menaruhnya di kaki Eliza.


Ternyata dari kejauhan Bastian melihat 4 lelaki itu sedang memperhatikan kaki Eliza yang terlihat dari kolong meja dengan tatapan mesum. Hal itu tidak bisa diterimanya. Dia tampak sangat marah dan ingin sekali memberi pelajaran pada mereka.


"Ah siapa sih dia. Mengganggu saja.." gumam salah satu lelaki itu saat Bastian duduk di depan Eliza menghalangi pandangan mereka. Bastian menoleh ke belakang dan menatap tajam lelaki itu satu persatu. Membuat mereka merasa tidak nyaman.


Eliza menatap Bastian dan jaket lelaki itu bergantian. Perhatian demi perhatian dari Bastian membuat Eliza semakin tidak bisa menjauh darinya.

__ADS_1


__ADS_2