Pernikahan Pahit

Pernikahan Pahit
Bertemu lagi


__ADS_3

"Ce celana berdarah? Apa itu?" gumam Hyunsik. Dia tidak mengerti dengan kalimat itu, apakah berupa istilah yang belum ia ketahui atau memang benar-benar celana yang berdarah? Tapi bagaimana mungkin celana bisa berdarah? Hyunsik menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.


"Siapa? Siapa yang berdarah?" tanya Hilma yang tiba-tiba muncul dari belakang dan ikut bergabung dengan mereka.


" Siapa? Siapa?" tanya Hilma lagi pada Hyunsik, namun hanya dibalas gelengan kepala dari lelaki itu.


"Ikut aku!" ucap Eliza yang langsung meraih tangan Bastian dan menyeretnya menuju ruangannya. Sedangkan Hyunsik dan Hilma masih terjebak dalam rasa penasaran mereka masing-masing.


"Kamu... jangan coba-coba mengatakan hal kemarin pada mereka berdua ya??" ancam Eliza pada Bastian.


"Hal apa?" tanya Bastian yang pura-pura tidak mengerti. Padahal ia tahu sebenarnya apa maksud dari pertanyaan Eliza. Tapi melihat wanita itu sangat panik membuatnya tampak lucu di mata Bastian.


"Yang kemarin!! Masa kamu lupa sih? Bukankah kamu mengingatku??"


"Lalu apa kamu juga mengingatku?"


"Sedikit," jawab Eliza berbohong. Sebenarnya dia sudah benar-benar ingat terhadap Bastian. Tapi ia cukup malu untuk mengakui hal tersebut.


"Aku mau saja. Tapi bagaimana dengan lamaran pekerjaanku? Apa aku di terima?" tanya Bastian. Ia jadi lupa tujuan awalnya datang ke kafe itu.


"Aku akan melihat penampilanmu dulu. Jika bagus, aku akan langsung menerimamu dan memberimu gaji yang tinggi," ucap Eliza.


"Oke, setuju!" Bastian mengulurkan tangan kanannya untuk membuat kesepakatan itu. Dia senang karena sudah mendapat kartu AS dari pemilik kafe itu.


Eliza awalnya ragu, namun akhirnya dia menerima uluran tangan Bastian sebagai tanda kesepakatan mereka.


"Kalau begitu, ayo kita keluar. Aku akan lihat penampilanmu," kata Eliza lalu ia membuka pintu dan mempersilakan Bastian untuk keluar duluan.


Bastian sedang bersiap di panggung kecil yang berada pojok kafe. Dia sedang menyamakan nada suaranya dengan gitar yang akan dia mainkan.


__Can't Help Falling In Love__


Cover by Bastian.


"Wise men say.. only fools rush ini..


But I can't help.. falling in love with you..

__ADS_1


Shall I stay.. would it be a sin..


If I can't help.. falling in love with you..


Like a river flows surely to the sea..


Darling so it goes.. some things are meant to be..


Take my hand.. take my whole life too..


For I can't help.. falling in love with you.."


Eliza dan yang lainnya tersentuh dengan lagu yang dinyanyikan oleh Bastian. Bahkan Eliza masih terpaku menatap lelaki yang berada di depannya itu.


"Kenapa suaranya begitu menyentuh hatiku?" batin Eliza.


"Woaaa,,, semua wanita pasti akan tergila-gila dengan lelaki itu. Dia tampan dan suaranya bagus. Kamu benar-benar mendapatkan jackpot untuk kafemu ini El!" seru Hilma yang saat itu masih terkejut dengan penampilan dari Bastian. Dia mengguncangkan bahu Eliza, karena dari tadi temannya itu hanya terdiam dan menatap kosong ke arah Bastian.


"Benar kan Hyunsik?" tanya Hilma pada Hyunsik yang berdiri di sebelahnya.


"Entahlah," jawab Hyunsik lalu pergi dari tempat itu menuju tempat kerjanya.


"Bagaimana?" tanya Bastian setelah ia turun dari panggung dan menghampiri Eliza yang masih berdiri di sana.


"Boleh juga. Baiklah kamu di terima mulai hari ini. Aku akan mempersiapkan kontrak kerja untukmu," ucap Eliza lalu pergi meninggalkan Bastian yang heran. Kenapa reaksi wanita itu berbeda dari wanita yang biasanya pertama mendengar nyanyiannya. Biasanya para wanita akan kagum dan tergila-gila padanya. Tapi kenapa tidak dengan Eliza?


