Pernikahan Pahit

Pernikahan Pahit
Noona


__ADS_3

"Maaf, aku belum bisa melakukannya," ucap Reino lalu berbaring dan membelakangi Eliza.


"Apa ada masalah denganmu?" tanya Eliza penasaran.


"Tidak ada. Lebih baik sekarang kita tidur saja," jawab Reino lalu mematikan lampu dan berusaha untuk tidur.


Meskipun sebenarnya dia tidak yakin bisa tidur malam ini.


Ingatan akan kenangan pahit itu masih menghantuinya.


Eliza hanya bisa menatap punggung suaminya itu dengan penuh tanda tanya.


Apa yang sebenarnya terjadi dengan lelaki itu?


"Woy!!! Ngelamun aja sih. Ada wanita cantik datang kok dicuekin," ucap Hilma yang saat itu datang ke kafe Eliza.


Eliza dan Hilma sudah sepakat untuk mengundurkan diri bersama dari tempat kerja lama mereka dan membangun kafe baru Eliza bersama-sama.


Hilma melirik ke arah dapur yang sepertinya sudah ada kehidupan di sana.


"Iya sudah ada koki untuk menu spesial desert kita. Reino yang sudah mencarikannya. Dan sekarang dia sedang mencoba membuat menu-menu baru," kata Eliza.


Hal itu menjawab pertanyaan yang belum sempat diucapkan Hilma.


"Wah, aku sangat iri denganmu. Kamu punya suami yang sempurna. Tampan, mapan dan perhatian," goda Hilma.


Lagi-lagi Eliza hanya tersenyum pahit mendengar perkataan Hilma yang tidak sesuai dengan kenyataan yang di alaminya.


Bukan karena yang dikatakan Hilma itu tidak benar.


Tentu saja Reino seperti apa yang sudah Hilma katakan.


Namun Eliza belum merasakan kasih sayang lelaki itu untuknya.


Padahal Eliza sudah berusaha untuk terbuka.


Mencoba untuk mencintainya.


Namun ia merasa hanya dirinya yang berusaha.


Tidak bagi Reino.


Bagaimana mungkin Eliza akan masuk ke dalam kehidupan Reino, jika lelaki itu tidak mau membuka hati padanya?


"Apa dia menikah denganku, hanya untuk mempermainkanku?" pikir Eliza.


Ah Eliza tidak mau memikirkannya dulu hari ini.


Sekarang dia ingin fokus untuk persiapan pembukaan kafe barunya.


"Kemarin aku sudah membuat beberapa iklan lowongan di internet. Kita tinggal tunggu saja," ucap Eliza sambil fokus pada layar laptopnya.


Dia berharap bisa segera membuka kafenya itu.


Karena hal ini merupakan impian Eliza sejak dulu, yaitu memiliki kafe sendiri.


Sementara itu di kantor, Reino masih tampak kacau.


Dia belum bisa melupakan ingatannya tentang kematian Lyla yang tiba-tiba menyerangnya semalam.


"Kamu kenapa? Apa ada masalah yang terjadi?" tanya Winda saat ia melihat gelagat Reino yang tidak seperti biasanya.

__ADS_1


"Tidak kenapa-kenapa," jawab Reino berbohong.


"Jangan berbohong, aku bisa melihatnya dengan mudah. Ceritakan saja, siapa tahu aku bisa membantumu," ungkap Winda yang lalu duduk di depan Reino.


Sesaat Reino terdiam.


Berpikir apakah dia bisa menceritakan hal ini pada Winda?


"Aku tiba-tiba teringat dengan kejadian meninggalnya Lyla beberapa tahun yang lalu. Dan hal itu sangat menyiksaku," ungkap Reino pada akhirnya mau menceritakan keluh kesahnya.


Winda menghela napas panjangnya.


Seperti dia tahu akar dari masalah ini.


"Mungkin ini terjadi karena kamu menikah dengan wanita yang mirip dengan Lyla. Jadi saat kamu melihatnya, kamu terus melihat bayangan Lyla di belakangnya,"


"Mungkin saja begitu," gumam Reino.


"Apa aku salah menikah dengan Eliza? Tapi aku memang menyukainya meskipun aku belum bisa mencintainya seperti aku mencintai Lyla dulu," batin Reino.


"Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa terus mengabaikan Eliza yang sudah menjadi istriku,"


Miris, walaupun Winda tidak menyukai pernikahan Reino dengan Eliza.


Namun dia juga tidak bisa melihat Reino menderita seperti sekarang ini.


Ia akhirnya mencari sesuatu dari dalam tasnya.


Setelah menemukan benda yang dicarinya, ia lalu memberikan benda itu pada lelaki itu.


