Pernikahan Pahit

Pernikahan Pahit
Pertemuan Memalukan


__ADS_3

Sore itu kafe Eliza terlihat ramai seperti biasanya.


Sudah satu bulan lebih kafenya beroperasi saat itu.


Setiap hari pelanggan wanita selalu membanjiri kafenya karena ingin betemu dengan pegawainya yang bernama Hyunsik.


Tak jarang banyak yang ingin berswafoto dengan pemuda itu.


Dan yang lebih bersemangat adalah Hilma yang selalu berusaha mendekati Hyunsik.


"Hyunsik ..." goda Hilma.


"Iya,,," jawab Hyunsik dengan senyum khasnya.


Dia memang murah senyum, dan jika ia senyum selalu menampilkan smile eyes nya yang menjadikan hal itu daya tariknya.


"Apa kamu sudah punya pacar?" tanya Hilma iseng di sela kesibukan mereka.


"Memang kenapa?" Hyunsik malah balik bertanya seolah enggan menjawab pertanyaan dari Hilma.


"Ah, kamu pasti sudah punya pacar," gumam Hilma dengan nada kecewa.


Sedangkan Hyunsik hanya tersenyum seperti biasanya.


"Padahal kamu itu, tipe idaman ku loh,, " ucap Hilma dengan cekikikan.


Dia menutup wajahnya karena malu.


Namun saat ia menurunkan tangannya, Hyunsik sudah tidak ada di depannya.


"Eh, kemana dia?" tanya Hilma pada dirinya sendiri.


Ternyata Hyunsik pergi menghampiri Eliza yang saat itu baru keluar dari ruangannya dan duduk di meja dekat jendela di sudut kafe.


Ia menulis laporan keuangan kafe di sana, sambil memperhatikan pelanggan yang hadir di kafenya.


"Kopi spesial untukmu noona," ucap Hyunsik sambil menaruh segelas kopi hangat kesukaan Eliza.


"Terima kasih, kamu sangat baik," kata Eliza.


"Sepertinya sudah mulai musim hujan. Noona jangan lupa jaga kesehatan dan selalu gunakan pakaian hangat saat keluar," kata Hyunsik sambil memperhatikan langit yang sore itu sudah mendung.



"Kamu benar. Aku akan mengikuti nasihatmu," ucap Eliza.


"Oh iya, bagaimana kamu betah bekerja di sini?" tanya Eliza kemudian.


"Tentu saja aku betah bisa bekerja dengan noona yang baik dan cantik,"


"Aku jadi merinding, tapi sayang sekali aku sudah menikah," kata Eliza sambil menunjukkan cincin yang berada di jari manisnya.


"Aku tahu. Karena itu aku memanggilmu noona yang berarti panggilan kepada perempuan yang lebih tua. Karena aku sudah menganggapmu seperti kakak ku sendiri," ucap Hyunsik sambil tersenyum pada Eliza.


"Hyunsik sini!!" panggil Hilma.


"Sepertinya aku harus kembali bekerja. Selamat menikmati kopimu noona," Hyunsik lalu kembali ke tampat kerjanya karena di sana sudah ada beberapa pelanggan wanita yang menunggu untuk melihatnya secara dekat.


Eliza kembali fokus pada pekerjaannya.


Di temani dengan kopi buatan Hyunsik yang sangat nikmat.

__ADS_1


Sampai tiba-tiba dia merasa ada yang keluar dari area sensitifnya.


"Tanggal berapa ini? Jangan-jangan aku kedatangan tamu bulanan. Mana aku lupa bawa pembalut," gerutu Eliza.


Dia segera menuju toilet untuk memastikan hal itu.


Dan ternyata benar, sedikit noda darah sudah mengotori celana dalamnya.


Ia bergegas keluar untuk membeli pembalut di minimarket terdekat.


"Aku keluar dulu ya, ke minimarket depan," pamit Eliza saat ia melewati Hilma dan Hyunsik.


Hyunsik lalu menghampiri Eliza dan menyerahkan sebuah payung untuknya.


"Sebentar lagi turun hujan. Sebaiknya noona berjaga-jaga dengan membawa payung," ucap Hyunsik sambil menyerahkan payung itu.


"Ah iya terima kasih Hyusik. Kamu sangat baik........."


Eliza mengelus rambut Hyunsik dan membuat lelaki itu tersipu.


"Apa-apaan itu. Apa Hyunsik menyukai Eliza??" gumam Hilma.


Setelah Hyunsik kembali, Hilma menjadi kesal seteah melihat pemandangan tadi.


"Ingat, Eliza sudah punya suami," kata Hilma dengan tegas.