Menjelang malam kafe semakin ramai. Live music akan dimulai pada pukul 8 malam hingga kafe tutup. Sebelumnya Bastian sempat pulang ke rumah, lalu kembali lagi pada jam 6 malam. Itu berarti masih ada dua jam lagi sebelum ia tampil.


Karena karyawan di kafe itu hanya dua orang, terkadang jika kafe sedang ramai Eliza sering ikut membantu Hilma dan Hyunsik. Saat itu Bastian ikut bergabung bersama mereka yang sibuk masing-masing dengan pekerjaan mereka.


Karena konsep di kafe itu self servive jadi tidak terlalu lelah bagi mereka dalam melayani pelanggan yang datang. Saat itu terdapat tiga konter, jadi masing-masing memegang satu konter.


Eliza sedang membuat pesanan kopi pada konternya, saat itu Bastian berada di sebelahnya.


"Ada yang bisa ku bantu?" tanya Bastian.


"Tidak ada," jawab Eliza. Entah kenapa dia merasa harus menjaga jarak dengan lelaki itu. Belum tahu apa penyebabnya namun ia merasa jika itu perlu.

__ADS_1


Karena merasa dirinya tidak dibutuhkan akhirnya Bastian menyingkir dari sisi Eliza. Dia bermain game hp di pojokan. Tapi konsentrasinya terganggu saat mendengar suara getaran hp yang terus menerus di meja yang berada di dekatnya. Awalnya Bastian mengabaikannya, namun lama-lama ia merasa terganggu dan melihat hp siapakah itu?


Ternyata panggilan itu dari suami, begitulah yang tertulis di layar hp. Tapi suami siapa itu? Bastian tidak tahu karena dia tidak mengetahui siapa sang pemilik hp. Hanya ada dua wanita di sana, jika bukan Hilma berarti milik Eliza. Bastian berniat menanyakan hal itu tapi ia melihat mereka sedang sibuk, jadi dia mengurungkan niatnya. Saat panggilan itu berhenti, terjawab sudah rasa penasaran Bastian. Terlihat foto Eliza bersama pria tua yang mungkin ayahnya pada layar gawai itu setelah panggilannya berhenti.


"Ah ternyata miliknya," gumam Bastian sambil cemberut. Entah kenapa dia menjadi kecewa setelah mengetahui jika bos nya itu sudah menikah.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Eliza saat ia menghampiri Bastian dan memgambil hp nya.


"Itu tadi suamimu menelepon," jawab Bastian.


Eliza lalu mengecek hp nya dan memang ada panggilan tak terjawab dari Reino. Ia segera menyingkir dan menghubungi kembali nomor suaminya untuk menanyakan apa yang membuatnya menelepon.


Bastian memperhatikan Eliza dari kejauhan saat dia menelepon suaminya. Sungguh baru kali ini dia tertarik lebih dalam dengan wanita. Sejak sekolah banyak teman wanita yang mendekatinya tapi dia mengacuhkan mereka semua. Tapi kali ini bosnya membuat dirinya sedikit tertarik. Dia segera menepis pikiran negatif itu, ia sadar jika wanita itu sudah mempunyai suami. Lebih baik dirinya menyingkir sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.


Sementara itu Reino saat itu sedang berada di tempat psikiater yang pernah disarankan Winda untuknya. Tidak terasa sudah hampir dua bulan dia menerima pengobatan dari tempat itu. Perasaannya sudah lebih tenang semenjak kejadian waktu dulu. Awal-awal pengobatan Reino sengaja menjauhi Eliza karena masih ingin mengontrol emosinya. Kini dia berniat mendekati istrinya kembali, karena situasinya sudah lebih baik. Karena itu tadi ia menghubungi Eliza untuk memberitahu jika nanti dirinya akan menjemput Eliza setelah kafenya tutup.


Kembali ke kafe..


"Tuhan tolonglah hapus dia dari hatiku..


Kini semua percuma takkan mungkin terjadi kisah cinta yang selalu aku banggakan..


Kau hempas semua..masa yang tercipta untukmu..


Tanpa pernah melihat betapa ku mencoba jadi yang terbaik untuk dirimu...


Oh mengapa.. tak bisa dirimu..yang mencintaiku..


Tulus dan apa adanya..


Aku memang.. bukan manusia sempurna..tapi ku layak dicinta karena ketulusan..


Kini biarlah waktu yang jawab semua..tanya hatimu..."


__Tanya Hati__


Lagu penutup dari Bastian.

__ADS_1



__ADS_2