Reino menerima sebuah kertas nama yang di serahkan Winda padanya.


Di sana tertulis nama Dokter Hendri sebagai spesialis psikologi.


"Mungkin Dokter Hendri bisa menolongmu, aku sudah sering konsultasi dengannya. Dan hasilnya aku bisa mengatasi hal berat yang menimpaku selama ini," kata Winda.


"Apa kamu punya masalah pribadi yang berat?" tanya Reino penasaran.


"Iya, tapi aku sudah bisa mengatasinya kok. Dan itu semua berkat Dokter Hendri juga," jawab Winda yakin.


Sebenarnya masalah yang Winda hadapi adalah mengenai perasaannya pada Reino selama ini yang bertepuk sebelah tangan.


Ia berhasil mengontrolnya dengan baik.


Karena jika tidak, mungkin saja dia sudah berbuat hal yang menyakiti dirinya atau orang lain.


Dari konsultasinya bersama Dokter Hendri berhasil membuat dirinya menahan emosi dan ambisinya terhadap Reino.


Dia belajar untuk mengikhlaskan sesuatu yang bukan menjadi miliknya.


"Aku akan mencobanya, terima kasih Winda," ucap Reino.


Winda mengangguk dan berkata,


"Aku harap traumamu bisa sembuh. Dan kamu bisa memulai hidup baru dengan bahagia," kata Winda.


"Meskipun bukan denganku. Karena kebahagiaanmu adalah segalanya bagiku," ucap Winda dalam hati.


***


Sore hari itu Eliza dan Hilma sedang bercengkrama sambil mencicipi beberapa menu baru yang diciptakan koki mereka.

__ADS_1


Namanya Chef Adi.


Chef Adi, sudah memiliki pengalaman bekerja di beberapa kafe sebelumnya.


Dia memutuskan menerima tawaran pekerjaan ini karena dia mengenal Reino dan ia ingin membantunya untuk memajukan kafe milik istrinya.


Tiba-tiba pintu kafe terbuka.


Seorang lelaki masuk ke dalam dan menghampiri meja Eliza dan Hilma.


Lelaki itu berhenti tepat di depan meja Eliza.


"Selamat sore, saya ingin bertemu dengan pemilik kafe ini," ucap lelaki itu dengan sopan.


Hilma memuntahkan air putih yang baru saja ia minum.


Sedangkan Eliza tidak berkedip setelah melihat lelaki yang ada di depannya itu.


Lelaki berambut hitam dengan gaya belah tengah itu tersenyum manis kepada dua wanita yang ada di depannya.


"Apa kamu seorang artis?" pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Eliza.


Lelaki itu tertawa mendengar pertanyaan Eliza.


"Bukan, tapi aku mahasiswa pertukaran pelajar dari Korea Selatan. Namaku Im Hyunsik. Dan aku ingin melamar pekerjaan di sini," jawabnya.



"Kamu di terima," ucap Hilma dengan lantang.


"Apa-apaan kamu. Aku kan pemilik kafe ini, aku yang berhak memutuskan," sergah Eliza.


Hilma lalu menarik lengan Eliza dan membisikkan sesuatu ke telinganya.


"Kamu pikir baik-baik, jika dia bekerja di sini pasti kafemu akan selalu ramai. Ayo terima saja dia," rayu Hilma.


Eliza kembali pada Hyunsik tanpa memedulikan perkataan Hilma.


"Apa pekerjaan yang kamu bisa di sini?" tanya Eliza.


"Aku bisa menjadi bartender, karena saat di Korea aku sudah beberapa kali bekerja paruh waktu di kafe sana"


Eliza manggut-manggut tanda mengerti.


"Sudah berapa lama, kamu tinggal di sini? Sepertinya kamu sudah fasih berbahasa Indonesia?"


"Sudah dua tahun," jawab Hyunsik.


"Hmm baiklah, karena kamu memiliki kriteria yang kami inginkan. Kamu bisa mulai bekerja.." Eliza tidak melanjutkan kalimatnya.


Dia belum berpikir kapan ia akan membuka kafe.


"BESOK," bisik Hilma yang berada di sebelah Eliza.


Eliza memutar bola matanya.


"Baiklah, kamu mulai bekerja besok. Dan kita akan mulai membuka kafe ini besok juga. Jadi tolong kerja samanya ya. Kita bangun kafe ini dari nol," kata Eliza.


"Baik noona, aku akan bekerja dengan giat. Semangat!" ucap Hyunsik sambil mengepalkan tangan kanannya di udara seperti adegan yang pernah Eliza lihat di drama Korea yang kadang ia tonton.


"Apa itu noona??"

__ADS_1



__ADS_2