Pernikahan Pahit

Pernikahan Pahit
Janji


__ADS_3

Eliza masih memikirkan apa yang dikatakan oleh Hyunsik tadi. Sejujurnya dalam hatinya dia juga takut jika seandainya nanti Reino mengetahui rahasianya. Akan tetapi, dia tidak bisa menolak kenyamanan yang didapatkan dari Bastian.


Dalam perjalanannya dari kos Hyunsik, banyak hal yang dipikirkan oleh wanita itu. Ia merasa menjadi serba salah. Dan, ketika ia tahu jika Hyunsik sudah mengetahui rahasianya, dia jadi sadar jika lambat laun rahasia tersebut juga akan diketahui tak hanya Hyunsik, mungkin Hilma atau bahkan Reino akan tahu.


Eliza membuka pintu kafe miliknya dengan lemas, ia memandang Bastian yang sedang repot membantu Hilma. Melihatnya seperti itu, tanpa sadar ada perasaan senang dari dalam dirinya.


Senang dan bahagia, perasaan yang seharusnya tidak ada. Serakah? Mungkin Eliza akan terima jika disebut seperti itu, karena memang pada kenyataannya kondisi tersebut yang ia jalani sekarang.


“Kamu sudah kembali? Gimana keadaan Hyunsik?” tanya Hilma, mendengar Eliza kembali, Bastian sontak ikut menoleh.


“Dia baik-baik saja, sakit matanya tidak terlalu parah,” jawab Eliza.


Nadanya yang terdengar lemah, membuat Bastian sedikit cemas dan curiga. Mengapa wanita itu mendadak berubah ketika kembali dari tempat Hyunsik?


TOK1 TOK! TOK!


Bastian menyembulkan kepalanya usai mengetuk pintu ruangan Eliza ketika si pemilik tidak segera mengizinkannya untuk masuk.


“Ada apa?” tanya Eliza.


“Bukankah seharusnya aku yang harus bertanya seperti itu kepadamu?” Bastian berbalik bertanya.


Eliza hanya tersenyum tipis. Haruskah ia mengatakan pada Bastian? Ataukah ia pendam sendiri masalah ini?


Ia memandang wajah Bastian penuh tanya, bingung bagaimana ia akan memulainya.


“Apa ada yang ingin kamu katakan?” tanya Bastian.


“Ehm ... Sebenarnya sih ada.”


“Lalu? Katakan kalau memang ada, aku memang bukan orang yang bisa memberikan solusi yang baik tapi aku ini dikenal orang sebagai pendengar yang baik.”


Eliza terkekeh mendengar pengakuan dari Bastian, tapi senyumnya menjadi samar lalu menghilang ketika mengingat apa kata Hyunsik tadi.


“Jadi, Hyunsik sudah tahu tentang kita,” ungkap Eiza ragu.


“Kita? Hubungan kita maksud kamu?”


Eliza mengangguk.


“Apa itu sangat menganggumu?”


“Bukan seperti itu, hanya saja,,, gimana ya aku jelasinnya.”


Bastian tahu apa yang dirasakan oleh Eliza saat ini, dia pasti takut karena Hyunsik yang bekerja di kafenya sudah tahu tentang hubungan mereka.

__ADS_1


Dan karena itu, Bastian jadi takut kalau Eliza memutuskan untuk megakhiri hubungan mereka saat ini.


“Apa kamu mau mengakhiri hubungan kita sekarang?” Bukan itu yang seharusnya keluar dari mulut Bastian, tapi ia malah keceplosan bertanya seperti itu.


Eliza menatap Bastian begitu lekat dan intens.


“Kalau kita mengakhirinya sekarang, aku pikir aku tak akan bisa merasakan rasa nyaman lagi dengan seseorang.” ucapannya melemah seiring dengan tatapannya yang menunduk.


Bastian melangkah ragu, mendekati Eliza. Dengan tangan kekarnya, ia menenggelamkan kepala wanita itu dalam pelukannya.


Eliza yang sempat terkejut tak bisa berbuat apa-apa. Jantungnya berdebar tak menentu setiap kali Bastian melakukan hal manis tersebut padanya.


Jika ada yang mengatakan jika Eiza jahat ia mungkin tak peduli. Karena yang ia butuhkan saat ini adalah sebuah rasa nyaman.


Setelah wanita itu sedikit merasa sedikit tenang, Bastian menatap wajah Eliza dengan dekat. Bahkan napas keduanya terdengar begitu nyata dan jelas karena jarak di antara mereka yang menipis.


Tangan Bastian menangkup kedua sisi wajah Eliza, pipinya nampak dingin kemudian terasa hangat ketika tangan itu menyentuhnya.


“Aku berjanji akan menjagamu,” ucap Bastian kemudian menatap kedua bola mata Eliza secara bergantian.