"Aku tahu. Tapi semua tidak seperti yang kamu pikirkan," jawab Hyunsik tanpa memandang Hilma.


Hilma mencibir pengakuan Hyunsik yang mengelak jika dia menyukai Eliza.


"Lebih baik kamu menyukaiku. Jelas-jelas aku wanita single. Jadi..."


"Dasar anak itu," Hilma mendengus kesal.


Eliza keluar dari minimarket dengan perasaan lega setelah mendapatkan barang yang ia butuhkan.


Dia harus bergegas kembali ke kafe untuk memakai barang tersebut sebelum darah keluar lebih banyak.


Benar kata Hyunsik, hujan tiba-tiba turun walaupun tidak begitu deras.


Eliza lalu membuka payung yang ia bawa dari tadi.


Namun matanya teralihkan saat melihat pemuda yang sedang duduk di depan minimarket dengan beberapa luka di wajahnya.


Eliza mengangkat kedua bahunya dan melangkah melewati lelaki tersebut.


Namun lelaki itu tiba-tiba meraih pergelangan tangannya.


"Hei, tolong bantu aku," ucap lelaki itu lalu menarik tangan Eliza.


Lelaki itu mendekat dan berada di payung yang sama.


Tatapannya begitu tajam, dan membuat Eliza takut.



"Apa yang kamu lakukan?!" tanya Eliza dengan emosi.


"Ssttt... Tolong sembunyikan aku sebentar saja," jawabnya.


Tangannya lalu mengambil alih pegangan payung dan sedikit menurunkannya hingga wajah mereka sekarang tidak dapat terlihat orang lain.

__ADS_1


Eliza membulatkan matanya saat lelaki itu menyentuh tangannya yang masih memegangi payung.


Namun dia sama sekali tidak bergerak dan mulutnya terkunci.


Entah kenapa dia menurut saja saat lelaki itu meminta bantuannya.


"Ke mana perginya anak sialan itu?!!" seru seorang pria paruh baya dari samping mereka berdua.


Tidak lama pria paruh baya itu pergi dari hadapan mereka.


Setelah aman, lelaki itu melepaskan tangannya dari pegangan payung dan tangan Eliza.


"Terima kasih, aku sudah lelah untuk berlari lebih jauh lagi tadi," ucap lelaki itu dan berniat pergi dari hadapan Eliza.


"Tunggu, apa kamu pencuri?!!!" tuduh Eliza.


Dia tidak bisa membiarkan dia kabur jika ternyata ia adalah seorang pencuri.


Eliza pun meraih kaos yang dipakai lelaki itu.


Namun tidak sengaja kakinya tersandung dan ia jatuh tersungkur di samping lelaki tersebut.


Sebuah kantong keresek yang ia bawa dari tadi melayang ke udara dan isinya keluar dari tempatnya.


Yang lebih memalukan barang tersebut mendarat dengan sempurna di tangan lelaki tersebut.


Lelaki itu memandang barang tersebut dengan canggung.


Saat ia ingin mengembalikannya perhatiannya malah tertuju pada celana Eliza.


"Celanamu berdarah," ucap lelaki itu.


"A apa?"


Setelah menyadari situasinya Eliza malu bukan main, iapun lalu bangkit dan mengambil barangnya dari tangan lelaki itu.


Sambil menutupi celana bagian belakangnya, Eliza bergegas berlari meninggalkan lelaki itu dengan perasaan malu.


"Tunggu, payungmu ketinggalan," seru lelaki tersebut yang tidak dipedulikan oleh Eliza.


Akhirnya dia memungut payung tersebut dan membawanya pergi bersamanya.


Eliza sampai di kafe dengan penampilan yang kacau.


Bajunya basah kuyup dan rambutnya berantakan.


"Loh El, kenapa penampilanmu jadi seperti itu? Kamu habis di terkam harimau??" tanya Hilma yang terkejut melihat temannya itu.


"Jangan mendekat! Kalian berdua balik badan," perintah Eliza.


Untung saja saat itu kafe sudah sepi, hanya tinggal beberapa orang saja yang tidak peduli dengan kedatangan Eliza yang seperti itu.


Dengan cepat ia berlari menuju toilet untuk membersihkan tubuhnya.


Hyunsik memandang heran ke arah Hilma.


Seolah bertanya apa yang terjadi dengan bos mereka itu.


Namun Hilma hanya mengangkat kedua bahunya.


"Memalukan.. memalukan.. memalukan!!" runtuk Eliza sambil membenturkan dengan pelan kepalanya ke tembok toilet.

__ADS_1


__ADS_2