Eliza tertegun sejenak, sampai ia tak menyadari ketika dia menerima sebuah pagutan yang lembut dari bibir Bastian.


Bastian ********** dengan lembut, hingga Eliza memejamkan matanya. Ia sempat berpikir dan berandai-andai jika saja Reino yang melakukan ini terhadapnya mungkin hatinya tak akan lari kepada Bastian.


Eliza tersentak kemudian, ia memundurkan tubuhnya dan tersadar ketika bunyi dering telepon terdengar di telinganya.


“Ada apa Rei?” tanya Eliza pada Reino, ia mengatur napasnya yang sempat ngos-ngosan.


“Nanti pulang kerja akan aku jemput, maaf karena aku tadi ada rapat mendadak.”


“Tak apa-apa Rei, aku ngerti.”


“Aku takut kamu marah, karena gak balas pesanku tadi pagi.”


“Oh itu, tadi aku terburu-buru dan lupa membalas pesanmu.”


“Tapi kamu gak marah kan?”


“Gak Rei, kamu tenang aja.” Eliza menatap tak enak ada Bastian, lelaki itu ekspresinya nampak berubah ketika melihat Eliza sedang mengobrol dengan Reino.


Bukankah itu sudah resikonya jika mencintai istri orang lain?


“Kalau begitu aku tutup teleponnya ya Rei, pekerjaanku banyak soalnya. Hyunsik tidak masuk kerja jadi harus ada yang membantu Hilma.” Menyadari Bastian yang berjalan menjauh darinya, Eliza menyudahi obrolannya dengan Reino.


Ia tidak punya pilihan lain selain memutuskan obrolan mereka karena tak ingin Bastian cemburu padanya.

__ADS_1


“Kamu kenapa?” tanya Eliza pada Bastian yang memalingkan wajahnya dari Eliza.


“Kamu cemburu?” lanjutnya.


“Sedikit,” jawab Bastian.


Eliza memajukan langkahnya kemudian memeluk Bastian dari belakang. “Aku harap ini bisa meredakan cemburumu.” Tangannya semakin mengerat di pinggang Bastian. Bastian tersenyum senang karena nyatanya Eliza bersikap lebih mesra kepadanya.


“Kalau begitu aku akan kembali bekerja,” ucap Bastian. Ia menjadi lebih bersemangat saat Eliza memberikan sebuah hadiah kecil untuknya.


“Jadi kapan kita bisa makan malam bersama?” tanya Bastian sebelum ia meninggalkan ruangan Eliza.


“Aku akan mengatur waktu untukmu, dan akan segera menghubungimu.”


“Baiklah kalau begitu.”


**


“Rei, mengenai proyek iklan air mineral AY mereka menolak konsep kita,” ucap Winda pada Reino saat di ruangannya.


"Lalu?" Reino mengerutkan keningnya, mendengar hal tersebut.


"Mereka ingin kita merevisinya. Dan ikut konsep mereka,"


Reino membuang napas beratnya. Mengingat jika ia sudah berjanji pada istrinya akan menjemputnya nanti malam. Tapi mengapa masalah kantor malah datang di saat yang tidak tepat?


"Sebelumnya mereka bilang, ikut saja dengan semua konsep yang kita berikan? Kenapa sekarang berubah pikiran?!"


"Entahlah, mereka ingin membicarakan masalah ini di restoran sunrise nanti malam,"


"Apa tidak bisa besok saja?" tanya Reino ragu.


"Gak bisa Rei, ini klien penting,"


Terdengar helaan napas begitu panjang dari Reino, jika sampai dia mengingkari janjinya pada Eliza pasti istrinya itu akan kecewa padanya.


“Gimana Rei? Ini menyangkut nama baik perusahaan kita. Semua kompetitor menginginkan proyek iklan ini,"


“Ya sudah kalau begitu. Ajak Ana juga,"


"Apa? Ajak Ana? Kenapa?" Winda terkejut mendengar perkataan dari Reino barusan. Selama ini jika menemui klien hanya mereka berdua saja, tetapi kenapa tiba-tiba Reino ingin mengajak Ana?


"Ana kan ketua tim kreatif, dia nanti bisa membayangkan konsep apa yang diinginkan klien. Kenapa? Kamu keberatan?"


"Gak,, ya sudah. Nanti aku beri tahu Ana untuk bersiap sepulang kerja," ucap Winda lemah lalu undur diri dari ruangan Reino.

__ADS_1


Winda melangkahkan kakinya dengan berat, kenapa harus ada Ana di antara dirinya dan Reino? Tidakkah cukup Eliza saja yang merebut Reino darinya?


Setidaknya selama ini Winda merasa memiliki Reino di kantor. Tapi sekarang sudah berubah semenjak Ana pindah ke depan rumah Reino.


__ADS_2